Pembunuhan Muhammad ad-Durrah

Korban intifadah Palestina
(Dialihkan dari Muhammad al-Durrah)

Pembunuhan Muhammad ad-Durrah (bahasa Arab: محمد الدرة, translit. Muḥammad ad-Durra‎) terjadi di Jalur Gaza pada 30 September 2000, hari kedua Intifadah Kedua, saat kerusuhan merebak di seluruh Teritori Palestina. Jamal ad-Durrah dan putranya yang berusia 12 tahun, Muhammad, direkam oleh Talal Abu Rahma, seorang juru kamera lepas Palestina untuk France 2, saat mereka berada di tengah-tengah baku tembak antara pasukan keamanan Israel dan Palestina. Rekaman tersebut memperlihatkan keduanya sedang meringkuk di balik sebuah tabung beton, sementara sang bocah menangis dan ayahnya melambaikan tangannya. Kemudian tampak terjadi tembak menembak dan muncul letupan debu. Setelah itu sang bocah terlihat terkapar di lutut ayahnya.[2]

Pembunuhan Muhammad ad-Durrah
AlDurrah1.jpg
Muhammad dan Jamal ad-Durrah difilmkan oleh Talal Abu Rahma untuk France 2
Tanggal30 September 2000
Waktusekitar pukul 15:00 Waktu Musim Panas Israel (12:00 GMT)
LokasiPersimpangan Netzarim, Jalur Gaza
Koordinat31°27′54″N 34°25′36″E / 31.465129°N 34.426689°E / 31.465129; 34.426689
Pelapor pertamaCharles Enderlin untuk France 2
Direkam olehTalal Abu Rahma
Korban
Dikabarkan tewas: Muhammad ad-Durrah; Bassam al-Bilbeisi, supir ambulans
Luka tembak beberapa kali: Jamal ad-Durrah
PenghargaanRory Peck Award pada 2001 untuk Talal Abu Rahma[1]
RekamanCharles Enderlin, "La mort de Mohammed al Dura", France 2, 30 September 2000 (rekaman mentah; bagian yang dipersengketakan)

Rekaman sepanjang 59 detik tersebut disiarkan di Prancis dengan narasi dari Charles Enderlin, kepala biro France 2 di Israel, yang tak hadir secara langsung di lokasi baku tembak tersebut. Berdasarkan informasi dari juru kamera, Enderlin berkata kepada para penonton bahwa keduanya merupakan "target tembak dari pihak Israel" dan sang bocah tewas.[3][4] Setelah prosesi pemakaman yang emosional, Muhammad dihormati di seluruh dunia Muslim sebagai seorang martir.[5]

Berbulan-bulan dan bertahun-tahun kemudian, mulai muncul pertanyaan mengenai akurasi dari laporan France 2. Pasukan Pertahanan Israel awalnya menyatakan bertanggung jawab atas penembakan tersebut, tetapi kemudian menariknya.[6][7] Kalangan jurnalis Prancis yang menonton rekaman mentahnya mengkonfirmasi bahwa France 2 telah memotong beberapa detik terakhir saat Muhammad terlihat mengangkat tangannya dari wajahnya. Muhammad kemudian memang diketahui meninggal, tetapi potongan rekaman tersebut memang tidak ditampilkan. Penyunting berita France 2 berkata pada tahun 2005 bahwa tidak ada yang bersepakat mengenai siapa yang melakukan penembakan tersebut.[8] Philippe Karsenty, seorang komentator media Prancis, lebih lanjut, menuduh bahwa adegan tersebut dibesar-besarkan oleh para pemrotes Palestina. France 2 lalu menuduh Karsenty menyatakan fitnah. Pada tahun 2013, Karsenty akhirnya didenda sebesar 7,000 oleh Mahkamah Banding Paris.[9] Pada bulan Mei 2013, pemerintah Israel menerbitkan sebuah laporan yang mendukung tuduhan Karsenty.[10] Jamal ad-Durrah dan Charles Enderlin lalu menyangkal tuduhan tersebut dan mendorong dilakukannya penyelidikan internasional independen.[11][12]

Rekaman ayah dan anak tersebut pun disebut sebagai kekuatan tempur oleh seorang penulis.[8] Prangko-prangko yang diterbitkan di Timur Tengah lalu juga mencantumkan gambar tersebut. Salah satu potongan dari rekaman tersebut juga diperlihatkan di latar belakang saat Daniel Pearl, seorang jurnalis Yahudi-Amerika, dipenggal oleh al-Qaeda pada tahun 2002.[13][14] Mengenai kontroversi yang muncul, James Fallows menyatakan bahwa "tidak ada versi yang benar yang dapat dianggap tepercaya oleh seluruh pihak yang terlibat."[13]

Latar belakangSunting

Pada tanggal 28 September 2000, dua hari sebelum penembakan, pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon mengunjungi kompleks Masjid Al-Aqsha di Kota Lama Yerusalem, sebuah tempat suci dalam Yahudi dan Islam yang aksesnya diperebutkan. Kekerasan telah mengakar dalam beberapa peristiwa, namun kunjungan tersebut dinilai provokatif dan protes pun memuncak di sepanjang Tepi Barat dan Jalur Gaza.[15][16][17][n 1] Kerusuhan tersebut lalu dikenal sebagai Intifadah Kedua. Peristiwa tersebut berlangsung selama empat tahun dan menewaskan 4.000 orang, yang mana lebih dari 3.000 orang diantaranya adalah warga Palestina.[19]

Persimpangan Netzarim, tempat penembakan tersebut terjadi, dikenal sebagai persimpangan al-Shohada (martir). Persimpangan tersebut terletak di Jalan Saladin, beberapa kilometer dari selatan Kota Gaza. Sumber konflik di persimpangan tersebut adalah kedekatannya dengan pemukiman Netzarim, yang ditinggali oleh 60 keluarga asal Israel hingga Israel menarik diri dari Gaza pada 2005. Tentara Israel pun mendampingi warga yang hendak masuk atau keluar dari pemukiman tersebut.[20] Sebuah pos militer Israel, yakni Magen-3, juga menjaga permukiman tersebut. Kawasan tersebut telah menjadi tempat terjadinya sejumlah insiden kekerasan beberapa hari sebelum penembakan tersebut.[20][21]

TokohSunting

Jamal dan Muhammad ad-DurrahSunting

 
Persimpangan Netzarim, kamp pengungsian Bureij, dan pemukiman Netzarim

Jamal ad-Durrah (lahir sekitar tahun 1963) adalah seorang tukang kayu dan pelukis rumahan sebelum penembakan.[22] Sejak itu, karena luka-lukanya, ia bekerja sebagai sopir truk.[23] Ia dan istrinya, Amal, tinggal di kamp pengungsian Bureij yang dijalankan Agensi Pekerjaan dan Pemulihan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat di Jalur Gaza. Pada tahun 2013, mereka memiliki empat putri dan enam putra, termasuk seorang putra, yakni Muhammad, yang lahir dua tahun setelah penembakan.[23][24]

Hingga penembakan, Jamal telah bekerja selama 20 tahun untuk Moshe Tamam, seorang kontraktor asal Israel. Penulis Helen Schary Motro mengenal Jamal saat ia mempekerjakannya untuk membantu membangun rumahnya di Tel Aviv. Ia menceritakan bahwa Jamal perlu bangun pada pukul 03.30 dini hari guna menaiki bus untuk melintasi perbatasan pada pukul 04.00, kemudian ia menaiki bus kedua yang keluar dari Gaza sehingga ia dapat mulai bekerja pada pukul 06.00. Tamam menyebut Jamal sebagai "pria yang malang," dan terkadang Tamam mempercayai Jamal untuk bekerja sendiri di rumah-rumah pelanggannya.[22]

Muhammad Jamal ad-Durrah (lahir tahun 1988) adalah bocah kelas lima SD, namun sekolahnya ditutup pada 30 September 2000, karena Otoritas Palestina menyerukan serangan umum dan hari berkabung setelah kekerasan di Yerusalem sehari sebelumnya.[25][26] Ibunya berkata bahwa Muhammad menyaksikan kerusuhan tersebut di televisi dan bertanya apakah ia boleh bergabung ke dalam kerusuhan tersebut.[21] Muhammad dan ayahnya lalu memutuskan untuk pergi ke tempat lelang mobil.[27] Motro menulis bahwa Jamal berniat menjual mobil Fiat tahun 1974 miliknya, dan Muhammad mengikuti ayahnya ke tempat lelang mobil, karena ia menggemari mobil.[28]:54

Charles EnderlinSunting

Charles Enderlin lahir pada tahun 1945 di Paris. Kakek dan neneknya adalah Yahudi Austria yang meninggalkan negara tersebut pada tahun 1938 saat Jerman melakukan invasi.[29] Setelah belajar kedokteran, ia pindah ke Yerusalem pada tahun 1968, dan kemudian menjadi warga negara Israel. Ia mulai bekerja untuk France 2 pada tahun 1981, dengan menjabat sebagai kepala biro France 2 di Israel mulai tahun 1990 hingga pensiun pada tahun 2015.[30] Enderlin adalah penulis dari sejumlah buku tentang Timur Tengah, yang salah satunya menyinggung tentang Muhammad ad-Durrah, yakni Un Enfant est Mort: Netzarim, 30 Septembre 2000 (2010).[14] Sangat dihormati oleh rekan sejawatnya dan oleh masyarakat Prancis,[4] ia lalu menyerahkan sebuah surat dari Jacques Chirac, saat Philippe Karsenty menyatakan tuduhannya, yang menyanjung integritas Enderlin.[31] Pada tahun 2009, ia dianugerahi penghargaan tertinggi di Prancis, yakni Légion d'honneur.[32]

Menurut jurnalis Anne-Élisabeth Moutet, liputan Enderlin terhadap konflik Israel-Palestina disanjung oleh para jurnalis lainnya, tetapi sering dikritik oleh kelompok pro-Israel.[4] Akibat kasus ad-Durrah, ia mendapat ancaman pembunuhan, istrinya diserang di jalan,[33] anak-anaknya diancam, keluarganya harus pindah rumah, dan pada satu kesempatan sempat mempertimbangkan untuk beremigrasi ke Amerika Serikat.[3][4][34]

Talal Abu RahmaSunting

Talal Hassan Abu Rahma belajar administrasi bisnis di Amerika Serikat, dan mulai bekerja sebagai juru kamera lepas untuk France 2 di Gaza pada tahun 1988. Pada waktu penembakan, ia menjalankan kantor pers miliknya sendiri, yakni National News Center, yang berkontribusi kepada CNN melalui Kantor Pers Al-Wataneya, dan merupakan anggota utama Asosiasi Jurnalis Palestina. Liputannya terhadap penembakan ad-Durrah membuatnya meraih beberapa penghargaan jurnalisme, termasuk Rory Peck Award pada 2001.[1] Menurut koresponden France 2 Gérard Grizbec, Abu Rahma tak pernah menjadi anggota kelompok politik manapun di Palestina, dua kali ditangkap oleh kepolisian Palestina karena mengambil gambar-gambar yang tidak mendapatkan persetujuan dari Yasser Arafat, dan tak pernah dituduh menerobos keamanan Israel.[35]

