Buka menu utama

Wikipedia β

Soerjadi adalah Ketua Mahkamah Agung sejak Juni 1966 sampai Agustus 1968. Pada masanya Soerjadi harus menerima kenyataan bahwa ada beberapa hakim yang berencana terjun ke dunia politik dan berkiprah sebagai anggota Majelis Permusyaratan Rakyat Sementara (MPRS). Ia pun mengeluarkan SEMA No. 2 Tahun 1967 tentang Hakim yang akan duduk dalam suatu DOR atau (Dewan) Pemerintahan di Pusat dan Daerah.

Soerjadi
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia ke-3
Masa jabatan
Juni 1966 – 12 Maret 1967
Presiden Soekarno
Didahului oleh Wirjono Prodjodikoro
Masa jabatan
12 Maret 1967 – Agustus 1968
Presiden Soeharto
Digantikan oleh R. Soebekti
Informasi pribadi
Kebangsaan Indonesia
Agama Islam

Dalam SEMA itu, Soerjadi memberi pilihan kepada hakim-hakim tersebut untuk tetap menjadi hakim atau berkiprah jalur politik. Istilah yang digunakan dalam SEMA itu adalah menerima pengangkatan 'menjalankan kewajiban negara'. Bila hakim tersebut memilih opsi ini, maka ia harus melewati Ketua Pengadilan Negeri, Ketua Pengadilan Tinggi, dan MA, lalu mengajukan permohonan kepada Menteri Kehakiman untuk diberhentikan dari pekerjaannya selama 'menjalankan kewajiban negara' itu.

Di era ini, Soerjadi juga harus menghadapi fakta kedudukan para hakim atau Ketua Pengadilan yang menjadi penasihat hukum Panca Tunggal, tim penasihat Presiden Soekarno. Dalam SEMA yang dikeluarkannya, ia menyatakan hakim-hakim itu tak perlu mundur dari jabatannya sebagai hakim. Mereka hanya diinstruksikan tidak surut serta memecahkan masalah dalam Panca Tunggal dan/atau memberikan nasihat hukum mengenai sesuatu masalah yang dapat diperkirakan akan menjadi perkara di muka pengadilan.

Pada 1966, Soerjadi mengeluarkan SEMA yang mengharuskan hakim menggunakan toga dalam persidangan. SEMA ini merupakan aspirasi dari para hakim yang merasa toga merupakan salah satu alat yang bisa menambah suasana khidmat dalam sidang-sidang pengadilan. Di luar sidang, hakim tetap mengenakan pakaian seragam yang kala itu ditetapkan oleh Panitia Perencanaan Pemakaian Seragam yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman.

Soerjadi paling anti MA dimasuki golongan tertentu yaitu ABRI dan orang non hakim[1].

RujukanSunting

  1. ^ Sebastiaan Pompe, The Indonesian Supreme Court : A Study of Institusional Collapse
Jabatan peradilan
Didahului oleh:
Wirjono Prodjodikoro
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
1966–1968
Diteruskan oleh:
R. Soebekti