Buka menu utama

Perubahan

30.807 bita ditambahkan ,  8 bulan yang lalu
←Membuat halaman berisi '{{ethnic group| |group=Suku Lun Bawang |poptime=kurang lebih '''39.461''' |popplace= '''Kalimantan:''' |region1= {{flagcountry|Indonesia}} |pop1= 25.000 <small>(se...'
{{ethnic group|
|group=Suku Lun Bawang
|poptime=kurang lebih '''39.461'''
|popplace= '''[[Kalimantan]]:'''
|region1= {{flagcountry|Indonesia}}
|pop1= 25.000 <small>(sensus tahun 1987)</small>
|ref1=
|region2= {{flagcountry|Malaysia}}
|pop2= 12.800 <small>(sensus tahun 1982)</small>
|ref2=
|region3= {{nbsp|10}}[[Sabah]]
|pop3= 9.125 <small> (sensus tahun 2012)</small>
|ref3=
|region4= {{nbsp|10}}[[Sarawak]]
|pop4= 16.038 <small> (sensus tahun 2010)</small>
|ref4= <ref>{{citeweb|url=http://www.malaysiaeconomy.net/download/18072016_2.pdf|title=YEARBOOK OF STATISTICS SARAWAK, 2015|publisher=DEPARTMENT OF STATISTICS MALAYSIA SARAWAK|year=2015|accessdate=21 Maret 2019|page=25-26}}</ref>
|region5= {{flagcountry|Brunei}}
|pop5= 1,.661
|ref5= <ref>{{Cite book|last1=Keat Gin|first1=Ooi|title=Brunei – History, Islam, Society and Contemporary Issues|url=https://books.google.com/?id=LcM0CwAAQBAJ&pg=PA89&lpg=PA89&dq=%22the+murut+refer+to+themselves+as+Lun+Bawang%22#v=onepage&q=%22the%20murut%20refer%20to%20themselves%20as%20Lun%20Bawang%22&f=false|website=Google Book|publisher=Routledge|accessdate=21 Maret 2019|isbn=9781317659983|date=2015-12-14}}</ref>
|langs= [[bahasa Lun Bawang|Lun Bawang]] (termasuk dialek ''Trusan'', ''Lun Daye'', ''Papadi'', ''Lun Dayah'', ''Adang'', ''Tabun'', ''Treng'', ''Kolur'', ''Padas'', ''Trusan'' dan ''Lepu Potong''), [[bahasa Indonesian|Indonesia]], [[Bahasa Malaysia|Malaysi]], [[Bahasa Melayu Sarawak|Melayu Sarawak]]
|rels=[[Kekristenan|Kristen]], [[Islam]], [[Animisme]]
|related=[[Suku Kelabit|Kelabit]], Lengilu, Putoh, Sa'ban & Tring
}}

== Etimologi ==
Kata Lun Bawang berarti ''orang-orang negara'' atau ''orang asli'', sedangkan Lun Dayeh berarti ''orang hulu'' atau ''orang pedalaman'' atau ''[[Orang Ulu]]'' dan Lun Lod berarti ''orang yang tinggal di hilir atau dekat laut''. Nama lain berasal dari referensi geografis untuk penanaman padi mereka, misalnya Lun Baa' (rawa) yang tinggal di dekat daerah rawa dan menanam padi basah, dan Lun Tana' Luun (di darat) yang menanam padi kering.

Mereka bersikeras bahwa mereka tidak pernah menyebut diri mereka ''Murut'', orang-orang Lun Bawang awalnya disebut ''Murut'' oleh kolonial [[Inggris]] dan oleh orang luar (kelompok etnis lain).<ref name = "Daniel Chew">
{{Citation
| editor = Daniel Chew
| title = Borders of kinship and ethnicity: cross-border relations between the Kelalan Valley, Sarawak, and the Bawan Valley, East Kalimantan
| volume =
| url = http://www.thefreelibrary.com/Borders%20of%20kinship%20and%20ethnicity:%20cross-border%20relations%20between%20the...-a0134382059
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2004
| publisher =
| publication-place =
| isbn =
| pages =
| quote=
}}
</ref> Dalam [[Bahasa Lun Bawang]], kata ''Murut'' berarti 'untuk memijat' atau 'untuk memberi mas kawin', dan makna-makna ini hanya memiliki sedikit atau tidak ada hubungannya sama sekali dengan identitas suku ini.<ref name = "Meechang Tuie">
{{Citation
| editor = Meechang Tuei
| title = Masyarakat Lun Bawang Sarawak: Satu Pengenalan
| volume =
| url = http://www.karyanet.com.my/knet/ebook/preview/p_Masyarakat_Lun_Bawang_Sarawak_Suatu_Pengenalan.pdf
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1995
| publisher = Desktop Publisher Sdn. Bhd.
| publication-place = Kuching, Sarawak
| isbn = 978-983-62-4321-8
| pages = 3–5
| quote=
}}
</ref> Nama Murut mungkin berasal dari kata [[Gunung Murud|"Murud"]], sebuah gunung yang terletak di dekat pemukiman Lun Bawang lama, mungkin saja berarti 'orang gunung' atau 'orang bukit' tetapi sebaliknya digunakan oleh penjajah untuk mengidentifikasi suku ini.