Laporan awalSunting

Tempat kejadian pada hari tersebutSunting

Persimpangan Netzarim

The Guardian

(Atas) Dari Talal Abu Rahma, juru kamera France 2[27]
(Bawah) Dari sebuah laporan yang dibuat oleh Philippe Karsenty untuk Mahkamah Banding Paris. Peta tersebut juga mempelihatkan bagian kiri bawah yang diduga menjadi tempat kepolisian Palestina berada.[36]:60

Pada hari penembakan—Rosh Hashanah, Tahun Baru Yahudi—sebuah pos penjagaan Pasukan Pertahanan Israel (bahasa Inggris: Israel Defense Forces, disingkat IDF) setinggi dua lantai yang berada di persimpangan Netzarim diduduki oleh para prajurit Israel dari Pleton Teknik Brigade Givati dan Batalion Herev.[37][38] Menurut Enderlin, para prajurit tersebut adalah Druze.[33][39]

Pos penjagaan IDF tersebut berada di barat laut persimpangan Netzarim. Sementara dua pos penjagaan Palestina setinggi enam lantai (yang dikenal sebagai menara kembar dan juga dideskripsikan sebagai kantor atau apartemen) berada langsung di belakangnya.[13][40] Di selatan persimpangan tersebut, berseberangan secara diagonal dengan pos penjagaan IDF, terdapat pos Pasukan Keamanan Nasional Palestina di bawah komando Brigadir-Jenderal Osama al-Ali, seorang anggota Majelis Nasional Palestina.[33] Dinding tempat Jamal dan Muhammad meringkuk berada di depan bangunan tersebut. Tempat tersebut berjarak kurang dari 120 meter dari titik paling utara pos Israel.[41]

Selain France 2, Associated Press dan Reuters juga menempatkan kru kamera di persimpangan tersebut.[33] Mereka mengambil rekaman ad-Durrah dan Abu Rahma.[42] Abu Rahma adalah satu-satunya jurnalis yang merekam peristiwa ad-Durrah ditembak.[8]

Kedatangan di persimpangan, permulaan penembakanSunting

Jamal dan Muhammad tiba di persimpangan tersebut dengan mengendarai sebuah mobil menjelang tengah hari, pada perjalanan pulang dari tempat lelang mobil. [43] Di tempat tersebut, para pengunjuk rasa melempari batu, dan IDF menanggapinya dengan mengeluarkan gas air mata. Abu Rahma merekam peristiwa tersebut dan mewawancarai para pengunjuk rasa, termasuk Abdel Hakim Awad, kepala gerakan pemuda Fatah di Gaza.[33] Akibat unjuk rasa tersebut, seorang perwira polisi pun menghentikan mobil Jamal dan Muhammad, sehingga ayah dan anak tersebut berjalan kaki di sepanjang persimpangan tersebut. Menurut Jamal, pada saat itulah baku tembak dimulai.[43] Enderlin berkata bahwa tembakan pertama datang dari pihak Palestina dan dibalas oleh para prajurit Israel.[44]

Jamal, Muhammad, dan juru kamera Associated Press, dan Shams Oudeh, juru kamera Reuters, kemudian menyusuri tembok di bagian tenggara persimpangan jalan tersebut, yang secara diagonal berseberangan dengan pos Israel.[27][45] Jamal, Muhammad dan Shams Oudeh lalu meringkuk di balik tabung setinggi tiga kaki (0,91 m), yang tampaknya merupakan bagian dari sebuah gorong-gorong, yang tergeletak di sebelah tembok. Sebuah batu beton juga berada di atas tabung tersebut, sehingga memberikan perlindungan tambahan.[13] Abu Rahma lalu bersembunyi di balik bus mini putih yang diparkirkan di seberang jalan yang berjarak sekitar 15 meter dari tembok [33][46] Saat sedang merekam pos penjagaan Israel, juru kamera Reuters dan Associated Press juga sempat merekam Jamal dan bahu Muhammad saat sedang meringkuk, sebelum kedua juru kamera tersebut akhirnya pergi menjauh.[45] Jamal dan Muhammad tidak dapat bergerak lebih jauh, dan akhirnya tertahan di balik tabung selama 45 menit. Dalam pandangan Enderlin, mereka terlihat ketakutan.[33]

Laporan France 2Sunting

Muhammad dan Jamal pada saat peristiwa baku tembak
Kamera mengarah ke arah suara tembakan terdengar.
Gambar ini adalah adegan terakhir yang disiarkan oleh France 2. Dalam rekaman mentah tak lama setelahnya, bocah tersebut menggerakkan tangannya.[47]

Tiga hari setelah penembakan tersebut, Abu Rahma menyatakan bahwa baku tembak terjadi selama sekitar 45 menit dan ia berhasil merekam 27 menit diantaranya.[n 2] (Berapa lama rekaman tersebut diambil juga menjadi bahan pertimbangan pada tahun 2007 ketika France 2 berkata kepada mahkamah bahwa rekaman tersebut hanya berdurasi 18 menit.) Ia mulai merekam Jamal dan Muhammad saat ia mendengar tangisan Muhammad dan melihat bahwa lutut kanan bocah tersebut tertembak.[27] Ia berkata bahwa ia merekam ayah dan putra tersebut selama sekitar enam menit.[48] Ia lalu mengirim rekaman sepanjang enam menit tersebut ke Enderlin di Yerusalem melalui satelit.[49] Enderlin kemudian menyunting rekaman tersebut menjadi 59 detik dan menambahkan suara:

Pukul 15.00. Semuanya telah memuncak di dekat pemukiman Netzarim di Jalur Gaza. Warga Palestina menembakkan peluru tajam, dan warga Israel membalasnya. Paramedis, jurnalis, dan orang-orang yang lewat pun terjebak dalam baku tembak tersebut. Di sini, Jamal dan putranya, Muhammad menjadi target tembakan dari pihak Israel. Muhammad berusia dua belas tahun, dan ayahnya berusaha untuk melindunginya. Ia bergerak. Lalu terdengar tembakan lainnya. Muhammad pun tewas dan ayahnya luka berat.[44]

Rekaman tersebut menampilkan Jamal dan Muhammad meringkuk di balik sebuah benda silinder, sang bocah lalu berteriak dan sang ayah menenangkannya. Jamal lalu terlihat meneriakkan sesuatu ke arah juru kamera, dan kemudian melambaikan tangan dan berteriak ke arah pos Israel. Kemudian terdengar serangkaian tembakan dan kamera menjadi tidak fokus. Setelah tembakan mereda, Jamal terlihat duduk tegak dan terluka, sementara Muhammad terbaring di kakinya.[2] Enderlin memotong beberapa detik terakhir dari rekaman, yang menunjukkan Muhammad mengangkat tangannya dari wajahnya. Pemotongan tersebut pun menjadi dasar dari beberapa kontroversi terhadap rekaman tersebut.[13]

Rekaman mentah berhenti merekam pada titik tersebut dan kemudian dimulai kembali dengan menunjukkan seseorang sedang dimasukkan ke dalam sebuah ambulans.[50] (Pada titik ini di laporannya, Enderlin berkata: "Seorang polisi Palestina dan seorang supir ambulans juga kehilangan nyawa mereka dalam pertempuran tersebut.")[44] Bassam al-Bilbeisi, seorang sopir ambulans yang menuju ke tempat kejadian tersebut, dikabarkan ditembak dan tewas, meninggalkan seorang janda dan 11 anak.[51] Abu Rahma berkata bahwa Muhammad mengalami pendarahan selama sekitar 17 menit sebelum sebuah ambulans membawa ayah dan anak tersebut secara bersamaan.[52] Ia berkata bahwa ia tidak merekamnya karena ia hanya memiliki satu baterai.[53] Abu Rahma tetap berada di persimpangan tersebut selama 30-40 menit hingga ia merasa aman untuk meninggalkan tempat tersebut.[27] Ia kemudian pergi studionya di Kota Gaza untuk mengirim rekaman tersebut ke Enderlin.[54] 59 detik dari rekaman tersebut awalnya disiarkan di berita malam France 2 pada pukul 20.00 waktu lokal (GMT+2), setelah itu France 2 mengirim beberapa menit rekaman mentahnya ke seluruh dunia tanpa melakukan pengubahan.[55][56]

Luka-luka dan pemakamanSunting

 
Ahli patologi yang memeriksa Muhammad memberikan gambar ini kepada seorang jurnalis pada 2009.[57]

Jamal dan Muhammad dibawa dengan ambulans ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.[27] Abu Rahma lalu menghubungi rumah sakit tersebut dan diberi tahu bahwa tiga jenazah telah datang di sana, yakni seorang pengemudi mobil jeep, seorang sopir ambulans, dan seorang bocah, yang awalnya disebut sebagai Rami Al-Durrah.[58]

Menurut Dr. Abed El-Razeq El Masry, ahli patologi yang memeriksa Muhammad, bocah tersebut mengalami luka parah pada bagian perutnya. Pada tahun 2002, ia memberikan gambar-gambar post-mortem dari Muhammad ke Esther Schapira, seorang jurnalis Jerman.[59] Schapira juga mendapatkan rekaman saat Muhammad dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan tandu dari seorang jurnalis Palestina.[60][61] Pada prosesi pemakaman yang emosional di kamp pengungsian Bureij, Muhammad dibalut dengan bendera Palestina dan dimakamkan di siang hari pada hari kematiannya, sesuai tradisi Muslim.[25][62]

Jamal awalnya dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza. Salah satu dokter yang membedahnya, yakni Dr. Ahmed Ghadeel berkata bahwa Jamal mengalami sejumlah luka akibat peluru-peluru berkecepatan tinggi mengenai siku kanan, paha kanan, dan bagian bawah lututnya. Arteri femoralisnya juga terpotong.[63][64] Talal Abu Rahma lalu mewawancarai Jamal dan dokternya di sana sambil membawa kamera sehari setelah penembakan tersebut. Dr. Ghadeel kemudian menunjukkan foto-foto sinar-X dari siku kanan dan panggul kanan Jamal.[n 3] Moshe Tamam, atasan Jamal, lalu menawarkannya untuk membawanya ke rumah sakit di Tel Aviv, tetapi Otoritas Palestina menolak tawaran tersebut.[22][65] Sebagai gantinya, ia dipindahkan ke Pusat Pengobatan Raja Hussein di Amman, Yordania. Disana, ia dikunjungi oleh Raja Abdullah.[28]:56[66][67] Jamal dikabarkan berkata kepada Tamam bahwa ia terkena sembilan peluru. Ia berkata bahwa lima peluru dikeluarkan dari tubuhnya di rumah sakit di Gaza dan empat peluru sisanya dikeluarkan di Amman.[68]

Catatan juru kameraSunting

Enderlin menuduh bahwa IDF telah menembak bocah tersebut berdasarkan pada laporan juru kamera, Talal Abu Rahma.[3] Abu Rahma secara jelas menyebut pasukan Israel melancarkan tembakan tersebut dalam wawancara. Contohnya, ia berkata kepada The Guardian: "Mereka membersihkan kawasan tersebut. Pada saat itu, mereka melihat sang ayah. Mereka mengincar sang bocah, dan yang itu membuatku terkejut, ya, karena mereka menembaknya, tak hanya sekali, namun beberapa kali."[21] Abu Rahma lalu berkata bahwa ada juga tembakan yang berasal dari pos Pasukan Keamanan Nasional Palestina, tetapi mereka tidak menembak saat Muhammad tertembak. Tembakan Israel diarahkan ke pos Palestina, katanya.[27] Ia berkata kepada National Public Radio:[46]

Aku melihat bocah tersebut terluka di lututnya, dan ayahnya berupaya meminta tolong. Kemudian, aku melihat ayahnya mengalami luka di lengannya. Sang ayah pun meminta ambulans untuk menolongnya, karena ia dapat melihat ambulans. Sementara aku tidak dapat melihat ambulans ... Aku tak terlalu jauh, mungkin sekitar 15-17 meter dari mereka [Jamal dan Muhammad]. Namun sang ayah tak berhasil mendapatkan ambulans dengan melambaikan tangannya kepada mereka. Ia lalu memandangku dan ia berkata, "Tolong aku." Aku berkata, "Aku tidak bisa, aku tidak bisa menolongmu." Baku tembak pada saat itu masih sangat ramai ... Peristiwa tersebut benar-benar seperti hujan peluru, selama lebih dari 45 menit.

