Buka menu utama
Usman Genongga Wanimbo, SE., M.Si

"Terwujudnya Tolikara yang maju, mandiri dan unggul", adalah visi dari Usman Genongga Wanimbo, SE. M.Si., dalam membangun Kabupaten Tolikara.

Usman Wanimbo
Bupati Tolikara Ke-2
Mulai menjabat
16 Oktober 2017
PresidenJoko Widodo
GubernurLukas Enembe
WakilDenis Wanimbo
Masa jabatan
10 Juli 2012 – 10 Juli 2017
PresidenSusilo Bambang Yudhoyono
Joko Widodo
WakilAmos Jikwa
PendahuluWashinton Turnip (Pj)
Alfons Sesa (Pj)
GubernurConstant Karma
Lukas Enembe
Informasi pribadi
Lahir8 Januari 1969 (umur 50)
Bendera Indonesia Warineri, Papua
KebangsaanIndonesia

Usman Genongga Wanimbo, SE, M.Si adalah Bupati Tolikara dua periode yang menjabat pada periode 2012–2017[1] dan 2017–2022, dan Politisi Partai Demokrat.[2] Ia lahir pada tanggal 8 Januari 1969 dari pasangan Abobam Genongga dan Amelu Wenda di Kampung Kanggime, Lembah Toli (Provinsi Papua). Ketika lahir, orangtuanya memberi nama Yeria Genongga, tetapi dia mengganti namanya menjadi Usman Genongga Wanimbo ketika pindah sekolah dari Kanggime ke Wunim.

Lulusan Magister pada Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin Makassar ini memiliki kepedulian yang besar terhadap pembangunan Sumber Daya Manusia masyarakat Papua, khususnya orang asli Papua. Selain giat membangun infrastruktur fisik di daerahnya, sosok Bupati Tolikara berjiwa visioner ini melahirkan ide cemerlang bertajuk Pelayanan Gizi 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dalam pelaksanaannya, pemberian makanan bergizi dan pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi membawa kegembiraan bagi seluruh masyarakat Tolikara dan diapresiasi banyak kalangan.[3] Gubernur Papua Lukas Enembe, SIP., MH., menegaskan dalam sebuah tulisannya bahwa melalui Pelayanan Gizi 1000 HPK, Usman G. Wanimbo telah membesarkan nama Papua sekaligus menginspirasi semua pemimpin dalam menerapkan model pembangunan yang tepat. Bahwa untuk memajukan Papua, pembangunan infrastruktur fisik perlu diimbangi dengan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Langkah yang perlu dilakukan adalah menyiapkan generasi unggul Papua yang dimulai sejak masa kecil, bahkan sejak dalam kandungan.

Kini di tengah kesibukkan sebagai pemimpin, ia terus giat mendampingi dan melayani warga masyarakat Kabupaten Tolikara sebagai bentuk pengabdian dan rasa cintanya terhadap dunia dan tanah airnya, tanah Papua. Pada periode pertama 2012 - 2017 kepemimpinannya sebagai Bupati Tolikara, Usman Genongga Wanimbo, SE., M.Si., telah mencapai presentasi yang patut kita banggakan. Dalam buku Memori Karya Bakti Usman G. Wanimbo, SE., M.Si., Bupati Tolikara 2012 - 2017[4], kita bisa menemukan bentangan karya gemilang pembangunan dalam bidang pemerintahan, infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan berbagai bidang penting lainnya. Semuanya terlihat bagai memandang mosaik pembangunan terindah yang terlukis dari kepingan-kepingan kisah sukses di setiap derap kehidupan warga Papua, khususnya warga Tolikara.