Selain itu, [[etnologi]] menemukan bahwa klasifikasi dengan nama [[Rumpun Murut|Murut]] membingungkan, karena istilah ini digunakan secara berbeda di Sabah, Sarawak dan Brunei. Di Brunei dan Sarawak, nama ini digunakan untuk menggambarkan orang-orang Lun Bawang, sedangkan di Sabah nama ini digunakan untuk mengidentifikasi suku yang berbeda secara bahasa dan budaya dari suku Lun Bawang.<ref name=autogenerated2>[http://www.brunet.bn/news/pelita/15nov/sasbuday.htm Pelita Brunei - Sastera dan Budaya<!-- Bot generated title -->] {{webarchive|url=https://archive.is/20070627153124/http://www.brunet.bn/news/pelita/15nov/sasbuday.htm |date=27 June 2007 }}</ref><ref name = "Appel, G.M.">
{{Citation
| editor = Appel, G.M.
| title = The Status of Research among the Northern and Southern Muruts
| volume = 1
| number = 2
| url = http://www.borneoresearchcouncil.org/BRB%20PDF%20scans/BRB_1969_01_02.pdf
| accessdate = 21 Maret 2019
| date = September 1969
| publisher = Asosiasi Studi Asia di Universitas Brandeis
| publication-place = Maine, Amerika Serikat
| isbn =
| pages = 18–21
| quote=
}}
</ref>

Pada awal 1970-an, penggunaan istilah ''Lun Bawang'' mulai mendapatkan perhatian di antara etnolog dan ahli bahasa, dan sekarang istilah yang paling umum digunakan untuk mengidentifikasi kelompok suku ini. Di Sarawak, keputusan untuk mengganti istilah 'Murut' menjadi 'Lun Bawang' untuk mengidentifikasi kelompok suku ini dibuat dengan suara bulat oleh para pemimpin masyarakat Lun Bawang,<ref name = "Meechang Tuie" /> dan penggunaan resmi istilah ini sekarang secara hukum mengikat setelah disahkannya Undang-Undang Penafsiran oleh Dewan Legislatif Sarawak pada tahun 2002.<ref name="Abdul Hakim Bujang">
{{Citation
|editor = Abdul Hakim Bujang
|title = Interpretation (Amendment) Bill: 'Sea Dayaks', 'Land Dayaks' will be dropped while Lun Bawang will no longer be classified as 'Muruts'
|volume =
|url = http://www.bidayuh.com/pressrel2002.htm#news17b
|accessdate = 21 Maret 2019
|date = 7 Mei 2002
|publisher = Sarawak Tribune
|publication-place = Sarawak
|isbn =
|pages =
|quote =
|deadurl = yes
|archiveurl = https://web.archive.org/web/20120205010837/http://www.bidayuh.com/pressrel2002.htm#news17b
|archivedate = 5 February 2012
|df = dmy-all
}}
</ref>

== Asal Usul ==
Suku Lun Bawang merupakan salah satu suku asli yang menduduki Pulau Kalimantan selama berabad-abad. Menurut [[Tom Harrisson]] (1959) dan [[S. Runciman]] (1960), Komunitas Lun Bawang adalah salah satu pemukim awal di daerah pegunungan Kalimantan tengah dan mereka berkaitan dengan suku [[Suku Kelabit|Kelabit]]. Kedua suku ini terhubung dengan garis keturunan umum yang disebut ''Apo Duat'' atau suku "Apad Uat", dimana ''Apo Duat'' adalah area [[Krayan, Nunukan|dataran tinggi Krayan]] dan [[dataran tinggi Kelabit]].

Satu teori menyatakan bahwa Apo Duat adalah tanah air leluhur bersama, dan bahwa telah berkembang ke daerah pesisir.<ref name = "Reed L. Wadley">
{{Citation
| editor = Reed L. Wadley
| title = Histories of the Borneo environment: economic, political and social dimensions of change and continuity
| volume =
| url =https://books.google.com/?id=BLlx97-RSJUC&pg=PA253&dq=the+history+of+settlement+in+kelabit+highlands+%22apo+duat%22#v=onepage&q=the%20history%20of%20settlement%20in%20kelabit%20highlands%20%22apo%20duat%22&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2005
| publisher = KITLV Press
| publication-place = Leiden, Belanda
| isbn = 978-90-6718-254-6
| pages = 253
| quote=
}}
</ref> Satu teori lain menunjukkan bahwa orang-orang Apo Duat ini dulunya penduduk asli Brunei, tetapi terdorong ke hulu hingga dataran tinggi oleh suku-suku penyerang seperti suku [[Suku Dayak Kayan|Kayan]], [[Suku Dayak Kenyah|Kenyah]] dan [[Suku Dayak Iban|Iban]]. Orang-orang yang berada di hilir (orang-orang Lun Bawang) diisolasi dari orang-orang yang bermigrasi ke dataran tinggi (Kelabit). Hal ini menyebabkan budaya dan bahasa mereka sedikit berbeda.