Kemudian ... Aku mendengar, "bom!", dan disusul dengan munculnya kabut. Aku lalu melihat sang bocah. Aku merekam bocah tersebut berbaring di pangkuan ayahnya, dan ayahnya benar-benar terluka parah, dan ia terlihat sangat pusing. Aku lalu berkata, "Ya Allah, bocah itu tewas, bocah itu tewas," Aku berteriak, Aku kehilangan akal sehatku. Saat aku merekam, bocah tersebut tewas  ... Aku sangat takut, aku sangat tertekan, aku menangis, dan aku teringat anakku.... Peristiwa tersebut merupakan hal yang paling mengerikan yang pernah aku alami sebagai seorang jurnalis.

Abu Rahma lalu menuduh bahwa "bocah tersebut secara sengaja ditembak mati dan ayahnya dilukai oleh tentara Israel."[n 4] Tuduhan tersebut kemudian diserahkan kepada Pusat Palestina untuk Hak Asasi Manusia di Gaza dan ditandatangani oleh Abu Rahma dengan didampingi oleh Raji Sourani, seorang pengacara HAM.[27] Direktur komunikasi France 2, Christine Delavennat, lalu berkata pada tahun 2008 bahwa Abu Rahma menyangkal telah menuduh tentara Israel menembaki bocah tersebut, dan bahwa pernyataan tersebut telah secara salah diatribusikan kepadanya.[55]

Tanggapan awal IsraelSunting

Posisi IDF berubah seiring waktu, dari mengakui bertanggung jawab pada tahun 2000 menjadi mencabut pengakuannya pada tahun 2005.[7] Saat Enderlin menghubungi mereka sebelum ia menyiarkannya, tanggapan pertama IDF menyatakan bahwa warga Palestina "memanfaatkan kepolosan wanita dan anak-anak," sehingga ia memutuskan untuk tidak menyiarkannya.[69]

Pada tanggal 3 Oktober 2000, kepala operasi IDF, Mayor-Jenderal Giora Eiland, berkata bahwa sebuah penyelidikan internal mengindikasikan bahwa tembakan tersebut berasal dari para prajurit Israel.[6] Pada saat baku tembak, para prajurit tersebut menembak dari celah-celah kecil di tembok pos mereka; Jenderal Yom-Tov Samia, kepala Komando Selatan IDF pada waktu itu berkata bahwa mereka tidak memiliki jarak pandang yang baik, dan menembak ke arah yang mereka yakini sebagai sumber tembakan.[13] Eiland pun menyatakan permintaan maaf: "Ini adalah sebuah insiden mematikan, sebuah peristiwa yang kami sangat sayangkan."[6]

Sekretaris Kabinet Israel, Isaac Herzog, menyatakan bahwa Israel telah berusaha untuk berbicara dengan Palestina. Ia juga menyatakan bahwa sebenarnya pasukan keamanan Palestina dapat mengintervensi untuk menghentikan baku tembak tersebut.[70]

KontroversiSunting

IkhtisarSunting

 
Editor berita France 2, Arlette Chabot, berkata bahwa tidak ada seorang pun yang dapat dengan yakin menyebut siapa yang menembaknya.[8]

Tiga penjelasan umum muncul setelah penembakan tersebut. Pandangan pertama menyatakan bahwa penembak Israel telah menewaskan bocah tersebut. Pandangan kedua menyatakan bahwa tembakan yang menewaskan bocah tersebut datang dari Palestina berdasarkan pada lintasan dari tembakan tersebut. Pandangan tersebut dikeluarkan pada tahun 2005 oleh Denis Jeambar, ketua editor L'Express, dan Daniel Leconte, seorang mantan koresponden France 2, yang menonton rekaman mentahnya.[71] Pandangan ketiga, yang diyakini oleh Arlette Chabot, editor berita France 2, adalah bahwa tidak ada satupun orang yang dapat mengetahui siapa yang menembaknya.[8]

Pandangan lainnya meyakini bahwa adegan tersebut dibuat oleh para pengunjuk rasa Palestina untuk menampilkan seorang martir cilik atau setidaknya tampak demikian.[8][72][73] Pandangan tersebut diketahui oleh orang-orang yang mengikuti kasus tersebut dengan sudut pandang "maksimalis", yang berlawanan dengan sudut pandang "minimalis" yang memandang bahwa tembakan tersebut mungkin tak ditembakkan oleh IDF.[13][74] Orang dengan sudut pandang maksimalis menyatakan bahwa ayah dan anak tersebut tidak ditembak dan Muhammad tidak mati, atau bahwa ia dibunuh secara sengaja oleh tentara Palestina.[13][75][76][77]

Pandangan bahwa adegan tersebut merupakan sebuah hoaks media lalu muncul dari sudut pandang penyelidikan pemerintah Israel pada bulan November 2000.[13] Pandangan tersebut pun paling disuarakan oleh Stéphane Juffa, kepala editor Metula News Agency (Mena), sebuah perusahaan Prancis-Israel;[78] Luc Rosenzweig, mantan kepala editor Le Monde dan kontributor Mena;[79] Richard Landes, seorang sejarawan Amerika yang ikut terlibat setelah Enderlin menunjukkan rekaman mentahnya kepadanya saat berkunjung ke Yerusalem pada tahun 2003;[80][81] dan Philippe Karsenty, pendiri situs pengamat media Prancis, Media-Ratings.[82] Pandangan tersebut juga didukung oleh Gérard Huber, seorang psikoanalis Prancis, dan Pierre-André Taguieff, seorang filsuf Prancis yang mengkhususkan diri dalam antisemitisme, yang mana keduanya juga menulis buku tentang peristiwa tersebut.[83][84] Sudut pandang ini kemudian juga mendapat dukungan tambahan pada tahun 2003 dari laporan pemerintah Israel yang kedua, yakni laporan Kuperwasser.[85][86] Sejumlah komentator pun menganggap peristiwa tersebut sebagai kampanye kotor dan teori konspirasi sayap kanan.[4][87][88][89]

Masalah pentingSunting

Sejumlah komentator mempertanyakan kapan penembakan tersebut terjadi; kapan Muhammad datang ke rumah sakit; kenapa hanya terlihat sedikit darah di tanah saat mereka tertembak; dan apakah ada peluru yang berhasil diamankan sebagai bukti.[13] Sejumlah orang menuduh bahwa, pada adegan lain di rekaman mentah, terlihat jelas bahwa para pemrotes sedang berakting.[13] Seorang dokter berkata bahwa bekas luka Jamal tidak berasal dari luka peluru, tetapi berasal dari cedera yang ia alami pada awal dekade 1990an.[23]

Tidak ada penyelidikan kejahatan.[39] Kepolisian Palestina pun mengijinkan para jurnalis untuk memfoto tempat kejadian pada keesokan harinya, tetapi mereka tidak mengumpulkan bukti forensik. Menurut seorang jenderal Palestina, tidak ada penyelidikan dari pihak Palestina karena mereka tidak ragu bahwa tentara Israel telah menewaskan bocah tersebut.[90] Jenderal Yom Tov Samia dari IDF berkata bahwa keberadaan para pemrotes membuat tentara Israel tidak dapat memeriksa dan mengambil foto dari tempat kejadian tersebut.[91] Meningkatnya kekerasan di persimpangan tersebut pun menjebak para pemukim Nezarim, sehingga IDF mengevakuasi mereka. Seminggu setelah penembakan tersebut, ledakan terjadi sekitar 500 meter dari pos Israel, sehingga menghancurkan tempat kejadian tersebut.[92]

Seorang ahli patologi sempat memeriksa jenazah bocah tersebut, tetapi tidak melakukan otopsi penuh.[39][59] Tidak jelas apakah peluru-peluru diperoleh dari tempat kejadian atau dari tubuh Jamal dan Muhammad.[39] Pada tahun 2002, Abu Rahma mengisyaratkan kepada Esther Schapira bahwa ia mengumpulkan peluru-peluru dari tempat kejadian, dengan berkata: "Kami memiliki beberapa rahasia untuk diri kami sendiri. Kami tak dapat memberikan segala hal."[93] Menurut Jamal ad-Durrah, lima peluru dikeluarkan dari tubuhnya oleh para dokter di Gaza dan empat peluru dikeluarkan di Amman.[68] Pada tahun 2013, ia berkata: "Peluru-peluru yang ditembakkan oleh tentara Israel kini dipegang oleh Otoritas Palestina."[11]

RekamanSunting

Durasi dan hal yang ditunjukkanSunting

Pertanyaan muncul mengenai berapa lama durasi rekaman tersebut dan apakah rekaman tersebut menunjukkan bahwa bocah tersebut telah tewas. Abu Rahma berkata bahwa baku tembak tersebut terjadi selama 45 menit dan ia merekam sekitar 27 menit diantaranya.[27][94] Doreen Carvajal dari International Herald Tribune berkata pada tahun 2005 bahwa France 2 telah menunjukkan "rekaman 27 menit asli dari insiden tersebut" kepada surat kabar tersebut.[n 5] Saat Majelis Banding Paris meminta untuk ditunjukkan seluruh rekaman pada tahun 2007, saat kasus fitnah France 2 melawan Philippe Karsenty, France 2 memberikan 18 menit dari rekaman tersebut kepada mahkamah, dan berkata bahwa sisanya telah dihancurkan, karena bukan mengenai penembakan tersebut.[95] Enderlin lalu juga menyatakan bahwa hanya 18 menit dari rekaman tersebut yang menunjukkan penembakan.[96]

