Buka menu utama

Wikipedia β

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) adalah sebuah organisasi gerakan yang  berbasiskan intelektual muda (mahasiswa) yang memiliki cita-cita terwujudnya sosialisme Indonesia sebagai satu sinthesa yang berdasarkan atas asas marhaenisme yaitu : sosionasionalisme, sosio-demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia
Logo GMNI.png
Singkatan GMNI
Slogan PEJUANG PEMIKIR - PEMIKIR PEJUANG
Tanggal pembentukan 23 Maret 1954
Kantor pusat Jakarta, Indonesia
Bahasa resmi
Indonesia
Ketua Presidium GMNI
Wonder Nainggolan

Daftar isi

SejarahSunting

Sejarah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)Sunting

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) lahir dari hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi kemahasiswaan yang memiliki kesamaan azas yakni “Marhaenisme” ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi tersebut adalah:

Gerakan Mahasiswa Marhaenis (GMM) yang berpusat di Jogjakarta Gerakan Mahasiswa Merdeka yang berpusat di Surabaya Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) yang berpusat di Jakarta Gagasan untuk proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa tersebut mulai muncul, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.

Dalam rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk melakukan fusi terhadap ketiga organisasi yang se-azas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat respon positif.

Sebagai tindak lanjut, maka dilakukanlah beberapa pertemuan antara ketiga pimpinan organisasi mahasiswa tersebut, hingga tercapailah kesepakatan pada pertemuan berikut yang dilakukan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Bapak. Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai beberapa kesepakatan antara lain: ketiga organisasi setuju untuk melakukan fusi wadah (organisasi) bersama hasil peleburan tiga organisasi, berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno sepakat untuk mengadakan Kongres pertama GMNI di Surabaya.

Para pimpinan tiga organisasi yang hadir dalam pertemuan ini antara lain: Dari Gerakan Mahasiswa Merdeka (1. Slamet Djajawidjaja, 2. Slamet Rahardjo, 3. Heruman), Dari Gerakan Mahasiswa Marhaenis (1. Wahyu Widodo, 2. Subagio Masrukin, 3. Sri Sumantri Marto Suwignyo), Dari Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (1. S.M. Hadiprabowo, 2. Djawadi Hadipradoko, 3. Sulomo)<gallery>

Asas Dan Doktrin Perjuangan GMNISunting

Sebagai organisasi Gerakan Perjuangan, GMNI mempunyai Azas dan Doktrin Perjuangan, yang menjadi Landasan serta Penuntun Arah Perjuangan GMNI. Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI adalah:

  1. Pancasila
  2. Undang-Undang Dasar 1945
  3. Marhaenisme
  4. Pancalogi GMNI

Undang-Undang Dasar 1945Sunting

Dari Pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang patut dipahami oleh setiap anggota GMNI, antara lain :

  • Baris isi
  • Pokok perjuangan bangsa Indonesia adalah menghapukaan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
  • Perjuangan tersebut sesungguhnya merupakan berkat dari Allah Yang Maha Kuasa.
  • Negara berfungsi sebagai; Perumahan’ bangsa yang memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat dan seluruh wilayah Republik Indonesia.
  • Alat perjuangan untuk menuju terwujudnya cita-cita nasional yakni; masyarakat Adil dan Makmur di tengah dunia yang tanpa penindasan.


MarhaenismeSunting

Sosio Nasionalisme, Sosio Demokrasi, Ketuhanan Yang Maha Esa Pidato Bung Karno di depan Konferensi PARTINDO, Mataram 1933 Tentang Marhaen, Marhaenis, Marhaenisme

  • Marhaenisme yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi
  • Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yan lain-lain.
  • Partindo memakai perkataan Marhaen dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub di dalam perkataan Marhaen, danoleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termasuk didalamnya.
  • Karena Partindo berkeyakinan bahwa di dalam perjuangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
  • Didalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.
  • Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan Negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum marhaen.
  • Marhaaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjungan yang revolusioner,
  • Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan Azas yang ditujukkan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.
  • Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.

