Buka menu utama
Kurt Vonnegut, 1972

Kurt Vonnegut Jr. (/ˈvɒnəɡət/;[1] 12 November 1922 – 11 April 2007) adalah seorang penulis Amerika Serikat. Selama lima puluh tahun, Vonnegut menghasilkan empat belas novel, tiga koleksi cerita pendek, lima naskah drama, dan lima karya non-fiksi. Dia terkenal karena novel satir gelapnya, Slaughterhouse-Five (1969).

Lahir dan besar di Indianapolis, Indiana, Vonnegut pernah berkuliah di Universitas Cornell. Ia keluar pada bulan 1943 dan bergabung dengan Angkatan Darat Amerika Serikat. Selama dinas militernya, dia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Carnegie dan Universitas Tennessee. Dia kemudian dikirim ke Eropa untuk bertempur di Perang Dunia Kedua dan tertawan oleh pasukan Jerman pada saat Pertempuran Bulge. Vonnegut ditawan di Dresden dan selamat dari pengeboman Sekutu atas kota itu dengan berlindung pada sebuah peti daging di rumah potong tempatnya ditawan. Setelah perang usai, Vonnegut menikahi Jane Marie Cox; pernikahan itu menghasilkan tiga orang anak.

Vonnegut menerbitkan novel pertamanya, Player Piano, pada 1952. Novel itu mendapat tanggapan yang baik namun tidak berhasil secara komersial. Sepanjang dua puluh tahun setelahnya, dia menulis novel-novel yang hanya hampir-hampir sukses, seperti Cat's Cradle (1963) dan God Bless You, Mr. Rosewater (1964). Baru pada novel keenam, Slaughterhouse-Five, Vonnegut mendapat ketenaran. Sentimen anti-perang yang diusung novel tersebut beresonansi dengan para pembacanya, terlebih dengan sedang berlangsungnya Perang Vietnam. Setelah terbit, Slaughterhouse-Five memuncaki daftar buku terlaris The New York Times. Ketenaran barunya menyebabkan Vonnegut banyak mendapat undangan untuk berceramah dan menerima banyak penghargaan.

Di masa penghujung kariernya, Vonnegut menerbitkan beberapa koleksi esai otobiografis dan koleksi cerita pendek, seperti Fates Worse Than Death (1991) dan A Man Without a Country (2005). Baru setelah kematiannyalah Vonnegut disanjung sebagai seorang pengamat-penulis yang kritis, ironis, dan gelap, namun tak menyingkirkan tempatnya sebagai salah satu penulis dunia kontemporer yang paling berpengaruh. Putranya Mark Vonnegut menerbitkan himpunan tulisan-tulisan ayahnya yang belum sempat diterbitkan, berjudul Armageddon in Retrospect. Pada tahun 2017, Seven Stories Press menerbitkan Complete Stories, sebuah koleksi cerita fiksi pendek karyanya, termasuk lima buah cerita yang belum pernah diterbitkan. Complete Stories dihimpun dan diperkenalkan pada khalayak oleh sahabat Vonnegut Jerome Klinkowitz dan Dan Wakefield. Beberapa karya ilmiah juga telah memeriksa dan menguji karya dan humor yang membuat Vonnegut terkenal.

BiografiSunting

Kehidupan awalSunting

Kurt Vonnegut Jr. lahir pada 11 November 1922 di Indianapolis, Indiana. Ia anak bungsu dari pasangan Kurt dan dan Edith Vonnegut. Ia mempunyai kakak lelaki, Bernard (l. 1914) dan kakak perempuan, Alice (l. 1917). Leluhur Vonnegut adalah para imigran Jerman yang menetap di Amerika pada pertengahan abad ke-19. Kakek buyutnya dari sebelah ayah, Clemens, berasal dari daerah Westphalia. Ia menetap di Indianapolis dan mendirikan Vonnegut Hardware Company, sebuah firma keluarga. Ayah dan kakek Kurt, Bernard, bekerja sebagai arsitek. Firma mereka merancanga bangunan-bangunan seperti Das Deutsche Haus (kini bernama "The Athenæum"), yang berfungsi sebagai kantor pusat Bell Telephone Company untuk negara bagian Indiana, dan Fletcher Trust Building di kota yang sama.[2] Keluarga ibu Vonnegut, keluarga Lieber, adalah salah satu keluarga yang paling kaya di kota itu; kekayaan mereka berasal dari saham di perusahaan penyulingan bir.[3]

