Sigmagold Inti Perkasa

perusahaan asal Indonesia
(Dialihkan dari Agis)

PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk (atau disingkat Sigmagold saja) adalah sebuah perusahaan di Indonesia yang bergerak di bidang investasi pada berbagai bidang,[1] seperti perdagangan, multimedia dan telekomunikasi, perindustrian dan jasa serta pertambangan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui anak usaha, terutama pada pertambangan emas.[2] Pernah tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode emiten TMPI, di era 2010-an, struktur kepemilikan perusahaan ini unik karena sebanyak 99,86% sahamnya dimiliki oleh masyarakat, sementara 0,14%-nya dimiliki oleh PT Pratama Duta Santosa.[3] Saham TMPI sendiri sudah dihapuskan (delisting) oleh pihak BEI sejak 11 November 2019,[4] karena telah mengalami suspensi pencatatan saham selama dua tahun.[1] Karena sejarah perusahaan ini (termasuk saat menjelang penghapusannya) dianggap sering merugikan investor publik di bursa saham, ada yang memplesetkan kode emitennya menjadi Taman Makam Para Investor.[5]

Sejarah dan perkembangan sunting

Sejak didirikan pada 1981, perusahaan yang terakhir tercatat berkantor pusat di Gedung Menara Duta Lantai I-C, Jl. HR. Rasuna Said Kav. B-9, Setiabudi, Jakarta Selatan ini terhitung telah beberapa kali berganti nama dan usaha. Sahamnya sendiri pertama kali masuk ke bursa saham lewat Bursa Efek Jakarta pada 25 Januari 1995, dengan harga penawaran umum perdana (IPO) sebesar Rp 1.350.[6]

PT Telagamas Pertiwi sunting

Awalnya, perusahaan ini didirikan sebagai CV Telagamas Pertiwi pada 2 Juli 1977. Kemudian, asetnya dipindahkan/naik status menjadi sebuah perseroan terbatas bernama PT Telaga Mas, didirikan pada 9 Januari 1981 di Surabaya.[7] Lalu, pada 1 Juni 1982 diganti menjadi PT Telaga Mas Pertiwi, dan kemudian pada 29 Desember 1993 disederhanakan menjadi PT Telagamas Pertiwi.[8] PT Telaga Mas Pertiwi merupakan perusahaan produsen sepatu olahraga dan komponen-komponennya, seperti sol sepatu di beberapa pabriknya yang terletak di Jl. Rungkut Industri III/12 (juga merupakan kantor pusat saat itu), Desa Cangkringmalang, Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur serta di Magelang, Jawa Tengah[9][10] dengan tujuan ekspor.[11] Kode emiten TMPI sendiri berasal dari singkatan nama Telagamas Pertiwi. Setelah IPO, sahamnya dimiliki oleh PT Imasco Pacific (19,05%), PT Bhakti Investama Tbk sebesar 19%, PT Telagarona Sentosa (12,5%), PT Santana Satria Perkasa (9,53%), PT Citra Sugimas Pratama (3,42%), Dapen BNI 1946 (3,83%), Rusdianto Hidayat (14,28%), dan publik (18,39%).[12]

PT Artha Graha Investama Sentral sunting

Tidak lama setelah IPO, diduga karena melemahnya industri sepatu, pemilik lama pun menjual 51% saham PT Telagamas Pertiwi ke Artha Graha Group (perusahaan milik Tomy Winata) pada Juni 1996, lewat mekanisme rights issue.[13] Tomy lalu mempergunakan perusahaan tersebut sebagai induk usaha dari perusahaan elektronik miliknya, yaitu PT Artha Graha Wahana,[14] yang dikenal sebagai distributor eksklusif produk Sony dan RCA (khususnya audio dan video),[15] ditambah produk elektronika lain dari Nokia, Compaq dan General Electric di Indonesia.[16] PT Artha Graha Wahana sendiri memiliki 6 anak usaha: PT Artha Citra Gallery (memiliki toko Galeri Elektronik 2001 dan Jakarta Electronic Center), PT Artha Wahana Karya, PT Artha Wahana Prakarsa, PT Artha Wahana Surya dan PT Artha Wahana Adhitama (untuk produk Sony) dan PT Mahameru Antarnusa Niaga (produk TV RCA). Untuk mewujudkan hal tersebut, PT Artha Graha Wahana sendiri diakuisisi oleh PT Telagamas dari Artha Graha Group dan PT Amcol Buana[17] senilai Rp 40,5 miliar di tahun 1997.[18]

