Buka menu utama

Museum Kereta Api Sawahlunto

museum di Sumatra Barat

Museum Kereta Api Sawahlunto (bahasa Inggris: Sawahlunto Rail and Train Museum) adalah stasiun kereta api nonaktif kelas II yang sekarang dialihfungsikan sebagai museum sejarah perkeretaapian. Museum ini secara administratif terletak di Pasar, Lembah Segar, Sawahlunto. Museum ini termasuk dalam Divisi Regional II Sumatra Barat dan dikelola oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur PT KAI bekerja sama dengan Pemerintah Kota Sawahlunto. Angka ketinggian museum ini semula adalah +262 m, tetapi pada papan nama stasiun di ruang PPKA stasiun ini adalah +261 m. Museum ini merupakan museum perkeretaapian kedua di Indonesia setelah Ambarawa.

Stasiun Sawahlunto
  • Singkatan: SWL
  • Nomor: 7301
Sawahlunto railway station (1).JPG
Peron Stasiun Sawahlunto
Lokasi
ProvinsiSumatra Barat
KotaSawahlunto
KecamatanLembah Segar
KelurahanPasar
AlamatJalan Jenderal Ahmad Yani
Koordinat0°40′59″S 100°46′37″E / 0.68297°S 100.7769406°E / -0.68297; 100.7769406Koordinat: 0°40′59″S 100°46′37″E / 0.68297°S 100.7769406°E / -0.68297; 100.7769406
Sejarah
Dibuka1 Januari 1894 (sebagai stasiun)
Dibuka kembali2005 (sebagai museum)
Informasi lain
OperatorDivisi Regional II Sumatra Barat
Kelas stasiun[1]II
Ketinggian+262 m
Letak[2]km 155+520 lintas Teluk BayurPadangLubuk AlungSawahlunto
LayananMak Itam

SejarahSunting

Pembukaan tambang batu bara OmbilinSunting

 
Area unloading batu bara di Sawahlunto

Dengan menindaklanjuti laporan W.H. van Greve pada tahun 1868 tentang temuan batu bara Ombilin,[3][4][5] Hindia Belanda tertarik untuk menanamkan modal untuk pembangunan jalur kereta api baru khusus batu bara. Keputusan ini tertuang dalam besluit yang kemudian dimasukkan dalam Staatsblad tahun 1891 No. 176. Karena tidak adanya insinyur Belanda yang turut andil dalam pembangunan lintas ini, maka didatangkanlah insinyur dari Inggris mengingat Sumatra Barat yang memiliki kontur perbukitan yang terjal.[4]

Kebijakan tersebut mengharuskan Pemerintah Kolonial terlibat di dalamnya. Proses konstruksi jalur kereta api Ranah Minangkabau tersebut sangat kompleks karena mereka harus berjuang menantang bukit-bukit terjal. Jalur tersebut adalah Pulau Air–Padangpanjang yang selesai pada tanggal 1 Juli 1891. Pada tanggal 1 Juli 1892, segmen Padangpanjang–Solok telah selesai dibangun, melewati tepian Danau Singkarak. Segmen Solok–Muaro Kalaban diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1892. Pada tanggal 1 Januari 1894, perpanjangan Muaro Kalaban menuju Sawahlunto telah selesai dibangun.[6]

Jalur ini pernah digunakan untuk kereta penumpang reguler hingga sekitar tahun 1986. Layanan kereta api penumpang pun berhenti akibat dampak kebijakan motorisasi Orde Baru sehingga transportasi penumpang dengan kereta api kalah efisien dibandingkan kendaraan bermotor pada saat itu sehingga layanan KA di jalur tersebut hanya kereta api pengangkut batu bara dan kereta api wisata (pada akhir pekan).[7]

Pengoperasian sebagai museumSunting

Pada tahun 2002-2003, tambang batu bara Ombilin yang dioperasikan oleh PT Bukit Asam Tbk. terpaksa ditutup karena habisnya batu bara. Kehabisan batu bara ini menyebabkan jalur kereta apinya juga mangkrak. Pada tahun 2004-2005, PT Kereta Api memutuskan bekerja sama dengan Pemerintah Kota Sawahlunto untuk membuka museum perkeretaapian. Museum ini menempati bekas Stasiun Sawahlunto, diresmikan pada tanggal 17 Desember 2005 oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.[8]

Untuk mempromosikan museum ini, lokomotif endemik Divre II, E1060 yang sempat menjalani preservasi di Museum Kereta Api Ambarawa dan menarik kereta wisata Ambarawa–Bedono diputuskan untuk dikembalikan lagi ke Sumatra Barat atas usul Pemerintah Kota Sawahlunto untuk dioperasikan sebagai kereta api baru yang diberi nama "Mak Itam" (dalam bahasa Minangkabau berarti "Paman Hitam").[9] Mak Itam hanya melayani relasi Sawahlunto–Muarakalaban, p.p. Di luar relasi tersebut, Mak Itam pernah menjadi ikon dari Tour de Singkarak 2012 dan bahkan mengangkut rombongan peserta ajang sepeda tersebut.[10]