Menurut Abu Rahma, enam menit dari rekamannya berfokus pada ad-Durrah.[48] France 2 menyiarkan 59 detik dari rekaman tersebut dan merilis beberapa detik lainnya dari rekaman tersebut. Tidak ada bagian dari potongan rekaman tersebut yang menunjukkan bocah tersebut tewas.[69] Enderlin menyatakan bahwa ia memotong beberapa detik terakhir saat Muhammad tampak mengangkat tangannya dari wajahnya.[13][97] Enderlin pun berkata bahwa ia memotong adegan tersebut sesuai dengan kode etik France 2, karena adegan tersebut menunjukkan bocah tersebut dalam keadaan sekarat ("agonie"), yang ia katakan "tak tertahankan" ("Aku memotong penderitaan anak itu, itu tak tertahankan, tidak akan membawa apa-apa lagi").[71][n 6][74] Pada tahun 2007, ia berkata bahwa ia berniat menggunakan kata agony, bukan agonie. Jika ia menyunting kembali rekaman tersebut, ia berkata pada tahun 2005, bahwa ia akan memasukkan adegan tersebut.[n 7]

Kenapa rekaman tersebut berhentiSunting

Masalah lainnya adalah kenapa France 2, Associated Press dan Reuters tidak merekam adegan pasca penembakan Jamal dan Muhammad, termasuk kematian supir ambulans yang tertembak saat datang untuk menjemput Jamal dan Muhammad. Rekaman Abu Rahma berhenti secara tiba-tiba setelah penembakan ayah dan anak tersebut, dan kemudian dimulai kembali dari posisi yang sama, yakni di belakang sebuah minibus putih, dan merekam orang-orang masuk ke dalam sebuah ambulans.[50]

Abu Rahma berkata bahwa Muhammad mengalami pendarahan selama sekitar 17 menit sebelum sebuah ambulans akhirnya membawa Jamal dan Muhammad secara bersamaan,[52] tetapi ia tidak merekamnya sama sekali. Ketika Esther Schapira bertanya kenapa tidak direkam, ia menjawab: "Karena ketika ambulans tersebut datang, warga langsung mengerubunginya, kau tau?"[99] Ketika ditanya kenapa ia tidak merekam ambulans tersebut saat datang dan pergi, ia menjawab bahwa ia hanya memiliki satu baterai.[53] Tetapi Enderlin dikabarkan berkata kepada Mahkamah Banding Paris bahwa Abu Rahma sempat mengganti baterainya pada saat itu.[100] Enderlin menulis pada tahun 2008 bahwa "rekaman yang direkam oleh seorang juru kamera pada saat baku tembak tidak sama dengan rekaman kamera pengawas di pasar swalayan." Abu Rahma hanya "merekam apa yang memungkinkan untuk direkam."[101]

Pandangan para jurnalis Prancis terhadap rekaman tersebutSunting

Pada bulan Oktober 2004, France 2 mengijinkan tiga jurnalis Prancis untuk menyaksikan rekaman mentahnya, yakni Denis Jeambar, kepala editor L'Express; Daniel Leconte, mantan koresponden France 2 dan kepala dokumenter berita di Arte, sebuah jaringan televisi yang dijalankan oleh pemerintah; dan Luc Rosenzweig, mantan kepala editor Le Monde.[4] Mereka juga meminta untuk dapat berbicara dengan juru kamera, Abu Rahma, yang berada di Paris pada waktu itu, tetapi France 2 berkata kepada mereka bahwa ia tak dapat berbicara dalam bahasa Prancis dan bahasa Inggrisnya tak terlalu baik.[102]

Jeambar dan Leconte lalu menulis sebuah laporan tentang pengamatan tersebut untuk Le Figaro pada bulan Januari 2005. Tidak ada adegan yang menunjukkan bahwa bocah tersebut telah tewas, tulis mereka. Mereka menyangkal bahwa adegan tersebut dibuat-buat, tetapi saat ada suara Enderlin yang mengatakan bahwa Muhammad tewas, Enderlin "tidak mungkin mengetahui apakah Muhammad benar-benar tewas, apalagi menentukan apakah ia ditembak oleh prajurit IDF." Mereka berkata bahwa rekaman tersebut tidak menunjukkan bocah tersebut sedang sekarat: "Keberadaan 'agonie' yang Enderlin nyatakan dipotong dari rekaman tersebut sebenarnya tidak ada."[8][71]

Beberapa menit dari rekaman tersebut memperlihatkan orang-orang Palestina sedang berperang sambil disorot kamera, mereka tulis, jatuh sebagaimana orang terluka, kemudian bangun dan berjalan menjauh.[71] Pihak France 2 lalu berkata kepada mereka, "Kau tau, hal tersebut selalu seperti itu," sebuah komentar yang menurut Leconte cukup mengganggu. Christine Delavennat, direktur komunikasi France 2, berkata bahwa tidak ada adegan dalam rekaman tersebut yang dibuat-buat.[55] Jeambar dan Leconte kemudian menyimpulkan bahwa tembakan berasal dari pihak Palestina, sesuai lintasan peluru tersebut.[71] Leconte pun berkata dalam sebuah wawancara: "Jika peluru-peluru tersebut adalah peluru dari Israel, peluru tersebut akan menjadi peluru yang sangat aneh, karena peluru-peluru tersebut harus berbelok agar dapat sampai ke tempat Jamal dan Muhammad." Ia menampik pernyataan France 2 yang menyatakan bahwa mungkin peluru yang mengenai bocah tersebut memantul dari tanah. "Peristiwa tersebut bisa saja terjadi, tetapi dari delapan atau sembilan peluru, peluru yang mana yang memantul?"[55]

Ide penulisan mengenai rekaman mentah tersebut berasal dari Luc Rosenzweig; ia awalnya menawarkan sebuah cerita mengenai peristiwa tersebut kepada L'Express, tentang bagaimana Jeambar (editor L'Express) menjadi terlibat.[102] Namun Jeambar dan Leconte akhirnya menjauhi Rosenzweig. Rosenzweig terlibat dengan Kantor Berita Metula (dikenal sebagai Mena), yang menekankan pandangan bahwa adegan tersebut adalah palsu.[8][71] Rosenzweig kemudian menyebutnya sebagai "sebuah kejahatan media yang hampir sempurna."[72] Saat Jeambar dan Leconte menulis laporan mereka tentang rekaman mentah tersebut, mereka awalnya menawarkannya kepada Le Monde, bukan Le Figaro, tetapi Le Monde menolak untuk menerbitkannya, karena Mena telah terlibat. Jeambar dan Leconte pun menjelaskan di Le Figaro bahwa mereka tidak percaya dengan pandangan bahwa adegan pada rekaman tersebut dibuat-buat:

Kepada orang-orang, seperti Mena, yang berusaha menggunakan rekaman tersebut untuk mendukung teori bahwa kematian anak tersebut dibuat-buat oleh tentara Palestina, kami menyatakan bahwa mereka menyesatkan kami dan pembacanya. Tak hanya memiliki sudut pandang yang berbeda, tetapi kami membuktikan bahwa, sesuai pengetahuan kami terhadap kasus tersebut, tidak ada yang mendukung teori tersebut. Pada kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya."[n 8]

Tanggapan EnderlinSunting

Enderlin lalu memberikan respon kepada Leconte dan Jeambar pada bulan Januari 2005 di Le Figaro. Ia berterima kasih kepada mereka karena telah menyangkal bahwa adegan yang ada di dalam rekaman tersebut telah dibuat-buat. Ia mengabarkan bahwa tembakan tersebut berasal dari tentara Israel karena, ia tulis, ia mempercayai sang juru kamera, yang telah bekerja untuk France 2 sejak tahun 1988. Setelah penembakan tersebut, saksi mata lainnya, termasuk jurnalis lainnya, juga mengkonfirmasi bahwa tentara Israel lah yang menembak, katanya. Ia menambahkan bahwa tentara Israel tidak merespon tawaran dari France 2 untuk bekerja sama dengan penyelidikan mereka.[3]

Alasan lain yang ia berikan mengenai kenapa ia mengabarkan bahwa penembakan tersebut berasal dari tentara Israel, ia tulis bahwa itu adalah "gambaran kondisi nyata, tak hanya di Gaza, tetapi juga di Tepi Barat." Mengutip Ben Kaspi dari surat kabar Israel Maariv, ia menyatakan bahwa, pada sebulan pertama dari Intifadah Kedua, IDF telah menembakkan sejuta amunisi, yakni 700.000 di Tepi Barat dan sisanya di Gaza; mulai tanggal 29 September hingga akhir bulan Oktober 2000, yang menyebabkan 118 orang Palestina tewas, termasuk 33 anak yang masih berusia di bawah 18 tahun, sementara hanya ada 11 orang dewasa Israel yang tewas pada periode yang sama.[3]

Keraguan tentang linimasaSunting

Keraguan juga muncul mengenai linimasa. Abu Rahma berkata bahwa penembakan tersebut dimulai pada siang hari dan berlangsung selama 45 menit.[27] Kesaksian Jamal juga serupa, yakni bahwa ia dan Muhammad tiba di persimpangan tersebut sekitar siang hari,[43] dan berada di tengah baku tembak selama 45 menit.[22]

Laporan France 2 yang dibuat oleh Enderlin menyatakan bahwa penembakan tersebut terjadi pada sore hari. Rekaman suaranya menyatakan bahwa Jamal dan Muhammad ditembak sekitar pukul 15.00 waktu lokal (GMT+3).[44][n 9] James Fallows setuju bahwa Jamal dan Muhammad pertama kali muncul di rekaman tersebut sekitar pukul 15.00, sesuai komentar dari Jamal dan beberapa jurnalis yang ada di tempat kejadian tersebut.[13] Abu Rahma berkata bahwa ia masih berada di persimpangan tersebut selama 30–40 menit pasca penembakan tersebut.[27] Menurut Schapira, ia pergi ke studionya di Gaza sekitar pukul 16:00, ketika ia mengirim rekaman tersebut ke Enderlin di Yerusalem sekitar pukul 18.00. Berita tersebut lalu disiarkan untuk pertama kalinya di London oleh Associated Press pada pukul 18.00 BST (GMT+1), dan beberapa menit kemudian, Reuters juga menyiarkan berita serupa.[104]

Berlawanan dengan linimasa siang hari dan pukul 15.00, Muhammad Tawil, dokter yang menangani Muhammad di Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza, berkata kepada Esther Schapira bahwa bocah tersebut tiba di rumah sakit sekitar pukul 10.00 waktu lokal, bersama dengan sopir ambulans, yang tertembak di jantungnya.[105][106] Tawil kemudian berkata bahwa ia tidak ingat apa saja yang ia katakan ke wartawan mengenai peristiwa tersebut.[107] Catatan dari Rumah Sakit Al-Shifa menunjukkan bahwa seorang bocah diperiksa di departemen patologi pada siang hari. Ahli patologi, Dr. Abed El-Razeq El Masry, memeriksanya selama setengah jam. Ia berkata kepada Schapira bahwa organ dalam bocah tersebut terbuai ke luar tubuhnya, dan ia juga menunjukkan foto-foto jenazahnya kepada Schapira, dengan sebuah kartu yang mengidentifikasikan bahwa bocah tersebut bernama Muhammad.[108] Sebuah arloji pada lengan seorang pakar patologi dalam salah satu foto menunjukkan pukul 03.50.[109]

