Bencana adalah rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat baik yang disebabkan oleh faktor alam atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.[1] Bencana dalam bahasa inggris disebut dengan disaster, berasal dari kata Latin yaitu dis dan astro/aster. Dis berarti buruk atau terasa tidak nyaman, dan aster berarti bintang. Dengan demikian secara harfiah disaster berarti menjauh dari lintasan bintang atau dapat diartikan "kejadian yang disebabkan oleh konfigurasi astrologi (perbintangan) yang tidak diinginkan". Rujukan lain mengartikannya sebagai "bencana terjadi akibat posisi bintang dan planet yang tidak diinginkan".[2]

Asal mulaSunting

Bencana adalah sesuatu yang tak terpisahkan dalam sejarah manusia. Manusia bergumul dan terus bergumul agar bebas dari bencana (free from disaster). Dalam pergumulan itu, lahirlah praktik mitigasi, seperti mitigasi banjir, mitigasi kekeringan (drought mitigation), dan lain-lain. Di Mesir, praktik mitigasi kekeringan sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang sistem peringatan dini untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000 BC, sesuai keterangan QS Yusuf, kitab Kejadian, dan tulisan-tulisan Yahudi Kuno.

KonsepSunting

Konsep manajemen bencana mengenai pencegahan (prevention) atas bencana atau wabah penyakit (plague), pada abad-abad non peradababan selalu diceritakan ulang dalam simbol-simbol seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau Ilmu Bintang.

Respon terhadap bencanaSunting

Respon kemanusiaan dalam krisis emergency juga sudah berusia lama walau catatan sejarah sangat sedikit, tetapi peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari negara secara ala kadar. Jumlah korban meninggal pasca emergency sedikitnya 20,000 orang. Total meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk.

Hingga dekade yang lalu, cita-cita para ahli bencana masih terus mengumandangkan slogan bebas dari bencana (free from disaster) yang berdasarkan pada ketiadaan ancaman alam (natural hazard). Publikasi mutakhir tentang manajemen bencana, telah terjadi perubahan paradigma. Sebagai misal di Bangladesh dan Vietnam, khususnya yang hidup di daerah aliran sungai Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (living with flood).

Manajemen bencanaSunting

Manajemen bencana merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana. Manajemen bencana bertujuan untuk mencegah kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, mengurangi kerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.[3]

Manajemen bencana meliputi tahap-tahap sebagai berikut:[3]

  1. Sebelum bencana terjadi, meliputi langkah–langkah pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan dan kewaspadaan
  2. Pada waktu bencana sedang atau masih terjadi, meliputi langkah–langkah peringatan dini, penyelamatan, pengungsian dan pencarian korban
  3. Sesudah terjadinya bencana, meliputi langkah penyantunan dan pelayanan, konsolidasi, rehabilitasi, pelayanan lanjut, penyembuhan, rekonstruksi dan pemukiman kembali penduduk

ReferensiSunting

  1. ^ "Pengaruh Pengetahuan dan Sikap Tentang Resiko Bencana Banjir Terhadap Keseiapsiagaan Remaja Usia 15-18 Tahun Dalam Menghadapi Bencana Banjir di Kelurahan Pedurungan Kidul Kota Semarang". Jurnal Geografi. 12 (2): 215. 2015. ISSN 2549-3078. 
  2. ^ Ade Heryana (12 Januari 2020), Pengertian dan Jenis Bencana, Universtas Esa Unggul, hlm. 1, diakses tanggal 25 Desember 2020 
  3. ^ a b Agus Sudarsono, Satriyo Wibowo (2017). "Pemahaman Manajemen Bencana Siswa SMP di Kabupaten Sleman". Jipsindo. 1 (4): 10-11. ISSN 2355-0139. 

Lihat pulaSunting