Pulau Sapudi

pulau di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur

Pulau Sapudi (Madura: Polo Sapodây, Polo Podây, Polo Sapodhi; Péghu: ڤَولَو ساڤَوداْي، ڤَولَو ڤَوداْي، ڤَولَو ساڤَودْي) adalah sebuah pulau yang terletak diantara gugusan pulau-pulau di sebelah timur dari Pulau Madura. Secara administratif, pulau ini termasuk kedalam wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Di antara gugusan pulau-pulau di sebelah timur Pulau Madura, Sapudi merupakan pulau terluas kedua setelah Pulau Kangean dan pulau dengan penduduk terbanyak. Pulau ini terbagi atas dua administrasi kecamatan, yakni Nonggunong di bagian utara, dan Gayam di bagian selatan.

Pulau Sapudi
Peta lokasi Pulau Sapudi
NegaraIndonesia
Gugus kepulauanMadura
ProvinsiJawa Timur
KabupatenSumenep
Luas35 km²
Populasi13.683 jiwa (2022)[1]
Peta

Sejarah

sunting

Diceritakan, dahulu sekali Pulau Sapudi bermakna "Pulau Sapi" karena jumlah sapi yang lebih banyak dari jumlah penduduknya. Dahulu Sapudi dipimpin oleh seorang raja yang beragama Hindu, yang dianut pula oleh mayoritas masyarakatnya.[2] Sunan Wirokromo Blingi dan Sunan Wirobroto Nyamplong yang berasal dari Sumenep kemudian mengadakan perubahan terhadap Pulau Sapudi, kedua Sunan ini yang menjadi sesepuh tertua di Pulau Sapudi, juga mengadakan dakwah di sana. Lambat laun, dakwah yang berlangsung di sana memakai metode kesenian ludruk.[2] Akibatnya terasa pada sejumlah nama desa yang diberi nama alat-alat musik ludruk, serupa desa Gendang, desa Tukong (dari kata "gong"), dan lain-lain. Instrumen-instrumen musik itu memberi arti bagi sejarah desa-desa tersebut.[2] Sampai saat ini, makam dua sunan itu banyak didatangi penziarah, selain orang Sapudi sendiri yang berziarah, juga banyak orang-orang dari luar Sapudi. Makam keramat kedua sunan ini terletak di dua tempat terpisah yaitu, Sunan Wirokromo di desa Belingi, kecamatan Gayam dan Sunan Wirobroto di desa Nyamplong, kecamatan Gayam.[3]

Demografi

sunting

Pulau Sapudi mayoritas dihuni oleh suku Madura karena jaraknya yang cukup dekat dengan pulau Madura dengan minoritas suku Bajo, Mandar, Bugis, dan Kangean yang merupakan masyarakat maritim. Bahasa utama yang dituturkan di Pulau Sapudi adalah bahasa Sapudi yang merupakan dialek dari bahasa Madura dan bahasa lainnya seperti bahasa Bajo dan bahasa Mandar. Mayoritas orang Sapudi beragama Islam dengan pengaruh budaya setempat yang masih melekat didalamnya.[2]

Perekonomian

sunting

Pulau Sapudi terkenal dengan keunggulan "karapan sapi". Ternak sapi yang masih secara tradisional di Sapudi menjadi mata pencaharian bagi penduduk di pedesaan atau pedalaman. Sapi karapan di Pulau Sapudi sering menjuarai kemenangan dalam lomba karapan, baik di tingkat Kabupaten maupun tingkat wilayah karapan di Madura yang meliputi Kabupaten Sumenep, Kabupaten Pamekasan, Kabupaten Sampang dan Kabupaten Bangkalan.[4]

Referensi

sunting
  1. ^ Panji Agira, Helmy (24 Maret 2022). "Populasi Sapi Di Pulau Sapudi Lebih Besar Dari Jumlah Penduduk". www.wartazone.com. Diakses tanggal 24 April 2022. 
  2. ^ a b c d Athwa (Januari 1994). "Mencari Si Raja Sapi di Pulau Sapudi". Suara Hidayatullah. 6(9):68 – 71. Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.
  3. ^ Erwin Yohanes, Irul Ramdani (11 Oktober 2018). "Mengenal Pulau Sapudi, Dibuka Dua Sunan Dan Terkenal Karapan Sapinya". jatimnow.com. Diakses tanggal 24 April 2022. 
  4. ^ Rizky Kusumo (10 Maret 2022). "Pulau Sapudi, Kisah Dewa Dan Sapi Yang Jadi Simbol Kehormatan". www.goodnewsfromindonesia.id. Diakses tanggal 24 April 2022. 

Pranala luar

sunting

7°7′14″S 114°19′59″E / 7.12056°S 114.33306°E / -7.12056; 114.33306