Setelah membawa banyak kemajuan dalam pembangunan, tokoh ulet dan berkharismatik ini juga mengantar Kabupaten Tolikara sebagai tanah damai. Konflik pasca Pemilu Kepala Daerah pada Februari 2012[5] dan Oktober 2017[6], serta insiden Tolikara pada 17 Juli 2015[7] dapat diselesaikan secara damai. Vita est militia (Hidup adalah perjuangan) begitulah prinsip hidupnya. Berjuang melampaui keterbatasan untuk meraih sukses besar di depan dengan menjadi rahmat bagi semua orang. Kehidupan yang keras, bahkan kejam, hanya menjadi milik para pemenang yang berani dan tangguh melawan tembok penderitaan dan sekat-sekat ketidakadilan. Dan orang-orang yang sukses melewatinya, umumnya sukses menjadi pemimpin besar, dengan tetap menghargai masa lalunya. bahkan, sanggup mengubah masa lalunya itu untuk menolong orang lain dengan tindakan nyata. Dalam buku Panggilan Tuhan Membangun Tolikara Dalam Kasih[8], kita dapat melihat sosok inspiratif seorang Usman Genongga Wanimbo, SE., M.Si., lelaki ulet dari Kampung Kutime yang kini menjadi Bupati Tolikara. Kepingan kisah hidupnya yang ditulis pada bagian awal buku menemukan maknanya di bagian akhir buku lewat sejumlah kebijakan pembangunan yang dilakukannya demi menolong dan menyelamatkan rakyat Tolikara dari ketertinggalan, kemiskinan, kebodohan, penyakit, dan isolasi geografis. Dalam video liputan jurnalis Focus Tolikara[9], Usman meninggalkan jejaknya di hati orang Papua dengan kerja dan karya-karyanya.

Dalam berbagai kesempatan, Usman G. Wanimbo selalu mengingatkan kepada rakyatnya dalam kata-kata bijak: "Seluruh hidup dan bhaktiku kupersembahkan untukmu rakyatku di negeri tercinta. Saya mencintai seluruh rakyat Tolikara siapapun anda. Norrewi, o Nalenggon - Kalenggen, Lambunik Longonip, o. (Damai Wargaku, Sejahtera Rakyatku)".


Kisah Hidup: Sang Pembawa Kegembiraan Baru

Saat peristiwa kelahiran, kebahagian paling utama dari setiap orang tua adalah ketika bayi yang dinanti-nantikan akhirnya menyapa dunia dalam tangisan pertamanya. Kebahagian yang sama dirasakan pasangan Abobam Genongga dan Tabunigwe Wenda, ketika tangisan pertama seorang bayi laki-laki memecah kesunyian Klinik Wuri Distrik Kanggime, 8 Januari 1969.

Meskipun bukan anak pertama namun di mata bapak Abobam Genongga dan mama Tabunigwe Wenda, kelahiran putra bungsu mereka itu tetap memiliki suatu keistimewaan tersendiri. Sang bayi itu menghapus air mata mama Tabunigwe yang tak kunjung mengering dan menggantikannya dengan sebuah senyum yang paling indah. Sebuah senyuman yang segera disambut tawa lucu tiga bocah Omanus Genongga (sulung meninggal tahun 1978), Imur Genongga (meninggal tahun 2013) dan Agustina Genongga (kembar).

Betapa tidak, keterbatasan sarana kesehatan di tengah cuaca dingin daerah Pegunungan Papua menyebabkan kematian dua anak mereka saat masih bayi. Hati bapak Abobam sangat terpukul. Bahkan rasa sakitnya semakin tak tertahan melihat mama Tabunigwe tak henti meneteskan air mata setiap kali mengingat kepergian kedua buah rahimnya. Kenyataan itu membuat bapak Abobam dan mama Tabunigwe putus asa dan memutuskan untuk tidak mempunya anak lagi. Ada ketakutan tersendiri. Bayangkan kematian selalu menghantui setiap kali mereka memikirkan untuk mempunyai anak lagi.

Lebih lagi saat itu, selain sibuk berkebun, kedua pasang yang selalu dekat dengan Tuhan ini harus pergi pulang antara Kampung Kutime dan Kanggime untuk mengikuti sekolah injil. Jarak dari Kutime ke Kanggime ditempuh dengan jalan kaki melewati gunung dan kali selama dua hingga tiga jam. kadang dari hari Senin sampai Sabtu mereka terpaksa menginap di Kanggime dan baru ke Kutime pada hari Sabtu sore.

Dalam situasi demikian, waktu untuk mengurus anak-anak menjadi semakin sulit. Namun perlahan, hati kecil bapa Abobam dan mama Tabunigwe mulai berbisik untuk mempunyai seorang anak lagi. Paling tidak untuk menggantikan dua buah hati yang telah tiada. Mereka memutuskan untuk menyerahkan niat mereka itu ke dalam doa dan kepasrahan total kepada kehendak Tuhan.