Pada saat yang sama, kereta wisata Danau Singkarak yang mulai diperkenalkan pada 21 Februari 2009 hanya dijalankan ke Padangpanjang dari Stasiun Sawahlunto.[11] Namun kereta api wisata ini berhenti beroperasi pada tahun 2014 karena sepi peminat sehingga jalur ini otomatis nonaktif. Bahkan meski pemesanannya melalui sistem carteran, kereta ini sangat sepi peminat sehingga armada kereta serta lokomotif penariknya "terjebak" di Dipo Lokomotif Solok.[12]

Pada tanggal 6 Juli 2019, tambang batu bara Ombilin ditetapkan oleh UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia.[13][14]

KoleksiSunting

Museum Kereta Api Sawahlunto
Sawahlunto Rail and Train Museum
 
Didirikan17 Desember 2005
LokasiPasar, Lembah Segar, Sawahlunto, Indonesia
JenisMuseum kereta api
Situs webheritage.kai.id

Museum ini memiliki koleksi berjumlah 106 buah yang terdiri dari gerbong (5 buah), lokomotif uap (1 buah), jam (2 buah), alat-alat sinyal atau komunikasi (34 buah), foto dokumentasi (34 buah), miniatur lokomotif (9 buah), brankas (3 buah), dongkrak rel (5 buah), label pabrik (3 buah), timbangan (3 buah), lonceng penjaga (1 buah), dan aki lokomotif (2 buah).

Satu-satunya lokomotif uap yang dimuseumkan di tempat ini adalah E1060, lokomotif uap bergigi yang didesain untuk medan curam di jalur Kayu Tanam–Batu Tabal serta Padangpanjang–Bukittinggi. Saat ini lokomotif tersebut tak bisa dioperasikan karena sudah tidak ada lagi suku cadang. Untuk menyiasatinya, Pemerintah Kota Sawahlunto mengusulkan kepada PT KAI untuk merakit "replika" dari E1060 dengan tenaga diesel sehingga layanan kereta api Mak Itam dapat jalan lagi. Bahkan, Pemerintah Kota Sawahlunto juga mengusulkan adanya tarif tiket retribusi seharga Rp10.000,00 untuk operasional.[15][16]

Layanan kereta apiSunting

Mak Itam, dari dan tujuan Muarakalaban

ReferensiSunting

  1. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  2. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  3. ^ Rudolf., Mrázek, (2006). Engineers of happy land : perkembangan teknologi dan nasionalisme di sebuah koloni (edisi ke-Ed. 1). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 9789794615942. OCLC 867653457. 
  4. ^ a b Zubir, Zaiyardam (2006). Pertempuran nan tak kunjung usai: eksploitasi buruh tambang batubara Ombilin oleh kolonial Belanda 1891-1927. Padang: Andalas University Press. 
  5. ^ de Greve, W.H. (1907). Het Ombilin-kolenveld in de Padangsche Bovenlanden en het transportstelsel op Sumatra's Westkust. Landsdrukkerij. 
  6. ^ Weijerman, A.W.E. (1904). Geschiedkundig overzicht van het ontstaan der spoor- en tramwegen in Nederlandsch-Indië. Javasche Boekhandel en Drukkerij. 
  7. ^ VIVA, PT. VIVA MEDIA BARU - (2012-01-13). "Kereta Wisata Lembah Anai Beroperasi Lagi – VIVA". Diakses tanggal 2018-08-10. 
  8. ^ "Museum Kereta Api Sawahlunto - Heritage KAI". heritage.kai.id. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  9. ^ "Lokomotif E10 - Heritage KAI". heritage.kai.id. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  10. ^ Media, Kompas Cyber. "Mak Itam Tak Lagi Menjerit... Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  11. ^ Media, Kompas Cyber (2009-02-23). "Mak Itam dan KA Wisata Resmi Beroperasi di Sumbar - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-08-10. 
  12. ^ Kompasiana.com. "Hilangnya Lengkingan Peluit Kereta Api di Singkarak oleh Dizzman - Kompasiana.com". www.kompasiana.com. Diakses tanggal 2018-08-10. 
  13. ^ Media, Kompas Cyber. "Fakta di Balik Ombilin Sawahlunto Jadi Warisan Dunia UNESCO, Penambangan Dilarang hingga Menunggu 4 Tahun Halaman all". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  14. ^ Media, Kompas Cyber. "Ombilin Sawahlunto Masuk Warisan Dunia UNESCO, Gubernur Sumbar Bangga". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  15. ^ "Operasikan Replika 'Mak Itam', Jalur dan Lubang Kalam Direvitalisasi". www.harianhaluan.com. Diakses tanggal 2019-07-23. 
  16. ^ "Sawahlunto Hadirkan Replika Lokomotif Mak Itam dari Mesin Diesel". kumparan. Diakses tanggal 2019-07-23. 
Stasiun sebelumnya     Lintas Kereta Api Indonesia     Stasiun berikutnya
Lubuk Alung–SawahluntoTerminus