Senggreng, Sumberpucung, Malang

desa di Kabupaten Malang

Senggreng adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Dalam Pararaton, desa ini disebut sebagai Senggreng.

Senggreng
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenMalang
KecamatanSumberpucung
Kodepos
65165
Kode Kemendagri35.07.12.2002 Edit the value on Wikidata
Luas... km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²


SEJARAH DESASunting

Dahulu wilayah Desa Senggreng masih berupa hutan belantara yang masih belum terjamah tangan manusia. Dalam bahasa jawa bisa diartikan “alas gung lewang-lewung jalmo moro jalmo mati”. Kira-kira tahun 1830-an setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda maka berakhir pula perlawanan tentara Diponegoro. Sejak saat itu tentara Diponegoro bercerai-cerai dan banyak yang menyingkir ke daerah timur yang masih banyak hutan lebatnya dan menyebar di berbagai tempat antara lain di wilayah Malang Jawa Timur. Mereka yang menyingkir ada yang berkelompok dan banyak pula yang sendiri. Mereka membuka hutan belantara untuk dijadikan ladang pertanian. Mereka sekaligus mendirikan tempat tinggal disekitar ladang tersebut sebagai kampung tempat tinggal. Penduduk setempat menyebut mereka sebagai orang mataram. Hingga saat ini di daerah Kabupaten Malang masih banyak dijumpai adanya Kampung Mentaraman. Misalnya di Kecamatan Sumberpucung ada di Desa Jatiguwi dan Desa Ngebruk. Di Kecamatan Kepanjen, Donomulyo, Gondanglegi dan lain-lain ada suatu daerah yang disebut kampung mentaraman. Ada empat orang yang mempunyai peran dalam membuka hutan belantara daerah selatan Desa Ngebruk, yaitu Regunung (ayah), Trunowongso (anak), Malang joyo (keponakan), dan Kromodikoro (keponakan).

Menurut cerita setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, maka sampailah mereka berempat disuatu tempat, mereka berhenti dan mendirikan tempat peristirahatan sementara. Selama ditempat peristirahatan sambil beristirahat mereka mengamati keadaan sekitar, mereka tertarik dengan lokasi disebelah utara tempat peristirahatan, akhirnya mereka memutuskan untuk membuka daerah tersebut menjadi lahan pertanian sekaligus perkampungan dan hingga saat ini kampung tersebut terkenal dengan nama kampung mentaraman yang terdapat di desa Ngebruk. Selanjutnya mereka membuka hutan daerah selatan. Mereka membagi menjadi dua. Regunung bersama Trunowongso di bagian timur (sebelah timur jalan raya Senggreng ke selatan sampai Sungai Brantas dan ke arah timur sampai Desa Ternyang), sedangkan Malangjoyo dan Kromodikoro di bagian barat (dari barat jalan raya Senggreng menuju ke selatan tepi tidak sampai Sungai Brantas). Pembagian daerah itu ditandai dengan sebuah tugu batu, hingga saat ini masih ada yakni didekat tugu batas Desa Senggreng dengan Desa Ngebruk. Setiap selesai bekerja mereka tetap istirahat ditemoat peristirahatan semula. Lama kelamaan tempat tersebut menjadi tempat berkumpulnya penduduk sekitar untuk bersama-sama beristirahat melepas lelah sehabis bekerja. Dari kumpul-kumpul dan bertemunya mereka timbul komunikasi dan saling bertukar informasi dalam berbagai hal yang perkembangan selanjutnya mereka saling memerlukan kebutuhan masing-masing. Timbul tukar-menukar barang kebutuhan dan lama kelamaan seiring perkembangan zaman secara alami tempat tersebut berubah manjadi tempat perdagangan jual beli ataupun tukar menukar barang, dan saat ini tempat tersebut menjadi Pasar Ngebruk.