Perlu diketahui bahwa keterlibatan Tomy dalam bisnis ini tidak bisa dilepaskan dari salah satu partner lamanya, Sugianto Kusuma (Aguan). Saudara Aguan, Jhonny Kusuma-lah yang mengembangkan manufaktur Sony (lisensi) pertama di Indonesia pada tahun 1986, bernama PT Amcol Graha Electronic Industries, dengan kepemilikannya mencapai 50% (lewat PT Graha Seruni) sementara sisanya dimiliki Amcol Holdings Singapura.[19] Sejak Desember 1995, peran PT Amcol sebagai produsen Sony untuk pasar lokal digantikan oleh PT Sony Manufacturing Indonesia yang dimiliki Sony Corp Jepang sebesar 100%.[20] Meskipun demikian, untuk distribusinya masih ditangani oleh PT Amcol, yang dimiliki juga kemudian oleh Aguan sendiri.[21][22] Jhonny kemudian juga merintis PT Mahameru Antarnusa Niaga sebagai agen dan manufaktur pesawat televisi RCA di Indonesia pada 1996.[23] Tidak lama kemudian, Tomy mengambilalih bisnis PT Amcol dalam wadah PT Artha Graha Wahana. Jhonny sendiri kemudian dijadikan kaki tangan Tomy di PT Telagamas Pertiwi.[24]

Setelah PT Telagamas mengakuisisi PT Artha Graha Wahana, kemudian dalam perkembangannya, perusahaan ini kemudian menutup bisnis sepatunya[11] dan sempat merencanakan akan mengakuisisi PT Cipta Inti Multipradana, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembiayaan pada Mei 1997.[16] Tidak lama setelah itu, tepatnya pada 11 Juli 1997 nama perusahaan diganti menjadi PT Artha Graha Investama Sentral Tbk (disingkat AGIS), menyesuaikan pemiliknya saat itu.[8] Meskipun kemudian lebih fokus ke bisnis elektroniknya, AGIS sempat juga berencana masuk ke industri media massa, dengan pada 13 Mei 1998 menandatangani kesepakatan bersama PT Datakom Asia. Rencananya, Datakom akan mengakuisisi sebagian saham PT AGIS, dan sebaliknya PT AGIS akan membeli sejumlah saham di anak perusahaan Datakom, televisi berlangganan Indovision.[25] Sempat juga menjalin kerjasama dengan PT Ramayana Lestari Sentosa dan PT Matahari Putra Prima dalam bentuk pembukaan toko elektronik.[26]

PT Agis Tbk sunting

Tidak lama kemudian, sejak 24 September 1999, nama perusahaan ini diubah menjadi PT Agis Tbk saja. Seiring dengan perubahan itu, logo perusahaan juga diubah, dan Agis mulai mengembangkan toko elektronik besar yang diberi nama "Agis Superstore".[27] Meskipun demikian, "kekuasaan" Tomy di perusahaannya ini tidak bertahan lama. Muncul kemudian nama Hary Tanoesoedibjo dengan PT Bhakti Investama-nya sebagai pemegang saham pengendali Agis. Sebenarnya, Bhakti sudah memegang saham Agis yang cukup signifikan sejak 1997 sebanyak 19%, walaupun bukan pengendali. Sempat menghilang pada tahun 2000, pada tahun 2001 nama Bhakti menjadi pemegang saham mayoritas Agis sebanyak 49% lewat mekanisme rights issue.[12] Diperkirakan, saham TMPI dibeli oleh Bhakti dari Tomy seharga US$ 30 juta.[28] Hary mengungkapkan, bahwa ia memiliki niat mengembangkan Agis sebagai perusahaan media terintegrasi.[29] Untuk mewujudkan hal ini, Agis sempat berencana untuk membangun televisi satelit bersama perusahaan Afrika Selatan, Multichoice International Holdings, dan sempat mengumumkan telah mengakuisisi SCTV dari tangan Datakom Asia dan Mitrasari Persada di tahun 2000,[30] walaupun keduanya tidak terwujud.

