Wisnuwardhana

(Dialihkan dari Ranggawuni)

Wisnuwardhana atau Jayawisnuwardhana (wafat: Singhasari, 1270/1272), bernama asli Seminingrat, adalah raja Kerajaan Tumapel yang kemudian terkenal dengan nama Kerajaan Singhasari. Ia memerintah pada tahun 1248 - 1268 bergelar Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana (menurut prasasti Maribong, 1248).

Wiṣṇuwardhana
Sri Jayawisnuwarddhana Sang Mapanji Seminingrat Sri Sakala Kalana Kulama Dhumardana Kamaleksana
Arca Amoghapasa perwujudan Wisnuwardhana sebagai Buddha dari Candi Jago, Tumpang, Malang.
Raja Singhasari ke 3
Berkuasa1248 - 1268
PendahuluAnusapati
PenerusKertanagara
KelahiranNarāryya Sminingrāt
Istana Tumapel
Kematian1270/1272
Istana Tumapel
Pemakaman
PasanganJayawardhani
Keturunan
(dan lain-lain)
WangsaRajasa
AyahAnusapati
AgamaHindu - Buddha

Versi Pararaton

sunting

Menurut Pararaton, nama asli Wisnuwardhana adalah Ranggawuni putra Anusapati putra Tunggul Ametung. Pada tahun 1249 Anusapati tewas oleh kudeta yang dilakukan adik tirinya, bernama Tohjaya putra Ken Arok dari selir Ken Umang.

Pada tahun 1250 Tohjaya dihasut pembantunya yang bernama Pranaraja supaya menyingkirkan kedua keponakannya, Ranggawuni dan Mahisa Campaka, yang dianggap bisa menjadi musuh berbahaya. Tohjaya kemudian memerintahkan pengawalnya, bernama Lembu Ampal untuk melaksanakan eksekusi.

Lembu Ampal gagal melaksanakan tugas karena kedua pangeran tersebut dilindungi oleh seorang pegawai istana bernama Panji Patipati. Karena takut mendapat hukuman dari Tohjaya, Lembu Ampal memilih bergabung dengan kelompok Ranggawuni.

Lembu Ampal kemudian melakukan adu domba di dalam tubuh angkatan perang Singhasari sehingga tercipta kekacauan. Karena tidak mampu mendamaikan kerusuhan tersebut, Tohjaya berniat menghukum mati para pemimpin tentaranya. Mendengar keputusan itu, para perwira segera bergabung dengan kelompok Ranggawuni, tentu saja atas ajakan Lembu Ampal.

Setelah mendapat dukungan dari kaum tentara, Ranggawuni dan Mahisa Campaka memberontak terhadap kekuasaan Tohjaya. Tohjaya terluka parah dan akhirnya meninggal dalam pelariannya di desa Katang Lumbang.

Setelah pemberontakan tersebut, Ranggawuni naik takhta menjadi raja Tumapel (raja Singhasari) bergelar Wisnuwardhana, sedangkan Mahisa Campaka menjadi Ratu Angabhaya (raja Kadiri) bergelar Narasinghamurti. Adapun Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng, atau cucu Ken Arok.

Pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti diibaratkan dua ular dalam satu liang, dan dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian antara keluarga Tunggul Ametung dan keluarga Ken Arok.

Pemerintahan Wisnuwardhana berakhir tahun 1272, setahun setelah peresmian pelabuhan Canggu di daerah Mojokerto sekarang.

Versi Nagarakertagama

sunting

Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 juga menyebutkan adanya pemerintahan bersama antara Wisnuwardhana dan Narasingamurti yang diibaratkan seperti Wisnu dan Indra. Namun bedanya, Wisnuwardhana naik takhta menggantikan Anusapati tahun 1248, bukan menggantikan Tohjaya tahun 1250.

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Wisnuwardhana naik takhta tahun 1248 terbukti dengan ditemukannya prasasti Maribong. Prasasti ini dikeluarkan oleh Wisnuwardhana pada tanggal 23 September 1248.

Pada tahun 1250, setelah mengalahkan Tohjaya, menurut prasasti Mula Malurung, Wisnuwardhana dan Narasinghamurti putra Parameswara, mempersatukan kembali Kerajaan Tumapel dengan Kadiri. Berita ini tidak pernah disinggung dalam Pararaton ataupun Nagarakretagama. Kiranya sepeninggal Ken Arok terjadi perpecahan yang menyebabkan Kadiri pisah dari Tumapel. Selain itu, prasasti Mula Malurung (1255) juga menyebutkan bahwa Tohjaya bukan raja Tumapel atau Singhasari, melainkan raja Kadiri.

Pada tahun 1252, menurut Nagarakretagama ataupun Pararaton mengisahkan Wisnuwardhana menghancurkan "pemberontakan Linggapati" di Mahibit.

