Buka menu utama

Betlehem di Galilea (Ibrani: בֵּית לֶחֶם הַגְּלִילִיתבֵּית לֶחֶם הַגְּלִילִית, Beit Lehem HaGlilit; lit. "Betlehem Galilea"; Bethlehem of Galilee) adalah sebuah moshav di Israel Utara. Terletak di Galilea dekat Kiryat Tivon, sekitar 10 kilometer sebelah barat lauti Nazaret dan 30 kilometer sebelah timur Haifa, berada di bawah yurisdiksi dari Dewan Regiional Lembah Jezreel. Pada tahun 2018 memiliki jumlah penduduk sebesar 825.[1] Moshav modern ini berada di situs pemukiman Israel kuno yang dikenal sebagai "Betlehem Zebulon" (Bethlehem of Zebulun) atau "Berlehem Zoria". Kota ini merupakan pemukiman Kristen di era klasik dan dihuni sepanjang Abad Pertengahan. Dibangun kembali sebagai koloni Bet Lam Templer pada abad ke-19 dan diubah menjadi moshav Yahudi pada tahun 1948.

Betlehem Galilea
בֵּית לֶחֶם הַגְּלִילִית
Arsitektur Templar di Betlehem Galilea (tahun 2004)
Arsitektur Templar di Betlehem Galilea (tahun 2004)
DistrikUtara
DewanJezreel Valley
AffiliasiMoshavim Movement
Didirikan2000 SM (kota kuno)
1596 (Bayt Lahm)
1906 (koloni Templer)
1948 (Moshav)
Penduduk (2018)[1]825

SejarahSunting

Untuk membedakan kota ini dari kota Betlehem di dekat Yerusalem, awalnya dikenal sebagai "Betlehem Zebulon" (Bethlehem of Zebulun; Yosua 19:15), sementara kota dekat Yerusalem disebut "Betlehem (di tanah) Yudea." Dalam Talmud Yerusalem kota ini disebut sebagai Beth Lehem Zoria, karena merupakan bagian dari kerajaan Tirus pada saat itu. Menurut Kitab Hakim-hakim, salah satu yang disebut "Hakim minor" dari awal pemukiman Israel, Ebzan, berasal dari Betlehem ini dan dimakamkan di sana.[2] Cambridge Bible for Schools and Colleges sebaliknya mengusulkan bahwa Betlehem yang dimaksud dalam bagian ini adalah Betlehem di Galilea "bukan Betlehem yang lebih terkenal di wilayah Suku Yehuda".[3]

Sampai akhir abad ke-19, reruntuhan gereja dan sinagoge bisa dilihat di sana, dan temuan arkeologi "dari awal Periode Romawi"[4] menunjukkan suatu kota yang makmur. Jadi Betlehem Zebulon di Alkitab "telah diidentifikasi" oleh para arkeolog dengan Betlehem di Galilea yang sekarang.

Karena kedekatannya dengan Nazaret, beberapa sejarawan mengusulkan bahwa tempat itu adalah Betlehem di mana Yesus dilahirkan. Aviram Oshri, seorang arkeolog senior dengan Israel Antiquities Authority, mendukung klaim ini,[5] meskipun orang-orang lain di lembaga ini menolaknya.[6]

Bekas-bekas bangunan utama dan tembikar dari abad keempat-kelima era Bizantium telah ditemukan di sini,[7] bersama-sama dengan sisa-sisa budaya Umayyah, Abbasiyah (abad kedelapan M) dan era Mamluk era (abad keempat belas-abad kelima belas M).[8]

Era UtsmaniyahSunting

Pada tahun 1517, desa itu dimasukkan dalam wilayah Kesultanan Utsmaniyah, dan pada catatan pajak tahun 1596 muncul sebagai Bayt Lahm, yang terletak di Nahiya dari Tabariyya (Tiberias) dari Liwa dari Safad (Safed). Populasinya adalah 27 rumah tangga dan dua orang bujangan, semua Muslim. Mereka membayar pajak sebesar 25% untuk produk-produk pertanian, termasuk gandum, jelai, kapas, sayuran dan buah kebun, sesekali pendapatan lain, kambing dan sarang lebah; berjumlah 1200 Akçe.[9][10]