Pancalogi GMNISunting

  1. IDEOLOGI
  2. REVOLUSI
  3. ORGANISASI
  4. STUDI
  5. INTEGRITAS

KONGRES GERAKAN MAHASISWA NASIONAL INDONESIASunting

KONGRES ISunting


Dengan dukungan dari Bung Karno pada tanggal 23 Maret 1954 dilangsungkan Kongres I GMNI di Surabaya. Momentum inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi (Dies Natalis) GMNI. Hasil daripada Kongres I adalah pengesahan nama GMNI sebagai hasil fusi ketiga organisasi. Penetapan pimpinan nasional GMNI dengan M. Hadiprabowo sebagai Ketua Umum.

KONGRES IISunting


Dilaksanakan di Bandung pada tahun 1956 dengan hasil sebagai berikut: Konsolidasi internal organisasi, meningkatkan kualitas GMNI dengan mendirikan cabang-cabang baru di seluruh wilayah NKRI sebagai Ketua Umum DPP GMNI tetap M. Hadiprabowo.

KONGRES IIISunting


Dilaksanakan di Malang pada tahun 1959 dengan hasil sebagai berikut: Evaluasi pesatnya perkembangan cabang-cabang GMNI di Jawa, Sumatra, dan wilayah-wilayah lain. Pengembangan cabang-cabang baru GMNI di seluruh Kabupaten / Kota yang ada perguruan tingginya. Perubahan manajemen organisasi dari bentuk DPP menjadi Presidium. Ketua Presidium adalah M. Hadiprabowo. Konferensi Besar GMNI di Kaliurang tahun 1959 Bung Karno memberikan pidato sambutan dengan judul “Hilangkan Sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa !”. Diteguhkannya kembali Marhaenisme sebagai asas perjuangan organisasi.

KONGRES IVSunting


Digelar tahun 1962 di Jogjakarta, dengan hasilnya: Peneguhan eksistensi organisasi dalam realitas sosial politik dan masalah kemasyarakatan. Kepengurusan Presidium antara lain: Bambang Kusnohadi (ketua), Karjono (sekjen), John Lumingkewas, Waluyo, Sutamto Digjosupato, Lusian Pahala Hutagaul, dll. Pada Konferensi Besar di Jakarta 1963, Bung Karno memberikan amanat yang pada intinya meminta GMNI untuk lebih menegaskan ideologi Marhaenismenya. Selanjutnya Konferensi Besar di Pontianak 1965 Kongres V direncanakan berlangsung di Jakarta, tetapi batal akibat adanya GESTOK. Untuk itu konsolidasi organisasi dipindahkan ke Pontianak melalui forum Konferensi Besar, dengan hasil menetapkan kerangka program perjuangan dan program aksi bagi pengabdian masyarakat.

KONGRES VSunting


Berlangsung tahun 1969 di Salatiga. Terjadi perdebatan sengit di dalam Kongres akibat infiltrasi dari rezim penguasa Orde Baru. Hasilnya: mengesahkan kepemimpinan nasional GMNI berupa DPP dengan Ketua Umum Soeryadi dan Sekjen Budi Hardjono.

KONGRES VISunting


Dilaksanakan tahun 1976 di Ragunan Jakarta dengan tema pengukuhan kembali independensi GMNI serta persatuan dan kesatuan dan sekaligus konsolidasi organisasi. Hasil Kongres ini adalah:

Penyatuan faksi-faksi yang ada di GMNIkkkk Rekonsiliasi dengan powersharing untuk mengisi struktur kepemimpinan nasional Pernyataan independensi GMNI Pimpinan nasional berbentuk Presidium dengan kepengurusan sebagai berikut: Sudaryanto, Daryatmo Mardiyanto, Karyanto, Wisnu Subroto, Hadi Siswanto, Rashandi Rasjad, Teuku Jamli, Viktor S Alagan, Alwi F. AS, Emmah Mukaromah, Agung Kapakisar, Sunardi GM, Semedi.