Teori lain menunjukkan bahwa migrasi suku ini berasal dari sisi yang berlawanan dari Kalimantan (sekarang [[Kalimantan Timur]]). Dikatakan bahwa orang-orang Apo Duat pernah menjadi petani di dataran rendah di hilir sungai [[Kalimantan Utara|Malinau]] Kalimantan, hidup dekat dengan [[Suku Tidung|suku Tidung]]. Namun, serangan oleh perampok muslim ([[Suku Bugis|Bugis]] dan [[Suku Suluk|Suluk]]) mungkin terjadi pada abad ke-17. Hal ini menyebabkan mereka bermigrasi ke dataran tinggi Krayan, sementara orang-orang Tidung masuk Islam.<ref name = "Eghenter et al">
{{Citation
|editor1=Cristina Eghenter |editor2=[[Bernard Sellato]] |editor3=G. Simon Devung | title = Social Science Research and Conservation Management in the Interior of Borneo, Unraveling past and present interactions of people and forest
| volume =
| url = http://www.cifor.cgiar.org/publications/pdf_files/Books/social_science/SocialScience-intro.pdf
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2004
| publisher = CIFOR, WWF Indonesia, UNESCO and FORD foundation
| publication-place = Indonesia Printer, Indonesia
| isbn = 978-979-3361-02-4
| pages = 25
| quote=
}}
</ref>

Namun demikian, teori-teori ini masih harus dibuktikan dan tidak ada bukti substansial untuk melacak asal-usul orang-orang Lun Bawang atau untuk membuktikan salah satu dari teori-teori ini.

== Sejarah ==

=== Hubungan dengan Kerajaan Brunei ===
Menurut tradisi lisan Brunei, suku Lun Bawang (Murut) berada di bawah pemerintahan kerajaan Brunei dengan damai selama masa pemerintahan [[Muhammad Shah dari Brunei|Awang Alak Betatar]]. Hal ini tercapai melalui transaksi antara Lun Bawang dan saudara Awang Alak Betatar, yaitu Awang Jerambok.<ref name = "Hose and McDougall">
{{Citation
|editor1=Charles Hose |editor2=William McDougall | title = The Pagan Tribes of Borneo, A Description of Their Physical Moral and Intellectual Condition
| volume = II
| url = http://www.gutenberg.org/dirs/etext02/ptbor10.txt
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1912
| publisher =
| publication-place =
| isbn =
| pages =
| quote=
}}
</ref> Di bawah pemerintahan kerajaan Brunei, Lun Bawang dikenai pajak dan upeti. Para pemimpin lokal dari kelas yang lebih tinggi (''lun mebala'' atau ''lun do''') diangkat menjadi bangsawan dan diberikan kantor di kesultanan. Beberapa masyarakat suku Lun Bawang berasimilasi dengan budaya Melayu.<ref name = "Keat Gin Ooi">
{{Citation
| editor = Keat Gin Ooi
| title = Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor
| volume =
| url = https://books.google.com/?id=QKgraWbb7yoC&pg=PA272&dq=murut+brunei
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2004
| publisher = ABC-CLIO
| publication-place = Santa Barbara, California, Amerika Serikat
| isbn = 978-1-57607-771-9
| pages = 272
| quote=
}}
</ref> Komunitas Lun Bawang yang terletak dekat dengan ibukota Brunei terintegrasi dengan kuat ke pemerintahan Brunei.<ref>{{Cite book|url=https://books.google.com/?id=oJ8gAwAAQBAJ&pg=PA188&dq=%22it+appears+that+some+Lun+Bawang+communities+were+firmly+integrated+into+the+Brunei+polity%22#v=onepage&q=%22it%20appears%20that%20some%20Lun%20Bawang%20communities%20were%20firmly%20integrated%20into%20the%20Brunei%20polity%22&f=false|title=The Life of the Longhouse: An Archaeology of Ethnicity|last=Metcalf|first=Peter|publisher=Cambridge University Press|year=2010|isbn=9780521110983|location=|pages=188}}</ref>

