Buka menu utama

Kapal perusak Jepang Shigure (1935)

perusak

Shigure (時雨, Hujan Gerimis)[1] adalah kapal kedua dari kesepuluh bersaudari kapal perusak kelas Shiratsuyu, kakak dari Yuudachi, dan merupakan kapal pertama yang dibuat oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dibawah "Program Lingkaran Satu" (Maru Ichi Keikaku). Ia pertama kali mulai dibangun di Uraga Dock Company pada tanggal 9 Desember 1933, diluncurkan pertama kali pada 18 Mei 1935, dan ditugaskan pertama kali pada 7 September 1936.

IJN DD Shigure in 1939.jpg
Shigure pada tahun 1939.
Karier (Kekaisaran Jepang)
Nama: Shigure
Dipesan: 1931 (Tahun Fiskal)
Pembangun: Uraga Dock Company
Pasang lunas: 9 Desember 1933
Diluncurkan: 18 Mei 1935
Mulai berlayar: 7 September 1936
Dicoret: 10 Maret 1945
Nasib: tenggelam pada 24 Januari 1945
Ciri-ciri umum
Kelas dan jenis: Kapal perusak kelas-Shiratsuyu
Berat benaman: 1685 ton panjang (1712 t)
Panjang:
  • 103,5 m (340 ft) (perpendikuler)
  • 107,5 m (352 ft 8 in) (garis air)
Lebar: 9,9 m (32 ft 6 in)
Sarat air: 3,5 m (11 ft 6 in)
Tenaga: 42000 hp (31000 kW)
Pendorong:
Kecepatan: 34 knot (39 mph; 63 km/h)
Jangkauan: 4000 mil laut (7400 km) pada 18 knot (21 mph; 33 km/h)
Awak kapal: 226 orang
Senjata:
Catatan dinas
Kode identifikasi: Penanda lambung:レグシ
Operasi:

Setelah hadirnya Fubuki yang mengguncang dunia hampir satu dekade yang lalu, kelahiran Shigure yang menyempurnakan sedikit lagi kelemahan desain dari kakaknya, Shiratsuyu, menjadikannya sebagai kapal perusak terkuat di dunia pada saat itu. Kesepuluh kapal kelas Shiratsuyu ini didesain serta diproyeksikan untuk menemani pasukan utama Jepang untuk pertempuran torpedo baik di siang maupun malam hari, melawan Angkatan Laut Amerika Serikat di Samudera Pasifik.

KonstruksiSunting

Kapal perusak kelas Shiratsuyu pada awalnya didesain untuk menjadi 'adik lanjutan' dari kelas Hatsuharu. Namun sejak Insiden Tomozuru yang membuktikan kesalahan desain dari kelas Hatsuharu, dimulailah pembangunan kapal perusak kelas versi modifikasi dari kelas Hatsuharu yang akan menjadi awal dari kelas Shiratsuyu. Semua desain kapal kecuali bagian mesin diperbaiki dalam prosesnya.

Setahun setelah Insiden Tomozuru, terjadilah Insiden Armada Keempat yang disebabkan oleh kesalahan pengelasan, dan problem ini juga dihilangkan pada saat pembuatan Shigure. Jika mengabaikan kapasitas pelayaran dan kecepatannya, kapal kelas Shiratsuyu merupakan kapal perusak yang benar-benar luar biasa. Mereka mengungguli kapal kelas Asashio, Kagerou, dan Yuugiri yang menurut standar dunia sudah berada di atas standar.

Namun demikian, mereka tidak berbuat banyak di berbagai front pertempuran seperti di Tiongkok, karena mereka memang disimpan untuk menghadapi perang besar yang akan dimulai oleh Jepang beberapa tahun setelah kelahiran Shigure.

Perang Dunia IISunting

Pada saat penyerangan ke Pearl Harbor (1941), Shigure baru saja ditempatkan ke dalam Divisi Destroyer 27 dan menjadi bagian dari Skuadron Destroyer 1 dibawah Armada Pertama. Ia ditugaskan untuk melakukan patroli dengan menjadi kapal perusak anti kapal selam di perairan Jepang, dan juga melindungi Armada Utama Jepang.