KONGRES VIISunting


Dilaksanakan di Medan tahun 1979, hasilnya adalah:

Konsolidasi organisasi dan konsolidasi ideologi secara optimal Marhaenisme sebagai asas organisasi tidak boleh diubah Penegasan independensi GMNI Pengurus Presidium: Sutoro SB (Sekjen), Daryatmo Mardiyanto, Lukman Hakim, Sudaryanto, Kristiya Kartika, Karyanto Wirosuhardjo.

KONGRES VIIISunting


Berlangsung tahun 1983 di Lembang, Bandung dengan pengawalan ketat dari aparat keamanan. Kepengurusan Presidium hasil Kongres ini adalah: Amir Sutoko (Sekjen), Suparlan, Sudiman Kadir, Suhendar, Sirmadji Tjondropragola, Hari Fadillah, Rafael Lami Heruhariyoso, Bismarck Panjaitan, Antonius Wantoro.

KONGRES IXSunting


Berlangsung di Samarinda tahun 1986. Kepengurusan Presidium hasil Kongres ini adalah: Kristiya Kartika (Ketua), Hairul Malik (Sekjen), Sudirman Kadir, Sunggul Sirait, Agus Edi Santoso, I Nyoman Wibano, Suparlan, Adin Rukandi, Gerson Manurib.

KONGRES XSunting


Berlangsung di Salatiga tahun 1989. Kepengurusan Presidium hasil Kongres ini adalah: Kristiya Kartika (Ketua), Heri Wardono (Sekjen), Agus Edi Santoso, Hendro S. Yahman, Sunggul Sirait, Ananta Wahana, Jhon A. Purba, Silvester Mbete, Hendrik Sepang.1989

KONGRES XISunting


Dilaksanakan tahun 1992 di Malang, hasilnya adalah sebagai berikut: Adanya format baru hubungan antara kader GMNI yang tidak boleh lagi bersifat formal institusional, tetapi diganti jadi bentuk hubungan personal fungsional. Kepengurusan Presidium adalah: Heri Wardono (Ketua), Samsul Hadi (Sekjen), Idham Samudra Bei, Teki Priyanto, Yayat T. Sumitra, Rosani Projo, Yori Rawung, Herdiyanto, Firmansyah.

KONGRES XIISunting


Diadakan di Denpasar tahun 1996. Hasilnya adalah: Perubahan pembukaan Anggaran Dasar dengan memasukkan klausul “Sosialis Religius”,“Nasionalis Religius”, dan “Progresive Revolusioner”. Menolak calon tunggal presiden RI, penghapusan program penataran P4, reformasi politik ekonomi RI. Kepengurusan Presidium terdiri dari: Ayi Vivananda (Ketua), A. Baskara (Sekjen), Agus Sudjiatmiko, Abidin Fikri, Arif Wibowo, IGN Alit Kelakan, Deddy Hermawan, Sahala PL Tobing, Rudita Hartono, Hiranimus Abi, Yudi Ardiwilaga, Viktus Murin.

KONGRES XIIISunting


Terjadi perpecahan dalam Kongres XIII. Sebagian ada yang menyelenggarakan Kongres di Kupang pada Oktober 1999. Sebagian lagi menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Semarang tahun 2001. Presidium hasil Kongres Kupang adalah: Bambang Romada (Ketua), Viktus Murin (Sekjen), Arif Fadilla, Aleidon Nainggolan, Haryanto Kiswo, Klementinus R. Sakri, Kristantyo Wisnu Broto, Robby R F Repi, R.S. Hayadi, Renne Kembuan, Wahyuni Refi, Yusuf Blegur, Yori Yapani. Sementara itu Presidium hasil Kongres Luar Biasa di Semarang pada Februari 2001 adalah sebagai berikut: Sony T. Danaparamita (Sekjen), Hatmadi, Sidik Dwi Nugroho, Sholi Saputra, Endras Puji Yuwono, Purwanto, Susilo Eko Prayitno, Tonisong Ginting, Donny Tri Istiqomah, Andre WP, Abdullah Sani, Bambang Nugroho, I Gede Budiatmika.

