Menstruasi

keluarnya darah dari uterus non-hamil melalui vagina secara berkala

Menstruasi, haid, datang bulan, atau dapat bulan[1] (disingkat dapat atau dapet) adalah perubahan fisiologis dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi baik FSH-Estrogen atau LH-Progesteron. Periode ini penting dalam hal reproduksi. Pada manusia, hal ini biasanya terjadi setiap bulan sejak menarche (menstruasi pertama) sampai menopause (menstruasi berhenti). Selain manusia, periode ini hanya terjadi pada primata-primata besar, sementara binatang-binatang menyusui lainnya mengalami siklus estrus. Menstruasi berhenti pada kehamilan dan biasanya tidak dilanjutkan pada bulan-bulan awal menyusui.

Etimologi

sunting

Istilah "menstruasi" diambil dari bahasa Latin, "mensis", yang berarti bulan, kemudian dalam bahasa Inggris menses berarti periode haid. Istilah lain yang juga digunakan yaitu "haid" dari bahasa Arab, "حيض". Istilah setempat juga digunakan untuk memperhalus, yaitu "datang bulan".

Siklus menstruasi

sunting

Siklus menstruasi adalah suatu daur kejadian yang terjadi pada ovarium yang menghasilkan perubahan tidak hanya pada uterus, tetapi juga pada tubuh wanita secara keseluruhan. Siklus menstruasi yang berlangsung secara teratur tiap bulan, tergantung kepada serangkaian langkah-langkah sklik yang terkoordinir dengan baik, yang melibatkan sekresi hormon pada berbagai tingkat dalam sistem terintegrasi.

Silkus menstruasi terbagi menjadi dua siklus yakni silkus ovarium dan siklus endometrium, dan dalam setiap siklus tersebut terbagi menjadi beberapa fase. Untuk siklus ovarium terdiri atas fase folikular dan fase luteal. Fase folikular, tahap ini terjadi pada hari pertama menstruasi atau terlepasnya endometrium. Kemudian pada siklus ovarium juga terdapat fase luteal. Pada fase ini LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Siklus berikutnya yakni siklus endometrium yang terdiri atas tiga fase yakni fase poliferasi, fase sekresi, dan fase menstruasi. Pada fase poliferasi, segera setelah menstruasi, endometrium dalam keadaan tipis dan dalam strata istirahat. Kadar estrogen yang meningkat dari folikel yang berkembang akan merangsang stroma endometrium untuk mulai tumbuh, menebal, dan pembuluh darah menjadi banyak sekali. Yang kedua yakni fase sekresi yaitu ketika tetelah ovulasi, dibawah pengaruh progesteron yang meningkat dan terus di produksinya estrogen oleh korpus luteum, maka endometrium menebal. Kemudian fase yang terakhir yaitu fase menstruasi. Pada fase menstruasi ini, korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23 atau 24 pada siklus 28 hari, dan kemudian mulai beregresi.[2]

 
Siklus menstruasi pada wanita.

Siklus menstruasi dibagi atas empat fase.

Fase menstruasi (menstrual flow phase)

sunting

Yaitu, luruh dan dikeluarkannya dinding rahim dari tubuh. Hal ini disebabkan berkurangnya kadar hormon seks. Hal ini secara bertahap terjadi pada hari ke-1 sampai 7

Fase pra-ovulasi

sunting

Yaitu, masa pembentukan dan pematangan ovum dalam ovarium yang dipicu oleh peningkatan kadar estrogen dalam tubuh. Hal ini terjadi secara bertahap pada hari ke-7 sampai 13.

Fase ovulasi

sunting

Masa subur atau Ovulasi adalah suatu masa dalam siklus menstruasi wanita dimana sel telur yang matang siap untuk dibuahi. menurut beberapa literatur, masa subur adalah 14 hari sebelum haid selanjutnya. Apabila wanita tersebut melakukan hubungan seksual pada masa subur atau ovulasi maka kemungkinan terjadi kehamilan.[3]

Menentukan masa subur

sunting

Beberapa metode dalam menentukan masa subur dapat dilihat dengan beberapa cara:

  1. Perubahan Periode Menstruasi
  2. Perubahan Lendir Servik
  3. Perubahan Suhu Basal Tubuh

Fase pascaovulasi

sunting

Yaitu, masa kemunduran ovum bila tidak terjadi fertilisasi. Pada tahap ini, terjadi kenaikan produksi progesteron sehingga endometrium menjadi lebih tebal dan siap menerima embrio untuk berkembang. Jika tidak terjadi fertilisasi, maka hormon seks dalam tubuh akan berulang dan terjadi fase menstruasi kembali.

