Kapal penjelajah Jepang Ashigara

Ashigara (足柄) lahir pada 22 April 1928 di Kobe, dan merupakan anak bungsu dari empat bersaudari kapal penjelajah kelas Myōkō.[3]

Ashigara tertambat di Singapura, Desember 1942
Sejarah
Kekaisaran Jepang
Nama Ashigara
Asal nama Gunung Ashigara
Dipesan 1924
Pembangun Kawasaki Shipyards, Kobe , Jepang
Pasang lunas 11 April 1925
Diluncurkan 22 April 1928
Mulai berlayar 20 Agustus 1929
Julukan Hungry Wolf[butuh rujukan]
Nasib Tenggelam oleh Trenchant, 8 Juni 1945 (01°59′S 104°56′E / 1.983°S 104.933°E / -1.983; 104.933Koordinat: 01°59′S 104°56′E / 1.983°S 104.933°E / -1.983; 104.933).[1]
Ciri-ciri umum
Kelas dan jenis Kapal penjelajah kelas-Myōkō
Berat benaman
  • 13.000 ton panjang (13.000 t) (desain)
  • 14.743 ton panjang (14.980 t) (aktual)
Panjang 20.376 m (66.850 ft 5 in)
Lebar
  • 19 m (62 ft 4 in) (saat jadi)
  • 2.073 m (6.801 ft 2 in) (final)
Sarat air
  • 59 m (193 ft 7 in) (saat jadi)
  • 637 m (2.089 ft 11 in) (final)
  • Tenaga 130.000 shp (97.000 kW)
    Pendorong
    Kecepatan
  • 355 knot (409 mph; 657 km/h) (saat jadi)
  • 33 knot (38 mph; 61 km/h) (final)
  • Jangkauan 7.000 nmi (13.000 km) pada 14 kn (16 mph; 26 km/h)
    Awak kapal 920–970 orang
    Senjata
    Pesawat yang
    diangkut
    3 pesawat
    Fasilitas penerbangan 1x katapel pesawat terbang
    Catatan dinas
    Bagian dari: Kekaisaran Jepang Angkatan Laut Kekaisaran Jepang
    Operasi:

    Karier sunting

    Pra Perang Dunia 2 sunting

    Sebelum masa Perang Dunia 2, keempat kapal penjelajah berat kelas Myoko ditempatkan di Sasebo, Nagasaki untuk membentuk "Sentai-4" dari Armada Ke-tiga dan berlatih sebagai satu kesatuan unit sepanjang era 1930-an. Saat Insiden Shanghai Pertama terjadi pada Februari 1932, keempat kapal penjelajah kelas Myōkō yang harusnya mengawal pendaratan tentara Jepang ke China harus diletakkan sebagai "cadangan" dengan munculnya keempat kapal penjelajah kelas Takao. Selain itu, mereka juga berpindah dari 'Sentai-4' ke 'Sentai-5'.[4]

    Selama musim panas 1935, ia berlatih di Muroran, Hokkaido. Dalam latihan tersebut, meriam No.2 meledak, membunuh 41 anak buahnya. Lalu ia selesai diperbaiki pada bulan Desember pada tahun yang sama.[1]

    Yang membedakan karier Ashigara dengan semua kakaknya terletak pada sejarahnya yang ditunjuk sebagai perwakilan misi diplomatik ke Eropa untuk pentahbisan Raja George VI melalui jalur Singapura, Aden, Terusan Suez, dan Malta sebelum akhirnya tiba di Portsmouth pada 10 Mei 1937. Setelah pameran angkatan laut pada 20 Mei-nya, Ashigara dipanggil ke Kiel (Jerman) untuk merayakan hari kemenangan Jerman di Perang Dunia 1 tepatnya pada saat Pertempuran Jutland dan disambut oleh Adolf Hitler. Kemudian ia kembali ke Jepang melalui jalur Gibraltar, Port Sa'id, dan Colombo.

    SS President Hoover sunting

    Selain itu, Ashigara juga ambil bagian dalam penyelamatan kapal Amerika SS President Hoover yang mengalami kecelakaan akibat badai laut[5] walaupun membutuhkan 36 jam untuk menyelamatkan semua penumpangnya ke pantai terdekat dibantu oleh sebuah kapal perusak kelas-Mutsuki.[6]

    Ia juga mengawal proses dan memberi ijin penjemputan para awak kapal SS President Hoover oleh dua kapal perusak Amerika (USS Alden dan USS Barker) di wilayah perairan Jepang sampai akhir.[6]

    Perang Tiongkok-Jepang Kedua sunting

    Ketika Perang Tiongkok-Jepang Kedua meletus, Ashigara menjadi kapal bendera untuk "Sentai-5" dan memimpin konvoi tentara ekspedisi Jepang ke China pada 21 Agustus 1937.[1] Beberapa bulan sebelum meletusnya Perang Dunia 2 di front Pasifik, Ashigara juga membantu operasi penaklukan Saigon.