KONGRES XIVSunting


Kepengurusan hasil Kongres Kupang meneruskan Kongres XIV di Manado dengan hasil kepengurusan Presidium sebagai berikut: Wahyuni Refi (Ketua), Donny Lumingas (Sekjen), Achmad Suhawi, Marchelino Paliama, Ade Reza Hariyadi, Hendrikus Ch Ata Palla, Yos Dapa Bili, Hendri Alma Wijaya, Moch. Yasir Sani, Haryanto Kiswo, Jan Prince Permata, Eddy Mujahidin, Ragil Khresnawati, Heard Runtuwene, Nyoman Ray. Sementara itu kepengurusan hasil KLB Semarang meneruskan Kongres XIV di Medan, dengan hasil kepengurusan sebagai berikut: Sonny T. Danaparamita (Sekjen), Andri, Dwi Putro Ariswibowo, Erwin Endaryanta, Fitroh Nurwijoyo Legowo, Mangasih Tua Purba, Monang Tambunan, Alvian Yusuf Feoh, Abdul Hafid.

KONGRES XV (KONGRES PERSATUAN)Sunting


Dilaksanakan pada tahun 2006 di Pangkal Pinang, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, dengan penyatuan dualisme kepengurusan yang ada di GMNI, hasilnya adalah sebagai berikut:

Penetapan AD/ART baru GMNI Penetapan silabus kaderisasi dan GBPP GMNI Hasil kepengurusan Presidium periode 2006-2008 adalah Deddy Rachmadi (Ketua), Rendra Falentino Simbolon (Sekretaris Jenderal) Komite-Komite: Dihot Simarmata, Eko Sigit, Inyoman Sukataya, Sapto, Hermanus Tadon, Iwan Moniaga, Bobby Tobing, Ekber L. Watubun, Sri Utami, Syarizal Yusri, Kalamudin, Hari Nazarudin, Imam Yahya, Deysi Marisit, Taufik Ramadhan, Hairul Mumin, Refli Prima.

KONGRES XVISunting


Berlangsung di Wisma Kinasih Bogor pada Desember 2008, hasilnya adalah: Penyempurnaan AD/ART dan GBPP GMNI, Bentuk pimpinan nasional adalah Presidium dengan Ketua Rendra Falentino Simbolon dan Sekretaris Jenderal Cokro Wibowo Sumarsono, Penegasan sikap politik sebagai berikut:

Pernyataan untuk kembali ke UUD 1945 yang asli Mendesak segera dilaksanakannya Reforma Agraria Menolak hutang luar negeri dalam bentuk apapun Cabut UU Badan Hukum Pendidikan, UU Pornografi dan Pornoaksi serta UU Penanaman Modal Nasionalisasi sepenuhnya aset-aset yang menyangkut hajat hidup orang banyak sesuai dengan amanat UUD 1945 Kepengurusan Presidium periode 2008-2011: Rendra Falentino Simbolon (Ketua), Cokro Wibowo Sumarsono (Sekretaris jenderal). Komite-Komite: Ekber L. Watubun (Komite Organisasi), Tengku Ruly Fachrialsyah (Komite Politik), Robby Sirait (Komite Litbang), Rizky Alfarisi Siregar (Komite Kaderisasi), Bambang Wijaksono (Komite hubungan Luar), Husnul Hidayat (Komite Agiprop), Muhamad (Komite Advokasi), Heny Lestari (Komite Sarinah), Taufik Ramadhan (Komite Pengorganisasian lintas Sektoral), Musriat Hidayat (Komite Pengorganisasian Sumberdaya Pendukung Gerakan), Sugeng Tri Handoko (Komite Pengorganisasian Pelajar dan Mahasiswa).