Usia mengalami menstruasi

sunting

Pada umumnya menstruasi diawali pada usia remaja 9 sampai 12 tahun. Ada pula sebagian perempuan yang mengalami haid atau menstruasi lebih lambat dari itu yakni dengan usia 13 sampai 15 tahun[4].19 Menstruasi ini merupakan tanda sempurnanya balig bagi remaja putri dan menstruasi berlangsung sampai umur 45 - 55 tahun[5].

Pubertas biasanya muncul pada umur 10 tahun dan pada seorang gadis ditandai dengan permulaan menstruasi (menarke). Uterus dan vagina membesar, buah dada membesar serta lemak, jaringan ikat dan saluran darah bertambah. Kemudian sifat kelamin sekunder tampil; lengkung tubuh berkembang dan jaringan adipose membulatkan batas-batas anggotanya, serta tampilnya bulu dalam ketiak dan daerah pubis, pelvis melebar. Perubahan penting terjadi pada masa si gadis menjadi matang jiwa dan raganya melalui masa remaja menjadi wanita dewasa[6].

Secara khusus, perempuan mengalami menstruasi pada usia antara dua belas dan tiga belas tahun. Akan tetapi, selalu ada perempuan yang mengalaminya pada usia lebih awal. Kira-kira sepuluh tahun dan beberapa diantaranya bahkan lebih dini. Dipihak lain beberapa perempuan mungkin belum mengalami menstruasi sampai usia 15 tahun atau 16 tahun. Hal ini bergantung pada produksi dan pelepasan hormon. Apabila pendarahan terjadi sebelum seorang gadis berusia sepuluh tahun, ibunya harus membawanya ke dokter untuk meyakinkan bahwa mengalami menstruasi pada usia dini merupakan bagian dari perkembangan yang normal. Seorang perempuan yang pada usia 15 tahun belum juga mengalami haid mungkin lebih baik jika memeriksakan diri ke dokter. Menstruasi dapat tertunda karena beberapa sebab, antara lain aktivitas fisik yang berat, berat badan kurang, gangguan medis, atau karena faktor keturunan[7]

Tanda dan gejala

sunting

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala yang dapat terjadi pada saat masa menstruasi:

Nyeri menstruasi (Dismenore)

sunting

Nyeri haid atau dismenore adalah nyeri kejang otot di perut bagian bawah dan menyebar ke sisi dalam paha atau bagian bawah pinggang yang terjadi menjelang haid atau selama haid akibat kontraksi otot rahim. Nyeri haid diduga terkait dengan produksi hormon progesteron yang meningkat. Hormon progesteron dihasilkan oleh jaringan ikat kelenjar indung telur (korpus luteum) setelah melepaskan sel telur matang setiap bulan. Hormon tersebut memperbesar ketegangan mulut rahim sehingga lubang mulut rahim menjadi sempit, akibatnya otot-otot rahim lebih kuat berkontraksi untuk dapat mengeluarkan darah haid melalui mulut rahim yang sempit. Jadi nyeri tersebut diakibatkan oleh kejang otot karena kontraksi otot rahim yang kuat.[9]

Nyeri menstruasi bisa tersendiri atau merupakan bagian dari sindrom premenstrual. Ada dua jenis nyeri menstruasi yaitu primer dan sekunder. Istilah dismenore primer dipakai untuk menstruasi yang sakit tanpa ada kaitannya dengan penyebab fisik, sedangkan dismenore sekunder ada kaitannnya dengan penyebab fisik. Ada teori yang menyatakan bahwa dismenore disebabkan oleh sekresi prostaglandin sehingga mempengaruhi kontraksi otot rahim dan kadang-kadang disertai rasa mual, muntah, dan diare. Faktor penyebab lain yaitu ketidakseimbangan estrogen dan progesteron.[10]

Nyeri haid disebabkan oleh terjadinya kontraksi rahim atau iskemia otot rahim, atau lepasnya dinding rahim akibat peningkatan prostaglandin. Selain itu bisa juga nyeri haid disebabkan oleh faktor hormonal, psikis, atau kecemasan berlebihan. Karena itu tidak heran apabila emosi wanita sering susah ditebak selama menstruasi. Kadang kala wanita begitu tegar menghadapi berbagai macam masalah dan cobaan namun disisi lain begitu rapuh menghadapi masalah yang sepele.[11]