Pada tahun 1254 Wisnuwardhana meresmikan Singhasari sebagai ibu kota Kerajaan Tumapel. Sebelumnya, nama ibu kota kerajaan ini adalah Kutaraja. Seiring berjalannya waktu, nama Kerajaan Singhasari justru lebih populer daripada Kerajaan Tumapel.

Pada tahun 1254 Wisnuwardhana juga mengangkat putranya yang bernama Kertanagara sebagai raja muda (yuwaraja) di Kediri.

Pada tahun 1268, Wisnuwardhana turun takhta, kemudian digantikan oleh anaknya, Kertanagara.

Berita dalam Nagarakretagama bahwa Kertanagara putra Wisnuwardhana naik takhta tahun 1254 terbukti keliru, karena dalam prasasti Mula Malurung pada tahun 1255 Kertanagara masih menjabat sebagai raja muda di Kadiri, sementara Tumapel atau Singhasari tetap dipimpin Wisnuwardhana. Mungkin yang dimaksud Kertanagara naik takhta tahun 1254 adalah sebagai yuwaraja (raja muda), bukan sebagai maharaja. Berdasarkan analisis bukti prasasti, Kertanagara sudah menjadi raja penuh sekitar tahun 1268. Prasasti-prasastinya yang berangka tahun 1267 masih menyebut Kertanagara sebagai raja muda. Wisnuwardhana sendiri akhirnya meninggal dunia tahun 1270.

Akhir Hayat

sunting

Tahun kematian Wisnuwardhana menurut Pararaton adalah 1272, sedangkan menurut Nagarakretagama adalah 1270. Kedua naskah menyebutkan Wisnuwardhana dicandikan di Waleri (Candi Mleri), Srengat, Blitar sebagai Siwa dan di Jajagu (Candi Jago) Tumpang, Malang sebagai Buddha.

Asal-usul dan Nama asli Wisnuwardhana

sunting

Nagarakretagama tidak menyebutkan siapa nama asli Wisnuwardhana. Nama Ranggawuni sendiri tidak pernah dijumpai dalam prasasti apa pun sehingga diduga merupakan nama ciptaan Pararaton.

Dalam Prasasti Mula Malurung (1255) disebutkan kalau ayah dari Kertanagara bernama Seminingrat. Nama Seminingrat juga ditemukan dalam Prasasti Maribong (1248) sebagai nama lain Wisnuwardhana. Selain itu dalam tafsir Prof. Slamet Muljana, Prasasti Mula Malurung juga menyebutkan kalau ibu Kertanagara bernama Waning Hyun (putri Bhatara Parameswara) yang merupakan sepupu Seminingrat sendiri. Dalam Prasasti Wurare (1289), Kertanagara menyebut ibunya bernama Jayawardhani. Jadi, nama Jayawardhani merupakan gelar resmi dari Waning Hyun.

Namun hal ini dapat disanggah karena tidak ada penyebutan bahwa hubungan Seminingrat dan Waning Hyun adalah suami-istri. Adapun terjemahan asli dari kutipan teks prasasti di atas ialah: “serta pada saat pembangunan [candi untuk] paman beliau sekaligus menjadi mertua beliau. Yaitu yang meninggal di kebun agung. Ayahnya Narārya Waning Hyun. Kakeknya anak beliau. Yaitu Śrī Kṛtānagara.” Kata “beliau” dalam kalimat di atas merujuk kepada Narārya Smining Rāt, yaitu raja yang mengeluarkan prasasti Mūla-Malurung.

Artinya, tokoh yang meninggal di kebun agung adalah paman sekaligus mertua Narārya Smining Rāt, serta kakek dari anak Narārya Smining Rāt yang bernama Śrī Kṛtānagara. Sementara itu, Narārya Waning Hyun hanya disebut sebagai anak tokoh yang meninggal di kebun agung, tanpa menyebut hubungannya dengan Narārya Smining Rāt. Dalam kamus Jawa Kuno – Inggris yang disusun P.J. Zoetmulder (1982) dibantu S.O. Robson, tertulis arti kata “narārya” ialah “noble among men” (yang mulia di antara para laki-laki). Gelar “narārya” adalah gabungan dari kata “nara” dan “ārya”.

Berdasarkan bukti prasasti tersebut, dapat disimpulkan bahwa, nama asli Wisnuwardhana adalah "Seminingrat", sedangkan Ranggawuni hanyalah nama ciptaan pengarang Pararaton. Dan juga disimpulkan bahwa Nararya Waning Hyun bukanlah istri Seminingrat dan Ibu dari Kertanegara.

Kepustakaan

sunting
  • R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  • Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKIS
  • Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  • Poesponegoro, M.D. dkk. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Hadi Sidomulyo. 2007. Napak Tilas Perjalanan Mpu Prapañca. Cetakan pertama. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.


Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Anusapati
Raja Tumapel / Singhasari
1248—1268
Diteruskan oleh:
Kertanagara