Buka menu utama

Suku Kamoro adalah salah satu suku yang berada di Papua. Tinggal di wilayah pesisir selatan Papua, di Kabupaten Mimika, dengan luas areal sekitar 250 km membentang mulai Sungai Otakwa di sisi timur hingga mendekati Potowai Buru di sisi barat. Sebagai masyarakat semi-nomaden, orang Kamoro tinggal di tiga ekosistem, hutan hujan tropis, rawa-rawa bakau dan daerah muara yang kaya akan sumber makanan.[1]

Pada tahun 1986 jumlah penduduk kecamatan Mimika Timur adalah 16.305 jiwa dan Kecamatan Mimika Barat 6.743 jiwa, di antara 75.766 jiwa penduduk Kabupaten Fakfak. Pada tahun 1990 penduduk kabupaten ini telah menjadi 88.488 jiwa. Jumlah orang Kamoro sendiri diperkirakan sekitar 8.000 jiwa, sekaligus penutur bahasa yang disebut bahasa Kamoro. Ciri-ciri fisik orang Kamoro, misalnya tinggi badan rata-rata 164,4 sentimeter dan bentuk kepala dolichocephal.

Suku Kamoro kaya akan ragam budaya, antara lain kegiatan menganyam oleh kaum wanita, mengukir oleh kaum pria, nyanyian, tarian, cerita legenda dan ritual ‘karapao’ yang masih diselenggarakan hingga saat ini.

Orang Kamoro dikenal sebagai masyarakat yang memiliki keterampilan dalam membuat seni ukir atau patung, seperti yang pernah dikemukakan oleh J.Teurupun, Seni Ukir Suku Kamoro (1990). Hasil karya mereka terkesan lebih abstrak dibandingkan dengan karya-karya orang Asmat. Ekspresi seni dutuangkan misalnya pada tongkat (ote-kapa) dengan motif sirip ikan (eraka waiti), latau tulang sayap kelelawar (tako-ema). Ini berarti bahwa pemilik tongkat yang membuat motif itu percaya berasal dari ikan atau kelelawar. Orang yang tidak bisa mengukir, maka ia dapat memesan motif tertentu sesuai dengan asal usulnya kepada seorang pengukir.

Motif lain adalah "ruas tulang belakang" (uema) yang diartikan bisa tulang belakang manusia, ikan, atau unggas. Orang Kamoro berpendapat bahwa ruas tulang belakag itu merupakan lambang kehidupan. Motif awan putih berarak (uturu tani) yang dapat menimbulkan macam-macam imajinasi, baik pada diri pengukir, pemilik atau siapa pun yang melihatnya. Imajinasi itu bisa menyangkut kerinduan pada kampung halaman, kekasih yang sudah tiada, ingatan terhadap peristiwa gempa bumi, dan lain-lain.


ReferensiSunting


Pranala luarSunting

  1. ^ Melalatoa, M.Junus (1995). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.