Meski kedua orang tua Vonnegut berbicara bahasa Jerman dengan fasih, mereka meninggalkan sedikit demi sedikit latar budaya Jerman mereka karena merasa malu setelah kekalahan tanah leluhur itu pada Perang Dunia Pertama. Mereka tidak mengajarkan Vonnegut berbahasa Jerman atau memberinya buku-buku dalam bahasa itu, sesuatu yang kelak membuatnya merasa "bebal dan tanpa akar."[4][5] Kelak, Vonnegut merasa berhutang budi kepada Ida Young, koki dan pembantu rumah tangga mereka yang berkulit hitam, karena telah membesarkannya dengan nilai-nilai budaya. "[Ia] memberiku petunjuk-petunjuk moral yang layak dan sangat baik kepadaku. Jadi, dialah yang paling berpengaruh kepadaku dibanding orang lain." Vonnegut menggambarkan Young sebagai seseorang yang "bijak dan berperikemanusiaan", dan percaya bahwa watak yang "penuh kasih sayang dan pengampun" pada dirinya kelak berasal dari Young.[6]

Kenyamanan dan kemakmuran yang dinikmati keluarga Vonnegut terserak dalam waktu beberapa tahun. Pabrik bir keluarga Lieber ditutup pada tahun 1921 setelah berlakunya pelarangan di Amerika Serikat. Ketika Depresi Besar tiba, hanya sedikit proyek pembangunan yang dapat berlangsung, sehingga membuat firma arsitektur ayah Vonnegut kekurangan pelanggan.[7] Kakak-kakak Vonnegut menamatkan pendidikan dasar dan menengah mereka di sekolah-sekolah swasta, namun Vonnegut terpaksa masuk ke sekolah negeri, Public School No. 43, yang kini menjadi SMA James Whitcomb Riley di Indianapolis.[8] Vonnegut sendiri sama sekali tak merasa terganggu atau terkucil akan fakta ini,[a] namun kedua orang tuanya amat terpukul akan perubahan nasib mereka ini. Ayah Vonnegut meninggalkan kehidupannya sehari-hari dan menjadi seorang "seniman pemimpi."[10] Ibunya menjadi tertekan, penyendiri, getir, dan ringan tangan. Ia bekerja keras untuk meraih kembali status dan kekayaan keluarganya, dan Vonnegut berkata bahwa ia membenci suaminya sendiri "seperti asam klorida menyebabkan karat."[11] Edith Vonnegut bahkan terjun ke dunia kepenulisan dengan mengirimkan cerita-cerita pendek ke majalah seperti Collier's dan The Saturday Evening Post, meskipun tak dapat dibilang berhasil.[4]

Masa SMA dan kuliahSunting

 
Potret Vonnegut di buku tahunan SMA Shortridge tahun 1940.

Vonnegut mulai belajar di SMA Shortridge, Indianapolis, pada tahun 1936. Ia bermain klarinet di band sekolah dan menjadi redaktur edisi Selasa The Shortridge Echo bersama Madelyn Pugh. Vonnegut berkata bahwa kariernya bersama Echo melatihnya menulis untuk pembaca yang lebih luas (kawan-kawan sekolahnya) ketimbang untuk seorang guru saja, pengalaman yang ia kenang "gampang dan menyenangkan".[2] "Kutemukan bahwa aku bisa menulis lebih baik ketimbang banyak orang lain", Vonnegut mengenang. "Tiap-tiap orang bisa melakukan sesuatu dengan gampang dan tak dapat memikirkan mengapa orang lain kesulitan melakukannya."[8]