Awang Alak Betatar dan 13 saudaranya adalah bapak pendiri Brunei, dan diyakini memiliki setengah darah suku Murut, karena mereka memiliki ayah Murut yang sama dengan nama Upai Semaring atau Awang Semaun.<ref>{{Cite book|title=Brunei: History, Islam, Society and Contemporary Issues|last=Gin Ooi|first=Keat|publisher=Routhledge|year=2015|isbn=978-1-138-78765-0 |location=|pages=|via=}}</ref> Empat belas saudara ini merupakan suku Kelabit (Murut) dan pengikut mereka adalah "pembangun kekaisaran" awal Brunei.<ref>{{Cite book|title=Outside Influences on the Upland Culture of Kelabits of North Central Borneo|last=Harrisson|first=Tom|publisher=SMJ, Vol. XL(4)|year=1954|isbn=|location=|pages=117|via=}}</ref> Masyarakat suku Lun Bawangs dan Kelabit (Muruts) adalah keturunan kerajaan dari [[House of Bolkiah]], karena mereka menggunakan sebutan seperti Dayang, Sultan, Agong and Pengiran, nama yang digunakan oleh nenek moyang mereka di masa lalu.<ref>{{Cite journal|last=Bala|first=Bilcher|date=1993|title=Masyarakat Kelabit dan Lun Bawang di Sarawak|url=|journal=Jebat |volume=21|issue=|pages=21–54|doi=|pmid=|access-date=|via=}}</ref>

Namun demikian, perjanjian damai antara suku Lun Bawang dan penguasa Melayu Brunei sama sekali tidak abadi karena sepanjang sejarah kesultanan Brunei, suku Lun Bawang sering memberontak terhadap penguasa Brunei. Dikatakan bahwa pemberontakan suku Murut (''sic'') - yaitu suku Lun Bawang -. Dan orang-orang Cina telah menyebabkan Sultan Brunei meminta bantuan dari kesultanan Sulu untuk menekan pemberontakan pada tahun 1658, yang mengakibatkan Sultan Brunei menyerahkan wilayah kekuasaannya, [[Kimanis]] sampai Tapean Durian kepada [[Kesultanan Sulu|Sultan Sulu]] sebagai tanda terima kasih.<ref name = "J Hunt Esq 2">
{{Citation
| editor = J Hunt Esq
| title = Sketch of Borneo or Pulo Kalamantan
| volume = VIII
| url = https://books.google.com/?id=fBYIAAAAQAAJ&pg=RA3-PA10&dq=%22The+Maruts+and+Chinese%22#v=onepage&q=%22The%20Maruts%20and%20Chinese%22&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1812
| publisher = Sumatran Mission Press
| publication-place = Bencoolen
| isbn =
| pages = 10
| quote=
}}
</ref>

=== Suku Lun Bawang dengan pemukiman orang Eropa ===

Orang Eropa awal menggunakan eksonim ''Maroot'', ''Marut'', '' Morut'' atau ''Murut'' untuk menyebut suku Lun Bawang, dan mungkin diperkenalkan oleh orang Melayu Brunei yang melakukan kontak dengan mereka di Brunei. Tertulis masyarakat suku Lun Bawang paling awal di Eropa mungkin berasal dari [[Thomas Forrest (navigator)|Thomas Forrest]] selama pelayarannya ke Papua, Maluku dan Balambangan pada tahun 1776. Dia menggambarkan bahwa orang-orang Kalimantan (''sic'' - yaitu orang Brunei -) cenderung untuk mencegah Cina atau Eropa dari berurusan langsung dengan Maroot dalam perdagangan, melakukan perdagangan (sebagai perantara) kepada diri mereka sendiri.<ref name = "Thomas Forrest">
{{Citation
| editor = [[Thomas Forrest (navigator)|Captain Thomas Forrest]]
| title = A voyage to New Guinea, and the Moluccas, from Balambangan
| volume =
| url = https://books.google.com/?id=-BAPAAAAYAAJ&pg=PA383&dq=to+preclude+them+from+dealing+with+the+Maroots#v=onepage&q&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1776
| publisher = G Scott, J Robson
| publication-place = New Bond Street, London
| isbn =
| pages = 383
| quote=
}}
</ref>

