Kurash adalah jenis olahraga beladiri yang memiliki gerakan dasar saling membanting dengan mengaitkan baju khusus. Olahraga Kurash berasal di wilayah Tatarstan Asia Tengah atau yang sekarang dikenal dengan wilayah Uzbekistan.

Kurash
Көрәш.JPG
Bantingan Kurash
Induk organisasiIKA
Nama lainKurash
Pertama dimainkanAbad ke 15 SM
Karakteristik
Kontak fisikYa
Anggota timindividual
KategoriOlahraga beladiri
PeralatanBaju Kurash (Yakhtak)
Keberadaan
Olimpiade1984 (eksibisi)

Gerakan dasar olahraga Kurash ini menyerupai olahraga beladiri Gulat dan olahraga beladiri Judo, hanya saja dalam Kurash kondisi bantingan berada dalam posisi berdiri pada kaitan atas, tidak diperkenankan menggunakan kaitan pada kaki

Sejarah KurashSunting

Secara historis olahraga beladiri Kurash, menurut penelitian ilmiah terbaru usia Kurash setidaknya telah ada sejak 3.500 tahun. Kurash adalah salah satu seni bela diri secara telatih tertua di dunia, hal ini juga diceritakan oleh penjelajah Marco Polo saat melintasi jalur sutra dalam catatan perjalanannya.

Kurash adalah kata Uzbek yang memiliki arti mencapai tujuan dengan hanya atau cara yang adil. Kurash sebelumnya hanya digunakan sebagai seni bela diri dan hiburan fisik publik selama libur besar, berbagai pesta termasuk sering menjadi hiburan pada pesta pernikahan. Kurash disebutkan dalam banyak sumber-sumber sejarah tradisional seperti filusuf Yunani Herodotus memuat pada bukunya yang terkenal “Histories” bahwa gerak beladiri Kurash sangat elegan, bahkan Avicenna (Ibnu Sina) menuliskan pada karyanya bahwa berlatih Kurash adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh dan roh.

Kurash ModernSunting

Warisan ribuan tahun ini selalu diestafetkan dari generasi ke generasi di Asia Tengah tanpa terdokumentasi dengan baik. Banyak gerakan dan aktivitas beladiri Kurash diadopsi dan dijadikan bagian dari pengembangan olahraga lainnya seperti Rusia mengambil teknik lemparan untuk olahraga beladiri Sambo.

Setelah sempat menjadi cabang eksibisi pada Olimpiade XXIII/1984 Los Angeles cabang olahraga beladiri Kurash masih belum memiliki aturan baku penilaian, hingga tahun 1990 Komil Yusupov seorang pahlawan kemerdekaan Uzbekistan yang juga master Kurash dan menjadi guru besar dalam Judo dan Sambo membuat penelitian tentang Kurash dan menuangkannya dalam menciptakan teknik-teknik Kurash yang universal dan terukur dengan berpedoman pada keberanian, humanisme dan universalitas melalui persyaratan ketat dari olahraga modern. Yusupov memperkenalkan Kurash modern dengan membuat kategori berat, gerakan dan terminologi berdasarkan 13 kata Uzbek, mengatur durasi tetap pertarungan, seragam untuk pemain dan wasit, dan semua hal-hal lain yang tanpanya mewujudkan Kurash dapat diterima oleh semua bangsa.

Aturan Kurash melarang setiap tindakan di lantai. Action diperbolehkan hanya dalam posisi berdiri - tidak ada permainan bawah, dan hanya melempar dan menyapu kaki yang dapat digunakan oleh pemain. Setiap teknik menggunakan kuncian lengan, menekan miring dan menendang, serta menarik bagian bawah sabuk dilarang keras. Semua itu membuat Kurash olahraga sederhana, ramah, menarik, dinamis dan aman untuk berlatih serta menjadikan Kurash olahraga beladiri yang memiliki parameter penilaian yang fair.

Pembentukan International Kurash AssociationSunting

Kemerdekaan Uzbekistan dari Uni Sovyet tahun 1991, merupakan momentum awal menduniakan olahraga Kurash. Presiden pertama Uzbekistan Yang Mulia Islam Karimov baik secara pribadi maupun institusi kenegaraan sangat mendukung upaya internasionalisasi Kurash.