Pada awal tahun 1942, Shigure ditugaskan untuk mengawal Zuihou ke Davao, serta Shoukaku dan Zuikaku ke Truk. Pada tanggal 7 Mei, Shigure mendapatkan pengalaman perangnya pertama kali di Pertempuran Laut Koral dan menjadi bagian dari armada pengawal Admiral Takeo Takagi. Pada Pertempuran Midway yang terjadi pada 4-6 Juni 1942, ia menjadi bagian dari armada invasi Kepulauan Aleut dibawah Admiral Shiro Takasu dengan kode Operation AL.

Setelah kekalahan signifikan di Midway, Shigure dipindahkan ke Armada Kedua pada tanggal 14 Juli 1942. Pertengahan bulan Agustus, Shigure mengawal armada tersebut ke Truk. Dan kemudian ia ditugaskan untuk melindungi jalannya proses transportasi tentara marinir untuk menginvansi Makin Atoll setelah terjadinya Penyerbuan Makin. Pada bulan September, Shigure mulai berbasis di Jaluit, dan membantu menaklikkan Abemama di Kepulauan Gilbert dan Ndeni di Kepulauan Santa Cruz. Setelahnya ia kembali mengawal konvoi tentara dari Palau ke Rabaul.

Dalam jangka waktu antara bulan Oktober dan November, Shigure melakukan 8 kali "Tokyo Ekspres"; transportasi tentara Jepang ke Guadalcanal. Pada tanggal 12-13 November 1942, malam harinya di Pertempuran Guadalkanal pertama, Shigure merupakan bagian dari armada pengamatan jarak jauh dan tidak terlibat dalam perang. Namun, nantinya ia akan menyelamatkan kru kapal perang Hiei yang selamat dan mengetahui kabar bahwa adiknya, Yuudachi, gugur dalam perang tersebut.

Sepanjang hidupnya, Shigure banyak terlibat dalam "Tokyo Ekspres", yaitu operasi konvoi untuk transportasi logistik dan tentara dari Jepang ke Pasifik Selatan dan Asia Tenggara. Pada pertengahan Mei 1943, ia mengawal Musashi dari Truk kembali ke Yokosuka dan kemudian kembali lagi ke Truk pada 21 Juni 1943. Pada bulan Juli, ia ditugaskan untuk menemani kapal penjelajah ringan Nagara untuk melakukan beberapa misi 'rahasia' di Kepulauan Solomon, dan dikembalikan ke dalam Armada Kedua pada tanggal 20 Juli.

Selama Pertempuran Teluk Vella pada tanggal 6-7 Agustus 1943, Shigure adalah satu-satunya kapal perusak Jepang yang selamat. Selama Pertempuran Horainu pada tanggal 17-18 Agustus, Shigure kembali berhadapan dengan beberapa kapal perusak Amerika sambil harus mengawal misi Tokyo Ekspres-nya ke Vella Lavella, dan ia berhasil melakukannya tanpa kerusakan sedikit pun. Ia juga mengawal evakuasi tentara Jepang di Vella Lavella pada tanggal 6–7 Oktober dan berkontribusi dengan nyaris menenggelamkan USS DD-357. Selama sisa bulan Oktober, ia kembali melakukan 4 kali Tokyo Ekspres di Papua Nugini.

Pada Pertempuran Teluk Empress Augusta, 2 November 1943, ia dan Sendai harus berhadapan dengan armada Amerika yang terdiri dari kapal penjelajah ringan dan kapal perusak. Pada pertempuran itu, Shigure berhasil selamat namun tidak halnya dengan Sendai.

Bulan Januari 1944, Shigure mengawal kapal pemasok makanan Irako dari Yokosuka ke Truk. Dan di awal Februari ia mengawal konvoi tanker minyak dari Truk ke Tarakan dan Balikpapan. Ia menderita kerusakan parah pada saat terjadinya serangan udara di Truk oleh pesawat-pesawat Amerika. Oleh karenanya, ia dibawa kembali ke Sasebo pada tanggal 22 Maret 1944 dan meriam utama keduanya digantikan oleh sepasang senapan mesin anti udara Tipe 96 berlaras tiga. Setelah selesai diperbaiki pada 11 Mei 1944, ia kembali mengawal Musashi dan kapal induk Chitose, Chiyoda, dan Zuihou ke Tawitawi dan Davao.