Setelah kepemilikan oleh Hary Tanoe, Agis tetap menjadi salah satu pemain bisnis elektronik ternama di Indonesia. Untuk memperkuat bisnisnya, sejak 18 September 2001, tiga anak usahanya, PT Artha Citra Gallery, PT Artha Graha Wahana, dan PT Mahameru Antarnusa Niaga telah dimerger ke PT Agis Electronics (d/h PT Artha Graha Wahana),[31] dan di tahun yang sama mengundang investor strategis TT International.[32] Bisnis Agis pun diperluas ke bidang logistik, dengan keberadaan PT JCL Indonesia, kemudian sempat juga memasuki bisnis periklanan dengan PT Bhakti Media Internasional, walaupun bisnis utamanya tetap di bidang perdagangan dan jasa barang-barang elektronik. Karyawan Agis pada 2004 tercatat sebanyak 967 orang. Anak usaha Agis yang utama adalah PT Agis Electronics yang memegang bisnis toko Agis dan anak-anak usahanya yang terlibat dalam distribusi dan jasa servis Sony.[33] Kepemilikan Hary Tanoe dalam perusahaan ini tidak berlangsung lama, karena pada 18 Juli 2006, Bhakti melepas seluruh saham mayoritasnya ke PT Bahana Bumi Cemerlang,[34] yang dimiliki oleh Jhonny Kesuma. Pembelian ini menandakan kembalinya Jhonny ke bisnis elektronik Sony yang dahulu dijalaninya.[32] Jhonny lalu diangkat sebagai direktur utama perusahaan ini pada 2007.[12]

Pada masa kepemimpinan Jhonny, perusahaan elektronik ini pernah berkali-kali mengejutkan pasar modal nasional dengan berbagai tindak-tanduknya. Di tanggal 23 April 2007, nama Agis langsung mencuat ke publik, ketika perusahaan ini mengumumkan akan mengakuisisi PT Akira Indonesia (produsen elektronik merek Akira), PT TT Indonesia, dan merger dengan Electronic Solution (toko elektronik).[35] Pihak Agis kemudian juga mengumumkan rencana membangun bisnis telekomunikasi dan melakukan kerjasama sinergis dengan PT Metrodata Electronics Tbk. Akibatnya, saham Agis di bursa saham pun melejit hanya dalam waktu beberapa bulan, dari Rp 215 pada akhir 2006 ke Rp 3.925 pada 4 Juni 2007. Ini masih belum ditambah adanya analis pasar yang menargetkan kenaikan pendapatan bagi perusahaan ini dari Rp 700 miliar ke Rp 1 triliun. Akan tetapi, hebohnya saham Agis tersebut hanya berlangsung sementara, karena pihak Bursa Efek Jakarta kemudian mensuspensi perdagangan sahamnya sejak 6-13 Juni 2007. Akibatnya, saham Agis pun anjlok menjadi Rp 2.325 pada akhir Juni 2007, apalagi ketika BEJ berhasil membongkar pihak Agis yang telah menyebarkan disinformasi ke publik dan memberi denda pada para pimpinan PT Agis Tbk atas kejadian itu.[36] Meskipun demikian, pihak Agis tetap melakukan berbagai langkah strategis untuk memperkuat bisnisnya. Misalnya, pada 2008, pihak Agis melakukan rights issue demi anak usahanya,[37] dan pada 6 Januari 2009 mengumumkan akuisisi masing-masing 30% saham Comstar Mobile Pte. Ltd. dan Erafone, yang keduanya bergerak dalam distribusi dan ritel telepon seluler demi memperkuat bisnis penjualan dan hak distribusi telepon seluler Agis (meskipun seluruh rencana akuisisi ini tidak pernah terwujud).[38][39]

