Kapal perusak Jepang Ōshio

Ōshio (大潮, "Pasang besar")[1] adalah kapal kedua dari kelas Asashio yang dibangun untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada pertengahan tahun 1930-an dibawah Program Lingkaran Dua (Maru Ni Keikaku).

IJN DD Ohshio on trial run.jpg
Ōshio sedang diujicoba
(Kekaisaran Jepang)
Nama: Ōshio
Dipesan: 1934 (tahun fiskal)
Pembangun: Arsenal Angkatan Laut Maizuru
Pasang lunas: 5 Agustus 1936
Diluncurkan: 19 April 1937
Mulai berlayar: 31 Oktober 1937
Dicoret: 1 April 1943
Nasib: Tenggelam pada 20 Februari 1943
Ciri-ciri umum
Kelas dan jenis: Kapal perusak kelas-Asashio
Berat benaman: 2370 ton panjang (2408 t)
Panjang:
  • 111 m (364 ft) (perpendikuler)
  • 115 m (377 ft 4 in) (garis air)
  • 118,3 m (388 ft 1 in) (keseluruhan)
Lebar: 10,3 m (33 ft 10 in)
Sarat air: 3,7 m (12 ft 2 in)
Tenaga: 51000 shp (38031 kW)
Pendorong:
Kecepatan: 34,85 knot (40,10 mph; 64,54 km/h)
Jangkauan:
  • 5700 nmi (10600 km) pada 10 kn (19 km/h)
  • 960 nmi (1780 km) pada 34 kn (63 km/h)
Awak kapal: 230 orang
Senjata:

PembangunanSunting

Kapal perusak kelas Asashio merupakan penerus dari kelas Shiratsuyu. Kapal dalam kelas Asashio berukuran lebih besar dan tentunya lebih kuat dibanding kelas Shiratsuyu. Itu karena para insinyur perkapalan Jepang sudah tidak terikat lagi dengan Traktat Angkatan Laut London. Kapal dalam kelas ini dirancang untuk memanfaatkan keunggulan Jepang dalam teknologi torpedo, dan untuk mendampingi pasukan utama Jepang dan dalam pertempuran siang dan malam melawan Angkatan Laut Amerika Serikat di Samudra Pasifik.[2] Meski menjadi salah satu kelas perusak terkuat di dunia pada saat selesai dibangun, tidak ada satupun dari mereka yang sintas dari Perang Pasifik.[3]

Karier dan nasibSunting

Pada saat penyerangan di Pearl Harbor, Ōshio dimasukkan ke Divisi Perusak ke-8, dan menjadi anggota Skuadron Perusak ke-2, bagian dari Armada Kedua. Ia mengawal Armada Selatan yang dipimpin oleh Laksamana Nobutake Kondō yang berangkat dari Distrik Jaga Mako untuk melindungi pasukan invasi Malaya dan Filipina pada bulan Desember 1941.[4]

Ōshio mengawal seorang konvoi pasukan Malaya dari Mako menuju Singora, dan kemudian ke Hong Kong pada tanggal 5 Januari 1942. Dia mengawal konvoi pasukan lainnya yang dari Davao yang kemudian membantu pasukan invasi Ambon (31 Januari), pasukan invasi Makassar kekuatan invasi (8 Februari) dan pasukan invasi Bali/Lombok (18 Februari).

Pada malam hari tanggal 19 Februari 1942, Ōshio berpartisipasi dalam Pertempuran Selat Badoeng. Ōshio menjaga kapal transportasi Sasago Maru yang berangkat dari Bali ketika armada Sekutu menyerang. Selama pertempuran, Ōshio membantu menenggelamkan kapal perusak Belanda HNLMS Piet Hein dengan torpedo, ditambah tembakan meriam pada kapal penjelajah ringan Belanda HNLMS Tromp dan kapal perusak Amerika USS Stewart. Namun, Ōshio mengalami kerusakan sedang, dengan tujuh awak kapal tewas.

Pada bulan Maret, setelah perbaikan darurat di Makasar, Ōshio kembali ke Arsenal Angkatan Laut Yokosuka untuk perbaikan intensif yang berlangsung sampai akhir tahun 1942.

Pada awal Januari 1943, Ōshio dikirim dari Maizuru menuju Pulau Shortland, dan berpartisipasi dalam tiga misi untuk mengevakuasi tentara Jepang yang masih bertahan di Guadalkanal pada awal Februari. Pada 20 Februari, bersama-sama dengan saudarinya Arashio, dia diserang oleh kapal selam USS Albacore di lepas pantai Wewak, Papua nugini. Ōshio dihantam oleh torpedo, yang membanjiri ruang mesinnya dan menewaskan delapan awak kapal. Arashio pun berusaha untuk menariknya, tetapi lunas kapalnya rusak berat. Ōshio pun karam sekitar 70 mil laut (130 km) arah timur laut dari Pulau Manus pada posisi 00°50′S 146°06′E / 0.833°S 146.100°E / -0.833; 146.100.[5] Dia dicoret dari daftar angkatan laut pada tanggal 1 April 1943.

CatatanSunting

  1. ^ Nelson. Japanese-English Character Dictionary. Page 750
  2. ^ Peattie & Evans, Kaigun .
  3. ^ Globalsecurity.org, IJN Asashio class destroyers
  4. ^ Allyn D. Nevitt (1998). "IJN Oshio: Tabular Record of Movement". combinedfleet.com. Diakses tanggal 2008-02-06. 
  5. ^ Brown, David (1990). Warship Losses of World War Two. Naval Institute Press. ISBN 1-55750-914-X. 

ReferensiSunting

  • D'Albas, Andrieu (1965). Death of a Navy: Japanese Naval Action in World War II. Devin-Adair Pub. ISBN 0-8159-5302-X. 
  • Brown, David (1990). Warship Losses of World War Two. Naval Institute Press. ISBN 1-55750-914-X. 
  • Hammel, Eric (1988). Guadalcanal: Decision at Sea : The Naval Battle of Guadalcanal, Nov. 13–15, 1942. (CA): Pacifica Press. ISBN 0-517-56952-3. 
  • Howarth, Stephen (1983). The Fighting Ships of the Rising Sun: The Drama of the Imperial Japanese Navy, 1895–1945. Atheneum. ISBN 0-689-11402-8. 
  • Jentsura, Hansgeorg (1976). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869–1945. US Naval Institute Press. ISBN 0-87021-893-X. 
  • Nelson, Andrew N. (1967). Japanese–English Character Dictionary. Tuttle. ISBN 0-8048-0408-7. 
  • Watts, Anthony J (1967). Japanese Warships of World War II. Doubleday. ASIN B000KEV3J8. 
  • Whitley, M J (2000). Destroyers of World War Two: An International Encyclopedia. London: Arms and Armour Press. ISBN 1-85409-521-8. 

Pranala luarSunting