Setelah lulus dari Shortridge pada tahun 1940, Vonnegut masuk ke Universitas Cornell di Ithaca, New York. Mula-mula ia ingin belajar ilmu budaya atau arsitektur seperti ayahnya, namun sang ayah [b] dan saudaranya, seorang ilmuwan alam, mendorongya untuk mempelajari ilmu yang "lebih berguna".[2] Pada akhirnya, Vonnegut memilih biokimia, tapi tak pernah benar-benar bisa memahaminya; sehingga ia bersikap masa bodoh selama kuliah.[13] Oleh sebab ayahnya pernah bergabung sebagai anggota di MIT,[14] Vonnegut berhak untuk masuk ke persaudaraan Delta Upsilon, dan memilih untuk bergabung.[15] dan memenangkan persaingan ketat untuk bergabung dalam redaksi surat kabar independen kampus, The Cornell Daily Sun. Ia mulai sebagai seorang wartawan junior, kemudian naik menjadi redaktur.[16][17] Pada akhir tahun pertamanya, Vonnegut memiliki kolom sendiri yang berjudul "Innocents Abroad", yang sebagian besar mendaur ulang lawakan dari surat kabar lain. Ia kemudian menulis artikel berjudul "Well All Right", yang bertema pasifis dan berisi penolakan terhadap keterlibatan Amerika Serikat di Perang Dunia II.[8][18]

Perang Dunia IISunting

 
Vonnegut berseragam Angkatan Darat AS, 1943 atau 1945

Serangan tentara Jepang atas Pearl Harbor membawa Amerika Serikat ke medan Perang Dunia II. Di Cornell, Vonnegut merupakan anggota Korps Latihan Perwira Cadangan (ROTC), namun nilainya yang buruk dan artikel-artikel satirnya di surat kabar kampus membuatnya terdepak. Ia diberikan masa percobaan akademik pada bulan Mei 1942 dan memutuskan berhenti kuliah pada Januari 1943. Keluar dari Cornell membuatnya tidak lagi dilindungi oleh penundaan akademik untuk wajib militer, sehingga Vonnegut berkemungkinan diwajibkan untuk masuk Angkatan Darat. Alih-alih masuk melalui jalur wajib militer, ia mendaftarkan dirinya secara sukarela. Pada bulan Maret 1943, Vonnegut melapor ke Fort Bragg di North Carolina untuk latihan dasar.[19] Ia dilatih sebagai penembak howitzer dan mendapatkan kesempatan untuk belajar teknik mesin di Institut Teknologi Carnegie dan Universitas Tennessee sebagai bagian dari Program Pelatihan Khusus Angkatan Darat (ASTP).[12]

Pada awal tahun 1944, program tersebut dihentikan karena adanya kebutuhan prajurit untuk ikut dalam invasi D-Day. Vonnegut diperintahkan bergabung dengan sebuah batalion infanteri di Camp Atterbury di Edinburgh, selatan kota Indianapolis, dan mendapatkan pelatihan sebagai prajurit peninjau.[20] Edinburgh terletak dekat dengan rumah keluarganya, sehingga ia "dapat tidur di kamarnya sendiri dan menggunakan mobil keluarga pada akhir pekan".[21] Pada 14 Mei 1944, Vonnegut pulang ke rumahnya untuk cuti akhir pekan Hari Ibu dan menemukan ibunya tewas bunuh diri karena overdosis pil tidur.[22] Kematina Edith Vonnegut mungkin disebabkan oleh hilangnya kekayaan dan prestise keluarganya, penugasan luar negeri puteranya yang menjelang, dan kegagalannya merintis karier sebagai seorang penulis. Pada saat kematiannya, Edith sedang mabuk dan dalam pengaruh obat-obatan.[22]

Tiga bulan selepas kematian ibunya, Vonnegut dikirim ke Eropa. Ia bertugas sebagai seorang peninjau intelijen pada Divisi Infanteri ke-106. Pada bulan Desember 1944, Vonnegut ikut bertempur dalam Pertempuran Bulge, pertempuran darat terakhir yang melibatkan pasukan Jerman di Perang Dunia II.[22] Pada pertempuran itu, divisi Vonnegut yang baru saja tiba di front dan dikerahkan ke sektor yang lebih tenang karena kurangnya pengalaman, dikeroyok habis oleh pasukan lapis baja Jerman. Lebih dari 500 prajurit dari Divisi Infanteri ke-106 tewas, dan lebih dari 6,000 lain terluka.