Setelah berbagai macam uji coba dan penetapan standar keolahragaan dilaksanakan maka pada tahun 1998 berdirilah Internasional Kurash Association (IKA) berkedudukan di Tashkent Uzbekistan dan setelahnya sering dianggap sebagai Kurash modern. Dilanjutkan dengan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia pertama tahun 1999 yang langsung dihadiri oleh 48 negara.

Hingga saat ini, anggota IKA telah mencapai 117 negara yang berasal dari 6 konfederasi benua. Pada tanggal 24 Januari 2003 merupakan hari bersejarah bagi Kurash karena menjadi hari pengakuan resmi oleh Olympic Council of Asia (OCA) yang menjadikan peluang tampil di ajang multi event terbuka. Dilanjutkan pada tahun 2005 mendapat pengakuan dari International Olympic Committe (IOC) dan pada tahun 2010 ditetapkan masuk kedalam badan dunia anti doping.

Perjalanan Kurash di ajang multi event sebenarnya telah dimulai sejak olimpiade Los Angeles 1984, dimana Kurash tradisional dipertandingkan pada partai eksibisi. Sedangkan untuk Kurash modern dimulai pada Asian Games XV/2006 Doha, dan pada Asian Games XVIII/2018 Jakarta-Palembang yang akan datang Kurash menjadi salah satu cabang pertandingan resmi

Pembentukan Pengurus Besar Kurash IndonesiaSunting

Sejak tahun 2011 International Kurash Association (IKA) telah memperkenalkan dan melakukan sosialisasi olahraga beladiri Kurash di Indonesia. Namun dalam perkembangannya tidak sesuai dengan harapan, dan Kurash menjadi salah satu cabang olahraga yang tidak popular di Indonesia, meskipun Kurash sebenarnya merupakan salah suatu olahraga beladiri paling populer di Asia Tengah. Dan saat itu hanya beberapa praktisi olahraga, terutama praktisi olahraga Judo di tanah air yang belajar tentang olahraga Kurash dengan intens.

Pada tanggal 15 Juni 2016 para praktisi olahraga Kurash di Indonesia melakukan musyawarah dan bersepakat untuk membentuk wadah organisasi Kurash Indonesia (PB.KI) Dalam musyawarah tersebut  menghasilkan kesepakatan untuk membuat aturan atau regulasi dalam bentuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Kurash Indonesia serta melanjutkan pembuatan badan hukumnya.

Untuk pertama kalinya, Pengurus Besar Kurash Indonesia (PBKI) dipimpin oleh Dr. Samsudin, M.Pd., seorang birokrat di Kemenpora RI yang memiliki rencana yang kuat untuk mengembangkan Kurash di Indonesia. Termasuk menjadikan bagian dari sukses Indonesia dalam penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018 Jakarta-Palembang. Namun beliau mengundurkan diri setelah ada kebijakan pejabat di Kemenpora tidak boleh memimpin cabang olahraga.

Untuk menyukseskan cabang olahraga Kurash pada penyelenggaraan Asian Games XVIII/2018 Jakarta-Palembang, kemudian tongkat kepemimpinan Kurash Indonesia dilanjutkan oleh H. Teuku Riefky Harsya, M.T. yang merupakan anggota DPR. Dan pada tanggal 28 Agustus 2018 olahraga Kurash secara resmi dipertandingkan pada Asian Games XVIII/2018 Jakarta-Palembang, di Balai Sidang Jakarta Convention Center,. Saat itu Indonesia sebagai tuan rumah menurunkan 14 atlet Kurash yang terdiri dari 6 atlet putri dan 8 atlet putra. Atlet Kursah putri Indonesia adalah Terry Kusumawardani Susanti (52 kg), Heka Maya Sari Sembiring (52 kg), Siti Latifah (63 kg), Khasani Najmu Shifa (63 kg), Szalsza Maulida, dan Marcelina Papara (78 kg). Sementara itu, atlet putra Indonesia terdiri dari Hendi Hadiat (66 kg), Aprilianda Adhi Timur (66 kg), I Komang Adiarta, Bayu Febrian Rahman (81 kg), Putu Adesta Wiradamungga (90 kg), Muhammad Dhifa Alfais (+90 kg), Billy Sugara (+90 kg), dan Franklin Misionaris Kakalang (+90 kg).

