Buka menu utama

Demam kuning (dijuluki "Yellow Jack") adalah sebuah penyakit hemorrhagik virus akut.[1] Virus ini berupa sebuah virus RNA sebesar 40 hingga 50 nm dengan indra positif dari keluarga Flaviviridae.

Demam kuning
YellowFeverVirus.jpg
Mikrograf virus demam kuning melalui TEM (pembesaran 234.000X).
Klasifikasi dan rujukan luar
SpesialisasiPenyakit infeksi Sunting ini di Wikidata
ICD-10A95.
ICD-9-CM060
DiseasesDB14203
MedlinePlus001365
eMedicinemed/2432 emerg/645
MeSHD015004

Virus demam kuning ini ditularkan melalui gigitan nyamuk betina (nyamuk demam kuning, Aedes aegypti, dan spesies lain) dan ditemukan di kawasan tropis dan subtropis di Amerika Selatan dan Afrika, namun tidak di Asia.[2] Satu-satunya makhluk yang ditunggangi virus ini adalah primata dan beberapa spesies nyamuk. Penyakit ini diyakini berasal dari Afrika, kemudian dari sana diperkenalkan ke Amerika Selatan melalui perdagangan budak pada abad ke-16. Sejak abad ke-17, beberapa epidemi besar penyakit ini tercatat muncul di Amerika, Afrika dan Eropa. Pada abad ke-19, demam kuning dianggap sebagai salah satu penyakit menular paling berbahaya.[3]

Demam kuning terjadi dalam rupa demam, mual dan nyeri dan penyakit ini umumnya menghilang setelah beberapa hari. Pada beberapa pasien, fase beracunnya terjadi setelah itu, dan kerusakan hati dengan jaundis (penguningan kulit yang memberi nama penyakit ini) dapat terjadi dan mengakibatkan kematian. Karena kecenderungan pendarahan yang meningkat (diatesis pendarahan), demam kuning termasuk dalam kelompok demam hemorrhagik. WHO memperkirakan bahwa demam kuning mengakibatkan 200.000 korban sakit dan 30.000 kematian setiap tahunnya di daerah berpenduduk tanpa vaksin;[4] sekitar 90% infeksi terjadi di Afrika.[5]

Vaksin teraman dan efektif melawan demam kuning sudah ada sejak pertengahan abad ke-20 dan beberapa negara mensyaratkan vaksinasi untuk pelancong.[6] Karena belum ada terapi untuk penyakit ini, program vaksinasi ini, bersama peraturan mengurangi populasi nyamuk pengangkut virus, memiliki kepentingan besar di daerah-daerah terjangkit. Sejak 1980-an, jumlah kasus demam kuning terus meningkat dan menjadikannya sebagai penyakit yang bangkit kembali.[7]

Catatan kakiSunting

  1. ^ Schmaljohn AL, McClain D. (1996). "Alphaviruses (Togaviridae) and Flaviviruses (Flaviviridae)". Dalam Baron S. Medical Microbiology (edisi ke-4th). Univ of Texas Medical Branch. ISBN 0-9631172-1-1. 
  2. ^ "CDC Yellow Fever". Diakses tanggal 2010-03-13. 
  3. ^ Oldstone, Michael B. A. (2000). Viruses, Plagues, and History (edisi ke-1st). Oxford University Press. hlm. 45. ISBN 0195134222. 
  4. ^ "Yellow fever fact sheet". WHO—Yellow fever. Diakses tanggal 2006-04-18. 
  5. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama pmid19327647
  6. ^ Ryan KJ; Ray CG (editors) (2004). Sherris Medical Microbiology (edisi ke-4th). McGraw Hill. ISBN 0-8385-8529-9. 
  7. ^ Barrett AD, Higgs S (2007). "Yellow fever: a disease that has yet to be conquered". Annu. Rev. Entomol. 52: 209–29. doi:10.1146/annurev.ento.52.110405.091454. PMID 16913829. 

Bacaan lanjutanSunting

  • Espinosa, Mariola (2009). Epidemic Invasions: Yellow Fever and the Limits of Cuban Independence, 1878–1930. Chicago: University of Chicago Press. ISBN 9780226218113. 
  • Murphy, Jim (2003). An American Plague: The True and Terrifying Story of the Yellow Fever Epidemic of 1793. New York: Clarion Books. ISBN 0395776082. 
  • Nuwer, Deanne Stephens (2009). Plague Among the Magnolias: The 1878 Yellow Fever Epidemic in Mississippi. University of Alabama Press. ISBN 978-0-8173-1653-2. 
  • Pierce, John R.; Writer, James V. (2005). Yellow Jack: How Yellow Fever Ravaged America and Walter Reed Discovered Its Deadly Secrets. Hoboken: Wiley. ISBN 0471472611. 

Pranala luarSunting