Pada 22 Desember 1944, Vonnegut tertawan bersama 50 prajurit Amerika lainnya.[23] Ia dibawa dengan menggunakan kereta gandeng ke kamp tawanan yang terletak dekat selatan Dresden. Selama perjalanan, Angkatan Udara Kerajaan Inggris mengebom iring-iringan kereta ini dan membunuh sekitar 105 orang.[24] Vonnegut ditawan di Dresden, yang dikenangnya sebagai "kota cantik pertama [yang pernah saya] lihat". Sesampainya di sana, ia ditawan di sebuah rumah jagal dan dipekerjakan di sebuah pabrik yang membuat sirup malt untuk wanita-wanita hamil. Di Dresden, kenang Vonnegut, sirene berkumandang tiap kali kota lain dibom, namun Jerman tidak memperkirakan bahwa kota itu akan dibom juga. "Hanya ada sedikit tempat perlindungan dari serangan udara dan tidak ada industri penyokong perang; hanya ada pabrik rokok, rumah sakit, dan pabrik klarinet."[25]

 
Dresden tahun 1945; hampir seluruh dari pusat kota hancur.

Pada 13 Februari 1945, Dresden dibom oleh sekutu. Pengeboman atas kota itu terus berlanjut sampai 15 Februari, membunuh lebih dari 25,000 warga sipil.[22] Selama pengeboman, Vonnegut berlindung pada sebuah loker daging yang terletak tiga lantai di bawah tanah. "Di sana sejuk, tempat kadaver tergantung di mana-mana," katanya kelak. "Ketika kami keluar, kota sudah tidak ada lagi... mereka (Sekutu) mengebomnya sampai mampus."[8][25] Vonnegut dan tawanan lain langsung diperintahkan untuk bekerja selepas pengeboman selesai; mereka menguruk jenazah korban dari reruntuhan bangunan; "sebuah perburuan telur Paskah yang terlalu nyata".[26][25]

Para tawanan perang Amerika dievakuasi keluar dari Dresden dengan berjalan kaki sampai perbatan Saxony dan Cekoslovakia selepas Jenderal George S. Patton menaklukkan kota Leipzig. Setelah mereka dibiarkan oleh para penjaga tawanan, Vonnegut berjalan sampai mencapai sebuah kamp tawanan di Le Havre, Perancis, pada akhir Mei 1945 dengan bantuan tentara Soviet[24] Vonnegut kembali ke Amerika Serikat dan melanjutkan pengabdiannya di Angkatan Darat; kali ini, ia ditugaskan di Fort Riley, Kansas, mengetik surat pembebasan tugas untuk para prajurit.[27] Tak lama kemudian, ia dianugerahkan Purple Heart, penghargaan militer Amerika Serikat untuk seluruh prajuritnya yang terluka di medan perang. "Saya sendiri mendapatkan penghargaan terendah kedua dari negara saya," kenang Vonnegut, "sebuah Purple Heart untuk frostbite."[28] Tak lama kemudian, ia dibebastugaskan dari Angkatan Darat dan kembali ke Indianapolis.[29]

Chicago, GE, dan Player's PianoSunting

Selepas kembali ke Amerika, Vonnegut menikahi Jane Marie Cox, pacar masa sekolahnya sejak taman kanak-kanak pada bulan September. Pasangan muda ini kemudian pindah ke Chicago. Vonnegut mulai belajar di Universitas Chicago dengan beasiswa G.I. Bill. Ia masuk jurusan antropologi pada program studi yang memungkinkannya meraih gelar sarjana dan magister dalam waktu lima tahun. Untuk menambah penghasilan, ia bekerja sebagai pewarta jaga malam di City News Bureau of Chicago. Istrinya Jane kemudian mendapatkan beasiswa dari Universitas Chicago, dan ia memilih masuk program pasca-sarjana bidang sastra Rusia. Setelah hamil dengan anak pertama mereka, Jane memutuskan untuk keluar. Anak itu, Mark, lahir pada bulan Mei 1947. Meskipun telah menyelesaikan tahap sarjana di Chicago, Kurt meninggalkan kampus tanpa gelar, karena tesis magisternya tentang gerakan keagamaan Ghost Dance ditolak oleh sidang jurusan.[c]

