Pulau Karimunjawa

pulau di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah

Pulau Karimunjawa adalah salah satu pulau yang merupakan pulau terbesar dan pulau utama di Kepulauan Karimunjawa, Indonesia. Pulau ini secara administratif termasuk ke dalam daerah Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Pulau ini terletak sekitar 90 km di sebelah utara Jepara.[2][4][5]

Karimunjawa
Pulau Karimunjawa dilihat dari barat daya.
P. Karimunjawa di Jawa
P. Karimunjawa
P. Karimunjawa
Lokasi P. Karimunjawa di utara P. Jawa.
Geografi
LokasiLaut Jawa
Koordinat5°51′S 110°27′E / 5.85°S 110.45°E / -5.85; 110.45
KepulauanKepulauan Karimunjawa
Luas43 km2[1]
Panjang13,3 km
Lebar9,4 km
Titik tertinggiBukit Bendera (506 m)[2][3]
Pemerintahan
NegaraIndonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenJepara
KecamatanKarimunjawa
DesaKarimunjawa
Info lainnya
Zona waktu
Peta

Nama Karimunjawa diceritakan berasal dari ungkapan dalam bahasa Jawa yaitu kremun-kremun ('samar'), berkaitan dengan Pulau Karimunjawa yang tampak samar jika dilihat dari Pulau Jawa. Penyebutan tersebut diceritakan bersamaan dengan kisah mengenai Sunan Kudus dan anaknya Sunan Nyamplungan yang pergi dan menetap di Karimunjawa. Nama Karimunjawa terkadang ditulis terpisah (Karimun Jawa).[6][7]

Sejarah

sunting

Cerita rakyat di Karimunjawa menyebutkan kisah mengenai Amir Hasan (Sunan Nyamplungan), anak dari Sunan Muria yang merupakan salah satu dari sembilan Walisongo. Salah satu versi menyebutkan bahwa Sunan Muria menganggap bahwa anaknya tersebut nakal sehingga ia menitipkannya ke Sunan Kudus. Setelah menerima pendidikan dari Sunan Kudus dan dikembalikan ke Sunan Muria, Amir Hasan diperintahkan oleh ayahnya itu untuk pergi ke wilayah lain untuk menyebarkan Islam. Sunan Muria memerintahkan Amir Hasan untuk pergi ke suatu pulau yang terlihat samar dari puncak Gunung Muria. Amir Hasan berangkat bersama dengan dua orang abdi (sumber lain menyebut santri) dan dibekali biji pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum) serta mustaka masjid. Di pulau tersebut, ia dikisahkan bertarung dan mengalahkan sekelompok bajak laut. Amir Hasan kelak dikenal sebagai Sunan Nyamplungan. Daerah tempat ia menetap di Karimunjawa kini pun bernama Nyamplungan dan terdapat beberapa pohon nyamplung.[6][7][8]

Wilayah perairan Kepulauan Karimunjawa merupakan wilayah yang telah dilalui oleh kapal-kapal selama ratusan tahun. Beberapa bangkai kapal karam telah ditemukan di bawah laut di sekitar Pulau Karimunjawa seperti di situs bangkai kapal yang dikenal dengan nama "Genteng"/"Nusa Indah" dan "Indonoor"/"Indonor". Untuk situs kapal Genteng, nama tersebut diperoleh karena masyarakat melihat banyak genteng yang tersebar di sekitar bangkai kapal. Bangkai kapal juga ditemukan di sekitar pulau-pulau lain seperti Taka Menyawakan, Pulau Kumbang, Pulau Genting, dan Pulau Seruni.[9][10][11]

Pada zaman kolonial, pulau ini dikenal dalam bahasa Belanda dengan nama Groot-Karimoen ('Karimun Besar'). Pulau Karimunjawa dan kepulauannya masuk ke dalam daerah Kabupaten (regentschap) Jepara. Pada tahun 1915, pulau ini merupakan pulau berpenduduk satu-satunya di Kepulauan Karimunjawa dengan penduduk sekitar 1.050 jiwa termasuk satu orang gezaghebber. Kebanyakan penduduk saat itu bekerja sebagai nelayan dan petani perkebunan kelapa.[12]

Geografi

sunting

Pulau Karimunjawa terletak di bagian tengah Kepulauan Karimunjawa di tengah Laut Jawa. Pulau dan Kepulauan Karimunjawa berada di wilayah Busur Karimunjawa yang membentang dari timur laut ke barat daya, memisahkan Cekungan Laut Jawa Barat dan Cekungan Laut Jawa Timur.[13] Busur ini diperkirakan terbentuk akibat rift dari tepian barat laut Australia-Gondwana pada Periode Jura yang kemudian bergabung dengan Paparan Sunda pada Kala Kapur Awal.[14][15] Busur ini merupakan sebagian dari batas selatan wilayah Paparan Sunda.[16]