AWAL MULA NAMA SENGGRENG

Di dalam kawasan hutan belantara yang belum terjamah tentu belum ada namanya. Untuk menandai suatu kawasan di dalam hutan agar mudah dikenali letaknya, adat kebiasaan masyarakat jawa dalam menamakan suatu kawasan diambil dari hal-hal yang dianggap paling menarik perhatian yang ada di sekitar tempat tersebut. Misalnya sumberpucung, sebutan suatu kawasan disekitar sumber air yang didekatnya terdapat pohon pucung yang besar. Demikian pula yang dialami ki Malangjoyo dan ki Kromodikoro dalam membuka hutan belantara telah menamakan salah satu kawasan dalam hutan dengan sebutan Waringinrejo, karena di kawasan itu tumbuh sebuah pohon beringin besar dan sekelilingnya banyak ditumbuhi pohon beringin kecil yang masih muda (enom). Sehingga pada saat itu orang menyebut kawasan tersebut dengan sebutan ringinrejo dan ada juga yang menyebut wringinanom. Suatu ketika di kawasan ringinrejo/wringinanom terjadi angin puyuh sehingga banyak pohon yang tumbang, ada yang dahannya patah, daun-daun gugur berterbangan diterjang angin puyuh sehingga pohon yang tidak roboh tinggal batangnya saja. Ringinrejo yang tadinya teduh dengan tiupan angin yang sepoi-sepoi karena tertahan rindangnya dedaunan menjadi panas. Setelah terjadinya angin puyuh yang menyebabkan pohon gundul dan menjadikan kencangnya tiupan angin, terjadilah hal yang aneh dimana setiap kali ada tiupan angin, terdengarlah suara “gembrenggeng” di atas pohon elo yang tumbuh disebelah timur pohon beringin yang paling besar. Masyarakat sekitar kawasan itu banyak yang ketakutan dan saling bertanya-tanya “Sing Gembrenggeng iku suarane opo dulur..???”sing nggereng iku suarane opo co??” semua orang menyebut tentang seng gembrenggeng,sing nggereng. Peristiwa itu menjadi pembicaraan orang karena keanehannya, dimana setelah peristiwa terjadinya angin puyuh kemudian setiap kali ada angin terdengar suara gembrenggeng, ada yang menyebut nggereng itu adalah suara macan dan lain-lain. Melihat adanya keanehan dan keresahan warganya, petinggi Jogorekso ditemani Pamongnya menyelidiki sumber suara tersebut. Setelah diteliti ternyata suara aneh itu berasal dari sebuah batu yang bentuknya mirip genthong yang berada di dahan pohon elo. Sejak saat itu orang menyebut kawasan itu dengan sebutan “wit elo senggereng” yang lama kelamaan disebut senggereng kemudian berubah menjadi “senggreng” hingga saat ini.

Di selatan kawasan ringinrejo ada masyarakat yang mempunyai kesukaan adu jago, suatu saat timbul kenaehan dimana saat adu jago terjadi sampyuh/draw, tidak ada yang menang maupun kalah meskipun kepala dan badannya sobek-sobek tercacah taji, dalam bahasa jawanya “awak lan endase rejeh kabeh ke-rancah jalu. Mendengar kabar keanehan ini banyak para botoh ayam aduan yang berdatangan melihat ayam jago yang tangguh itu. Setelah melihat kondisi ayam mereka bergunjing terheran-heran “awak lan endase ke-rancah jalu kug ora mati yo”. Saat itu orang menyebut kawasan itu dengan sebutan “jago ke-rancah” yang lama kelamaan diambil praktis dan singkatnya kawasan itu disebut Rancah, dan karena pengaruh logat jawa maka kata Rancah menjadi Ngrancah.

Kemudian ada yang melanjutkan kearah selatan dan ternyata tanahnya berawa dan kalau diinjak berbunyi kecopokan, lama-kelamaan daerah tersebut disebut dengan Kecopokan sampai sekarang.

Untuk wilayah Desa Senggreng terdiri dari 3 Pedukuhan/Dusun, yaitu:

  1. Dusun Senggreng Krajan
  2. Dusun Ngrancah
  3. Dusun Kecopokan

Makam Bedah Kerawang yang ada di wilayah Desa Senggreng:

  1. Dusun Senggreng Krajan
  2. Makam eyang Kromodikoro
  3. Makam eyang Malang Joyo
  4. Makam eyang Sambernyowo
  5. Makam eyang Rajiman
  6. Makam eyang Wonodipo
  7. Dusun Ngrancah
  8. Dusun Kecopokan