Wawancara dengan para prajuritSunting

Pada tahun 2002, Schapira mewawancarai tiga orang prajurit Israel yang namanya disamarkan menjadi "Ariel, Alexej dan Idan," yang berkata bahwa mereka bertugas di pos IDF pada hari tersebut.[110] Mereka mengetahui bahwa sesuatu akan terjadi, kata salah satunya, karena kru-kru kamera berkumpul.[111] Salah satu prajurit berkata bahwa tembakan dimulai dari blok-blok Palestina yang dikenal sebagai "The Twins"; penembak tersebut menembak ke arah pos IDF, katanya.[112] Prajurit tersebut menambahkan bahwa ia tidak melihat ad-Durrah.[113] Tentara Israel lalu membalas tembakan ke arah pos Palestina yang berjarak 30 meter dari ad-Durrah. Menurut prajurit tersebut, senjata mereka dilengkapi dengan optik yang membuat mereka dapat menembak secara akurat dan mereka tidak mengalihkan senjatanya ke mode tembakan otomatis.[114] Dalam pandangan prajurit tersebut, penembakan Jamal dan Muhammad bukanlah kecelakaan. Tembakan tersebut tidak berasal dari pihak Israel, katanya.[115]

Luka ayahSunting

Pada tahun 2007, Yehuda David, seorang dokter di rumah sakit Tel Hashomer di Tel Aviv, berkata kepada Channel 10 di Israel bahwa ia pernah mengobati luka akibat pisau dan kapak yang dialami oleh Jamal Ad-Durrah pada tahun 1994 di lengan dan lututnya. Luka-luka tersebut dialami oleh Jamal karena diserang oleh geng. David menyatakan bahwa bekas-bekas luka yang disebut oleh Jamal diakibatkan oleh peluru, sebenarnya adalah bekas-bekas luka dari operasi perbaikan tendon yang dilakukan oleh David pada awal dekade 1990-an.[116] Saat David mengulangi tuduhannya tersebut dalam sebuah wawancara dengan "Daniel Vavinsky," yang diterbitkan pada tahun 2008 dalam Actualité Juive di Paris, Jamal pun menggugat David ke Tribunal de grande instance de Paris atas tuduhan fitnah dan pelanggaran kerahasiaan dokter dan pasien.[117]

Pengadilan menyebutkan bahwa "Daniel Vavinsky" merupakan pseudonim dari Clément Weill-Raynal, seorang deputi editor di France 3.[118] Pada tahun 2011, pengadilan menyatakan bahwa David dan Actualité Juive terbukti memfitnah Jamal. Sehingga David, Weill-Raynal dan Serge Benattar, editor pelaksana Actualité Juive, masing-masing didenda sebesar €5,000, dan Actualité Juive diperintahkan menerbitkan pencabutan.[117][119] Pemerintah Israel kemudian berkata bahwa mereka akan mendanai upaya banding David.[119] Banding akhirnya diadakan pada tahun 2012, dan hasilnya David dibebaskan dari tuduhan fitnah dan pelanggaran kerahasiaan.[120] Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel, pun menelepon David untuk mengucapkan selamat kepadanya.[121] Jamal Ad-Durrah kemudian berkata bahwa ia akan mengajukan banding atas putusan pengadilan tersebut.[23]

Pada tahun 2012, Rafi Walden, deputi direktur rumah sakit Tel Hashomer dan anggota badan Physicians for Human Rights, menulis di Haaretz bahwa ia telah memeriksa berkas pengobatan Jamal setebal 50 halaman, dan menemukan bahwa luka-luka dari penembakan pada tahun 2000 merupakan "luka-luka yang benar-benar berbeda" dengan luka-luka yang dialami pada tahun 1994. Walden menyebutkan "sebuah luka tembak di pergelangan tangan kanan, hancurnya tulang lengan bawah, sejumlah luka fragmen di telapak tangan, luka tembak di paha kanan, patahnya panggul, sebuah luka di pantat, sebuah sobekan di saraf utama paha kanan, sebuah sobekan di arteri dan vena utama selangkangan, dan dua luka tembak di lutut kiri bawah."[121]

Penyelidikan IsraelSunting

2000: Laporan ShahafSunting

 
Mayor Jenderal Yom Tov Samia

Mayor Jenderal Yom Tov Samia, komandan selatan IDF, mengadakan sebuah penyelidikan sesaat setelah penembakan tersebut.[122] Menurut James Fallows, para komentator Israel mempertanyakan legitimasi dari penyelidikan tersebut, dan Haaretz juga menyebut penyelidikan tersebut "hampir seperti aksi bajak laut."[13] Tim penyelidikan tersebut dipimpin oleh Nahum Shahaf, seorang dokter, dan Joseph Doriel, seorang teknisi, yang mana keduanya mencetuskan teori konspirasi pembunuhan Yitzhak Rabin.[122][123] Penyelidik lainnya meliputi Meir Danino, kepala ilmuwan di Elisra Systems; Bernie Schechter, seorang pakar balistik, yang sebelumnya bekerja di laboratorium identifikasi kriminal milik kepolisian Israel; dan Elliot Springer, yang juga berasal dari laboratorium identifikasi kriminal. Daftar lengkap dari anggota tim tersebut tak pernah dirilis.[69]

Shahaf dan Doriel lalu membangun tiruan tembok, tabung, dan pos IDF, untuk melakukan reka ulang penembakan tersebut. Adanya tanda pada tabung tersebut yang berasal dari Biro Standar Israel pun memungkinkan mereka untuk mengetahui ukuran dan komposisi dari tabung tersebut. Mereka berkesimpulan bahwa tembakan tersebut berasal dari belakang juru kamera France 2, di tempat polisi Palestina diyakini berdiri.[13]

Pada tanggal 23 Oktober 2000, Shahaf dan Doriel mengundang 60 Minutes dari CBS untuk merekam reka ulang tersebut. Doriel berkata kepada koresponden, Bob Simon, bahwa ia yakin bahwa kematian anak tersebut tidak dibuat-buat, tetapi peristiwa tersebut dirancang untuk merusak citra Israel. Orang-orang yang mengetahuinya, katanya, termasuk juru kamera dan ayah dari anak tersebut, walaupun ayah dari anak tersebut tidak menyadari bahwa anaknya akan tewas.[124][125] Saat Jenderal Samia mendengar tentang wawancara tersebut, ia pun mengeluarkan Doriel dari tim penyelidikan.[122] Laporan dari para penyelidik lalu diserahkan ke kepala intelijen militer Israel. Poin-poin penting dari laporan tersebut kemudian diterbitkan pada November 2000 dengan tidak mengesampingkan fakta bahwa IDF telah menembak bocah tersebut, tetapi mendeskripsikan penembakan tersebut sebagai "cukup masuk akal" berasal dari peluru-peluru Palestina yang diarahkan ke pos IDF.[126][127] Penyelidikan tersebut pun memicu kritikan.[128] Sebuah editorial Haaretz lalu menyatakan bahwa, "sulit untuk menggambarkan secara ringan kebodohan dari penyelidikan yang aneh tersebut."[129]

2005: Penarikan pengakuan sebelumnyaSunting

Pada tahun 2005, Mayor-Jenderal Giora Eiland secara terbuka menarik pengakuan bahwa IDF bertanggung jawab atas penembakan tersebut, dan pernyataan tersebut kemudian disetujui oleh kantor perdana menteri pada bulan September 2007.[7] Setahun kemudian, seorang juru bicara IDF, Kol. Shlomi Am-Shalom, berkata bahwa laporan Shahaf telah menunjukkan bahwa IDF tidak menembak Muhammad. Ia lalu meminta France 2 untuk mengirimkan rekaman mentah sepanjang 27 menit yang belum disunting kepada IDF, serta rekaman juru kamera France 2 yang dibuat sehari setelahnya.[130]

2013: Laporan KuperwasserSunting

Pada bulan September 2012, pemerintah Israel mengadakan penyelidikan lainnya sesuai permintaan dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Tim tersebut dipimpin oleh Yossi Kuperwasser, Direktur Jenderal pada Kementerian Urusan Strategis.[131] Pada bulan Mei 2013, tim tersebut menerbitkan sebuah laporan setebal 44 halaman yang menyatakan bahwa ad-Durrah tidak ditembak oleh IDF dan mungkin tidak tertembak sama sekali.[132][133][134]

Laporan Kuperwasser menyatakan bahwa klaim-klaim utama France 2 tidak sejalan dengan yang terjadi di lapangan pada waktu itu; bahwa bocah tersebut masih hidup pada akhir video; bahwa tak ada bukti yang menunjukkan Jamal atau Muhammad terluka seperti yang dikabarkan oleh France 2 atau bahwa Jamal terluka serius; dan bahwa mereka mungkin tidak tertembak sama sekali.[133]:3–4[134] Laporan tersebut juga meliputi sebuah opini medis dari Yehuda David, seorang dokter yang mengobati Jamal pada tahun 1994.[133]:31 Laporan tersebut mengatakan bahwa "sangat diragukan bahwa peluru yang mengenai keduanya berasal dari tembakan Israel," dan bahwa laporan France 2 telah "disunting dan dinarasikan sedemikian rupa untuk membuat kesan yang menyesatkan guna memperkuat klaim yang telah dibuat." Narasi France 2 hanya didasarkan pada opini juru kamera, kata laporan tersebut.[133]:3–4[134] Yuval Steinitz, Menteri Urusan Internasional, Strategi dan Intelijen, menyebut bahwa kasus tersebut adalah sebuah "fitnah darah modern terhadap Negara Israel."[134]

France 2, Charles Enderlin dan Jamal ad-Durrah pun menyangkal tuduhan pada laporan tersebut dan menyatakan bahwa mereka bersedia bekerja sama dengan penyelidikan internasional independen.[10] France 2 dan Enderlin lalu meminta pemerintah Israel untuk memberikan surat penunjukan, keanggotaan, dan bukti dari tim tersebut, termasuk foto-foto dan nama-nama dari para saksi mata.[135] Enderlin berkata bahwa tim tersebut tak mau berbicara dengannya, France 2, ad-Durrah, atau dengan saksi mata lainnya,[10] dan tidak berkonsultasi dengan pakar-pakar independen.[136] Menurut Enderlin, France 2 siap membantu ad-Durrah untuk mengotopsi jenazah putranya; ia dan ad-Durrah juga menyatakan bahwa mereka bersedia melakukan tes poligrafi.[12][137]

Litigasi Philippe KarsentySunting

2006: Enderlin-France 2 v. KarsentySunting

 
Philippe Karsenty yang digugat melakukan fitnah.