Akhirnya, Tuhan menganugerahkan mereka seorang putra bungsu yang lahir pada 8 Januari 1969. Seorang putra pembawa harapan dan kegembiraan baru memecah kesunyian malam lembag Kanggime. Putra pasangan penginjil itu kemudian diberi nama Yerianus Genongga dan dipanggil Yeria. Menurut cerita Agustina Genongga, kakak Usman G. Wanimbo bahwa saat lahir Yeria memiliki tubuh sangat kecil. Meskipun demikian, bapa dan mama tetap bahagia. Tidak ada ketakutan sedikitpun yang terpancar dari mata mereka. Bukan hanya bapa dan mama, semua keluarga besar Genongga dan Wenda ikut berbahagia. "Padahal lahir di daerah pedalaman dengan fasilitas kesehatan serba terbatas, bahaya kematian bisa saja menimpa terlebih kondisi Yeria sangat memprihatinkan. Namun kuasa Tuhan bekerja saat itu. Tidak ada satu pun yang cemas. Ada suatu kegembiraan tersendiri. Kegembiraan yang sulit diungkapkan oleh semua anggota keluarga saat Yeria lahir", kisah Agustina Genongga.


Riwayat Pendidikan

  1. Pada tahun 1978 - 1984, bersekolah dan tamat di SD Negeri Bokondini.
  2. Pada tahun 1984 -1986, bersekolah dan tamat di SMP YPPGI Karubaga.
  3. Pada tahun 1986 - 1989, bersekolah dan tamat di SMA Negeri Kemiri Sentani, Jayapura.
  4. Pada tahun 1989, masuk perguruan tinggi di Fakultas Ekonomi, Program Studi Managemen Sumber Daya Manusia dari Universitas Otto dan Gesler, Jayapura. Sambil kuliah, Ia juga bekerja di Kantor Misionaris GIDI di Sentani, Jayapura. Dengan kesibukan yang padat di Kampus dan kantor, Ia dapat menyelesaikan studi dengan baik pada tahun 1996 di kampus yang sama dan dengan skripsi berjudul " Kepemimpinan Yayasan Penerbangan Tariku".
  5. Pada tahun 2006, Ia mengambil studi S2 di Program Studi Magister Keuangan Daerah pada Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Hasanudin, Makassar - Sulawesi Selatan. Pada tahun 2008, ia tamat di kampus yang sama dengan berhasil mempertahankan Tesis Magisternya yang berjudul "Analisis Anggaran Belanja Daerah Dengan Kesesuaian Penerapan Sumber Daya Manusia Di Provinsi Papua".

Belajar Tulis, Baca dan Berhitung di Atas Batu

Kali Toli menjadi saksi dari kisah hidup Yeria. Di Kali itu, Yeria memulai mengenal dan mengerti arti sebuah perjuangan hidup. Ketika mengenyam pendidikan di SD pada tahun 1978 hingga 1984, setiap hari Yeria harus bangun jam empat pagi. Dalam cuaca tidak menentu, Yeria dan teman-teman melewati perjalanan yang sangat jauh dan baru tiba di sekolah sekitar jam setengah delapan pagi. Demikian juga pulang sekolah. Tanpa sandal dan sepatu mereka menempuh perjalanan selama berjam-jam sebelum tiba di rumah. Mengingat tubuhnya yang sangat kecil, Yeria terpaksa harus digendong saat menyeberang kali Toli. Ketika hujan dan kali Toli banjir, Yeria dan teman-temannya harus berteduh di dua atau lubang batu. Jika hujan tak kunjung redah, Yeria dan kawan-kawannya terpaksa tidur di tengah hutan atau di gua. Mereka baru bisa berjalan kembali keesokan harinya saat hujan telah redah. Dalam situasi demikian Yeria tetap menjaga semangat untuk terus belajar. Ia selalu menggunakan batu sebagai media untuk belajar menulis, membaca dan berhitung. Waktu itu, buku dan pensil sangat sulit didapat, sehingga batu menjadi pilihan penting untuk belajar menulis, membaca dan berhitung. [10]


