Mekarsari, Kutowinangun, Kebumen

desa di Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia

Mekarsari adalah desa di kecamatan Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia

Mekarsari
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenKebumen
KecamatanKutowinangun
Kodepos
54393
Kode Kemendagri33.05.10.2006 Edit the value on Wikidata
Luas131 km²
Jumlah penduduk3235 jiwa
Kepadatanjiwa/km²

Desa Mekarsari awalnya bernama Desa KEPEDEK.pada tahun 1982 pada masa kepemimpinan Kepala Desa H.Soebandji dan beberapa tokoh masyarakat sepakat mengubah nama dari Desa KEPEDEK menjadi DESA MEKARSARI.

Legenda terbentuknya Desa KEPEDEK ( informasi di petik dari beberapa sumber dan Tokoh masyarakat ) berawal dari pengembaraan seorang Pangeran dari kerajaan MATARAM ( Kanjeng Pangeran BUMIDIRJO ) yang mengasingkan diri bersama sang istri dan beberapa orang pengawal sekitar Tahun 1670,untuk menghindar dari kepemimpinan Raden Mas Sayidin ( Kanjeng Sultan Amangkurat I ) karena dalam kepemimpinan arah politik Kanjeng Suntan Amangkurat I lebih memihak ke VOC daripada rakyat mataram. karena berbeda pandangan Kanjeng Pangeran Bumidirjo meninggalkan kraton mataram ( di kisahkan dalam Babad Kebumen,Pangeran Bumidirjo dalam pengasinganya sampai di Panjer Kebumen dan akhirnya bermukim di daerah Karang Rejo Kecamatan Kutowinangun hingga beliau mangkat/meninggal )

Kepergian Pangeran Bumidirjo dari kerajaan Mataram ( mengasingkan diri ),membuat Raja mataram Kanjeng Sultan Amangkurat I,gelisah karena tidak ada orang yang pantas di jadikan SESEPUH keraton,segeralah Kanjeng Sultan Amamgkurat I menyebar telik sandi untuk mencari tahu keberadaan Pangeran Bumidirjo.hingga akhirnya keberadaan Pangeran Bumidirdjo di ketahui Raja mataram dan langsung mengutus,orang terdekat Pangeran Bumidirjo saat masih di Keraton Mataram yang juga SANTRI Pangeran Bumidirjo bernama Udakara dan Surakerti untuk menyusul dan membujuk Pangeran Bumidirdjo agar bersedia kembali ke keraton.Perjalanan prajurit ( Udakara dan Surakerti ) saat itu ke arah barat menyisisr pantai selatan Pulau JAWA. tentulah tidak mudah,karena kala itu hampir semua wilayah masih berbentuk hutan belantara.Tibalah Udakara dan Surakerti di suatu tempat dan menanyakan keberadaan Pangeran BUMIDIRDJO kepada pendududuk.Dengan nada terbata bata penduduk tersebut menjawab ( " Kala wau sampun enten ingkang tanglet )= tadi Sudah ada yang menanyakan keberadaan Pangeran Bumidirjo =.Kata KALA WAU oleh utusan mataram di abadikan menjadi kata KUWAON ( Dukuh di RW.01 Desa Mekarsari ).prajurit melanjutkan perjalanan ke arah utara dan berhenti sejenak karena mendengar SUARA pukulan palu dari rumah rumah pendududuk yang sedang membuat alat PARUT kelapa.kemudian prajurit menamakan wilayah tersebut dengan nama SUARAN ( RW 2 ) asal kata dari SUARA.ke dua prajurit kembali melanjutkan perjalanan ke utara,sekitar 300 M melihat penduduk sedang memanen NGUNDUH madu tawon,agar tidak kehilangan jejak Udakara dan Surakerti menamakan Dusun tersebut dengan nama DUDUHAN ( tempat UNDUHAN / NGUNDUH tawon ).perjalanan di lanjutkan ke arah utara,lagi lagi para prajurit di landa kebingungan dan bertanyalah kepada pendududuk tentang keberadaan Pangeran Bumidirjo.Oleh pendududuk setempat di jawab dengan bahasa jawa NGAPAK sambil menunjuk ke arah barat dan berkata " Dalemipun Pangeran Kyai Bumi / Pangeran Bumidirjo sampun PEDEK " = Kediaman Pangeran Bumidirjo sudah DEKAT =. dengan rasa lega dan gembira mendengar jawaban penduduk lantas prajurit menamakan wilayah tersebut KEPEDEK ( yang artinya sudah dekat ).prajurit dan utusan khusus keraton mataram melanjutkan perjalanan kearah barat kurang lebih 300 Meter pemimpin prajurit memutuskan beristirahat karena hari sudah lelah dan hari beranjak malam.tempat bermalam udakara dan Surakerti persis di bawah pohon ASAM JAWA yang menurut informasi dari penduduk setempat pohon asam jawa tersebut dulu pernah di gunakan Pangeran Diponegoro untuk MEMATOK ( menambatkan ) kuda.agar tidak kehilangan arah lagi oleh prajurit tempat itu di namakan KEPATOKAN ( Dukuh RW.04 ).dari perbincangan dengan penduduk agar tidak tersesat para prajurit di sarankan untuk menemui seorang Kyai sepuh di wilayah utara bernama Kyai / Mbah Langkir.dan wilayah tersebut sekarang bernama KLANGKIRAN ( Dusun RW.05 ) yang berasal dari Mbah LANGKIR.atas saran dan informasi dari mbah Langkir itulah utusan dari keraton mataram sampai di kediaman Pangeran Bumidirdjo/Kyai Bumi yang terletak di Dukuh Karang Rejo Desa Kutowinangun ( sebelah barat Dukuh Kepatokan ).Setelah bertemu Pangeran Bumidirjo ,Udakara dan Surakerti memohon agar Pangeran kembali ke keraton Mataram.namun Pangeran Bumidirjo tidak bersedia.