Memasuki tahun 2010-an, kinerja Agis mulai menurun, meskipun memiliki 400 karyawan dan 1000 toko pada 2010. Untuk mengatasi masalah tersebut, manajemen memutuskan untuk menggali berbagai potensi lainnya, seperti pertambangan dan infrastruktur.[40][41] Di 29 September 2010, misalnya Agis mengumumkan rencana investasi dari Global Emerging Market Ltd senilai Rp 1,35 triliun untuk berinvestasi di sektor tambang.[42] Kemudian, Agis bersama Fujian Xinjifu Enterprises Co. Ltd., membentuk perusahaan patungan yang bergerak di bidang sumber daya alam dengan nama PT Agis Resources.[43] Menjelang 2012, nampak perusahaan ini mulai menggencarkan upayanya masuk ke bisnis pertambangan emas, seperti di Sumatera Barat.[44] Akhirnya, di 20 Desember 2012, Presiden Direktur Agis saat itu, Steven Kesuma (anak Jhonny) mengumumkan rencana Agis berhenti berbisnis di bidang elektronik, seiring munculnya banyak pesaing, perubahan preferensi konsumen, dan angka pendapatan yang menurun. Sebagai gantinya, dua anak usaha Agis lainnya, PT Agis Multimedia dan PT Agis Resources, akan lebih dikembangkan, khususnya dalam pertambangan seperti pembangunan smelter di Jawa Tengah yang diperkirakan selesai pada 2015-2016.[45]

PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk sunting

Pada 14 Februari 2014, Agis secara resmi mengganti nama perusahaan menjadi PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk.[46] Penggantian nama ini dilakukan setelah mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan pada 28 Oktober 2013 dan disetujui oleh para pemegang saham.[46] Alasan utama penggantian nama agar tidak terlalu identik dengan bisnis elektronik.[47] Sejalan dengan perubahan nama tersebut, Agis pun memfokuskan bisnisnya ke penambangan emas.[47] Nama yang diubah pun hanya induknya saja, nama Agis akan tetap diterapkan pada anak perusahaan lainnya.[47] Di saat yang sama pada RUPSLB, perseroan juga merombak susunan direksi dan komisaris.[48]

Meskipun demikian, bisa dikatakan kinerja Sigmagold tidak terlalu bagus karena bisnis tambangnya tidak terlalu moncer. Baru pada 2017 dua tambang yang dimiliki baru bisa beroperasi.[49] Belum lagi masalah seperti penurunan harga komoditas emas, terlambat menyampaikan laporan keuangan, dan sahamnya yang turun harganya sampai Rp 50.[50] Beberapa langkah lainnya juga sempat ditempuh Sigmagold untuk memperbaiki kinerjanya, seperti upaya membangun divisi PT Agis Electronics dengan hak distribusi produk air cooler merek Symphony baik untuk rumah tangga dan komersial.[51] Puncaknya, sejak 3 Juli 2017, saat itu karena belum membayar denda dan membayar biaya pencatatan tahunan, tidak menggelar public expose, dan telat menyampaikan laporan keuangan, saham Sigmagold terpaksa disuspensi BEI. Pada kuartal ketiga 2018, Sigmagold terakhir kali menyampaikan laporan keuangannya, yang mencatat pendapatan Rp 27,60 miliar (merosot 41,35% ketimbang periode yang sama tahun 2017 sebesar Rp 47,06 miliar).[1] Dua tahun setelah suspensi itu, tepatnya pada 11 November 2019, sahamnya resmi dihapuskan dari perdagangan di Bursa Efek Indonesia. Pada perkembangan terakhir, tercatat 8 hari setelah delisting tersebut Sigmagold melakukan RUPS Tahunan kembali, namun tidak kuorum seperti RUPS sebelumnya di tanggal 30 Oktober dan tidak memberikan kepastian yang jelas, khususnya bagi investor saham TMPI.[52]

Manajemen sunting

  • Komisaris Utama: -
  • Komisaris: Yan Biao
  • Komisaris: Eka Hikmawati Supriyadi
  • Direktur Utama: Adriano Wolfgang Pietruschka
  • Direktur: Eric Harjono[6]

Anak usaha sunting

  • PT Agis Electronic
    • PT Artha Centra Graha
    • PT Artha Wahana Prakarsa
    • PT Artha Wahana Karya
    • PT Artha Wahana Surya
    • PT Wacana Baru Asia
    • PT Bahana Karya Persada
    • PT Muzio Multimedia
    • PT Agis Energi
    • PT Aircooler Indonesia Rezeki
    • PT Mitra Sumber Berkat
  • PT Agis Mitra Mandiri
    • PT Bukit Rimba Lestari
    • PT WOW Television
    • PT Buana Maju Mandiri
    • PT Klik To Pay Multimedia
  • PT Sigma Resources
    • PT Inti Bumi Sejahtera Mandiri
    • PT Inexco Jaya Makmur[8]

