Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Pusat Damai

Paroki Santa Maria Tak Bernoda Pusat Damai adalah salah satu paroki perintis dari Gereja Katolik Roma di Keuskupan Sanggau yang berpusat di Desa Pusat Damai - Kecamatan Parindu, di Kabupaten Sanggau - Kalbar. Paroki Pusat Damai merupakan pemekaran dari Paroki Hati Kudus Yesus, Katedral Sanggau; secara resmi berdiri sendiri pada 1 Juli 1955. Kemudian beberapa wilayah paroki dipisahkan dan melahirkan Paroki Kristus Raja, Sosok (1990), Paroki Santo Alfonsus Maria de Liguori, Bonti (2005); dengan demikian wilayah Paroki Pusat Damai sekarang mencakup hampir seluruh Kecamatan Parindu, beberapa kampung dari kecamatan Tayan Hilir dan Tayan Hulu.[3][4][5]

Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Pusat Damai
Gereja Katolik St. Maria Tak Bernoda - Pusat Damai, Parindu, Sanggau, Kalbar
Gereja Katolik St. Maria Tak Bernoda - Pusat Damai
LokasiJl. Merdeka, Komplek Pastoran Katolik - Desa Pusat Damai Kecamatan Parindu, Sanggau, Kalimantan Barat 78561
Jumlah anggota/umat19.323 jiwa[1]
Situs webhttp://parokipusatdamai.org
Sejarah
Didirikan1 Juli 1955
DedikasiSanta Maria Dikandung Tanpa Dosa
Administrasi
KeuskupanKeuskupan Sanggau
Jumlah Imam2 imam tetap[2]
Imam yang bertugasPastor Fritz Budmiger OFM Cap.
Imam rekanPastor John Wahyudi OFM Cap.
Catatan Pendirian: Sejak awal berdiri, tugas pelayanan umat diserahkan kepada para saudara dari Ordo Kapusin dan dibantu oleh para Suster dari Konggregasi SFIC

Sejak berdirinya paroki, di kampung-kampung sudah menunjukkan banyak kemajuan berarti misalnya: terbentuknya DKK (Dewan Katolik Kampung) di banyak kampung, banyak umat yang sadar untuk mengikuti pertemuan weekend (WE) dan Sekolah Evangelisasi (SE) di Wisma Tabor --tempat retret dan kaderisasi umat[6], sekitar 85% keluarga sudah mengikuti program IURAN, dan hampir semua kampung sudah memiliki tempat ibadah (banyak di antaranya berupa bangunan permanen).[4]

SejarahSunting

Pada mulanya hanya ada umat di enam kampung: Bansu, Bodok, Perontas, Beruak, Kerosik dan Binjai. Karya awal paroki berupa pembukaan sekolah-sekolah sebagai upaya pemberantasan buta huruf bagi masyarakat setempat: pembukaan SD di Baharu, Bansu, Beruak, Tantang B., Sengoret, Melobo, Senunuk, Sebotuh, Semadu dan Sepaya. Kemudian di akhir tahun 1940-an direncanakan pendirian pusat paroki di dekat kampung Bodok di mana umat menyediakan tanah untuk pembangunan gedung-gedung yang diperlukan. Pada tahun 1950 gereja pertama dibangun oleh umat setempat secara gotong royong, pembangunan juga mencakup pastoran sementara. Hampir seluruh bangunan dibuat dari kayu dan disediakan oleh umat setempat.[4][7]

Berhubung jumlah umat semakin bertambah dan gereja yang lama tidak lagi memadai, umat sangat menginginkan pembangunan gedung gereja yang lebih besar dan bersifat permanen. Pada tahun 1967 batu pertama diletakkan tetapi pembangunan mengalami banyak hambatan sehingga baru pada tahun 1971 pembangunan selesai dan mulai dimanfaatkan untuk sembahyang.[7][4]

Sesudah pembangunan gereja yang baru, gedung yang lama dimanfaatkan untuk pertemuan anak-anak asrama dan untuk mengadakan kursus-kursus singkat. Akhirnya pada tahun 1986 gereja lama dibongkar dan lokasi digunakan untuk penempatan patung Yesus dekat tempat parkir di depan kantor paroki.[7]

Dalam tahun 2013 dibangunlah "Ekstension Gereja", yaitu sebuah ruangan yang didirikan sebagai perluasan gereja paroki dengan kapasitas maksimal 500 orang. Ruang tersebut dinamakan En Karem (tempat dimana Bunda Maria kunjungi Elisabet); ruang ini dilengkapi dengan Audio dan Video Link (dome kamera) dari gereja supaya umat juga bisa mengikuti kegiatan liturgi. Berkat gedung ini, tidak perlu lagi mendirikan tenda-tenda tambahan pada saat perayaan Natal dan Paskah; umat yang selama ini mengikuti misa dari luar, sekarang dapat menempati ekstension gereja En Karem.[7]

Sesudah tahun 2005, Paroki Pusat Damai belum lagi melakkukan perubahan struktural yang besar, fokus perkembangan lebih diarahkan kepada penyempurnaan segala lembaga/program yang telah dimulai. Masih ada beberapa pembangunan baru, terutama di bagian persekolahan dan Wisma Tabor, tetapi lebih diutamakan kepada peningkatan kualitas paroki.[4]

ReferensiSunting