Dalam ''Sketch of Borneo or Pulo Kalamantan'' milik John Hunt pada tahun 1812, ia menggambarkan suku Lun Bawang sebagai suku asli [[Brunei]], dan bahwa mereka jauh lebih adil dan lebih baik daripada orang Melayu, memiliki kerangka yang lebih kuat dan disebut sebagai ras orang yang berani.<ref name = "J Hunt Esq">
{{Citation
| editor = J Hunt Esq
| title = Sketch of Borneo or Pulo Kalamantan
| volume = VIII
| url = https://books.google.com/?id=fBYIAAAAQAAJ&pg=RA3-PA3&dq=The+Moruts+and+Orang+Idan#v=onepage&q=The%20Moruts%20and%20Orang%20Idan&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1812
| publisher = Sumatran Mission Press
| publication-place = Bencoolen
| isbn =
| pages = 3
| quote=
}}
</ref> Orang Eropa juga telah mendapat gambaran tentang suku Lun Bawang dari Brunei Melayu yang melakukan kontak dengan mereka. Misalnya saja selama perjalanan kapal ''[[Himmaleh (kapal)|Himmaleh]]'' dari Amerika ke Brunei, bangsawan Brunei (''pangeran'') melaporkan bahwa ada 21 suku di Brunei - Murut menjadi salah satu dari mereka - dan itu adalah suku ''kafir'' (tidak beragama Islam) dan melakukan [[pemburuan kepala]].<ref name = "J T Dickenson">
{{Citation
| editor = J T Dickenson
| title = "Notices of the City of Borneo and Its Inhabitant, Made During the Voyage of American Brig Himmaleh in the Indian Archipelago, in 1837." The Chinese Repository
| volume = VIII
| url = https://books.google.com/?id=qdZLAAAAYAAJ&pg=PA177&dq=brig+himmaleh#v=onepage&q=infidel&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1838
| publisher = Adamant Media (Elibron Classics)
| publication-place = originally Canton
| isbn = 978-1-4021-5635-9
| pages = 133
| quote=
}}
</ref> Selama ekspedisi [[Henry Keppel]] ke Kalimantan, ia mencatat bahwa suku Lun Bawang adalah penghuni pedalaman Kalimantan, dan orang Murut dan Dayak telah memberikan tempat kepada orang Kayan setiap kali mereka berhubungan satu sama lain.<ref name = "Henry Keppel">
{{Citation
| editor = Captain The Hon. Henry Keppel, R.N.
| title = The Expedition to Borneo of H.M.S. Dido for The Suppression of Piracy with Extracts from The Journal of James Brooke, Esq. of Sarawak
| volume =II
| url = https://books.google.com/?id=ZqAuaWxRhpEC&pg=PA171&dq=he+Expedition+to+Borneo+of+H.M.S.+Dido+For+the+Suppression+of+Piracy+murut+interior#v=onepage&q&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1846
| publisher = Robson, Level and Franklyn
| publication-place = Great New Street, Fettler Lane, London
| isbn =
| pages = 171
| quote=
}}
</ref> [[Sir James Brooke]] dalam jurnalnya yang ditulis pada 24 Desember 1850, menggambarkan penindasan yang dihadapi oleh masyarakat suku Lun Bawang (waktu itu disebut Limbang Murut) oleh para bangsawan Brunei, dan di mana beberapa orang berperang melawan tirani ini.<ref name = "Henry Keppel II">
{{Citation
| editor = Captain The Hon. Henry Keppel, R.N.
| title = A Visit to the Indian Archipelago in H.M. Ship Maeander: With Portions of the Private Journal of Sir James Brooke, K.C.B
| volume =
| url = https://books.google.com/?id=1MANAAAAQAAJ&pg=PA116&dq=%22sir+james+brooke+visits+labuan+and+borneo%22#v=onepage&q=%22sir%20james%20brooke%20visits%20labuan%20and%20borneo%22&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1853
| publisher = swald Walters B. Brierly, R. Bentley, Harvard University
| publication-place = New Burlington Street, London
| isbn =
| pages = 116
| quote=
}}
</ref>

[[Spenser St. John]] pada tahun 1860, menggambarkan kondisi orang-orang Lun Bawang yang miskin (waktu itu disebut Limbang Murut) di bawah pemerintahan Kesultanan Brunei. Ia juga memberikan laporan tentang penduduk asli (Murut dan [[Bisaya (Borneo)|Bisaya]]) bangkit menjadi pemberontakan, namun pemberontakan ini selalu ditekan oleh ancaman oleh pemerintah Brunei untuk membawa suku Kayan untuk menaklukkan oposisi.<ref name = "Leigh R Wright">
{{Citation
| editor = Leigh R Wright
| title = Brunei: A Historical relic
| volume = 17
| url = http://sunzi1.lib.hku.hk/hkjo/view/44/4401354.pdf
| accessdate = 12 Maret 2019
| year = 1977
| publisher = Jurnal Masyarakat Asia Cabang Hong Kong
| publication-place = Hong Kong
| isbn =
| pages = 19
| quote=
}}
</ref><ref name = "Spencer St John" /> Spenser St.John juga menggambarkan tirani yang dilakukan oleh bangsawan Brunei terhadap Limbang Murut, yang termasuk merebut anak-anak mereka untuk dijual sebagai budak jika pajak tidak dibayar, dan pada satu kesempatan, ketika ibukota Brunei dalam keadaan waspada oleh para prajurit Kayan yang sedang maraud , bangsawan Brunei menawarkan seluruh desa Limbang Murut untuk dijarah, dengan imbalan keamanan ibukota.<ref name = "Spencer St John">
{{Citation
| editor = Spencer St John
| title = Life in the Forest of the Far East
| volume = II
| url = https://books.google.com/?id=AXBCAAAAIAAJ&pg=PA55&dq=%22having+driven+the+Muruts+of+the+upper+Limbang%22#v=onepage&q=%22having%20driven%20the%20Muruts%20of%20the%20upper%20Limbang%22&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1860
| publisher = Smith, Elder and Co
| publication-place = 65 Cornhill London
| isbn =
| pages = 55
| quote=
}}
</ref>

