Buka menu utama

Perang Bali III disebut juga Perang Kusamba merupakan perang yang terjadi antara Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger dengan Kerajaan Bali pada tahun 1849.

Intervensi Belanda di Bali (1849)
Puputan of the Raja of Boeleleng.jpg
Raja Buleleng membunuh dirinya bersama 400 pengikutnya, pada puputan tahun 1849 melawan Belanda. Le Petit Journal, 1849.
Tanggal1849-1850
LokasiBali, Indonesia
Hasil Kemenangan Belanda yang menentukan. Kontrol Belanda atas Bali Utara.
Pihak terlibat
Flag of the Netherlands.svg Netherlands
Lombok
Buleleng
Jembrana
Klungkung
Tokoh dan pemimpin
Flag of the Netherlands.svg Andreas Victor Michiels   I Gusti Ketut Jelantik  
Kekuatan
100 kapal
3,000 pelaut
5,000 prajurit yang terlatih
33,000 penduduk laki-laki
Korban
34 1,000s
Serangan pasukan Bali di Kusamba.
Barisan Batalyon VII di Sangsit.

Latar belakangSunting

Sudah sejak lama Kerajaan Bali menjalankan Tawan Karang, yakni hak untuk merampas kapal-kapal karam di perairan Bali dan seisinya termasuk anak buah kapal sebagai aset mereka. Pada tahun 1841, hak ini diberlakukan atas kapal Belanda; yang kemudian menimbulkan protes, di mana Kerajaan Buleleng, Karangasem dan Klungkung beserta penerusnya bersungguh-sungguh menerapkan hak itu dan menawarkan perompak dan pedagang budak untuk melawan; hingga tahun 1844 perjanjian tersebut dijalankan. Pada tahun itu juga, ketika sebuah kapal milik Belanda terdampar di Bali, kapal itu dirompak dan protes Belanda atas perlakuan itu diabaikan, yang berarti penguasa Bali melanggar kesepakatan, sehingga pemerintah kolonial di Jawa tak bisa lagi mentoleransi dan melancarkan ekspedisi.

Kegagalan dua ekspedisi terdahuluSunting

Pada bulan Juni 1846, pasukan dan kapal dikerahkan bersama dan dipimpin oleh schout-bij-nacht Engelbertus Batavus van den Bosch; pasukan itu terdiri atas 1.700 prajurit, dan hanya 400 orang saja yang berasal dari Eropa. Pasukan itu dipimpin oleh Letkol. Bakker. Setelah 24 jam, setelah memberikan ultimatum, pada tanggal 28 Juni Buleleng jatuh, orang Bali menarik diri dan berlindung di Singaraja. Hampir tidak mungkin bagi pasukan Hindia Belanda kembali ke Batavia atau hak Tawan Karang itu diperbaharui terhadap kapal-kapal Inggris dan Belanda .

Ekspedisi kedua dipimpin oleh Jend. Carel van der Wijck; pada tanggal 7 Juni pasukan tersebut mendarat di pantai utara Buleleng. Desa Bungkulan adalah desa yang pertama kali takluk setelah perlawanan gencar dan Jagaraga, pusat kekuatannya, jatuh; setelah perlawanan berkepanjangan pasukan Hindia Belanda harus kembali ke Jawa; sepersepuluh bagian dari ABK-nya yang tak ikut bertempur diculik, banyak perwira yang dibunuh. Sekarang panglima tertingginya memutuskan kembali ke Jawa dan ekspedisi ketiga harus diluncurkan untuk membalas kekalahan itu.

Ekspedisi ketigaSunting

Pimpinan ekspedisi ketiga dipegang oleh Jend. Andreas Victor Michiels, yang dipanggil dari Pesisir Barat Sumatra. Pada bulan November 1848, ia mendapatkan kesempatan inspeksi ke Bali. Dengan urusan tersebut, yang sejauh itu bisa diketahui, ia kemudian ditempatkan untuk memimpin angkatan perang sebanyak 100 kapal, 5.000 prajurit terlatih dan 3.000 pelaut di bulan Maret 1849.[1][2]