Sebagai tanggapan terhadap klaim yang menyatakan bahwa mereka telah menyiarkan adegan yang dibuat-buat, Enderlin dan France 2 pun mengajukan tiga gugatan fitnah pada 2004 dan 2005.[138] Gugatan yang paling terkenal adalah melawan Philippe Karsenty, yang menjalankan sebuah badan pengamat media, Media-Ratings.[n 10] Ia menerbitkan sebuah analisis dari rekaman tersebut di situs webnya pada bulan November 2004, berdasarkan pada karya dari Kantor Berita Metula, yang menuduh bahwa adegan penembakan tersebut dipalsukan, karena beberapa adegan sebelumnya menunjukkan bahwa para pemrotes terluka.[80] France 2 dan Enderlin lalu menerbitkan sebuah pembelaan dua hari kemudian.[139]:00:03:05

Pengadilan pun dimulai pada bulan September 2006. Enderlin kemudian menyerahkan bukti berupa sebuah surat dari Jacques Chirac, presiden Prancis saat itu, yang bertuliskan tentang integritas Enderlin.[31] Mahkamah lalu mengabulkan gugatan tersebut pada tanggal 19 Oktober 2006, sehingga Karsenty harus membayar denda sebesar €1.000 dan memberikan ganti rugi sebesar €3.000.[4] Karsenty pun mengajukan banding pada hari yang sama.[139]:00:03:45

2007: Karsenty v. Enderlin-France 2Sunting

Pengadilan banding pertama dibuka pada bulan September 2007 di Mahkamah Banding Paris, dengan diikuti oleh tiga hakim yang dipimpin oleh Hakim Laurence Trébucq.[140] Pengadilan lalu meminta France 2 untuk menyerahkan rekaman mentah selama 27 menit yang dikatakan telah direkam oleh Abu Rahma, untuk ditampilkan di depan sidang. France 2 lalu hanya memberikan 18 menit dari rekaman tersebut; Enderlin juga berkata bahwa hanya 18 menit yang berhasil direkam.[96]

 
Pengadilan banding diadakan di Palais de Justice.

Pada saat pemutaran, mahkamah melihat bahwa Muhammad mengangkat tangannya ke atas kepalanya dan menggerakkan lututnya setelah juru kamera berkata bahwa ia telah tewas, dan tidak ada darah di bajunya.[96] Enderlin berpendapat bahwa juru kamera tidak berkata bahwa bocah tersebut telah tewas, tetapi bocah tersebut sekarat.[2] Sebuah laporan yang disiapkan untuk pengadilan oleh Jean-Claude Schlinger, seorang pakar balistik yang diajukan oleh Karsenty, menyatakan bahwa jika tembakan berasal dari pihak Israel, maka Muhammad hanya akan terluka di bagian lutut bawahnya.[36]:60[94]

Pengacara France 2, Francis Szpiner, penasihat untuk mantan Presiden Prancis Jacques Chirac, menyebut bahwa Karsenty adalah "orang Yahudi yang membayar orang Yahudi lainnya untuk membayar orang Yahudi lain untuk bertarung hingga darah penghabisan Israel," dan membandingkannya dengan teoretikus konspirasi 9/11 Thierry Meyssan dan penyangkal Holokaus Robert Faurisson. Szpiner berkata, Karsenty menargetkan Enderlin karena liputan Enderlin yang adil tentang Timur Tengah.[140]

Para hakim lalu mengeluarkan putusan setebal 13 halaman untuk Karsenty pada bulan Mei 2008.[141] Mereka menyatakan bahwa Karsenty telah berniat baik dalam mengkritik dan telah menunjukkan "kumpulan bukti yang koheren" kepada pengadilan.[4][142] Pengadilan juga mencatat bahwa terdapat inkonsistensi pada pernyataan Enderlin dan menyatakan bahwa pernyataan Abu Rahma tidaklah "kredibel dalam hal bentuk maupun isinya."[4][140] Kemudian muncul permintaan untuk diadakannya penyelidikan publik dari sejarawan Élie Barnavi, mantan duta besar Israel untuk Prancis, dan Richard Prasquier, presiden Conseil Représentatif des Institutions juives de France.[143][144][145] Le Nouvel Observateur yang berpaham sayap kiri lalu memulai sebuah petisi untuk mendukung Enderlin yang ditandatangani oleh 300 penulis Prancis, dan menuduh Karsenty melakukan kampanye kotor selama tujuh tahun.[4]

2013: Pengadilan fitnahSunting

France 2 lalu mengajukan kasasi ke Mahkamah Kasasi (mahkamah agung). Pada bulan Februari 2012, Mahkamah Kasasi memutuskan untuk membatalkan putusan Mahkamah Banding Paris,[146] dan memerintahkan agar Mahkamah Banding Paris tidak meminta France 2 untuk menyerahkan rekaman mentah.[147][148] Kasus tersebut pun dikirim kembali ke Mahkamah Banding Paris, yang akhirnya memvonis Karsenty bersalah atas gugatan fitnah pada tahun 2013, dan menjatuhkan denda sebesar €7.000.[9][146]

Dampak rekamanSunting

 
Place de l'enfant martyr de Palestine, Bamako, Mali
 
Lukisan dinding Muhammad ad-Durrah di Gaza.

Rekaman Muhammad disetarakan dengan gambar ikonik dari anak-anak yang diserang lainnya, seperti bocah di ghetto Warsawa (1943), gadis Vietnam yang terkena bom napalm (1972), dan pemadam kebakaran yang menggendong seorang bayi sekarat di Oklahoma (1995).[22] Catherine Nay, seorang jurnalis Prancis, berpendapat bahwa kematian Muhammad "menutupi bocah Yahudi, [yang mengangkat] tangannya ke udara di depan SS di Ghetto Warsawa."[149]

Menurut seorang terapis di Gaza, anak-anak Palestina menjadi terganggu dengan penyiaran rekaman tersebut secara berulang, dan anak-anak bahkan melakukan reka ulang adegan penembakan tersebut di taman-taman bermain.[150] Negara-negara Arab juga menerbitkan prangko yang mencantumkan gambar tersebut. Taman-taman dan jalan-jalan pun dinamai Muhammad, dan Osama bin Laden juga menyebut Muhammad dalam sebuah "peringatan" kepada Presiden George Bush pasca 9/11.[151] Gambar tersebut kemudian dituduh memicu insiden Ramallah 2000 dan membangkitkan antisemitisme di Prancis.[145] Salah satu gambar tersebut juga dapat dilihat di latar belakang, saat jurnalis Daniel Pearl, seorang Yahudi Amerika, dipenggal oleh al-Qaeda pada Februari 2002.[13]

Kalangan Yahudi dan Israel, termasuk pemerintah Israel pada tahun 2013, mengeluarkan sebuah pernyataan yang menyatakan bahwa tuduhan prajurit IDF telah menewaskan seorang bocah sebagai sebuah "fitnah darah", sebuah rujukan kepada tuduhan berabad-abad yang menyatakan bahwa Yahudi mempersembahkan darah dari anak-anak Kristen.[74][134] Perbandingan pun dibuat dengan skandal Dreyfus tahun 1894, saat seorang kapten angkatan darat berlatar belakang Yahudi Prancis dituduh melakukan pengkhianatan berdasarkan pada sebuah fitnah.[152][153] Dalam pandangan Charles Enderlin, kontroversi tersebut merupakan sebuah kampanye kotor yang ditujukan untuk merusak rekaman yang berasal dari wilayah yang diduduki oleh Palestina.[154] Doreen Carvjal juga menulis di The New York Times bahwa rekaman tersebut adalah "sebuah prisma kebudayaan, dengan para penonton melihat apa yang ingin mereka lihat."[8]

CatatanSunting

  1. ^ Laporan Mitchell pada bulan Mei 2001 menyatakan tentang sebab kekerasan tersebut: "Kita tidak memiliki dasar untuk menyimpulkan bahwa ada rencana dari otoritas Palestina untuk memulai kekerasan di kesempatan pertama; atau untuk menyimpulkan bahwa ada rencana dari pemerintah Israel untuk menanggapinya dengan kekuatan mematikan. ... Kunjungan Sharon tidak menyebabkan 'Intifadah Al-Aqsa.' Namun waktu yang kurang baik dan efek provokatif lah yang menjadi alasannya ..."[18]
  2. ^ Talal Abu Rahma, 3 Oktober 2000: "Aku menghabiskan sekitar 27 menit untuk merekam insiden tersebut yang terjadi selama 45 menit. ... Baku tembak dimulai dari sumber-sumber yang berbeda, Israel dan Palestina. Peristiwa baku tembak tersebut terjadi tak lebih dari 5 menit. Kemudian, aku menyadari bahwa tembakan tersebut diarahkan ke Mohammed dan ayahnya yang berada di arah berlawanan dari mereka. Tembakan beruntun tersebut diarahkan ke ayah dan anak tersebut, serta ke dua pos Pasukan Keamanan Nasional Palestina. Pos Palestina bukanlah sumber tembakan, karena tembakan dari dalam pos tersebut berhenti setelah lima menit pertama, dan anak dan ayah tersebut tidak terluka pada waktu itu. Pembunuhan terjadi 45 menit setelahnya."[27]
  3. ^ Talal Abu Rahma, 3 Oktober 2000: "Sehari setelah insiden tersebut, Aku datang ke Rumah Sakit Shifa di Gaza, dan mewawancarai ayah dari Mohammed Al-Durreh. Wawancara tersebut pun direkam dan disiarkan. Dalam wawancara tersebut, aku berkata tentang alasan dan keadaannya di tempat insiden tersebut. Aku adalah jurnalis pertama yang mewawancarainya terkait insiden tersebut. Jamal ad-Durrah lalu berkata bahwa ia akan pergi bersama dengan putranya Mohammed ke pasar mobil, yang berjarak sekitar 2 km ke utara Persimpangan Al-Shohada, untuk membeli mobil. Ia berkata kepadaku bahwa ia gagal membeli mobil, sehingga memutuskan untuk kembali ke rumah. Ia dan putranya lalu menaiki sebuah taksi. Saat mereka mendekati persimpangan tersebut, mereka dilarang bergerak lebih jauh karena ada pertikaian dan penembakan disana. Sehingga, mereka keluar dari taksi tersebut dan berusaha berjalan menuju Al-Bureij. Saat penembakan memuncak, mereka berlindung di balik sebuah blok beton. Kemudian insiden tersebut terjadi. Penembakan berlangsung selama 45 menit."[27]
  4. ^ Talal Abu Rahma, 3 Oktober 2000: "Aku dapat meyakinkan bahwa tembakan terhadap Mohammed dan ayahnya, Jamal datang dari pos militer Israel seperti yang telah disebutkan di atas, karena tempat tersebut merupakan satu-satunya tempat yang memungkinkan tembakan ke arah bocah tersebut dan ayahnya. Sehingga, secara nalar dan alamiah, pengalaman panjangku dalam meliput insiden panas dan pertikaian kekerasan, dan kemampuanku untuk membebdakan suara tembakan, aku dapat berkesimpulan bahwa bocah tersebut secara sengaja ditembak mati dan ayahnya dilukai oleh tentara Israel."[27]
  5. ^ "Seiring dengan munculnya pertanyaan, beberapa eksekutif France 2 secara pribadi menyalahkan komunikasi saluran tersebut. Minggu lalu, mereka menunjukkan rekaman 27 menit asli dari insiden tersebut kepada The International Herald Tribune, yang juga meliputi adegan terpisah yang menunjukkan para pemuda melempari batu."[8]
  6. ^ Charles Enderlin, The Atlantic, September 2003: "James Fallows menulis, 'Rekaman dari penembakan tersebut ... mengilustrasikan cara televisi mengubah kenyataan, dan yang paling penting, 'France 2 atau juru kameranya memiliki rekaman yang ia putuskan untuk tidak dirilis.' Kami tak mengubah kenyataan. Namun karena beberapa bagian dari rekaman tersebut tak tertahankan, France 2 memotong beberapa adegan dari rekaman tersebut, sesuai dengan kode etik kami."[98]
  7. ^ Eva Cahen, CNS News, 15 February 2015: "Namun, dalam sebuah diskusi daring untuk majalah berita Le Nouvel Observateur pada tanggal 10 Februari, Enderlin ditanyai bagaimana ia mendeskripsikan gambar-gambar pada rekaman yang sama pada saat ini. Ia menjawab bahwa ia akan berkata hal yang sama, tetapi dalam proses penyuntingan, ia akan memasukkan rekaman 'bocah sekarat,' yang menimbulkan pertanyaan lagi mengenai klaimnya sebelumnya. Pada penyuntingan pertama, Enderlin berkata, video yang dipertanyakan tersebut 'memotong bagian tersebut pada waktu itu karena bagian tersebut membuat laporan tersebut menjadi sangat keras.'"[55]
  8. ^ Denis Jeambar dan Daniel Leconte, Le Figaro, Januari 2005: "A ceux qui, comme la Mena, ont voulu nous instrumentaliser pour étayer la thèse de la mise en scène de la mort de l'enfant par des Palestiniens, nous disons qu'ils nous trompent et qu'ils trompent leurs lecteurs. Non seulement nous ne partageons pas ce point de vue, mais nous affirmons qu'en l'état actuel de notre connaissance du dossier, rien ne permet de l'affirmer, bien au contraire."[71]
  9. ^ Waktu Musim Panas Israel, yang pada tahun itu berakhir pada tanggal 6 Oktober, adalah tiga jam lebih cepat dari GMT.[103]
  10. ^ Kasus kedua, yang diajukan terhadap Pierre Lurçat dari Liga Pertahanan Yahudi, dihentikan atas alasan teknis. Kasus ketiga, yang diajukan terhadap Dr. Charles Gouz, yang menerbitkan kembali sebuah artikel yang mengkritik France 2, menghasilkan "putusan yang meringankan", karena ia mencantumkan kata "disinformasi".

