Walikukun
Schout ovat 130112-33396 ngw.JPG
Walikukun, Schoutenia ovata
dari Kiyonten, Kasreman, Ngawi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
(tanpa takson): Angiospermae
(tanpa takson): Eudikotil
(tanpa takson): Rosidae
Ordo: Malvales
Famili: Malvaceae
Genus: Schoutenia
Spesies: S. ovata
Nama binomial
Schoutenia ovata
Sinonim
  • Schoutenia hypoleuca Pierre
  • Actinophora hypoleuca (Pierre) O. Kuntze
  • Actinophora fragrans Wallich ex R.Br.

Untuk nama kecamatan di Kabupaten Ngawi, lihat Walikukun, Ngawi.

Walikukun (Schoutenia ovata Korth.) adalah sejenis pohon kecil anggota suku Tiliaceae. Pohon ini biasa ditemukan di hutan-hutan tipe musiman yang tumbuh di Jawa dan pulau-pulau di sebelah timurnya. Sebutan lainnya di antaranya: harikukun (Sd.); lanji, walikukun (Jw.); kokon, walèkokon (Md.)[2]. Juga,daeng nieo, daeng samae, daeng saeng, popel thuge, East Indian wood, ach-sat.[3]

Bioekologi ringkasSunting

 
Semak walikukun

Walikukun berperawakan semak, perdu atau pohon kecil, bercabang mulai dari dekat tanah, dengan tinggi mencapai 25 m dan gemang batang hingga 40–45 cm, tetapi umumnya kurang daripada itu[2]. Daun-daunnya terletak berseling, bundar telur atau lonjong, 1–17 × 1–8 cm, dengan bagian sebelah ujung kadang-kadang berlekuk atau berbagi, berambut halus, hijau di atas dan coklat kemerahan di sebelah bawah. Bunganya putih kekuningan, tersusun dalam tandan. Sementara buahnya kecil, sekitar 6 mm, berbiji tunggal.[4][5]

Tumbuh sampai ketinggian 900 m dpl., walikukun umumnya ditemukan di dataran rendah yang panas dan kering, di hutan-hutan gugur daun, hutan jati, sabana dan padang rumput. Kadang-kadang ditemukan di tanah yang berat dan kurang baik, yang becek secara periodik. Walikukun tahan terhadap naungan dan biasa tumbuh sebagai tajuk lapis kedua, sering ditemukan tumbuh menggerombol.[4]

KegunaanSunting

 
Batang

Kayu terasnya tergolong berat sampai sangat berat (B.J. 0,9–1,08; rata-rata 0,98[3]), keras, padat dan halus, serta tidak mudah patah. Berwarna coklat kemerahan seperti daging hingga coklat perang tua. Karena keuletannya yang amat baik, kayu walikukun banyak dipakai sebagai gandar kereta atau pedati, gagang perkakas dan lain-lain. Awet dan mudah dibelah, tetapi umumnya kayu ini sukar dikerjakan.[2]

Walikukun dimanfaatkan pula kayunya sebagai gagang tombak, dan juga sebagai kayu bakar. Kulit kayunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengikat yang kasar.

 
Daun dan pepagan

Pohon ini disebut-sebut dalam primbon Jawa berkhasiat melindungi rumah dari gangguan makhluk halus dengan cara ditanam di empat sudut pekarangan.

Catatan kakiSunting

  1. ^ Korthals, P.W. 1848. "Overzigt der Sterculiaceae en Buttneriaceae van de Nederlandsche Oost-Indische Bezittingen". Nederlandsch Kruidkundig Archief. Verslagen en Mededelingen der Nederlandsche Botanische Vereeniging. Deel I(4): 313. Leyden :S. en J. Luchtmans, 1846-1951
  2. ^ a b c Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia, jil. 3: 1293. Jakarta: Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. (versi berbahasa Belanda -1917- III: 187.)
  3. ^ a b ICRAF Database: Schoutenia ovata
  4. ^ a b Sastrapradja, S. dan R. Bimantoro 1980. Jenis Kayu Daerah Kering. Bogor:LBN LIPI. Hal. 78-79
  5. ^ Threathened Species of The Northern Territory of Australia: Schoutenia ovata

Pranala luarSunting