Widjojo Soejono

Jenderal TNI (Purn) Widjojo Soejono (lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 9 Mei 1928; umur 93 tahun) merupakan seorang purnawirawan dengan pangkat bintang empat di pundaknya. Dan mantan Komandan Puspasus sekarang Kopassus ke-6 periode 1967-1970.

Jenderal TNI (Purn.)
Widjojo Soedjono
Jenderal TNI Purnawirawan Widjojo Soejono.png
Jenderal TNI (Purn) Widjoyo Soedjono
Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus ke-6
Masa jabatan
1967–1970
PendahuluBrigjen TNI Sarwo Edhi Wibowo
PenggantiBrigjen TNI Witarmin
Informasi pribadi
Lahir9 Mei 1928 (umur 93)
Bendera Indonesia Tulungagung, Jawa Timur
PasanganNy. Siti Mastoechajah (Alm)
HubunganMartodidjojo (Ayah)
Roesmirah (Ibu)
Kolonel Dr. Soewondo (Kakak) Widjojo Soeprapto (Kakak)
Anak1. Enny Lukitaning Diah
2. Wedhia Purwaningsih
3. Ariyati Sihwarini
4. Hardini Surjaningsih
5. Budhi Soejono
Alma materPeta (1945)
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangInsignia of the Indonesian Army.svg TNI Angkatan Darat
Masa dinas1945–1982
PangkatPdu jendtni staf.png Jenderal TNI
SatuanInfanteri (Kopassus)

Awal KehidupanSunting

Widjojo Soejono dilahirkan di Tulungagung, Jawa Timur pada tanggal 9 Mei 1928 sebagai putera bungsu 15 orang bersaudara dengan Ayah Martodidjojo yang leluhurnya berasal dari Surakarta dan Ibu Roesmirah yang leluhurnya berasal dari Yogyakarta.

Sekolah Dasar ditempuhnya di zaman penjajahan Belanda yang bernama H.I.S. Melanjutkan ke Sekolah Teknik yang di zaman penjajahan Belanda bernama K.E.S., di zaman pendudukan Jepang disebut Kogyo Gakko dan sekarang bernama SMK I Surabaya, beliau sekelas dengan Soewoto Sukendar yang kelak jadi Kepala Staf TNI Angkatan Udara dengan pangkat Marsekal TNI dan Widodo Budidarmo yang di kemudian hari jadi Kapolri dengan pangkat Jenderal Pol. Sedang Soemitro yang terakhir juga berbintang empat dan menjabat sebagai Wapangab merangkap Panglima KOPKAMTIB duduk ditingkat yang sama dengan belajar jurusan lain.

Semangat kemerdekaan yang sudah demikian bergelora ditengah-tengah masyarakat mendorong Widjojo Soejono untuk meninggalkan Sekolah pada umur 17 tahun dan mengikuti Latihan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada awal tahun 1945. Setelah lulus ia ditempatkan di Batalyon 4 Karesidenan Malang. Setelah pembubaran PETA dua hari menyusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia bergabung dengan seniornya Soehardjo untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) di HBS Straat yang sekarang bernama Jalan Wijaya Kusuma, Surabaya, kesatuan - kesatuan mana di kemudian hari menjadi TNI Resimen 33 Divisi VI/Narotama.

Karier MiliterSunting

Widjoyo Suyono, Mengawali karier dan pengabdiannya di dunia kemiliteran, TNI, melalui pendidikan perwira tentara sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di masa akhir pendudukan tentara Jepang sebagai Shoodancho, pangkat setara Perwira Pertama pada 1 Juni 1945. Selanjutnya, ketika PETA dibubarkan pada 19 Agustus 1945, dan membawanya bergabung dengan seorang senior bernama Suharjo, mantan Chudancho yang membangun Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Kota Surabaya, tepatnya di bekas gedung Hogere Burger School (HBS) yang terletak di jalan yang kini disebut Jalan Wijaya Kusuma, dan merupakan cikal bakal dari Resimen 1 Divisi VI di kemudian hari. Dengan mengaku setahun lebih tua, sesungguhnya Wijoyo ketika itu baru berumur 17 tahun dan mendapatkan tugas di Staf Resimen.[1]

Akhir tahun 1946, dengan selesainya penarikan Tentara Inggris keluar wilayah Indonesia, Perang Mempertahankan Kemerdekaan melawan agresi Belanda masih berbentuk linier frontal. Selain itu kekuatan bersenjata dari Laskar Kejuangan Bersenjata, kekuatan Tentara Republik Indonesia di Jawa Timur terdiri atas tiga divisi yaitu; Divisi V Ronggolawe, Divisi VI Narotama dan Divisi VII Untung Surapati.

Front dari Divisi VI Narotama yang menghadapi kekuatan utama tentara Belanda di wilayah Surabaya merupakan garis melingkar dari timur Gresik ke sebelah utara Krian, yang selanjutnya berakhir di Porong.

Divisi ini terdiri atas tiga Resimen dan Resimen I yang memang didirikan sejak awal di kota Surabaya mendapatkan porsi terbesar dari tugas pertahanan. Keadaan ini berlangsung sebelum nama Tentara Republik Indonesia (TRI) diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) mulai 3 Juni 1947.

Riwayat JabatanSunting

Letnan Dua s.d Letnan Satu
  • BKR, TKR, TRI, TNI di Kota dan Wilayah Surabaya (1945)
Kapten
  • Perwira Staf Resimen 33 Divisi VI/Narotama
  • Kepala Staf Batalyon 29
  • Ajudan Letkol Dr. W. Hutagalung
  • Wakil Komandan Batalyon Infanteri 511 (1949-1953)
  • Komandan Batalyon Infanteri 505/Brawijaya (1953-1955)
Mayor
  • Komandan Batalyon Infanteri 514 (1955-1957)
  • Tugas belajar di Sekolah Staf & Komando Angkatan Darat (1957-1959)
  • Tugas mengajar Taktik sebagai Guru di Pusat Infanteri (1959)
Letnan Kolonel
  • Kepala Staf Resimen Para Komando AD, Letnan Kolonel (1959-1961)
  • Komandan Brigade/Para, Caduad (1961-1963)
  • Tugas belajar di US Army Command & General Staff Colledge, Forth Leavenworth. (1963-1964)
Kolonel
  • Paban Operasi Staf Umum II AD (1964-1965)
Brigadir Jenderal
  • Panglima Komando Tempur IV (1965-1967)
  • Komandan Puspassus AD (1967-1970)
  • Panglima Kodam XIII/Merdeka (1970-1971)
Mayor Jenderal
  • Panglima Kodam VIII/Brawijaya (1971-1975)
Letnan Jenderal
  • Panglima Kowilhan III ( Sulawesi - Kalimantan ) (1975-1978)
  • Panglima Kowilhan II (Jawa, Nusra dan Timor Timur) (1978-1980)
  • Kendali operasional terhadap Operasi militer di Timor Timur
Jenderal
  • Kepala Staf Kopkamtib (1980-1982)

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ ""LETKOL WILIATER DALAM KENANGAN SEORANG PRAJURIT"". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-04. Diakses tanggal 2020-04-21. 
Jabatan militer
Didahului oleh:
Mayjen TNI Wahono
Panglima Kodam VIII/Brawijaya
1971 - 1975
Diteruskan oleh:
Mayjen TNI Witarmin
Didahului oleh:
Brigjen TNI Sarwo Edhie Wibowo
Komandan RPKAD
1967 - 1970
Diteruskan oleh:
Letjen TNI Witarmin