KONGRES XVIISunting


Kongres XVII dilaksanakan pada tanggal 21 – 28 Maret 2011 di Balikpapan, Kalimantan Timur, Kongres tersebut dibuka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga RI, Andy Malaranggeng dan dihadiri oleh PPPA GMNI dan beberapa tokoh nasional untuk memberikan sambutan dan ceramah bagi peserta Kongres XVII, diantaranya: Dr. H. Soekarwo, SH, M.Hum (Gubernur Jatim), Drs. Awang Farouk (Gubernur Kaltim), Drs Achmad Basarah (DPR RI), Walikota Balikpapan, Staf Kementrian Pertahanan RI, Prabowo Subianto, Surya Paloh dll. Proses dialektika dan dinamika dalam forum Kongres XVII sangatlah demokratis, sehingga menegaskan kepada kepemimpinan Presidium berikut untuk melakukan pembenahan terhadap sistem keorganisasian, diantaranya penyeragaman sistem administrasi organisasi secara struktural, penyempurnaan silabus kaderisasi dan pembentukan cabang-cabang baru secara nasional. Kepengurusan Presidium hasil Kongres XVII adalah sebagai berikut: Twedy Noviady Ginting (Ketua/Sumedang), Syaiful Anam (Sekjend/Pamekasan), Wilhelmus W Hadir (Ende), Markus L Wantania (Manado), Heri Bernad (Purwokerto), Elvis Z Watubun (Ambon), Edy Wijaya (Medan), Hariyadi (Bogor), Iman Munandar (Pekanbaru), Fereddy (Balikpapan), Faradian Ardiani (Malang Raya), Aren Frima (Lubuk Linggau), dan Asef Saefullah (Cirebon).

KONGRES XVIIISunting


Kongres XVIII dilaksanakan pada tanggal 1 – 6 Juni 2013 di kota Blitar Provinsi Jawa Timur. Kongres XVIII dibuka oleh Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum PP PA GMNI, Dr. H. Soekarwo, SH, M.Hum. Kongres XVIII merupakan kongres yang penyelengaraannya sangat berbeda dengan kongres-kongres sebelumnya. Dalam kongres ini, seluruh elemen masyarakat Blitar dilibatkan mulai dari akomodasi hingga keamanan untuk memastikan keseluruhan rangkaian acara dapat berjalan sesuai rencana. Para peserta kongres menginap di rumah warga, sementara itu kegiatan kongres berlangsung di area Istana Gebang Kota Blitar. Oleh karenanya, Kongres XVIII GMNI di Blitar disebut sebagai Kongres Kerakyatan. Kongres XVIII berlangsung demokratis dan dinamis yang menghasilkan beberapa keputusan strategis baik yang bersifat internal maupun eksternal. Kongres mengamanatkan kepada kepemimpinan Presidium berikut untuk melanjutkan pembenahan terhadap sistem keorganisasian, penetapan silabus kaderisasi, penetapan Garis-Garis Besar Pokok Perjuangan GMNI, pembentukan cabang-cabang baru, dan penetapan sikap politik GMNI.

Blitar, Bumi Bung Karno mengilhami lahirnya kepemimpinan Presidium hasil Kongres XVIII sebagai berikut: Twedy Noviady Ginting (Ketua/Sumedang), Bintar L. Pradipta (Sekjend/Jogjakarta), Christine Th.C Walangarei (Manado), Raden Karno Balubun (Manokwari), Wilhelmus W Hadir (Ende), Elvis Z Watubun (Ambon), Rofingatun Khasanah (Purwokerto), Eviyanti Kumala Dewi Batubara (Batam), Manik Suryandaru (Semarang), Ibnu Abdillah (Cirebon), Eva Manurung (Siantar), Yusrianto (Tangerang), Dedy Tri Rahmad (Denpasar), M. Farid (Bekasi), Galih Andreanto (Sumedang). Badan-Badan : Pius Agustinus Bria (Kupang), Rolando Parulian Tamba (Purwokerto).

KONGRES XIXSunting


Kongres XIX yang diselenggarakan di Maumere, Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur , 5 -10 September Tahun 2015 dibuka secara resmi oleh Menteri Dalam Negeri RI, Tjahjo Kumolo. Hadir Ketua DPP PA GMNI, Drs Ahmad Basarah, MH., bersama pengurus DPP PA GMNI lainnya, yakni Dr.Andreas Hugo Pareira, MA., Eva Kesuma Sundari, Wahyuni Refi, Ugik Kurniadi. Turut dihadiri Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang juga alumni GMNI dan Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya (Alumni GMNI).