Pada tanggal 28 Maret 1849, Michiels memimpin pasukannya ke Buleleng dan 2 hari kemudian ke Singaraja tanpa banyak perlawanan, dan esoknya sebuah perundingan diusahakan terhadap kerajaan tersebut; namun gagal. Dari sini, Michiels merencanakan serangan ke Jagaraga; di saat yang sama sebagian pasukan, di bawah pimpinan Jan van Swieten, sibuk menahan pasukan di depan, dan May. Cornelis Albert de Brauw (bersama tokoh lain seperti Willem Lodewijk Buchel, Johannes Root dan Karel van der Heijden) melakukan beberapa kerja tak resmi yang dengan cepat dapat menduduki Goa Lawah dan Kusamba. Hingga pagi hari, pengepungan di bagian barat dirasakan rakyat Bali dan serangan di depan oleh Van Swieten diulang kembali, yang membuat Jagaraga jatuh dan pasukan Bali melarikan diri.

Kampanye Bali SelatanSunting

Karena enggan mengikuti jejak ekspedisi sebelumnya yang melalui jalur darat, Belanda kembali ke kapal mereka dan berlayar ke Bali Selatan, di mana mereka mendarat di Padang Bai untuk menyerang Klungkung, penguasa nominal Buleleng.[2][2] Namun, sementara itu, Belanda berhasil membangun aliansi dengan tetangga Bali, Kerajaan Lombok melawan Karangasem, musuh lama Lombok. Pasukan Lombok dikirim ke kapal Belanda, dan menyerang para pemimpin Buleleng. Dalam pertemuan ini baik I Gusti Ketut Jelantik dan Raja Buleleng terbunuh, dan penguasa Karangasem melakukan ritual bunuh diri.[1]

Belanda melanjutkan kampanye mereka ke Klungkung, menduduki Goa Lawah dan Kusamba.[2] Iklim dan penyakit mengambil korban pada pasukan Belanda, yang berada dalam posisi genting.[1] Wabah disentri di antara pasukan Belanda mencegah mereka melakukan pukulan yang menentukan. Belanda menderita banyak korban ketika Dewa Agung Istri Kanya memimpin serangan malam terhadap Belanda di Kusamba, menewaskan komandan Major General Michiels.[2] Belanda terpaksa mundur ke kapal mereka, dihadapkan oleh kekuatan 33.000 orang Bali dari Badung, Gianyar, Tabanan dan Klungkung.[2] Kampanye ini menghasilkan jalan buntu.[1][2]

Pasca perangSunting

Pada tanggal 8 Mei, Michiels bertolak ke Teluk Labuhan Amuk di Padang Cove (sekarang Padangbai), Karangasem, yang sebelumnya Toontje Poland sudah tiba. Pada tanggal 24 Mei, Michiels meneruskan perjalanan ke Kusamba dan menguasai kampung itu tanpa masalah. Di pagi berikutnya perjalanan itu berlanjut, tetapi di malam hari pasukan Bali melancarkan serangan atas kampung itu, dan dalam serbuan itu Michiels terluka parah di pahanya dan tewas saat itu juga setelah diamputasi. Di pagi berikutnya Van Swieten, yang sudah diangkat sebagai panglima, juga kembali ke Padang Cove; setelah perundingan di Kusamba gagal kembali (10 Juni) dan meminta penyerahan mereka. Pada tanggal 12 Juni persetujuan tercapai, di mana Jembrana dinyatakan sebagai bagian dari Hindia Belanda dan Kerajaan Bangli digabungkan ke Buleleng. Penyelesaian itu diratifikasi oleh Jan Jacob Rochussen dan menjadi dasar bagi penguasaan Belanda atas Bali.

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d International Dictionary of Historic Places: Asia and Oceania by Trudy Ring p.69 [1]
  2. ^ a b c d e f g A short history of Bali: Indonesia's Hindu realm Robert Pringle p.98ff [2]

Daftar PustakaSunting

  • 1900. W.A. Terwogt. Het land van Jan Pieterszoon Coen. Geschiedenis van de Nederlanders in oost-Indië. P. Geerts, Hoorn.
  • 1900. G. Kepper. Wapenfeiten van het Nederlands Indische Leger; 1816-1900. M.M. Cuvee, Den Haag.
  • 1876. A.J.A. Gerlach. Nederlandse heldenfeiten in Oost Indë. 3 jilid. Gebroeders Belinfante, Den Haag.