Buka menu utama

Masjid Agung Al-Azhar

masjid di Indonesia

Masjid Agung Al-Azhar adalah masjid yang terletak di kompleks sekolah Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Masjid ini mulai dibangun pada 1953 atas prakarsa sejumlah tokoh partai Masyumi dan selesai dibangun pada 1958.

Masjid Agung Al-Azhar
Masjid Agung Al-Azhar.jpg
Masjid Agung Al-Azhar
Informasi umum
LetakJakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia
Afiliasi agamaIslam
Deskripsi arsitektur
Jenis arsitekturMasjid
Gaya arsitekturTimur Tengah
Peletakan batu pertama43.755 m²
Tahun selesai1958
Spesifikasi
Kubah1
Menara1

Nama Al-Azhar disematkan oleh Imam Besar Al-Azhar Mahmud Syaltut saat berkunjung pada 1960. Penamaan ini merujuk pada pencapaian imam besar masjid, Abdul Malik Karim Amrullah (atau dikenal sebagai Hamka), seorang ulama dan aktivis Islam yang dianugerahi gelar doktor kehormatan oleh Universitas Al-Azhar, Mesir.

Masjid Agung Al-Azhar menyandang status sebagai masjid terbesar di Jakarta hingga pembangunan Masjid Istiqlal selesai pada 1978. Dalam perkembangannya, masjid ini menjelma menjadi kompleks lembaga pendidikan, termasuk di dalamnya Universitas Al Azhar Indonesia.

Daftar isi

SejarahSunting

 
Masjid Agung Al Azhar.

Gagasan untuk membangun masjid dan sekolah di Kebayoran Baru diprakarsai oleh 14 orang tokoh partai Masyumi. Pada 7 April 1952, atas anjuran Menteri Sosial Syamsudin, mereka mendirikan Yayasan Pesantren Islam (YPI) yang akan menaungi masjid dan sekolah. Kementerian Agama menyediakan sedikit dana sebagai stimulus, sementara Gubernur Jakarta menyumbangkan tanah seluas empat hektare di pinggiran Kebayoran Baru.[1] Atas saran Hamka, seorang ulama Indonesia dan aktivis Islam, disarankan agar sebuah masjid dibangun terlebih dahulu ketimbang sekolah, "tetapi bangunlah masjidnya dengan banyak ruang untuk kantor dan rapat supaya sewaktu sekolah dibangun, masjidnya tetap bisa beraktivitas penuh, termasuk kelas pendidikan."[1] Pembangunan masjid dimulai pada 19 November 1953 dan selesai pada 1958.[2] Pada saat penyelesaiannya, masjid ini menjadi yang terbesar di Jakarta.

Panitia pembangunan awalnya menunggu Presiden Soekarno menggunting pita sebagai tanda dibukanya masjid secara resmi. Namun, Hamka membujuk panitia untuk tak menunggu presiden dan mulai mengadakan salat jemaah di sana, termasuk salat Jumat. Pada 1959, Hamka diminta menjadi imam besar. Pada 1960, Imam Besar Al-Azhar Syekh Mahmud Syaltut, dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia, mengusulkan agar masjid ini dinamai Masjid Agung Al-Azhar sebagai pengakuan atas peran dan ketokohan Hamka.[3] Di bawah kepemimpinan Hamka, Masjid Al-Azhar menjadi pusat dakwah dan kebangkitan Muslim.[4][5]

PerkembanganSunting

Pada 1967, sebuah taman kanak-kanak didirikan di kompleks Masjid Al-Azhar. Amal usaha pendidikan Al-Azhar berkembang hingga mendirikan Universitas Al-Azhar Indonesia pada tahun 2000.[2]

Masjid Raya Al-Azhar ditetapkan sebagai salah satu dari 18 situs tapak sejarah perkembangan kota Jakarta dan cagar budaya nasional pada 19 Agustus 1993.

BangunanSunting

 
Ruang salat Masjid Agung Al-Azhar

Masjid Al-Azhar memiliki kubah bawang bercat putih, mengikuti ciri arsitektur masjid di Timur Tengah dan dilengkapi sebuah menara.

Masjid Al-Azhar didirikan tidak hanya sebagai masjid tetapi sekaligus sebagai pusat kegiatan sosial dan dakwah. Keberadannya tercatat sebagai salah satu masjid "modern" pertama di Indonesia, ditandai dengan kelengkapan fasilitas seperti perpustakaan Islam, ruang kuliah dan seminar, klinik kesehatan, ruang kelas untuk mata pelajaran agama dan umum, serta asrama.

ReferensiSunting

  1. ^ a b Rush 2016, hlm. 126.
  2. ^ a b Merrillees 2015, hlm. 129.
  3. ^ Rush 2016, hlm. 127.
  4. ^ Rush 2016, hlm. 128.
  5. ^ "Al Azhar, Masjid". Ensiklopedi Jakarta (dalam bahasa Indonesian). Dinas Komunikasi, Informatika dan Kehumasan Pemprov DKI Jakarta. 2010. Diakses tanggal November 9, 2016. 

Daftar pustakaSunting