Ditengah hiruk pikuk dinamika organisasi, Kongres yang mengusung tema “Mewujudkan Kedaulatan Maritim Indonesia Melalui Trisakti Bung Karno” berjalan secara demokratis dengan semangat kekeluargaan selaku kaum Nasionalis. Sehingga, selain merumuskan strategi pengembangan organisasi dan kaderisasi selama satu periode kepengurusan Forum Kongres XIX mampu mengukir sejarah baru dalam setiap dinamika pergantian kepemimpinan di tingkat Presidium GMNI. Buktinya, forum Kongres secara aklamasi melahirkan kepemimpinan Presidium GMNIsebagai berikut :

Ketua Chrisman Damanik (Purwokerto), Komite Kaderisasi dan Ideologi Ahmad Tabroni(Sumedang), Komite Organisasi Remon Amtu (Ambon), Komite Politik, Keamanan Fariz Rifqi Ihsan (Surabaya), Komite Reforma Agraria Desta Ardiyanto (Bogor), Komite Agitasi dan Propaganda Makruf (Pamekasan), Komite Lintas Sektoral dan Hubungan Antar Lembaga Jayadi (Sumbawa), Komite Kemaritiman Sitori Mendrofa (Gunung Sitoli Nias), Komite Pergerakan Sarinah Wasanti (Balikpapan), Komite Hukum, HAM dan Perundang-undangan Efniadyansah (Palembang), Komite Pendidikan dan Kebudayaan Widya Fattah Almis (Pekanbaru), Komite Ekonomi, Koperasi dan Kewirausahaan Mochammad Nday Hidayat (Lebak), Komite Pelajar, Mahasiswa dan Pemuda Herimanto (Sikka), Komite Sosial dan Bencana Alam Ahmad Maskuri (Bengkulu), Komite Hubungan luar Negeri Ariel Sharon (Bojonegoro), Sekretaris Jenderal Pius A. Bria (Kupang), Bendahara Christin Walangarei (Manado). Badan Kaderisasi Nasional Andy junianto Barus (Medan),Badan Hukum dan Advokasi Gerakan Ojak LBHA TI (Purwokerto), Badan Informasi, riset dan teknologi Refiansyah (Jakarta Pusat), Badan Penelitian dan Pengembangan Nasional Dwi Agus Setiawan (Tegal).

Alumni GMNISunting

Alumni GMNI adalah mereka yang telah berakhir keanggotaannya sesuai dengan AD/ART, berikut adalah daftar sebagian alumni GMNI yang menjadi tokoh nasional