Pada ajang Asean Games XVIII/2018 Jakarta-Palembang tersebut, Kurash Indonesia hanya mendapatkan satu medali perunggu atas nama Khasani Najmu Shifa yag turun di kelas 63 Kg. Putri. Sejak saat itu PB Kurash Indonesia mulai bangkit dan berbenah. Salah satunya adalah adanya perombakan dalam organisasi, dengan diadakan perubahan nama organisasi dari PBKI menjadi PB. FERKUSHI pada awal tahun 2019. Sesuai dengan Surat Keputusan Munaslub Nomor : 03/SKEP/PB.KI/MUNASLUB/I/2019, tentang Perubahan Nama Organisasi PBKI menjadi Pengurus Besar Federasi Kurash Indonesia disingkat (PB.FERKUSHI). Sebagai Ketua Umum barunya adalah mantan Pangdam Iskandar Muda Aceh, yaitu Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H., S.H., S.I.P., M.H. menggantikan Ketua Umum sebelumnya H. Teuku Riefky Harsya, M.T. yang mengundurkan diri karena kesibukan pileg di Aceh tahun 2019.

Setelah terpilih menjadi Ketua Umum PB.FERKUSHI periode 2019-2023, Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H., langsung bergerak cepat dengan melakukan pembenahan dan pembinaan organisasi serta peningkatan kinerja dalam kepengurusan. Dalam waktu yang singkat PB.FERKUSHI sudah dapat melaksanakan beberapa agenda-agenda penting. Seperti Kejurnas Kurash untuk seleksi atlet nasional dan berpartisipasi dalam Sea Games 2019 di Manila. Dalam ajang Sea Games XXX-2012 Manila tersebut, meskipun dengan waktu persiapan yang tergolong singkat, Atlit Kurash Indonesia berhasil meraih tiga medali perak dan tiga medali perunggu.

Selain dalam ajang multi event tingkat asia dan asia tenggara, Team Kurash Indonesia juga mengikuti kejuaraan pada World Martial Arts Masterships, tanggal 2-4 September 2019 di Chungju, Korea Selatan, dan Indonesia berhasil meraih dua medali, Satu Perak dan Satu Perunggu. Selanjutnya pada tanggal 4 – 7 Oktober 2019 Team Kurash Indonesia mengikuti kejuaraan single event “14th Tournament For The Prize Of Uzbekistan's President” di Alphamys Sport Complex, Termiziy, Uzbekistan. dalam event tersebut Indonesia berhasil meraih satu medali Perak dan satu medali Perunggu.  

Untuk meningkatkan prestasi Cabang Olah Raga Kurash di Indonesia, Kepengurusan FERKUSHI era Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H. terus melakukan pembinaan dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan yang dipusatkan di Sukabumi di ISTC (Icuk Sugiarto Training Center) dan telah mengirimkan atlet kurash ke Training Camp in Termiziy, di Uzbekistan.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Federasi Kurash Indonesia Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H. yang didampingi oleh Brigjen TNI Asep Warsito (Ketua Harian) dan Lukman Husain (Sekjen Ferkushi), olahraga Kurash semakin berkembang dengan pesat. Kepengurusan provinsi terus bertambah hingga 30 Kepengurusan Provinsi, dan ditargetkan tahun 2022 seluruh provinsi di Indonesia sudah ada kepengurusan Ferkushi.

Selain itu, pada tahun 2021, Pengurus Besar Ferkushi yang diketuai Mayjen TNI (Purn) Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H. juga berhasil melaksanakan Eksibisi cabang olahraga Kurash pada PON XX 2021 Papua dengan sukses. Eksibisi diikuti oleh hampir 250 atlet yang berasal dari perwakilan provinsi di Indonesia. Lampung menjadi juara umum dengan meraih enam medali emas, satu perak, dan enam perunggu. Jawa Timur berada di urutan kedua dengan raihan dua emas, dan empat perak. Tuan rumah Papua berada di peringkat ketiga dengan meraih satu emas, tiga perak, dan dua perunggu

[1]== Catatan Kaki ==

  1. ^ haryo widodo, abdul majid hariadi (2022) mengenal olahraga kurash, unitomo press