ReferensiSunting

CatatanSunting

  1. ^ a b "Talal Abu Rahma", Rory Peck Awards, 2001.
  2. ^ a b c "French court examines footage of Mohammad al-Dura's death", Haaretz, 16 Mei 2007.
  3. ^ a b c d e (Prancis) Charles Enderlin, "Non à la censure à la source," Le Figaro, 27 January 2005 (courtesy link Diarsipkan 2016-10-11 di Wayback Machine.).
  4. ^ a b c d e f g h i j Anne-Elisabeth Moutet, "L'Affaire Enderlin", The Weekly Standard, 7 July 2008.
  5. ^ David Cook, Martyrdom in Islam, Cambridge University Press, 2007, 155–156.
  6. ^ a b c "Israel 'sorry' for killing boy", BBC News, 3 October 2000.
  7. ^ a b c Daniel Seaman, "We did not abandon Philippe Karsenty", The Jerusalem Post, 25 June 2008.
  8. ^ a b c d e f g h i j Doreen Carvajal, "Photo of Palestinian Boy Kindles Debate in France", The New York Times, 7 February 2005.
  9. ^ a b "Media analyst convicted over France-2 Palestinian boy footage", Associated Press, 26 June 2013.
  10. ^ a b c Robert Mackey, "Complete Text of Israel's Report on the Muhammad al-Dura Video", The New York Times, 20 Mei 2013.
  11. ^ a b Jack Koury, "Mohammed al-Dura's Father Calls for International Probe Into Whether IDF Killed His Son", Haaretz, 20 Mei 2013.
  12. ^ a b Harriet Sherwood, "Israeli inquiry says film of Muhammad al-Dura's death in Gaza was staged", The Guardian, 20 Mei 2013.
  13. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p James Fallows, "Who shot Mohammed al-Durra?", The Atlantic, Juni 2003.
  14. ^ a b (Prancis) Pierre Haski, "«Un enfant est mort»: Charles Enderlin défend son honneur", L'Obs, 29 September 2010.
  15. ^ Gal Beckerman, "The Unpeaceful Rest of Mohammed Al-Dura", Columbia Journalism Review, 3 October 2007.
  16. ^ "Palestinians And Israelis In a Clash At Holy Site", The New York Times, 28 September 2000.
  17. ^ "Violence engulfs West Bank and Gaza", BBC News, 30 September 2000.
  18. ^ Report on the start of the Second Intifada, Laporan Mitchell, 2001.
  19. ^ "Intifada toll 2000-2005", BBC News, 8 Februari 2005.
  20. ^ a b "Israeli settler convoy bombed in Gaza, three injured", CNN, 27 September 2000.
  21. ^ a b c Suzanne Goldenberg, "Making of a martyr", The Guardian, 3 Oktober 2000.
  22. ^ a b c d e Helen Schary Motro, "Living among the headlines", Salon, 7 Oktober 2000.
  23. ^ a b c d Doha Shams, "Still Seeking Justice for Muhammad al-Durrah" Diarsipkan 2018-09-15 di Wayback Machine., Al-Akhbar, 2 Mei 2012.
  24. ^ Hazem Balousha, "Durrah's Father: My Son Is Dead", Al-Monitor, 22 Mei 2013.
  25. ^ a b William A. Orme, "Muhammad al-Durrah: A Young Symbol of Mideast Violence", The New York Times, 2 October 2000.
  26. ^ "Strike call after Jerusalem bloodshed", BBC News, 30 September 2000.
  27. ^ a b c d e f g h i j k l m n Talal Abu Rahma, "Statement under oath by a photographer of France 2 Television", Palestinian Centre for Human Rights, 3 Oktober 2000.
  28. ^ a b Helen Schary Motro, Maneuvering Between the Headlines: An American Lives Through the Intifada, Other Press, 2005.
  29. ^ (Prancis) Mustapha Kessous, "Charles Enderlin, conteur averti du Proche-Orient", Le Monde, 30 January 2016.
  30. ^ (Prancis) Michael Bloch, "Charles Enderlin prend sa retraite après 30 ans en Israël: 'Il n'y aura pas deux Etats'", Le Journal du Dimanche, 24 July 2015.
  31. ^ a b (Prancis) Letter from Jacques Chirac to Charles Enderlin, 25 February 2004 (courtesy of Media Ratings France).
  32. ^ (Prancis) "Charles Enderlin décoré de la Légion d'honneur", France 2, 12 August 2009.
  33. ^ a b c d e f g (Prancis) Élisabeth Schemla, "Un entretien exclusif avec Charles Enderlin, deux ans après la mort en direct de Mohamed Al-Dura à Gaza", Proche-Orient.info, 1 October 2002.
  34. ^ For Enderlin's children being threatened: Bob Garfield, Deborah Campbell, "Images of Mohammed al-Durrah", On the Media, WNYC Radio, 22 December 2001 (transcript, archived).
  35. ^ (Prancis) Gérard Grizbec, "Affaire al-Dura: Gérard Grizbec réagit à la contribution de Pierre-André Taguieef", Le Meilleur des mondes, October 2008.
  36. ^ a b (Prancis) Jean-Claude Schlinger, "Ballistics report prepared for Karsenty", 19 February 2008.
  37. ^ Netty C. Gross, "Split Screen" Diarsipkan 2012-11-04 di Wayback Machine., The Jerusalem Report, 21 April 2003.
  38. ^ O'Sullivan, Arieh (6 Juni 2001). "Southern Command decorates soldiers, units". Jerusalem Post. 
  39. ^ a b c d Tom Segev, "Who killed Mohammed al-Dura?", Haaretz, 22 March 2002.
  40. ^ Diagram attached to Talal Abu Rahma's affidavit, 3 October 2000.
  41. ^ Shapira 2002, 00:36:52:00.
  42. ^ Ed O'Loughlin, "Battle rages over fateful footage", The Age, 6 October 2007, 2.
  43. ^ a b c (dalam bahasa Jerman) Esther Schapira, Drei Kugeln und ein totes Kind: Wer erschoss Mohammed Al-Dura?, ARD, 18 March 2002, from 00:19:00:00 (interview with Jamal al-Durrah).
  44. ^ a b c d (dalam bahasa Prancis) Charles Enderlin, "La mort de Mohammed al Dura" Diarsipkan 23 April 2013 di Wayback Machine., France 2, 30 September 2000 (alternate link Diarsipkan 13 November 2012 di Wayback Machine.).
  45. ^ a b (Jerman) with English subtitles. Esther Schapira, Georg M. Hafner, Das Kind, der Tod und die Wahrheit, Hessischer Rundfunk, 4 March 2009, 00:09:47:05, courtesy of Vimeo . On YouTube (without subtitles): 1/5, 2/5, 3/5, 4/5, 5/5.
  46. ^ a b "Shooting to Shooting" Diarsipkan 7 March 2020 di Wayback Machine., National Public Radio, 1 October 2000.
  47. ^ Final few seconds cut by France 2, courtesy of YouTube.
  48. ^ a b Schapira and Hafner 2009, 00:10:39:24.
  49. ^ Schapiro 2002, 00:19:45:00.
  50. ^ a b Schapira and Hafner 2009, 00:13:12:19.
  51. ^ Suzanne Goldenberg, "The war of the children", The Guardian, 27 September 2001.
  52. ^ a b Schapira and Hafner 2009, 00:14:13:21.
  53. ^ a b Schapira and Hafner 2009, 00:14:01:09.
  54. ^ Schapira 2002, 00:19:25:00.
  55. ^ a b c d e Eva Cahen, "French TV Sticks by Story That Fueled Palestinian Intifada", Cybercast News Service, 15 February 2005.
  56. ^ Schapira 2002, 00:20:55:00.
  57. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:39:39:02.
  58. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:42:35:03 and 00:43:13:08.
  59. ^ a b Schapira 2002, 00:24:17:00.
  60. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:45:48:05.
  61. ^ (Prancis) Esther Schapira, "Lettre ouverte d’Esther Schapira à Charles Enderlin" Diarsipkan 2016-10-11 di Wayback Machine., Tribune juive, 12 February 2013 (in English).
  62. ^ Alan Philps, "Death of boy caught in gun battle provokes wave of revenge attacks", The Daily Telegraph, 1 October 2000.
  63. ^ (Prancis) "Les blessures de Jamal a Dura", France 2, 1 October 2000.
  64. ^ (Prancis) "Jamal a Dura l'operation", France 2, 1 October 2000.
  65. ^ Schapira 2002, 00:23:03:00.
  66. ^ Schapira 2002, 00:26:15:00.
  67. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:30:01:10.
  68. ^ a b Schapira 2002, 00:26:49:00.
  69. ^ a b c Adi Schwartz, "In the footsteps of the al-Dura controversy", Haaretz, 8 November 2007.
  70. ^ "Boy becomes Palestinian martyr", BBC News, 2 October 2000.
  71. ^ a b c d e f g (Prancis) Denis Jeambar and Daniel Leconte, "Guet-apens dans la guerre des images", Le Figaro, 25 January 2005.
  72. ^ a b David Gelernter, "When pictures lie," Los Angeles Times, 9 September 2005 (courtesy link).
  73. ^ David Frum, "L'affaire al-Dura", The National Post, 17 November 2007.
  74. ^ a b c Hannah Johnson, Blood Libel: The Ritual Murder Accusation at the Limit of Jewish History, University of Michigan Press, 2012, 126–127.
  75. ^ William A. Orme, "Israeli Army Says Palestinians May Have Shot Gaza Boy", The New York Times, 28 November 2000.
  76. ^ James Fallows, "News on the al-Dura front: Israeli finding that it was staged", The Atlantic, 2 October 2007.
  77. ^ Amnon Lord, "Who killed "Muhammad al-Dura. Blood libel—model 2000", Jerusalem Center for Public Affairs, 15 July 2002.
  78. ^ Stéphane Juffa, "The Mythical Martyr", Wall Street Journal, 26 November 2004.
  79. ^ Luc Rosenzweig, "Charles Enderlin et l’affaire Al Dura", Cités, 4(44), 2010. DOI:10.3917/cite.044.0159

    Luc Rosenzweig, "Après Jérôme Cahuzac et Gilles Bernheim, Charles Enderlin?", Atlantico, 20 Mei 2013.