Tak lama selepas meninggalkan kampus, Vonnegut diterima bekerja sebagai staf humas di laboratorium riset General Electric (GE) di Schenectady, New York; untuk diterima, ia mengklaim bahwa ia sudah mendapatkan gelar magister antropologinya dari Chicago. Bernard, saudara lelakinya, telah bekerja untuk GE sejak tahun 1945; ia bekerja untuk proyek penyemaian awan berbahan dasar yodium. Pada tahun 1949, Kurt dan Jane memiliki anak lagi, seorang putri yang dinamai bernama Edith. Sembari bekerja di GE, Vonnegut berhasil menerbitkan cerita pertamanya. Report on the Barnhouse Effect diterbitkan oleh majalah Collier's edisi 11 Februari 1950, dan Vonnegut mendapatkan honor sebesar $750.[31] Setelah dilatih oleh redaktur fiksi Collier's Knox Burger, Vonnegut menulis cerita lainnya yang juga diterbitkan; kali ini honornya naik menjadi $950. Burger sang redaktur menyarankan Vonnegut untuk mengundurkan diri dari GE. Pada tahun 1951, ia mengambil langkah yang disarankan Burger itu, dan pindah bersama keluarganya ke Cape Cod, Massachusetts untuk menulis penuh waktu.[32]

Di Cape Cod, Vonnegut mencari nafkah dengan menulis untuk majalah-majalah seperti Collier's, The Saturday Evening Post, dan Cosmopolitan. Dengan segera, keputusannya keluar dari GE tampaknya tidak terlalu bijak. Sepanjang dekade 1950an sampai pertengahan 1960an, Vonnegut terpaksa untuk mencari pekerjaan lain untuk menafkahi keluarganya. Ia pernah bekerja sebagai guru bahasa Inggris, penulis wara, dan penjual mobil.

Pada tahun 1952, Player Piano diterbitlan oleh Scribner's. Novel ini berlatar belakang dunia pasca-Perang Dunia Ketiga, di mana para pekerja pabrik telah digantikan oleh mesin. [33] Player Piano sebagian besar terinspirasi dari pengalaman Vonnegut bekerja di GE. Ia memparodikan upaya para pekerja untuk menapak tangga korporat, sesuatu yang menghilang dalam latar novel itu seiring dengan melesatnya otomatisasi yang bahkan mempengaruhi para direktur perusahaan itu. Watak utamanya bernama Paul Proteus, yang kawin dengan seorang asisten yang ambisius dan seringkali berasa simpati dengan kaum miskin. Proteus ditugaskan oleh Kroner, atasannya, sebagai seorang agen ganda di kalangan kaum miskin. Bersama kaum yang memiliki sebuah kebutuhan materi namun tiada tujuan hidup itu, Proteus memimpin pergerakan yang menghancurkan mesin-mesin dan membakar museum-museum.[34] Player Piano mengejawantahkan penentangan Vonnegut akan merebaknya McCarthysime; sesuatu yang tergambar jelas dengan alegori Ghost Shirts, sebuah organisasi revolusioner yang diinfiltrasi dan dipimpin Proteus, dipanggil seorang watak sebagai "sesama petualang."[35]

Pada Player Piano, Vonnegut memperkenalkan teknik-teknik yang kelak digunakannya dalam karya-karya selanjuntya. Shah dari Bratpuhr, watak peminum berat dan "orang luar" pada Amerika Serikat yang distopian dan korporat, kerap bertanya tentang hal-hal yang tidak ditanyakan oleh para orang "dalam". Misalnya, ketika dibawa melihat-lihat EPICAC (semacam komputer super yang dibuat oleh kecerdasan buatan), sang Shah bertanya "buat apa (adanya) manusia?" dan tidak dijawab. Seakan berbicara dengan suara Vonnegut, sang Shah meremehkannya sebagai "dewa palsu".[34]