Titik tertinggi di Pulau Karimunjawa berada pada ketinggian sekitar 506 m di Bukit Bendera di bagian tengah pulau. Tidak terdapat sungai besar di pulau ini namun teradapat beberapa mata air yang digunakan penduduk sebagai sumber air. Penelitian tahun 2007 menemukan adanya pencemaran air tanah di wilayah kota di bagian selatan pulau. Wilayah Pulau Karimunjawa memiliki iklim muson tropis (Köppen: Am) atau tipe C (Schmidt-Fergusson) dengan curah hujan tahunan sekitar 3.000 mm dan rata-rata suhu 30-31 °C.[3][17] Terdapat hutan mangrove di bagian utara pulau ini di dekat Pulau Kemujan.[18]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Tiskiantoro, F. (2006). Analisis Kesesuaian Lokasi Budidaya Karamba Jaring Apung dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis di Pulau Karimunjawa dan Pulau Kemujan (Tesis Tesis). Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro. p. 7. http://eprints.undip.ac.id/15597/. 
  2. ^ a b Sailing Directions for Celebes, Southeast Borneo, Java (except from Java Head to Batavia), and Islands East of Java (edisi ke-3). United States Hydrographic Office. 1935. hlm. 65–66. 
  3. ^ a b Panduan Pendidikan dan Penelitian di Taman Nasional Karimunjawa (PDF). Balai Taman Nasional Karimunjawa. 2011. 
  4. ^ Sailing Directions (enroute) for Borneo, Jawa, Sulawesi and Nusa Tenggara. Defense Mapping Agency Hydrographic/Topographic Center. 1979. hlm. 98–99. 
  5. ^ Kecamatan Karimunjawa dalam Angka 2019 (Laporan). Badan Pusat Statistik Kabupaten Jepara. 2019. 
  6. ^ a b Widowati, A. I. (2011). Cerita Rakyat Sunan Nyamplung dalam Asal-usul Karimun Jawa (Tesis Skripsi). Semarang: Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. https://lib.unnes.ac.id/12808/.  "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-07-01. Diakses tanggal 2020-05-14. 
  7. ^ a b Pengelolaan Terumbu Karang di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Dati II Jepara, Jawa Tengah (Laporan). Pusat Penelitian Energi dan Sumberdaya Alam Universitas Diponegoro. 1994. hlm. 12. 
  8. ^ Sukari (2007). "Potensi Pariwisata di Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara". Jantra. 2 (4): 278–284. 
  9. ^ Himpunan Data Cagar Budaya Bawah Air Indonesia. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2012. hlm. 16–17, 19, 20, 23. 
  10. ^ Ariadi, A. P.; Prayitno, B.; Wihardyanto, D. (2018). "Analisis Produk Wisata Situs Bawah Air Sebagai Salah Satu Wisata Minat Khusus di Taman Nasional Karimunjawa". Langkau Betang: Jurnal Arsitektur. 5 (1): 45–54. 
  11. ^ Wah, ed. (2010-04-26). "Ditemukan 5 Situs Bawah Air Karimunjawa". Kompas.com. Diakses tanggal 2020-05-14. 
  12. ^ Bezemer, T. J. (1921). Beknopte Encyclopædie van Nederlandsch-Indië. Den Haag, Leiden: Martinus Nijhoff, Brill. hlm. 224. 
  13. ^ Ooi, J.-B. (1982). The Petroleum Resources of Indonesia. Kuala Lumpur: Oxford University Press. hlm. 65. ISBN 9789401179492. OCLC 8870371. 
  14. ^ Hall, R. (2009). "The Eurasian SE Asian margin as a modern example of an accretionary orogen". Dalam Cawood, P. A.; Kröner, A. Earth Accretionary Systems in Space and Time. London: The Geological Society. hlm. 351–372. ISBN 978-1-86239-278-6. OCLC 432405452.  dalam Witts et al. 2012.
  15. ^ Witts, D.; Hall, R.; Nichols, G.; Morley, R. (2012). "A new depositional and provenance model for the Tanjung Formation, Barito Basin, SE Kalimantan, Indonesia". Journal of Asian Earth Sciences. 56: 77–104. doi:10.1016/j.jseaes.2012.04.022. 
  16. ^ Granath, J. W.; Christ, J. M.; Emmet, P. A.; Dinkelman, M. G. "Pre-Cenozoic sedimentary section and structure as reflected in the JavaSPAN(TM) crustal-scale PSDM seismic survey, and its implications regarding the basement terranes in the East Java Sea". Dalam Hall, R.; Cottam, M. A.; Wilson, M. E. J. The SE Asian Gateway: History and Tectonics of the Australia-Asia Collision. London: The Geological Society. hlm. 53. ISBN 9781862393295. 
  17. ^ I. Hadi. S.; et al. (2007). "Kualitas Air Tanah Bebas Kota Karimunjawa, Pulau Karimunjawa". RISET Geologi dan Pertambangan. 17 (2): 27–50. doi:10.14203/risetgeotam2007.v17.159. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-05. Diakses tanggal 2020-06-05. 
  18. ^ Kurniawan, C. A.; Pribadi, R.; Nirwani (2014). "Struktur dan komposisi vegetasi mangrove di tracking mangrove Kemujan Kepulauan Karimunjawa". Journal of Marine Research. 3 (3): 351–358. 

Pranala luar

sunting