== Kegiatan budaya dan ekonomi ==
Hampir semua kegiatan ekonomi tradisional Lun Bawang terkait dengan penanaman padi, dan mereka membudidayakan kedua padi di bukit yang disebut ''lati' tana' luun'' dan beras dari sawah disebut ''lati' ba''.<ref name = "Christine Padoch">
{{Citation
| editor = Christine Padoch
| title = Agricultural Practices of the Kerayan Lun Dayeh
| volume = 15 | issue = 1
| url = http://www.digitalhimalaya.com/collections/journals/brb/pdf/BRB_1983_15_01.pdf
| accessdate = 4 September 2008
| year = 1983
| publisher = Borneo Research Bulletin
| publication-place = Universitas Wisconsin
| isbn =
| pages = 33–37
| quote=
}}
</ref><ref name = "Mika Okushima">
{{Citation
| editor = Mika Okushima
| title = Wet rice cultivation and the Kayanic peoples of East Kalimantan: some possible factors explaining their preference for dry rice cultivation (1).(Research Notes)
| volume =
| url = http://www.thefreelibrary.com/Wet+rice+cultivation+and+the+Kayanic+peoples+of+East+Kalimantan:+some...-a093792579
| accessdate = 4 September 2008
| year = 1999
| publisher = Buletin Penelitian Kalimantan
| publication-place =
| isbn =
| pages = 33–37
| quote=
}}
</ref> Produksi beras terkait dengan prestise / status keuangan seseorang, karena kelebihan panen beras dikonsumsi secara tradisional di pesta ''irau'' besar, menandakan kekayaan dan keberuntungan. Nasi yang dimasak dibungkus dengan daun pisang ''Luba' Laya'', dan nasi juga diseduh menjadi anggur beras atau ''burak'' untuk alasan praktis. Meminum ''burak'' telah menjadi kebiasaan penting (dan juga terkenal, seperti yang dianggap oleh misionaris Kristen dan pemerintahan Brooke) dari suku Lun Bawang, tetapi sekarang produksi anggur beras telah berkurang secara signifikan karena upaya yang dilakukan oleh misionaris Kristen dan pemerintah Brooke untuk mendorong larangan di antara komunitas di awal abad ke-20.

Daging dan ikan diasinkan atau diasamkan menggunakan garam dan disimpan dalam batang bambu berlubang selama sebulan dan makanan asinan disebut ''telu' Daging dan ikan juga diawetkan dengan asap. Garam diperoleh dengan cara menguapkan air garam dari mata air asin''. Meat and fish are also preserved by smoking. Salt is obtained by evaporating brine from salt spring (''lubang mein'').<ref>{{cite web|url=http://travel.kompas.com/read/2015/08/22/103900227/Ketika.Luba.Laya.Lontongnya.Suku.Dayak.Lundayeh.Bertemu.Soto |title=Ketika Luba Laya, Lontongnya Suku Dayak Lundayeh Bertemu Soto |author=Sukoco Nunukan |editor=I Made Asdhiana |publisher=Kompas |date=22 Agustus 2015 |accessdate=21 Maret 2019}}</ref>

Ternak dan kerbau dibesarkan untuk diambil dagingnya, dan dapat berfungsi sebagai simbol status keuangan. Hewan-hewan ini umumnya digunakan sebagai [[mahar]] yang disajikan kepada keluarga pengantin wanita dari sisi pengantin pria.

Di masa lalu, para pria mengenakan jaket yang terbuat dari kulit pohon yang disebut ''kuyu talun''. Kain yang melilit dahi disebut ''sigar'' dan kain pinggang disebut ''abpar''. [[Parang]] panjang (''pelepet'') diikat ke pinggang, terutama ketika dibawa ke perang suku. Sedangkan untuk para wanita, mereka mengenakan ''pata'' di kepala mereka, ''beret'' di pinggang mereka, ''bane'' di leher dan ''gileng'' atau ''pakel'' dipakai sebagai ornamen di tangan dan pergelangan tangan mereka. "Pata", atau topi yang seluruhnya terbuat dari manik, dipakai sebagai simbol status.<ref name = "Heidi Munan">
{{Citation
| editor = Heidi Munan
| title = Lun Bawang beads
| url = http://surface.syr.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1057&context=beads
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1992
| volume = 5
| publisher = BEADS: Journal of the Society of Bead Researcher
| isbn =
| pages = 52
| quote=
}}
</ref>