  80. ^ a b Eva Cahen, "French TV Network Sues Over Palestinian Shooting Controversy", Cybercast News Service, 2006.
  81. ^ Johnson 2012, 199, n. 81.
  82. ^ Ruthie Blum Leibowitz, "'Muhammed al-Dura has become a brand-name'", The Jerusalem Post, 29 November 2007 (interview with Philippe Karsenty).

    Richard Landes, Phillipe Karsenty, "Right of reply: Conspiracy theories and al-Dura", The Jerusalem Post, 11 June 2008.

  83. ^ (Prancis) Gérard Huber, Contre-expertise d'une mise en scène, Paris; Éditions Raphaël, 2003.
  84. ^ (Prancis) Pierre-André Taguieff, La nouvelle propagande antijuive: Du symbole al-Dura aux rumeurs de Gaza, Paris: Presses Universitaires de France, 2015.
  85. ^ Alistair Dawber, "The killing of 12-year-old Mohammed al-Durrah in Gaza became the defining image of the second intifada. Only Israel claims it was all a fake", The Independent, 20 Mei 2013.
  86. ^ Michael Schwartz, Elise Labott, "New controversy over video of Gaza boy's death 13 years ago", CNN, 21 Mei 2013.
  87. ^ Ed McLoughlin, "Truth is sometimes caught in crossfire", The Sydney Morning Herald, 6 October 2007.
  88. ^ Larry Derfner, "Rattling the Cage: Al-Dura and the conspiracy freaks", The Jerusalem Post, 28 Mei 2008.
    Larry Derfner, "Rattling the Cage: Get real about Muhammad al-Dura", The Jerusalem Post, 18 Juni 2008.
  89. ^ Larry Derfner, "On the al-Dura affair: Israel officially drank the Kool Aid", +972 Magazine, 22 Mei 2013.
  90. ^ Schapira 2002, 00:29:52:00.
  91. ^ Schapira 2002, 00:29:42:00.
  92. ^ Schapira 2002, 00:33:14:00.
  93. ^ Schapira 2002, 00:30:44:00.
  94. ^ a b Adi Schwartz, "Independent expert: IDF bullets didn't kill Mohammed al-Dura", Haaretz, 3 February 2008.
  95. ^ (Prancis) "La justice visionne les rushes d'un reportage de France 2, accusé de trucage," Agence France-Presse, 14 November 2007.
  96. ^ a b c Helen Schoumann, "French court sees raw footage of al-Dura", The Jerusalem Post, 14 November 14, 2007.
  97. ^ Final moments of footage, France 2, 30 September 2000, courtesy of YouTube.
  98. ^ Charles Enderlin, "Letters to the Editor: Who Shot Mohammed al-Dura?", The Atlantic, September 2003.
  99. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:13:32:14.
  100. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:13:45:09.
  101. ^ "Charles Enderlin répond", Le Monde, 6 June 2008.
  102. ^ a b Nidra Poller, "Myth, Fact, and the al-Dura Affair", Commentary, September 2005.
  103. ^ (Ibrani) Book of Laws: Time Determination Law - 2000 (5760), Israeli Government Printing Office, 1748, 28 July 2000, 249.
  104. ^ Brian Whitaker, "War of words in the Middle East", The Guardian, 5 October 5, 2000. (At that point, the AP and Reuters were calling Muhammad "Rami Aldura" by mistake.)
  105. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:38:22:11.
  106. ^ (Jerman) Thomas Thiel, "Was geschah mit Mohammed al-Dura?", Frankfurter Allgemeine, 4 March 2009.
  107. ^ (Prancis) Charles Enderlin, Un Enfant est Mort: Netzarim, 30 Septembre 2000, Paris: Don Quichotte, October 2010.
  108. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:39:28:01.
  109. ^ Schapira and Hafner 2009, 00:40:39:22.
  110. ^ Schapira 2002, 00:03:59:00; 00:14:59:00 for the names.
  111. ^ Schapira 2002, 00:05:00:00.
  112. ^ Schapira 2002, 00:15:50:00.
  113. ^ Schapira 2002, 00:16:15:00.
  114. ^ Schapira 2002, 00:16:48:00.
  115. ^ Schapira 2002, 00:17:24:00
  116. ^ "On the al-Dura affair: Israel officially drank the Kool Aid". +972 Magazine. 22 Mei 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 December 2019. Diakses tanggal 25 August 2020. Another familiar “proof” of the hoax cited by the Kuperwasser Committee is that “the injuries and scars presented by Jamal [al-Dura, Muhammad’s father] as having been inflicted during the incident were actually the result of his having been assaulted in 1992 by Palestinians wielding knives and axes …” This revelation was supplied by Dr. Yehuda David, a hand surgeon at Israel’s Tel Hashomer hospital who treated Jamal for those earlier injuries in 1994. His statement to the committee says the Jordanian hospital medical reports on Jamal “support my assertion that the paralysis of Mr. Al-Durrah’s right hand was not a result of an injury allegedly suffered at the Netzarim junction several days before, as he claimed, but had been caused by the earlier injuries which I had treated in 1994.” 
  117. ^ a b (Prancis) "Ministere Public c/ Benattar, Weill, David" Diarsipkan 2012-10-23 di Wayback Machine., Tribunal de Grande Instance de Paris, 29 April 2011.
  118. ^ (Prancis) Sophie Lherm, "Affaire Al-Dura: quand un rédac'chef de France 3 se prend pour le justicier masqué", Télérama, 21 February 2011.
  119. ^ a b "French court convicts Israeli of slandering al-Durra", The Jerusalem Post, 29 April 2011.
  120. ^ "French court acquits Israeli doctor of libel over al-Dura case", YNet News, 15 February 2012.
  121. ^ a b Rafi Walden, "Rubbing Salt Into the Wound", Haaretz, 19 February 2012.
  122. ^ a b c Anat Cygielman, "IDF keeps shooting itself in the foot," Haaretz, 7 November 2000 (courtesy link).
  123. ^ Ed O'Loughlin, "Battle rages over fateful footage", The Age, 6 October 2007.
  124. ^ Bob Simon, "Probing Root Causes Of Mideast Violence", CBS 60 Minutes, 9 November 2000.
  125. ^ Anthony H. Cordesman, Jennifer Moravitz, The Israeli-Palestinian War: Escalating to Nowhere, Greenwood Publishing Group, 2005, 372.
  126. ^ "Israeli Army Says Palestinians May Have Shot Gaza Boy", The New York Times, 27 November 2000.
  127. ^ Shapira 2002, 00:37:07:00.
  128. ^ Suzanne Goldenberg, "Israel washes its hands of boy's death", The Guardian, 28 November 2000.
  129. ^ "Stupidity marches on," Haaretz, 10 November 2000 (courtesy link).
  130. ^ Haviv Rettig Gur, "French court overturns al-Dura libel judgment", The Jerusalem Post, 24 Mei 2008.
  131. ^ Ben Caspit, "Muhammad Al-Dura: The boy who wasn't really killed", The Jerusalem Post, 12 Mei 2013.
  132. ^ Isabel Kershner, "Israeli Report Casting New Doubts on Shooting in Gaza", The New York Times, 19 Mei 2013.
  133. ^ a b c d "The France 2 Al-Durrah Report, its Consequences and Implications: Report of the Government Review Committee", Ministry of International Affairs and Strategy, State of Israel, 19 Mei 2013.
  134. ^ a b c d e "Publication of the Report of the Government Review Committee Regarding the France 2 Al-Durrah", Prime Minister's Office, State of Israel, 19 Mei 2013.
  135. ^ Barak Ravid, "After State Panel's Mohammed al-Dura Report, France 2 Hits Back at Israeli Government", Haaretz, 29 Mei 2013.
  136. ^ (Prancis) Elena Brunet, "Charles Enderlin: 'Pas un seul expert indépendant'", L'Obs, 21 Mei 2013.
  137. ^ Harriet Sherwood, "Father of Muhammad al-Dura rebukes Israeli report on son's death", The Guardian, 23 Mei 2013.
  138. ^ Doreen Carvajal, "Can Internet criticism of Mideast news footage be slander?", International Herald Tribune/The New York Times, 18 September 2006.
  139. ^ a b Roger L. Simon, Interview with Philippe Karsenty, Pajamas Media, 2 March 2008.
  140. ^ a b c Nidra Poller, "A Hoax?", Wall Street Journal, 27 Mei 2008.
  141. ^ For a translation: s:Karsenty v. Enderlin-France2, Wikisource, 21 Mei 2008.
  142. ^ "French TV loses Gaza footage case", BBC News, 22 Mei 2008.
  143. ^ (Prancis) Élie Barnavi, "L'honneur du journalisme," Marianne, 581, 7–13 Juni 2008.
  144. ^ "Prasquier: 'establishing the truth about the Al-Dura case'", Conseil Représentatif des Institutions juives de France, 19 Juli 2008.
  145. ^ a b Devorah Lauter, "French Jews demand al-Dura probe", Jewish Telegraphic Agency, 8 Juli 2008.
  146. ^ a b "French Media Analyst Convicted of Defamation, Fined in Mohammed al-Dura Case", Associated Press and Haaretz, 26 June 2013.
  147. ^ "France high court ordered judges to examine Palestinian boy killing case", Agence France-Presse, 29 February 2012.
  148. ^ (Prancis) "Arrêté de la Cour de Cassation A-Dura Frane-2 Karsenty", Wikisource.
  149. ^ (Prancis) Ivan Rioufol, "Les médias, pouvoir intouchable?", Le Figaro, 13 June 2008.
  150. ^ Bryan Pearson, "Death of Mohammed al-Durra haunts Palestinian children," Agence France-Presse, 6 November 2000.
  151. ^ Cordesman and Moravitz 2005, 371.
  152. ^ (Prancis) Pierre-André Taguieff, "L'affaire al-Dura ou le renforcement des stéréotypes antijuifs...", Le Meilleur des mondes, September 2008.
  153. ^ (Prancis) Pierre-André Taguieff, La nouvelle propagande anti-juive, Presses Universitaires de France, 2010.
  154. ^ Martin Patience, "Dispute rages over al-Durrah footage", BBC News, 8 November 2007.

KutipanSunting

Bacaan tambahanSunting

Video