Kim Al Ghozali AM (lahir di Probolinggo, Jawa Timur, 12 Desember 1991; umur 31 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui sejumlah karyanya berupa puisi, esai, cerpen, artikel, dan resensi buku. Tulisannya dipublikasikan di pelbagai media, baik media cetak (lokal dan nasional), majalah sastra, jurnal, dan media online. Selain itu ia aktif bergiat di sebuah komunitas sastra yang ada di Denpasar, Jatijagat Kampung Puisi (JKP-109), bersama Wayan Jengki Sunarta, Mira MM Astra dan rekan-rekannya yang lain. Ia pun pernah bergiat di Malam Puisi Indonesia di Bali,[1] sebuah acara baca puisi setiap akhir bulan dengan peserta para muda milenial.

Latar Belakang

sunting

Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, Jawa Timur, pada 12 Desember 1991. Ia mukim di Denpasar dan bergiat di Jatijagat Kampung Puisi (JKP 109). Di Denpasar ia pun banyak bersentuhan kreatif dengan Sastrawan-Pelukis Frans Nadjira dan Penyair Umbu Landu Paranggi, dua sastrawan yang dianggap mahaguru dalam kesusastraan Indonesia di Bali.

Di samping menulis puisi, ia menulis cerpen, novel, esai/artikel, dan resensi buku.[2][3][4] Biografinya tercatat dalam buku: Apa & Siapa Penyair Indonesia terbitan Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2017. Beberapa kali ia diundang dalam festival sastra, seperti Kemah Sastra Nasional di Banyuwangi tahun 2018, Festival Puisi Bangkalan 2 tahun 2017,[5] Festival Sastra Basabasi di Yogyakarta tahun 2017,[6] dan membaca puisi di Festival Anti Korupsi 2017 di Denpasar.[7][8] Buku Puisinya, Api Kata (Basabasi, 2017) masuk daftar panjang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017.[9] Selain itu puisi-puisinya juga masuk nominasi Penghargaan Sastra Litera 2018,[10] dan Penghargaan Puisi Pilihan Penyair Muda Indonesia Basabasi 2018.

Bibliografi

sunting
  • Gemuruh Ingatan (2014)
  • Ensiklopedi Pejalan Sunyi (2015)
  • Kopi 1550 mdpl (2016)
  • Cimanuk, Ketika Burung-burung Kini Telah Pergi (2016)
  • Api Kata (2017)
  • Lebih Baik Putih Tulang Daripada Putih Mata (2017)
  • Ironi Bagi Para Perenang (2017)
  • Kavaleri Malam Hari (2017)
  • Tentang Masjid (2017)
  • Dari Sitture ke Kuala Langsa (2017)
  • Mengunyah Geram (2017)
  • Menembus Arus, Menyelami Aceh (2017)
  • Epitaf Kota Hujan (2018)
  • Senyum Lembah Ijen (2018)
  • Sungai-Sungai dalam Dirimu (2018)
  • Monolog di Penjara (2018)
  • Kunanti di Kampar Kiri (2018)
  • Saron (2018)
  • Angin Pertama (2020)
  • Rock Alternatif di Telinga Kirimu (2020)

Lihat Pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ https://puputanblog.wordpress.com/2017/04/30/malam-puisi-bali/
  2. ^ https://www.litera.co.id/2017/08/05/puisi-kim-al-ghozali-am/
  3. ^ https://basabasi.co/author/kim-al-ghozali-am/
  4. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-03-22. Diakses tanggal 2019-03-22. 
  5. ^ http://www.tatkala.co/2017/04/24/puisi-ada-di-mana-mana-catatan-festival-puisi-bangkalan-2/
  6. ^ https://blogdivapress.com/dvp/berakhir-pekan-bersama-tiga-penyair/
  7. ^ http://suarabali.com/perjuangan-seniman-bali-melawan-korupsi-mengunyah-geram-seratus-puisi-melawan-korupsi/
  8. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-03-22. Diakses tanggal 2019-03-22. 
  9. ^ https://hot.detik.com/book/d-3637973/ini-10-besar-karya-terbaik-kusala-sastra-khatulistiwa-2017
  10. ^ https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/trend/18/06/05/p9ugku374-penulis-muda-dominasi-nomine-penghargaan-sastra-litera-2018