    Perang Dunia 2 sunting

    Pada saat permulaan masa Penyerangan ke Pearl Harbor, ia bersama dengan Maya dan Kuma ditempatkan di Distrik Pertahanan Mako untuk membantu operasi invasi ke Luzon, Filipina. Dan pada saat permulaan invasi ke wilayah Hindia Belanda, Ashigara juga membantu penaklukan Balikpapan dan Makassar. Ashigara juga membantu Haguro dalam menenggelamkan HMS Exeter dan HMS HMS Encounter pada peristiwa Pertempuran Laut Jawa.

    Setelah kesuksesan invasi ke wilayah Hindia Belanda, Ashigara menjadi kapal bendera Armada Ekspedisi Timur Kedua dan memimpin operasi invasi ke Pulau Natal. Setelahnya ia banyak beroperasi di wilayah Makassar dan juga Surabaya sebagai basis transportasi tentara ke seluruh wilayah Hindia Belanda. Sepanjang tahun 1942 dan 1943, ia tidak banyak terlibat di pertempuran apapun kecuali berpatroli saja dan dipindahkan ke Armada IJN Kelima, sampai pada saat Pertempuran Teluk Leyte (25 Oktober 1944) dimana ia terlambat datang menyelamatkan battleship Yamashiro dan hanya berhasil membawa pulang Shigure kembali ke Palawan dan Brunei.[4]

    Nasib sunting

    Akhir hidupnya bermula ketika ia dan kapal perusak Kamikaze sedang melakukan transportasi 1.600 tentara dari Batavia ke Singapura pada 8 Juni 1945. Di Selat Bangka, mereka berdua dikepung oleh tiga kapal selam Sekutu, yakni, USS Blueback, HMS Trenchant dan HMS Stygian. Mereka menembakkan delapan torpedo dan lima diantaranya mengenai Ashigara. Setelah itu menyusul tambahan dua torpedo mengenai tubuhnya dan menewaskan Ashigara seketika itu juga. Sebanyak 1.200 tentara dan 100 kru ikut tenggelam bersamanya sementara Kamikaze menyelamatkan 400 tentara dan 800 kru termasuk kaptennya.

    Catatan kaki sunting

    1. ^ a b c Hackett, Bob; Sander Kingsepp (2009). "HIJMS Ashigara: Tabular Record of Movement". Junyokan!. combinedfleet.com. Diakses tanggal 2010-07-05. 
    2. ^ Lacroix, Japanese Cruisers, hal. 808-809.
    3. ^ Jentsura, Hansgeorg (1976). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869-1945. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-893-X.  hal. 81
    4. ^ a b Patton, Japanese Heavy Cruisers of World War Two, hal. 20-36
    5. ^ "Part Two: The Wreck of the SS President Hoover". SS President Hoover. The Takao Club. Diakses tanggal 7 May 2013. 
    6. ^ a b Tully, Anthony; Hackett, Bob; Kingsepp, Sander (2012). "Stranding of S.S. PRESIDENT HOOVER – December 1937". Rising Storm – The Imperial Japanese Navy and China 1931–1941. Imperial Japanese Navy Page. Diakses tanggal 7 May 2013. 

    Referensi sunting

    • D'Albas, Andrieu (1965). Death of a Navy: Japanese Naval Action in World War II. Devin-Adair Pub. ISBN 0-8159-5302-X. 
    • Dull, Paul S. (1978). A Battle History of the Imperial Japanese Navy, 1941-1945. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-097-1. 
    • Howarth, Stephen (1983). The Fighting Ships of the Rising Sun: The drama of the Imperial Japanese Navy, 1895-1945. Atheneum. ISBN 0-689-11402-8. 
    • Jentsura, Hansgeorg (1976). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869-1945. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-893-X. 
    • Lacroix, Eric; Linton Wells (1997). Japanese Cruisers of the Pacific War. Naval Institute Press. ISBN 0-87021-311-3. 
    • Patton, Wayne (2006). Japanese Heavy Cruisers in World War II. Squadron Signal Publications. ISBN 0-89747-498-8. 
    • Watts, Anthony J. (1967). Japanese Warships of World War II. Doubleday & Company. 
    • Whitley, M.J. (1995). Cruisers of World War Two: An International Encyclopedia. Naval Institute Press. ISBN 1-55750-141-6. 

    Pranala luar sunting