Di The New York Times, kritikus Granville Hicks memberi Player Piano tinjauan yang positif dan membandingkannya dengan Brave New World karangan Aldous Huxley. Hicks menyebut Vonnegut sebagai seorang "satiris bermata tajam", namun tidak ada kritikus media utama yang memandang novel tersebut penting. Buku tersebut dicetak beberapa kali; satu oleh Bantam Books (dengan judul Utopia 14) dan satu lagi oleh Doubleday Science Fiction Book Club. Penerbitan oleh Doubleday memberikan Vonnegut reputasi sebagai seorang penulis fiksi ilmiah, sebuah genre yang dipandang sebelah mata oleh para penulis pada masa itu. Vonnegut, membela genre fiksi ilmiah, mengkritik sentimen yang menyebut bahwa "tidak ada seorang pun yang bisa jadi penulis yang terhormat dan memahami bagaimana cara kulkas bekerja."[33]

KaryaSunting

Daftar ini hampir seluruhnya diambil dari buku Thomas F. Marvin, Kurt Vonnegut: A Critical Companion (2002), dan tahun di dalam kurung menunjukkan kapan karya tersebut pertama kali diterbitkan:[36]

ReferensiSunting

RujukanSunting

  1. ^ "How to pronounce Kurt Vonnegut". Bookbrowse.com. Diakses tanggal 2 December 2017. 
  2. ^ a b c Boomhower 1999; Farrell 2009, hlm. 4–5
  3. ^ Marvin 2002, hlm. 2.
  4. ^ a b Sharp 2006, hlm. 1360
  5. ^ Marvin 2002, hlm. 2; Farrell 2009, hlm. 3–4
  6. ^ Marvin 2002, hlm. 4
  7. ^ Sharp 2006, hlm. 1360.
  8. ^ a b c d Boomhower 1999
  9. ^ Sumner 2014
  10. ^ Sharp 2006, hlm. 1360; Marvin 2002, hlm. 2–3
  11. ^ Marvin 2002, hlm. 2–3
  12. ^ a b Farrell 2009, hlm. 5; Boomhower 1999
  13. ^ Sumner 2014; Farrell 2009, hlm. 5
  14. ^ Shields 2011, hlm. 41
  15. ^ Lowery 2007
  16. ^ Farrell 2009, hlm. 5
  17. ^ Shields 2011, hlm. 41–42
  18. ^ Shields 2011, hlm. 44–45
  19. ^ Shields 2011, hlm. 45–49
  20. ^ Shields 2011, hlm. 50–51
  21. ^ Farrell 2009, hlm. 6.
  22. ^ a b c d Farrell 2009, hlm. 6; Marvin 2002, hlm. 3
  23. ^ Sharp 2006, hlm. 1363; Farrell 2009, hlm. 6
  24. ^ a b Vonnegut 2008
  25. ^ a b c Hayman et al. 1977
  26. ^ Boomhower 1999; Farrell 2009, hlm. 6–7.
  27. ^ Vonnegut, Kurt. Interview with Michael Silverblatt. "Kurt Vonnegut". April 6, 2006.
  28. ^ Dalton 2011
  29. ^ Thomas 2006, hlm. 7; Shields 2011, hlm. 80–82
  30. ^ Marvin 2002, hlm. 7.
  31. ^ Boomhower 1999; Sumner 2014; Farrell 2009, hlm. 7–8
  32. ^ Boomhower 1999; Hayman et al. 1977; Farrell 2009, hlm. 8
  33. ^ a b Boomhower 1999; Farrell 2009, hlm. 8–9; Marvin 2002, hlm. 25
  34. ^ a b Allen 1991, hlm. 20–30
  35. ^ Allen 1991, hlm. 32
  36. ^ Marvin 2002, hlm. 157–158.
  37. ^ Smith 2007.

SumberSunting

Pranala luarSunting


Kesalahan pengutipan: Ditemukan tag <ref> untuk kelompok bernama "lower-alpha", tapi tidak ditemukan tag <references group="lower-alpha"/> yang berkaitan, atau </ref> penutup tidak ada