Upaya penanganan nyeri menstruasi

sunting

Nyeri menstruasi dapat ditanggulangi dengan cara non farmakologis, misalnya dengan melakukan kompres hangat, kompres hangat ini dapat meredakan iskemia dengan menurunkan kontraksi uterus dan melancarkan pembuluh darah sehingga dapat meredakan nyeri. Nyeri dapat teratasi dikarenakan kompres hangat ini dapat mengurangi ketegangan dan meningkatkan perasaan tenang, meningkatkan aliran menstruasi, dan meredakan vasokongesti pelvis. Prinsip kerja kompres hangat dengan menggunakan buli-buli panas yang dibungkus kain secara konduksi akan mengakibatkan pemindahan panas dari buli-buli ke dalam tubuh sehingga akan menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan akan terjadi penurunan ketegangan otot sehingga nyeri haid yang dirasakan akan berkurang atau hilang[12]

Tindakan yang dilakukan responden ketika ketika mengalami nyeri menstruasi yaitu berupa tindakan non farmakologi dan tindakan farmakologi. Responden melakukan tindakan nonfarmakologi dalam menanggulangi dismenore disebabkan karena tindakan tersebut dapat dilakukan langsung ketika responden merasakan dismenore. Kurang dari 25% masyarakat Indonesia melakukan tindakan pengobatan ke dokter untuk mengobati nyeri menstruasi yang dialaminya. Lebih dari 65% wanita di seluruh dunia melakukan pengobatan sendiri untuk menanggulangi dismenore yang dideritanya seperti menggunakan obat tradisional ataupun obat yang dijual bebas[4]

Gangguan menstruasi dapat diatasi dengan cara melakukan olahraga dan latihan peregangan otot-otot ligamen di sekitar rongga pinggul agar dapat melancarkan aliran darah, mengkonsumsi obat penghilang nyeri, maupun mengkonsumsi obat herbal yang berkhasiat mengurangi rasa sakit. Selain mengurangi rasa nyeri, obat herbal juga dapat mengurangi aroma yang tidak sedap.[9]

Kelainan menstruasi

sunting
  • Menstruasi yang menyakitkan atau dysmenorrhea.

Dysmenorrhea pertama biasanya dihubungkan dengan naiknya kadar kimia alami di dalam tubuh saat ovulasi, yang menyebabkan rasa sakit. Dysmenorrhea kedua merupakan tanda suatu kelainan mendasar. Dysmenorrhea kedua ini mempengaruhi wanita yang belum pernah menstruasi sebelumnya. Kelainan reproduksi, endometriosis, atau fibroids dapat menimbulkan menstruasi dengan rasa sakit, dan satu-satunya cara untuk mengetahui penyebabnya secara pasti adalah dengan memeriksakannya ke dokter. Gejala dysmenorrhea termasuk rasa sakit pada punggung bagian bawah atau kaki, kram perut, atau sakit pada tulang panggul. Kelainan menstruasi ini dapat menunjukkan ketidaksuburan.[13]

  • Menstruasi yang sangat hebat, atau menorrhagia.

Ketidakseimbangan hormon atau kelainan rahim dapat menyebabkan volume darah menstruasi yang sangat tinggi, tetapi Dr Minkin mengatakan bahwa penyebabnya tidak selalu jelas. Jika wanita mengalami menstruasi selama tujuh hari atau lebih, dan darah yang keluar tidak tertampung lagi oleh pembalut, maka kemungkinan ia menderita menorrhagia. Darah yang menggumpal juga sebenarnya normal, tetapi gumpalan darah dalam jumlah besar merupakan tanda "heavy periods".Menorrhagia dapat menyebabkan anemia, jadi pastikan untuk mengonsumsi cukup banyak zat besi. Daging yang tidak berlemak, sayuran hijau, sereal, oatmeal, kacang kedelai rebus, dan kacang-kacangan lain, merupakan sumber zat besi yang baik. Obat-obatan dari dokter mungkin dibutuhkan untuk mengatasi menstruasi yang berlebihan atau anemia, tetapi pastikan untuk memberi tahu dokter jika sedang berusaha untuk hamil.[13]

  • Menstruasi tidak teratur, atau oligomenorrhea.

Menstruasi yang tidak dapat diprediksi datangnya termasuk normal, tetapi hanya bila hal ini terjadi pada tahun pertama wanita mengalami menstruasi dan saat perimenopause (tahun-tahun menjelang menopause). Ketidakseimbangan hormon atau kelainan juga menyebabkan haid tidak teratur, yang dapat memengaruhi tingkat kesuburan dan kesempatan wanita untuk mendapatkan bayi.[13]

Berdasarkan survei American Pregnancy Association (APP) menunjukkan bahwa sekitar 71 persen wanita mengalami tanda awal kehamilan sebelum telat haid. Hal tersebut dapat terjadi karena siklus haid yang tidak teratur.[14]

  • Tidak mengalami menstruasi atau amenorrhea.

