Masjid Raya Baiturrahman

Masjid di Kota Banda Aceh, Indonesia

Koordinat: 5°33′13″N 95°19′1.9″E / 5.55361°N 95.317194°E / 5.55361; 95.317194

Masjid Raya Baiturrahman (Aksara Jawoë  : مسجد راي بايتوررحمن ) adaaa salah satu masjid yang ada di Desa Kampung Baru, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Masyarakat Aceh menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah dan syiar Islam. Masjid Raya Baiturrahman didirikan oleh Sultan Alauddin Mahmud Syah I pada tahun 1292 M. Bahan bangunan yang pertama terdiri dari kayu dan menggunakan atap dari rumbia. Belanda sempat menguasai masjid selama penyerbuan di Aceh pada tahun 1873 di bawah komando Jenderal Kohler. Masjid Raya Baiturrahman pernah dibakar oleh Belanda pada tahun 1874 saat penyerbuan kedua. Belanda memutuskan untuk membangun kembali masjid pada tanggal 9 Oktober 1879 atas nasehat Snouck Horgronje. Bangunan masjid dirancang oleh Kapten Genie Marechausse dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Tengku Malikul Adil disaksikan oleh pembesar Belanda. Model Masjid Baiturrahman mencerminkan arsitektur Eropa dan Islam. Kubah masjid hanya satu sampai awal tahun 1935. Setelahnya masjid diperluas sehingga menambah dua kubah lagi. Kubah masjid bertambah menjadi 5 pada tahun 1957 setelah masjid diperbesar lagi. Masjid Raya Baiturrahman dipugar tahun 1979 dipugar dalam Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala. Denah masjid berbentu empat persegi dengan pintu masuk berupa relung-relung tanpa daun pintu. Di bagian atasnya dihiasi dengan menara-menara. Kaligrafi Islam terpajang pada dinding ruangan, sedangkan pada jendela dan pintu terdapat hiasan empat persegi, belah ketupat, sulur dan bunga. Ruang ibadah memiliki tiang-tiang dengan hiasan lengkungan, daun, dan garis-garis. Mihrab dan mimbar dihiasi daun-daunan, bunga dan sulur-sulur. Di depan halaman masjid terdapat menara yang sangat tinggi dengan tangga beton berputar. Atap masjid berbentuk kubah berjumlah lima buah dengan hiasan memolo berbentuk bulat di puncak kubah.[2] Masjid Raya Baiturrahman adalah simbol agama, budaya, semangat, kekuatan, perjuangan dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini adalah landmark Banda Aceh sejak era Kesultanan Aceh dan selamat dari bencana tsunami pada 26 Desember 2004 silam.

Masjid Raya Baiturrahman
Meuseujid Raya Baiturrahman .jpg
Masjid Raya Baiturrahman
Informasi umum
LetakBanda Aceh, Aceh, Indonesia
Afiliasi agamaIslam
Deskripsi arsitektur
ArsitekGerrit Bruins
Jenis arsitekturMasjid
Gaya arsitekturKebangkitan Mughal
Peletakan batu pertama1879
Rampung1881
Spesifikasi
Kapasitas30.000
Luas bangunan1500 m2 (16000 sq ft)
Kubah7[1]
Menara8

SejarahSunting

 
Lukisan Masjid Raya Kesultanan Aceh yang asli, Masjid ini merupakan yang paling megah pada abad ke-18 di Banda Aceh
 
Kerajaan Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman pada saat Sultan Muhammad Daud Syah Johan Berdaulat masih bertahta sebagai Sultan Aceh yang terakhir

Masjid Raya yang asli dibangun pada tahun 1612 di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Ada juga yang mengatakan bahwa Masjid Raya Baiturrahman yang asli dibangun lebih awal pada tahun 1292 oleh Sultan Alaidin Mahmudsyah. Masjid Kerajaan yang asli menampilkan atap jerami berlapis-lapis yang merupakan fitur khas arsitektur Aceh.[3]

Ketika Kolonial Hindia Belanda menyerang Kesultanan Aceh pada 10 April 1873, masyarakat Aceh menggunakan Masjid Raya yang asli sebagai benteng pertempuran, dan menyerang pasukan Royal Belanda dari dalam masjid. Pasukan Royal Belanda pun membalas dengan menembakkan suar ke atap jerami masjid, yang menyebabkan masjid terbakar. Jendral Van Swieten pun menjanjikan pemimpin lokal bahwa dia akan membangun kembali Masjid Raya dan menciptakan tempat yang hangat untuk permintaan maaf. Pada 9 Oktober 1879,[4] Belanda membangun kembali Masjid Baiturrahman sebagai pemberian dan untuk mengurangi kemarahan rakyat Aceh. Konstruksi dimulai pada tahun 1879, ketika batu pertama diletakkan oleh Tengku Qadhi Malikul Adil, yang kemudian menjadi imam pertama di Masjid Raya baru ini, dan diselesaikan pada 27 Desember 1881 ketika masa pemerintahan Sultan terakhir Aceh, Muhammad Daud Syah. Banyak orang Aceh yang awalnya menolak untuk beribadah di Masjid Raya Baiturrahman yang baru ini karena dibangun oleh orang Belanda, yang awalnya merupakan musuh mereka. Namun sekarang Masjid ini telah menjadi kebanggaan Masyarakat Aceh.[5]