Suku Lun Bawang termasuk ke dalam kelompok disebut sebagai kelompok Nulang Arc (Metcalf, 1975). Suku ini (bersama dengan suku lain seperti Berawa, [[Melanaus]] dan Kajang) secara tradisional mempraktikkan tradisi kuno tentang perawatan sekunder bagi orang mati. Di Lun Bawang, ini disebut ''mitang butung''. Metcalf berteori bahwa praktik ini adalah karakteristik tradisi budaya paling kuno di Kalimantan, sebelum kedatangan penjajah lainnya yang mempengaruhi diversifikasi budaya dan bahasa di Kalimantan..<ref name = "Peter Metcalf">
{{Citation
| editor = Peter Metcalf
| title = The Distribution of Secondary Treatment of the Dead in Central North Borneo
| volume = 7 | issue = 2
| url = http://www.digitalhimalaya.com/collections/journals/brb/pdf/BRB_1975_07_02.pdf
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1975
| publisher = Buletin Penelitian Kalimantan
| publication-place = Universitas Harvard
| isbn =
| pages = 54–59
| quote=
}}
</ref>

=== Bahasa ===
{{main|Bahasa Lun Bawang}}

=== Festival dan perayaan ===
Suku Lun Bawang merayakan ''Irau Aco Lun Bawang'' (perayaan Lun Bawang) setiap tahun pada tanggal 1 Juni di [[Lawas]], [[Sarawak]].<ref>{{cite web|url=http://www.theborneopost.com/2016/06/11/lun-bawang-festival-returns-to-lawas-in-full-glory/ |title=Lun Bawang Festival returns to Lawas in full glory |publisher=The Borneo Post |date=11 Juni 2016 |accessdate=21 Maret 2019}}</ref> Festival ini secara tradisional merupakan perayaan panen padi, tetapi sekarang menampilkan berbagai budaya dan acara suku Lun Bawang seperti ''Ruran Ulung'' (kontes kecantikan) dan ''ngiup suling'' (alat musik bambu).

Di [[Sipitang]] wilayah [[Sabah]], suku Sabahan Lun Bawang dan Lundayeh merayakan festival panen ([[Kaamatan]]) dua tahun sekali selama Festival GATA (''Gasing and Tamu Besar''), di mana tarian tradisional dan kostum sedang dipamerkan bersama dengan orang - orang dari suku asli lainnya di wilayah seperti suku [[Rumpun Murut|Murut]], [[Suku Kedayan]] dan [[Bahasa Melayu Brunei|Brunei Malay]].

Menjadi komunitas yang mayoritas beragama Kristen, sejak tahun 1950-an secara tradisional merayakannya "Irau Rayeh", yang merupakan festival dan perayaan [[Paskah]].<ref>{{cite web|url=http://kaltim.tribunnews.com/2015/11/04/bupati-wabup-sibuk-pembagian-sk-tenaga-honor-ditunda |title=Bupati-Wabup Sibuk, Pembagian SK Tenaga Honor Ditunda |publisher=Tribun Kaltim |date=4 November 2015 |accessdate=21 Maret 2019}}</ref>

=== Agama ===
Suku Lun Bawang sebagian besar merupakan penganut animisme sebelum tahun 1920-an. Di bawah aturan [[Raja Putih]] ([[Charles Vyner Brooke]]) di Sarawak, misionaris Kristen (khususnya Misi Evangelis Borneo) memiliki akses yang lebih baik ke pemukiman Lun Bawang di pedalaman dan dataran tinggi, dan melanjutkan untuk mengabarkan agama Kristen kepada orang-orang Lun Bawang.<ref name = "Jim Huat Tan">
{{Citation
| editor = Jim Huat Tan
| title = The Borneo Evangelical Mission (BEM) and the Sidang Injil Borneo (SIB), 1928-1979: A Study of the Planting and Development of an Indigenous Church
| volume =
| url = http://www.ocms.ac.uk/abstracts/pdf/2008_jhtan.pdf
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 1975
| publisher =
| publication-place =
| isbn =
| pages = 24–27
| quote=
}}

</ref>

Mayoritas masyarakat suku Lun Bawang adalah orang Kristen, sebagian besar dari mereka merupakan [[Sidang Injil Borneo]]. Sejumlah kecil dari denominasi Kristen lainnya, seperti [[Gereja Yesus Sejati]], [[Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh]], [[Gereja Katolik Roma]], atau agama lain, seperti [[Islam]] dan [[Buddha]].