Pada tahun 1859, konsul Britania Rogers menyatakan bahwa populasinya adalah 110 orang, dan pengolahan tanah seluas enam belas feddans.[11]

Pada tahun 1875 Victor Guérin mengunjungi dan mencatat bahwa Betlehem adalah sebuah desa kecil, yang telah melanjutkan keberadaan sebuah kota dengan nama yang sama.[12] Dia lebih lanjut mencatat reruntuhan dua bangunan, satu, benar-benar hancur, telah dibangun dari potongan batu yang bagus; pintu masuknya berada di façade selatan. Ia berpikir, dari orientasi utara dan selatan, bahwa itu adalah sebuah sinagoge. Bangunan lainnya, yang terletak mengarah ke timur dan barat, mungkin adalah sebuah gereja Kristen. Di lokasi terlihat beberapa shaft, empat di antaranya masih di situ dan setengah tertutup.[13]

Pada tahun 1882, Palestine Exploration Fund menerbitkan Survey of Western Palestine (Survei Palestina Barat) yang menggambarkan tempat ini sebagai "Betlehem Zebulon kuno. Sebuah desa terutama dibangun dari adobe (bata jemuran) pada tanah tinggi di perbatasan negeri berhutan. Air terdekat adalah di Wady el Melek, di utara (Ras el 'Ain), dan pada mata air dekat Muwarah di selatan."

Daftar populasi dari sekitar tahun 1887 menunjukkan bahwa Kh. Beit Lahm memiliki sekitar 55 penduduk; semua Muslim.[14]

Pada tahun 1906 Templers dari Koloni Jerman di Haifa mendirikan koloni di Galilea,[15] menamainya sesuai nama kota kuno tersebut.

Era Mandat BritaniaSunting

Pada Sensus Palestina 1922 yang dilakukan oleh pemerintah Mandat Britania, Bait Lam memiliki jumlah penduduk 224 jiwa; 111 orang Kristen dan 113 orang Muslim.[16] Dari antara orang-orang Kristen, 95 orang Protestan dan 16 Katolik Yunani (Melkites).[17] Ini telah meningkat sedikit pada Sensus Palestina 1931 menjadi 235 jiwa; 135 orang Muslim, 99 orang Kristen dan 1 orang Yahudi, dengan total 51 rumah yang dihuni.[18]

 
Rumah bersejarah yang telah dipugar di Betlehem Galilea

Pada tahun 1932 Partai Nazi memperoleh dua anggota pertama di Palestina; Karl Ruff dan Walter Aberle dari koloni Templer di Haifa.[19] Dalam tahun 1930-an, orang-orang Betlehem juga bergabung dengan partai itu, menunjukkan pudarnya afinitas idealisme asli kaum Templer. Pada bulan Agustus 1939, 17% seluruh Jerman Kristen di Palestina adalah anggota Partai Nazi.[20] Setelah Nazi mengambil alih kekuasaan di Jerman, semua sekolah internasional berbahasa Jerman bersubsidi atau yang sepenuhnya dibiayai oleh dana pemerintah diwajibkan untuk mempekerjakan guru-guru yang sealiran dengan Partai Nazi. Pada tahun 1933, para fungsionaris Templer mengimbau kepada Paul von Hindenburg dan Kantor Luar Negeri untuk tidak menggunakan simbol swastika untuk institusi-institusi Jerman di Palestina dan menyuarakan oposisi terhadap boikot toko-toko Yahudi di Jerman.[21] Kemudian, oposisi ini mereda. Pada tanggal 20 Agustus 1939 pemerintah Jerman memanggil semua orang Kristen Jerman di Palestina untuk bergabung dengan Wehrmacht dan 350 orang mendaftar.

