Sakirman

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan

Ir. Sakirman (11 Oktober 1911-1966) adalah salah satu petinggi Politbiro Central Committee Partai Komunis Indonesia (CC PKI). Dia dilahirkan pada tahun 1911, di Wonosobo, Jawa Tengah. Dia juga adalah kakak kandung dari Letnan Jenderal TNI Siswondo Parman, salah satu korban yang diculik Resimen Tjakrabirawa dan meninggal dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S).[1][2]

Ir.Sakirman

Pasca G30S, Sakirman jadi buronan tentara. Pihak militer mengkonfirmasi bahwa dia ditangkap di Solo pada 1966, tetapi karena mencoba melarikan diri, Sakirman langsung ditembak di tempat. Sakirman meninggal dunia di Solo pada tahun 1966.

Riwayat HidupSunting

 
Sakirman, 1954

Sakirman tidak seperti kebanyakan pimpinan PKI yang berasal dari kalangan rakyat jelata saat itu. Insinyur Sakirman adalah seorang lulusan AMS B (sekarang SMA Negeri 3 Yogyakarta) dan Institut Teknologi Bandung (saat itu bernama "Technische Hoge School" (THS)) dan berasal dari keluarga Mangkunegaran.[2] Pada tahun 1965 Ir. Sakirman termasuk generasi tua dengan banyak pengalaman perjuangan. Sesudah proklamasi kemerdekaan 1945, Sakirman bergabung dengan AMRI, Slawi, Tegal. Ia pun terlibat dalam Peristiwa Tiga Daerah di karesidenan Pekalongan yang meliputi Pekalongan, Brebes dan Pembebasan Tegal.

Namanya semakin dikenal luas ketika menjadi pemimpin eksekutif Lasjkar Rakjat Jawa Tengah sekitar tahun 1945. Lasjkar Rakjat tersebut juga mencakup wilayah Jawa Barat. Hanya Lasjkar Rakyat Jawa Barat dipimpin oleh Chaerul Saleh dan Armunanto. Lasjkar Rakyat ini bertujuan antara lain: memerangi buta huruf; meningkatkan kewaspadaan militer dan menangkap mata-mata musuh; dan melakukan kerja sama dengan rakyat terutama organisasi-organisasi buruh dan tani. Lasjkar Rakyat dalam mengefektifkan kerja-kerjanya juga menerbitkan Soeara Lasjkar. Sejarah kehidupan Ir. Sakirman memang belum banyak ditulis, sehingga publik tak begitu mengenal siapa dan bagaimana perjalanan hidup Sakirman.

Pada bulan Mei 1946, Amir Sjarifuddin sebagai menteri pertahanan membentuk Biro Perjuangan yang merupakan biro khusus dalam lingkungan Kementerian Pertahanan. Tujuannya untuk menampung laskar-laskar rakyat yang didirikan oleh partai-partai dan atau golongan-golongan yang turut berpartisipasi aktif dalam perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kemerdekaan. Djokosuyono dan Ir. Sakirman diangkat sebagai pimpinan biro dengan pangkat Mayor Jenderal. Sebelumnya Ir. Sakirman juga dipercaya oleh Amir Sjarifuddin sebagai kepala biro pendidikan politik tentara (Pepolit) dengan pangkat Letnan Kolonel. Pengangkatan Ir. Sakirman ini tentu didasarkan pada aktivitasnya yang tinggi pada kegiatan laskar rakyat.

ReferensiSunting

  1. ^ Kisah dua bersaudara dari Wonosobo Diarsipkan 2013-07-22 di Wayback Machine., ditulis oleh kerabat Siswondo Parman dan Sakirman. Diakses 6 Juni 2013.
  2. ^ a b Orang Indonesia jang terkemoeka di Djawa. Gunseikanbu. 1944.