Buka menu utama

Prof. Dr. Achmad Mochtar (lahir di Ganggo Hilia, Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat, tahun 1892 – meninggal di Jakarta, 3 Juli 1945 pada umur 53 tahun) adalah seorang dokter dan ilmuwan Indonesia[1][2] Ia merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat direktur Lembaga Eijkman, sebuah lembaga penelitian biologi di Jakarta yang didirikan pada masa pendudukan Belanda.[3]

Prof. Dr.
Achmad Mochtar
200px
Achmad Mochtar, tanpa tahun.
Lahir1892
Bendera Belanda Ganggo Hilia, Bonjol, Pasaman, Hindia Belanda
Meninggal3 Juli 1945 (umur 53)
Bendera Jepang Jakarta (masa pendudukan Jepang)
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
Almamater- Stovia, Batavia
- Universitas Amsterdam, Belanda
PekerjaanDokter
Dikenal atasDirektur Indonesia pertama Lembaga Eijkman
Orang tuaOmar (ayah)
Roekajah (ibu)
Potret lukisan Achmad Mochtar

Pada masa pendudukan Jepang, peneliti di Lembaga Eijkman ditangkap oleh militer Jepang atas tuduhan pencemaran vaksin tetanus.[2] Meski tuduhan tersebut tidak pernah terbukti, Achmad Mochtar menyerahkan diri pada tentara Jepang dan kemudian dieksekusi mati demi menyelamatkan hidup para peneliti di lembaga yang dipimpinnya.[1][4]

Keberadaan jasadnya yang dikuburkan massal beserta beberapa orang lainnya baru diketahui terletak di Ereveld, Ancol pada tahun 2010, setelah berselang 65 tahun.[4]

Latar belakangSunting

Achmad Mochtar merupakan seorang Minangkabau yang lahir dari pasangan Omar dan Roekajah.[5] Dia lulus dari sekolah kedokteran STOVIA di Batavia pada tahun 1916.[1]

KarierSunting

Mochtar memulai kariernya sebagai dokter di desa terpencil Panyabungan, Sumatra Utara selama dua tahun.[1] Ketika bertugas di Panyabungan, Achmad Mochtar bertemu dengan peneliti berkebangsaan Belanda bernama W.A.P Schüffner yang kala itu sedang meneliti malaria.[1] Schüffner kemudian menjadi mentor bagi Achmad Mochtar.[1] Berkat pengaruh Schüffner, pemerintahan kolonial Belanda mengirim Achmad Mochtar untuk mengikuti program doktoral di Universitas Amsterdam.[1]

Disertasi yang diselesaikannya pada tahun 1927 menyangkal leptospira sebagai penyebab demam kuning, sebagaimana yang diketahui ilmu kedokteran pada masa itu.[1] Achmad Mochtar kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1927 dan melanjutkan penelitian tentang leptospirosis.[1] Mochtar berpindah-pindah tempat tinggal dari Bengkulu, Sumatra Barat, hingga Semarang. Dia aktif menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan di berbagai jurnal ternama.[4] Pada tahun 1937, ia bergabung dengan lembaga penelitian The Central Medical Laboratory yang setahun kemudian berganti nama menjadi Lembaga Eijkman.[1] Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia dan menangkapi orang-orang berkebangsaaan Belanda, termasuk direktur Lembaga Eijkman pada masa itu yang bernama W.K. Martens. Martens meninggal akibat beri-beri saat berada dalam penyekapan militer Jepang.[1] Oleh karena itu, Achmad Mochtar diangkat menjadi pemimpin Lembaga Eijkman dan merupakan orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan tersebut.[1]

Tuduhan pencemaran vaksin tetanusSunting

 
Makam Prof. Dr. Achmad Mochtar di Ereveld Ancol, Jakarta, Indonesia pada upacara peringatan tanggal 3 Juli 2013

Pada tahun 1942, tentara Jepang memerintahkan Lembaga Pasteur di Bandung untuk memproduksi vaksin untuk mengobati romusha yang diduga terserang tetanus.[1] Sekitar 90 orang romusha yang masih sehat dibawa ke rumah sakit pusat di Jakarta untuk mendapatkan vaksin tersebut, namun mereka semua meninggal dunia. Beberapa minggu kemudian, peneliti Lembaga Eijkman yang menganalisis sampel jaringan hasil otopsi menyimpulkan bahwa vaksin yang diberikan telah tercemar toksin tetanus.[1]

Pada bulan Oktober 1944, Achmad Mochtar beserta staf peneliti Lembaga Eijkman dan para tenaga kesehatan yang melakukan vaksinasi ditangkap oleh tentara Jepang Kenpeitai dengan tuduhan melakukan sabotase terhadap vaksin yang diberikan kepada para romusha.[1] Mereka semua disekap, dipukul, dibakar, dan disiksa dengan metode waterboarding.[1] Beberapa dokter tewas dalam tahanan.[1]

KematianSunting

Pada bulan Januari 1945, para peneliti Lembaga Eijkman yang selamat dari siksaan tentara Jepang dibebaskan.[1] Tiga laporan terpisah menyebutkan Achmad Mochtar bernegosiasi dengan para penyekapnya, di mana ia setuju untuk mengakui tuduhan sabotase bila para koleganya dilepaskan.[1] Achmad Mochtar dipancung pada tanggal 3 Juli 1945. Sebuah catatan harian tentara Jepang menyebutkan bahwa jenazah Achmad Mochtar dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang ke liang kuburan massal.[1]

Penemuan makam Achmad Mochtar pada tahun 2010Sunting

Sejak saat kematiannya pada tahun 1945, lokasi jenazah Achmad Mochtar tidak pernah diketahui.[1] Melalui investigasi yang dilakukan oleh penerusnya, Direktur Lembaga Eijkman, Sangkot Marzuki, dan koleganya, Kevin Baird, berhasil menemukan makam Achmad Mochtar di Ereveld, Ancol pada tahun 2010.[1] Jasad Achmad Mochtar dimakamkan dalam satu liang lahat bersama 9 orang lainnya.[1]

PenghargaanSunting

Untuk menghargai jasa Achmad Mochtar, Pemerintah Indonesia memberikan penghargaan Satya Lencana Kebaktian Sosial pada tahun 1968 dan tanda kehormatan Bintang Jasa Klas III. Selain itu, namanya digunakan menjadi nama rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Sumatra Barat, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi.[6]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w (Inggris)Stone R (2010). "Righting a 65-year-old wrong". Science. 329 (5987): 30–31. 
  2. ^ a b (Inggris) Achmad Mochtar Scientiest Heroic Sacrifice The Guardian, 2010/07/25. diakses 23 November 2014
  3. ^ (Indonesia) Eijkman Peringati 65 Tahun Kematian Tragis Achmad Mochtar Detik.com, 2010/07/03. diakses 21 November 2014
  4. ^ a b c (Indonesia) Ilmuwan Achamd Mochtar Rela Mati Demi Selamatkan Stafnya Tempo.co, 2010/08/03. diakses 21 November 2014
  5. ^ Majalah Tempo, Seorang Martir Bernama Achmad Mochtar, 29 Juni - 5 Juli 2015
  6. ^ "Sejarah RSAM-RS. Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi" Situs web resmi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. 2 Januari 2012. Diakses 1 Maret 2016.