== Standar kehidupan ==

Sebelum pemerintahan Rajah Putih, suku Lun Bawang berada dalam kondisi yang menyedihkan; sering terlibat dalam perang suku, pemburuan kepala dan konsumsi alkohol yang berlebihan.<ref name = Cheah>
{{Citation
| author=Sharon Cheah
| title = Malaysia Bagus!: Travels From My Homeland
| url = https://books.google.com/?id=OuRQDQAAQBAJ&pg=PT45&dq=%22mutang+tagal%22#v=onepage&q=%22mutang%20tagal%22&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2016
| publisher =
| publication-place =
| isbn = 9789810732127
| pages =
| quote=
}}
</ref> Suku Lun Bawang sering menjadi korban manipulasi politik oleh Kesultanan Brunei, misalnya mereka digunakan sebagai pengorbanan bagi perampok Kayan yang mengancam akan menyerang ibukota Brunei pada tahun 1860-an. Rendahnya standar hidup telah menyebabkan wabah penyakit parah (kolera dan cacar) di antara masyarakat, dan populasi secara signifikan menyusut ke titik hampir punah pada tahun 1920-an.<ref name = "A Morrison" />

Dengan munculnya pemerintahan Rajah dan konversi ke agama Kristen, standar kehidupan meningkat pesat, ketika para misionaris memperkenalkan layanan kesehatan, sistem sanitasi dan juga sistem pendidikan yang lebih baik. Suku Lun Bawang sangat bersemangat di sekolah, dan pada tahun 1940, sekitar 95% dari suku Lun Bawang dan suku Kelabit yang berumur di bawah 20-an di Lawas Damit sudah melek huruf.<ref name = Steiner>
{{Citation
| author=Hugo Steiner
| title = Sarawak: people of the longhouse and jungle
| url = https://books.google.com/?id=aYUuAQAAIAAJ&q=%22lun+bawang+and+the+kelabit+were+very+zealous+at+school+and+in+1940%22&dq=%22lun+bawang+and+the+kelabit+were+very+zealous+at+school+and+in+1940%22
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2007
| publisher =
| publication-place =
| isbn =9789833987016
| pages = 174
| quote=
}}
</ref>

Gerakan [[Misi Evangelis Borneo]] telah memainkan peran utama dalam pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat Lun Bawang, terutama dalam mendidik masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan, juga dalam menjaga perdamaian antara orang-orang Lun Bawang dan mereka yang berasal dari suku lain yang tinggal di dekatnya. <ref name=Tan>
{{Citation
| author=Jin Huat Tan
| title = Planting an Indigenous Church: The Case of the Borneo Evangelical Mission, Regnum Studies in Missione
| url = https://books.google.com/?id=QlpNAwAAQBAJ&pg=PA215&dq=lun+bawang#v=onepage&q=lun%20bawang&f=false
| accessdate = 21 Maret 2019
| year = 2012
| publisher = Wipf and Stock Publishers
| publication-place =
| isbn =9781620321393
| pages = 215
| quote=
}}
</ref>

Banyak masyarakat suku Lun Bawang yang mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi di kota - kota terdekat seperti Lawas, [[Limbang]] dan [[Miri]], dan di Sabah, [[Sipitang]] dan [[Beaufort, Malaysia|Beaufort]]; dan kemudian melanjutkan studi mereka di ibukota negara bagian atau di Semenanjung Malaysia, masih ada sedikit perkembangan sekolah di pemukiman Lun Bawang pedalaman, seperti [[Long Pasia]] atau [[Ba' Kelalan]]. Oleh karena itu, banyak pemuda Lun Bawang di pedalaman melakukan perjalanan jauh dari rumah mereka untuk mengejar pendidikan, kadang-kadang melalui transportasi sungai atau jalan kerikil.

Asupan pekerjaan di beberapa industri utama di Sabah dan Sarawak, seperti industri minyak dan gas dan kelapa sawit masih relatif kecil, dan beberapa masih terlibat dalam pertanian subsisten dan perikanan. Namun dengan upaya berkelanjutan, banyak dari mereka berhasil menjadi profesional. Statistik tahun 2011 menunjukkan bahwa ada sekitar 233 lulusan di antara komunitas Lun Bawang di Sarawak.<ref>http://blogtau.com/educational-statistic-of-the-lun-bawang-october-2011/</ref>


== Referensi ==
{{reflist}}

{{Suku bangsa di Indonesia}}

[[Kategori:Dayak|Kayan]]
[[Kategori:Penduduk asli]]
[[Kategori:Suku bangsa di Indonesia]]
[[Kategori:Suku bangsa di Malaysia]]
[[Kategori:Suku bangsa di Sarawak]]
[[Kategori:Suku bangsa di Kalimantan]]
[[Kategori:Suku bangsa di Kalimantan Utara]]
5.042

suntingan