Rujukan sunting

  1. ^ a b c BEI akan delisting saham Sigmagold Inti Perkasa (TMPI) pada 11 November 2019
  2. ^ Eksploitasi Tambang Emas Jalan, TMPI Optimistis Suspensi Saham Bakal Dicabut
  3. ^ Jadi Korban Saham TMPI yang 'Ditendang' BEI, Ini Kesaksian Investor
  4. ^ PENGUMUMAN BURSA
  5. ^ Balada Saham TMPI: Taman 'Makam' Para Investor
  6. ^ a b Sejarah dan Profil Singkat TMPI (Sigmagold Inti Perkasa Tbk)
  7. ^ analisis ratio keungan dalam rangka penilaian kenerja keuangan perusahaan pada PT telagamas pertiwi di surabaya
  8. ^ a b c Laporan Keuangan TMPI
  9. ^ Indonesian CCI Trade Directory
  10. ^ Corporate Handbook, Indonesia: The Definitive Guide to Listed Companies, Volume 2
  11. ^ a b Kompas seratus
  12. ^ a b c Dari MNC hingga Dapen BNI, Ini Jejak Pemegang Saham TMPI
  13. ^ Dari MNC hingga Dapen BNI, Ini Jejak Pemegang Saham TMPI
  14. ^ Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa Di Indonesia
  15. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 10,Masalah 28-36
  16. ^ a b JP/Telagamas, Cipta tie up
  17. ^ Informasi, Masalah 221-226
  18. ^ Corporate Handbook, Indonesia: The Definitive Guide to Listed Companies, Volume 2
  19. ^ Informasi, Volume 14,Masalah 163-166
  20. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 8,Masalah 17-23
  21. ^ Asiamoney, Volume 7
  22. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 11,Masalah 46-52
  23. ^ Eksekutif, Masalah 205-207
  24. ^ Investigasi - "Mafia Bisnis" Tommy Winata
  25. ^ JP/Artha Graha, Datakom to establish alliance
  26. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 10,Masalah 46-52
  27. ^ Milestones
  28. ^ Jalan Berliku Hary Tanoesoedibjo Bercerai Dengan Cendana
  29. ^ Gamma, Volume 3,Masalah 6-14
  30. ^ AsiaCom: Asia-Pacific TV, Cable, Satellite, and Telecommunications, Volume 6
  31. ^ Indonesian Capital Market Directory
  32. ^ a b Milestones
  33. ^ PT AGIS Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK
  34. ^ Financial Reports FR 2011 Q2 AGIS Tbk
  35. ^ Jajaran Direksi PT Agis Tbk.
  36. ^ KEJAHATAN DI BIDANG PASAR MODAL
  37. ^ Agis Bersikukuh Right Issue
  38. ^ AGIS Akuisisi Comstar dan Erafone
  39. ^ Agis Batal Ambil Alih Comstar dan Erafone
  40. ^ BEI Cabut Suspensi Saham dan Waran Agis
  41. ^ COMMISSIONERS PROFILE. SURAT PENGANTAR COVER LETTER
  42. ^ Incar Akuisisi Tambang, GEM Kucuri Agis Rp 1,35 Triliun
  43. ^ (Inggris) Agis. "Agis: Company Overview". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-04-28. Diakses tanggal 2016-10-25. 
  44. ^ AGIS RESOURCES akuisisi konsesi tambang emas di Sumbar
  45. ^ Terpukul, AGIS stop ekspansi bisnis elektronik
  46. ^ a b "Ganti Nama, TMPI Rambah Bisnis Emas". Sindonews.com. Sindonews. 13/2/2014. 
  47. ^ a b c "RUPSLB PT Agis Setujui Pergantian Nama Perseroan". Sindonews.com. Sindonews. 28 Oktober 2013. 
  48. ^ "TMPI Rombak Susunan Komisaris dan Direksi". Sindonews.com. Sindonews. 28 Oktober 2013. 
  49. ^ Tambang di Sumbar Siap Operasi, Sigmagold Optimistis Suspensi Sahamnya Dibuka
  50. ^ Sudah Mulai Nambang Emas, Saham TMPI siap Meroket
  51. ^ Sigmagold Kembangkan Kembali Bisnis Elektronik
  52. ^ RUPST TMPI Tak Kuorum Lagi, ke Mana Lagi Harus Mengadu?

Pranala luar sunting