Jika wanita tidak mengalami menstruasi selama tiga bulan, kemungkinan ia sedang hamil. Namun penyebab lainnya bisa juga karena ia mengalami amenorrhea, perimenopause, atau menopause. Penyebab yang paling umum dari absennya menstruasi adalah kehamilan. Amenorrhea juga merupakan efek samping dari penyakit, stres, latihan terlalu berat, atau turunnya berat badan yang terlalu banyak. Jika wanita tidak menstruasi, bisa jadi ia tidak berovulasi (tidak melepas telur setiap bulan). Jika tidak berovulasi maka ia akan kesulitan hamil. Penderita sebaiknya menghindari diet dan latihan yang ketat.[13]

Osteoporosis

sunting

Penyakit tulang keropos atau biasa dikenal dengan osteoporosis memang banyak dialami orang lanjut usia. Namun, penyakit yang tergolong "silent disease" ini sebenarnya juga menyerang kaum muda. Dan banyak orang tak sadar akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini, khususnya dari para kaum muda, karena sebagian besar dari mereka masih menganggap osteoporosis adalah penyakit orang tua. Osteoporosis bisa menyerang orang yang masih berusia 20-30 tahunan, meskipun jarang sekali terjadi.[15]

Sekitar 90 persen perempuan yang mengalami masalah osteoporosis, penyebabnya dipengaruhi oleh hormon estrogen di dalam tubuh mereka. Hormon estrogen lebih aktif diproduksi oleh tubuh sebelum menopause. Namun setelah menopause, pembentukan hormon estrogen akan menurun dan melambat drastis sehingga mengakibatkan penghancuran tulang yang lebih cepat dibandingkan dengan proses pembentukannya.[15]

Haid pertama dapat mempengaruhi serangan osteoporosis. Di beberapa kasus kesehatan, osteoporosis memiliki kemungkinan untuk menyerang remaja. Kemungkinan risiko penyakit osteoporosis bisa dilihat dari haid pertama, atau kista ovarium. Hormon estrogen adalah unsur penting dalam proses penentuan massa tulang, jadi memperoleh haid pada saat usia remaja menjadi sebuah pertanda yang sangat penting.[15]

Seorang remaja putri yang mendapat haid pertama atau menarche pada usia 15 tahun ke atas akan mempunyai risiko terserang osteoporosis yang lebih besar. Disamping itu, haid yang tidak teratur menjadi salah satu tanda kemungkinan risiko terjadi pengeroposan tulang.[15]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ (Indonesia) Arti kata mendapat bulan dalam situs web Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
  2. ^ Lutvia, Krismayanti (2015). Anatomi Fisiologi Manusia. Mataram: CV. Sanabil. hlm. 172–175. 
  3. ^ Menghitung masa subur, Penjelasan menghitung masa subur dengan beberapa metode .
  4. ^ a b Rustam, Erlina (2015-01-01). "Gambaran Pengetahuan Remaja Puteri Terhadap Nyeri Haid (Dismenore) dan Cara Penanggulangannya". Jurnal Kesehatan Andalas. 4 (1): 289. doi:10.25077/jka.v4i1.236. ISSN 2615-1138. 
  5. ^ Samadi, Farzaneh (2004). Bersahabat dengan Putri Anda. Jakarta: Pustaka Zahra. hlm. 49. 
  6. ^ Pearce, Evelyn (2008). Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis. akarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 254. 
  7. ^ Dian N, Boyke (2013). It’s All About Sex. Jakarta: PT Bumi Aksara. hlm. 78–79. 
  8. ^ Ketahui Datang Bulan dari Suara[pranala nonaktif permanen]
  9. ^ a b Harmanto, Ning (2006). Herbal untuk Keluarga Ibu Sehat dan Cantik dengan Herbal. jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 53–54. 
  10. ^ Tambayong, Jan (2000). Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. hlm. 194–195. 
  11. ^ Harmanto, Ning (2006). Herbal untuk Keluarga Ibu Sehat dan Cantik dengan Herbal. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 53. 
  12. ^ Isnayanti, Putri; Rejeki, Herni (2021-12-03). "Penerapan Kompres Hangat Menggunakan Jahe Merah Untuk Menurunkan Nyeri Pada Lansia Dengan Gout Arthtritis". Prosiding Seminar Nasional Kesehatan. 1: 750–754. doi:10.48144/prosiding.v1i.746. ISSN 2808-7968. 
  13. ^ a b c d "4 macam problem menstruasi". Kompas.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-06-12. Diakses tanggal 2012-08-17. 
  14. ^ Afani, Annisa (28 Seprember 2020). "17 Tanda-tanda Kehamilan Sebelum Telat Haid". Haibunda. Diakses tanggal 28 Oktober 2021. 
  15. ^ a b c d Terlambat haid pertama dapat memicu osteoporosis[pranala nonaktif permanen]

Pranala luar

sunting