Setelah mulainya Perang Dunia II, semua orang Jerman di Palestina dinyatakan "orang asing musuh". Pemerintah Britania mengirim mereka ke Sarona, Betlehem (Galilea), Waldheim (sekarang Allonei Abba) dan Stuttgart. Pada musim panas tahun 1941, 665 orang internir Jerman, sebagian besar keluarga muda dengan anak-anak, dideportasi ke Australia, meninggalkan orang-orang yang terlalu tua atau sakit. Pada bulan Desember 1941 dan 1942 400 orang internir Jerman, sebagian besar istri-istri dan anak-anak para laki-laki yang telah terdaftar di Wehrmacht, dilepaskan - melalui Turki - ke Jerman untuk tujuan reunifikasi keluarga.[22]

Pada tahun 1945 penduduk Beit Lam terdiri dari 370 orang; 210 orang  Muslim dan 160 orang Kristen,[23] dan total lahan 7,526 dunam menurut seorang pejabat tanah dan survei penduduk.[24] 6 dunam tanah adalah tempat khusus untuk jeruk dan pisang, 278 dunam untuk perkebunan dan tanah yang diairi, 4,796 untuk sereal,[25] sementara 51 dunam menjadi area built-up.[26]

Pada tahun 1945 para internir Italia dan Hungaria dibebaskan tapi warga Britania menolak untuk memulangkan sisa internir Jerman ke zona Britania di Jerman. Pada tahun 1947, mereka diizinkan untuk pindah ke Australia.[27] Sampai tanggal 14 Mei 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya, hanya 50 Templers tetap di negara ini.[28]

IsraelSunting

Pada tanggal 17 April 1948 Haganah merebut desa itu dan memindahkan para petani Yahudi untuk bermukim di sana, dan menjadi moshav. Banyak arsitektur Templer yang asli masih bertahan, dan gayanya dalam gaya dengan rumah-rumah yang dibangun oleh para Templers di bagian lain negara itu, seperti Sarona di Tel Aviv, Wilhelma (sekarang Bnei Atarot) dan koloni Jerman di Haifa dan Yerusalem.

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menggantikan pertanian sebagai cabang ekonomi utama. Susu, pertanian herbal, restoran, dan akomodasi bergaya pedesaan adalah salah satu wisata yang berorientasi bisnis di desa itu sekarang.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Population in the Localities 2018" (XLS). Israel Central Bureau of Statistics. 25 August 2019. Diakses tanggal 26 August 2019. 
  2. ^ Hakim-hakim 12:8-10
  3. ^ Cambridge Bible for Schools and Colleges on Judges 12, accessed 8 November 2016
  4. ^ Negev and Gibson, 2001, p. 80
  5. ^ Bethlehem National Geographic
  6. ^ "Israeli Archeologist says Jesus was born in Bethlehem...of Galilee?". Inquisitr.com. Diakses tanggal 25 May 2015. 
  7. ^ Dalali-Amos, 2011, Bet Lehem Ha-Gelilit
  8. ^ Tepper, 2016, Bet-Lehem Ha-Gelilit
  9. ^ Hütteroth and Abdulfattah, 1977, p. 188
  10. ^ Note that Rhode, 1979, p. 6 writes that the register that Hütteroth and Abdulfattah studied from the Safad-district was not from 1595/6, but from 1548/9
  11. ^ Conder and Kitchener, 1881, SWP I, p. 270
  12. ^ Guérin, 1880, pp. 393
  13. ^ Guérin, 1880, pp. 393-394; as given by Conder and Kitchener, 1881, SWP I, p. 301
  14. ^ Schumacher, 1888, p. 176
  15. ^ Yet to be discovered: The Jezreel Valley Haaretz
  16. ^ Barron, 1923, Table XI, Sub-district of Haifa, p. 33
  17. ^ Barron, 1923, Table XVI, p. 49
  18. ^ Mills, 1932, p. 88
  19. ^ Balke, 2001, p. 41.
  20. ^ Sauer, 1996, p. 17
  21. ^ Balke, 2001, p. 81
  22. ^ Sauer, 1996, pp. 18seqq.
  23. ^ Department of Statistics, 1945, p. 13
  24. ^ Government of Palestine, Department of Statistics. Village Statistics, April, 1945. Quoted in Hadawi, 1970, p. 47
  25. ^ Government of Palestine, Department of Statistics. Village Statistics, April, 1945. Quoted in Hadawi, 1970, p. 89
  26. ^ Government of Palestine, Department of Statistics. Village Statistics, April, 1945. Quoted in Hadawi, 1970, p. 139
  27. ^ Sauer, 1996, p. 19.
  28. ^ Sauer, 1996, p. 20

PustakaSunting

Pranala luarSunting