Karena Udakara dan surakerti gagal membujuk Pangeran Bumidirjo untuk kembali ke keraton dan dari kegagalan tugas mereka akan di hukum oleh Raja Amangkurat I ,maka UDAKARA memutuskan tinggal bersama P.Bumidirjo sedangkan SURAKERTI tinggal di KEPEDEK dengan menyamar dan mengubah nama menjadi mbah SAKERTI / IMAM SAKETI.

(= Hubungan Pangeran Bumidirjo dan Desa KEPEDEK sangatlah erat dalam sejarah karena di Dukuh SUARAN terdapat makam KI Bekel ( Anak Pangeran Bumidirjo ) dan Kyai Honggoyudo ( Demang Kutowinangun I ) yaitu Cucu dari Pangeran Bumidirjo =) serta para pengawal beliau.

Dalam beberapa kisah di jelaskan bahwa Kanjeng Pangeran Bumidirjo berpesan kepada Anak Cucunya agar tidak memakai Gelar KANJENG tetapi dengan Nama Kyai atau KI.

Itulah LEGENDA asal usul nama Desa KEPEDEK yang berasal dari kata KAPEDEK / KEPEDEK ( DEKAT ) yang terdiri dari 5 Dukuh ( Dukuh KUWAON RW 01,Dukuh SUARAN RW.02 ,Dukuh DUDUHAN RW.03 , Dukuh KEPEDEK / KEPATOKAN RW.04 dan Dukuh KLANGKIRAN RW.05 ) dan Pada tanggal 1 Januari 1982 Desa KEPEDEK di ubah menjadi Desa MEKARSARI.

Di tulis Oleh : MAHMUDI - 081227519493 - 02/05 Klangkiran Mekarsari -

( Informasi sejarah dan legenda = dari berbagai sumber dan beberapa tokoh sesepuh Desa Mekarsari dan Babad kebumen )

( sampaikan kontribusi saran dan informasi saudara terkait sejarah Desa Mekarsari - Kutowinangun - Kebumen untuk kejelasan dan kebenaran sejarah /asal usul )