Kepemimpinan dan Pengalaman Berorganisasi

  1. Pada tahun 1989 - 1990, bekerja sebagai karyawan tidak tetap di RBMU.
  2. Pada tahun 1991, Pendiri dan Ketua Komisi Pemuda GIDI atau Departemen Pemuda GIDI.
  3. Pada tahun 1992 - 1998, Kepala Bagian Urusan Tenaga Kerja Asing (Documents Service) untuk Zending RBMU, APCM dan UFM International.
  4. Pada tahun 1992 - 1994, Bendahara BPH GIDI Wilayah Toli di Sentani.
  5. Pada tahun 1992 - 1994, Ketua Beasiswa Mahasiswa GIDI di Indonesia.
  6. Pada tahun 1993 - 1995, Pendiri dan Pembina Klub Sepak Bola PS. Toli.
  7. Pada tahun 1996, mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Dasar GMKI di Kotaraja, Jayapura.
  8. Pada tahun 1999, bekerja di World Vision International (WVI).
  9. Pada tahun 1999, mendirikan CV. Lani Papua, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan pengadaan.
  10. Pada tahun 2001 - 2004, Pendiri dan Pembina Asosiasi Petani Kopi (APK) Baliem.
  11. Pada tahun 2001 - 2003, Wakil Ketua I Ikatan Intelektual Indonesia Kabupaten Jayawijaya.
  12. Pada tahun 2001 - 2005, Ketua Forum Komunikasi Pembangunan Masyarakat Toli.
  13. Pada tahun 2002, Kepala Sub Bidang Penelitian dan Analisa BAPPEDA Kabupaten Jayawijaya.
  14. Pada tahun 2008, Kepala Bagian Keuangan Kabupaten Mamberamo Tengah.
  15. Pada tahun 2008, Sekretaris Tim Anggaran Kabupaten mamberamo Tengah.

Buku dan Artikel

  1. Usman G. Wanimbo, Panggilan Tuhan Membangun Tolikara Dalam Kasih", PAKAR, 2017.
  2. Usman G. Wanimbo, Manusia Unggul Dimulai Dari Usia Emas, PAKAR, 2018.
  3. Bappeda & Diskominfo Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara, Memori Karya Bakti Usman G. Wanimbo, SE., M.Si., Bupati Tolikara 2012 - 2017, 2017.


Video Liputan Jurnalis "Focus Tolikara"

  1. Aktivitas dan potret kebijakan Bupati Usman G. Wanimbo dalam "Focus Tolikara". Silahkan kunjungi YouTube Channel https://www.youtube.com/playlist?list=PLccQXqVR-g2XgiAqWwIhls1ehhubap4KO

ReferensiSunting

  1. ^ "Bupati Terpilih Tolikora Dilantik 10 Juli". Antara News Makassar. 8 Juli 2012. Diakses tanggal 28 Januari 2019. 
  2. ^ Sofian, Arnaz (17 Oktober 2017). "Usman-Denis Resmi Dilantik Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tolikara". Liputan6.com. Diakses tanggal 28 Januari 2019. 
  3. ^ Fibriyani, Vita; Afifah, Ani (2018-04-24). "PEMODELAN INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI PAPUA DAN PAPUA BARAT TAHUN 2014". Jurnal VARIAN. 1 (2): 30–40. doi:10.30812/varian.v1i2.69. ISSN 2581-2017. 
  4. ^ Usman, Usman; Hakim, Lukman; Malik, Ihyani (2012-10-14). "STRATEGI PEMERINTAH DAERAH DALAM PENGEMBANGAN AGROWISATA DI KABUPATEN BANTAENG". Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan. 2 (2). doi:10.26618/ojip.v2i2.52. ISSN 2502-9320. 
  5. ^ "Bentrok Tolikara Papua, 11 Meninggal 201 Luka". Tempo (dalam bahasa Inggris). 2012-02-21. Diakses tanggal 2019-07-16. 
  6. ^ "Mendagri: Kasus Tolikara Jadi Bahan Evaluasi Pilkada 2018". Republika Online. 2017-10-30. Diakses tanggal 2019-07-16. 
  7. ^ Hasugian, Maria Rita (2016-01-07). "Susuri Papua, Menggali Akar Konflik Tolikara". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-16. 
  8. ^ Nomay, Usman (2019-07-08). "TUHAN, MANUSIA DAN ALAM DALAM (BORERO GOSIMO) AMANAT DATUK MOYANG TIDORE". Al-Qalam. 25 (1): 15. doi:10.31969/alq.v25i1.694. ISSN 2540-895X. 
  9. ^ VIDEO PAPUA TV (2019-07-07), Prestasi mitra kerja Pemda Tolikara, diakses tanggal 2019-07-16 
  10. ^ Nomay, Usman (2019-07-08). "TUHAN, MANUSIA DAN ALAM DALAM (BORERO GOSIMO) AMANAT DATUK MOYANG TIDORE". Al-Qalam. 25 (1): 15. doi:10.31969/alq.v25i1.694. ISSN 2540-895X. 
Jabatan politik
Didahului oleh:
John Tabo
Bupati Tolikara
2012–sekarang
Petahana