Pada awalnya, Masjid Raya Baiturrahman hanya memiliki satu kubah dan satu menara. Kubah-kubah dan Menara-menara ekstra baru ditambahkan pada tahun 1935, 1958, dan 1982. Hari ini Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 kubah dan 8 menara, termasuk yang tertinggi di Banda Aceh.[6]

Masjid Raya Baiturrahman selamat dari peristiwa Gempa dan Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang hanya mendapatkan sedikit kerusakan seperti beberapa dinding yang retak. Salah satu menara 35 meter juga mengalami sedikit keretakan dan menjadi sedikit miring akibat gempa tersebut. Disaat kejadian bencana alam tersebut, Masjid ini digunakan sebagai tempat penampungan sementara untuk orang-orang yang terlantar dan baru dibuka kembali untuk ibadah setelah 2 minggu.[6]

Arsitektur dan DesainSunting

 
Penampakan muka Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman awalnya dirancang oleh arsitek Belanda yang bernama Gerrit Bruins.[7][8] Desainnya kemudian diadaptasi oleh L.P. Luijks, yang juga mengawasi pekerjaan konstruksi yang dilakukan oleh kontraktor Lie A Sie.[7] Desain yang dipilih adalah gaya kebangkitan Mughal, yang dicirikan oleh kubah besar dengan menara-menara. Kubah hitam uniknya dibangun dari sirap kayu keras yang digabung menjadi ubin.

Interiornya dihiasi dengan dinding dan pilar be-relief, tangga marmer dan lantai dari Tiongkok, jendela kaca patri dari Belgia, pintu kayu berdekorasi, dan lampu hias gantung perunggu. Batu-batu bangunannya berasal dari Belanda. Pada saat penyelesaiannya, desain yang baru pada masanya ini sangat kontras dibandingkan dengan masjid-masjid khas Aceh disaat itu, yang mengakibatkan banyak orang Aceh menolak untuk shalat di Masjid Raya Baiturrahman ini, ditambah lagi karena masjid ini dibangun oleh "orang kafir" Belanda. Namun sekarang, Masjid Raya Baiturrahman telah menjadi masjid kebanggaan masyarakat Aceh.[9]

WisatawanSunting

Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Aceh terus meningkat setiap tahunnya, mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang tersebar diseluruh penjuru Aceh. Salah satu objek wisata sejarah yang sangat diminati oleh para wisatawan adalah Masjid Raya Baiturrahman, para wisatawan biasanya menghabiskan waktu dengan cara mempelajari sejarah Masjid Raya Baiturrahman, menikmati keindahan arsitekturnya serta mengabadikan foto saat berada di kawasan masjid.

ReplikaSunting

Replika Masjid Raya Baiturrahman terletak di sebuah taman miniatur terbesar di dunia bernama Taman Minimundus di Klagenfurt, Karintia, Austria. Bangunan pada replika tersebut terlihat sangat mirip dengan aslinya. Miniatur ini menggunakan skala 1:25.

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ (Indonesia) "Masjid Baiturahman ( Masjid Raya ) Banda Aceh" (php). Diakses tanggal 3 Agustus 2012. 
  2. ^ Sugiyanti, dkk. (1999). Masjid Kuno Indonesia (PDF). Jakarta: Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Pusat. hlm. 25. ISBN 979-8250-16-8. 
  3. ^ Gunawan Tjahjono (1998). Indonesian Heritage-Architecture. Singapore: Archipelago Press. hlm. 81–82. ISBN 981-3018-30-5. 
  4. ^ Indrajaya, Dimas Wahyu. "Sejarah Hari Ini (9 Oktober 1879) - Belanda Bangun Kembali Masjid Raya Baiturrahman Aceh". Good News From Indonesia. Diakses tanggal 10 Oktober 2020. 
  5. ^ Luijken, Henk. "Banda Aceh". travelmarker.nl. Diakses tanggal 10 Oktober 2020. 
  6. ^ a b http://lestariheritage.net/aceh/webpages/sites01.htmlAceh Heritage Diarsipkan 2012-03-21 di Wayback Machine.
  7. ^ a b http://atjehpost.co/articles/read/4881/Amazing-Baiturrahman-Kisah-Awal-Mula-Masjid-Raya-Banda-Aceh Amazing Baiturrahman; Kisah Awal Mula Masjid Raya Banda Aceh
  8. ^ Van der Klaauw, C.J., ed. (24 December 1940). Geslachtslijst Bruins. hlm. 6. 
  9. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama dutch

Pranala luarSunting