  1. Prof.Dr. A. Nanang T. Puspito, M.Sc (Anggota Senat Akademik – ITB)
  2. Suko Sudarso
  3. Dr. Andreas Hugo Pareira, MA (Anggota DPR-RI)
  4. Nehemia Lawalata, SE
  5. Dr. H. Muhammad Taufiq Kiemas (Alm) (Mantan Ketua MPR-RI)
  6. Drs. H.M Djoemad Djiptowardojo,MBA.,MM
  7. Drs. H. Djarot Saiful HidayatMS ( Wakil Gubernur DKI Jakarta 2014-2017)
  8. dr. Subagjo, Sp.B(K)TKV
  9. Widjono Harjanto, SH
  10. Drs. H. Yayat Turochmat Soemitra (Wakil Bupati Kabupaten Bandung Barat 2013-2018)
  11. Ir. H. Bambang Susilo, M.M (Anggota DPD-RI)
  12. Drs. Palar Batubara
  13. Antasari Azhar (Mantan Ketua KPK)
  14. Prof. Dr. Arief Hidayat S.H., M.S. (Ketua Mahkamah Konstitusi)
  15. Murdaya Widyawimarta Poo / Murdaya Poo
  16. Aria Bima S.Sos
  17. Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno ( Rektor Universitas Brawijaya  2002-2006)
  18. Prof. DR. dr. Djanggan Sargowo, SpPD, SpJP(K), FIHA, FACC, FESC, FCAPC, FASCC  (Guru Besar Universitas Brawijaya)
  19. Prof. Dr. Wayan Suparta (Senior Research Fellow & General Chair of STACLIM 2016)
  20. Prof. Dr. Juliana Kartini Soedjendro, S.H (Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Semarang)
  21. Drs. Theo L. Sambuaga (Mantan Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Permukiman)
  22. Prof Dr.Ir. Firman Tamboen M.ENG (Guru Besar Universitas Sumatera Utara)
  23. Drs. Frans Lebu Raya (Gubernur Nusa Tenggara Timur)
  24. Dr.H. Soekarwo SH.,M.Hum (Gubernur Jawa Timur)
  25. Drs. H. Awang Faroek Ishak, M.M, M.Si. (Gubernur Kalimantan Timur)
  26. Ir. H. Daryatmo Mardiyanto
  27. Prof. Dr. Sutoyo,S.H
  28. Prof. Dr. Sukamdani Sahid Gitosardjono (Komisaris Utama Sahid Group)
  29. DR. (Hc) Ir. H. Siswono Yudo Husodo ( Mantan Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan)
  30. Prof. (Em) Dr. H.R.T. Sri Soemantri Martosoewignjo, S.H., M.H. (Alm, Tokoh Hukum Tata Negara Indonesia)
  31. Dr.(H.C.) Hj. Megawati Soekarnoputri (Presiden Republik Indonesia ke-5)
  32. Prof. Dr. H. Soedijarto, M.A (Ketua Dewan Pembina Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia)
  33. Eva Kusuma Sundari
  34. Ahmad Basarah
  35. Wahyuni Refi Setya Bekti
  36. H. Ganjar PranowoS.HM.IP (Gubernur Jawa Tengah)
  37. Fidelis Giawa, S.H
  38. Sonny Valentino Tulung
  39.  Priston Sagala
  40. Drs. Teten Masduki (Kepala Staf Kepresidenan Indonesia)
  41. Peter Kasenda
  42. Prof. Dr. H. Basuki Rekso Wibowo, SH., MS
  43. Dr. Cornelis Lay
  44. Prof. Dr. H. Muladi, SH (Gubernur Lemhannas 2005-2011)
  45. Prof. Dr. Kabul Santoso, MS ( Alm, Mantan rektor Universitas Jember)
  46. Dr. Prasetyo Widjojo Malangjoedo
  47. Prof. Sarosa Hamong Pranoto, SH. M.Hum 
  48. Prof. DR. Sudigdo Adi, dr., SpKK. (K)
  49. Prof. Dr. Sri AdiningsihM.Sc (Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Republik Indonesia)
  50. Prof DR. Suko Wiyono, SH, MH ( Guru Besar Universitas Negeri Malang)
  51. Dr. Ir. Tarcisius Sutikto, MSc ( Mantan Rektor Universitas Jember)
  52. Prof. Dr. Ir.H.Wani Hadi Utomo
  53.  Prof. Dr.Widjang Herry Sisworo
  54. Prof. Dr. Ir Yogi Sugito ( Mantan Rektor Universitas Brawijaya)
  55. Dr. Sukardi Rinakit
  56. Drs. Bambang Praswanto, M.Sc
  57. Ir. Sutarto Alimoeso MM ( Mantan Direktur Utama Bulog)
  58. Drs. Sapto Amal Damandari, Ak., C.P.A. (Wakil Ketua BPK RI)
  59.  James Sumendap (Bupati Minahasa Tenggara)
  60. Dr. Soni Sumarsono, M.DM ( Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia)
  61. DrDrs. Sinyo Harry Sarundajang ( Mantan Gubernur Sulawesi Utara)
  62. Muradi Clark, Ph.D (Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjdjaran)

ReferensiSunting