Bulan Juni 1944, ia dilibatkan dalam Operasi Kon sebagai bagian dari armada bala bantuan Jepang untuk merespon invasi Amerika ke Kota Biak, Papua. Namun, Shigure harus kehilangan adiknya kembali, Harusame, dan menyelamatkan 110 kru adiknya itu. Kemudian, menggantikan Harusame, Shigure bertempur sendirian melawan satu armada Amerika yang terdiri dari beberapa kapal penjelajah ringan dan kapal perusak. Di situ ia harus menerima tembakan dua peluru meriam Amerika, yang menewaskan 7 krunya dan melukai 15 lainnya.

Pada tanggal 19-20 Juni 1944, Shigure ikut serta dalam Pertempuran Laut Filipina sebagai bagian dari "Pasukan B" dari Admiral Takatsugu Jojima. Ia ditugaskan untuk membantu misi penyelamatan kru kapal induk Hiyou yang tenggelam di situ. Pada bulan Juli, ia kembali ditugaskan untuk mengawal konvoi tentara dari Kure ke Okinawa, dan pada bulan Agustus menemani Kinu dalam misi transportasi logistik dari Singapura ke Brunei, Manila, dan Palau.

Pada bulan Oktober 1944, Shigure berangkat dari Lingga, Riau menuju Pertempuran Teluk Leyte pada tanggal 22-25 Oktober. Ia menderita rusak ringan dari satu pesawat pembom yang menghancurkan meriam utamanya, dan menewaskan 5 kru dan melukai 6 lainnya.

Shigure menderita kerusakan lebih parah lagi pada Pertempuran Selat Surigao, dimana sebuah tembakan meriam mengenainya dan beberapa tembakan meriam yang nyaris mengenai badan utamanya merusak radio, kompas, dan sistem kemudinya. Namun, ia menjadi satu-satunya kapal yang selamat dari Armada Nishimura atau "Armada Selatan", dibawah perlindungan Yamashiro yang menjadi kapal benderanya.

Shigure dipaksa untuk kembali ke Sasebo untuk menjalani perbaikan dan remodel pada bulan November. Di tengah perjalanan ia sekaligus menenggelamkan USS Growler pada tanggal 8 November. Kemudian ia dipindahkan ke dalam Armada Kelima pada tanggal 15 November dan kembali ke Armada Kedua pada 20 November. Pada tanggal 17 Desember ia meninggalkan Kure, bersama dengan kapal induk Unryuu, menuju Manila. Sekali lagi, Shigure harus menyaksikan kapal yang dilindunginya harus tenggelam kembali oleh USS Redfish dan menyelamatkan 146 kru Unryuu yang selamat.

Pada tanggal 25 Januari 1945, Shigure yang saat itu bertugas untuk mengawal konvoi dari Hong Kong ke Singapure tenggelam oleh torpedo yang dilepaskan oleh kapal selam USS Blackfin di Teluk Siam, sekitar 260 km ke arah Timur dari Kota Bharu, Malaya.(06°00′N 103°48′E / 6.000°N 103.800°E / 6.000; 103.800Koordinat: 06°00′N 103°48′E / 6.000°N 103.800°E / 6.000; 103.800) Shigure tenggelam perlahan-lahan, dan berkat itu 270 awak kapalnya berhasil melarikan diri dan diselamatkan oleh kapal kargo Kanju dan Miyake. Shigure pun dicoret dari daftar angkatan laut Jepang pada 10 Maret 1945.[2]

Catatan kakiSunting

  1. ^ Nelson. Japanese-English Character Dictionary. hal. 481
  2. ^ Nevitt, Allyn D. (1997). "IJN Shigure: Tabular Record of Movement". Long Lancers. Combinedfleet.com. Diakses tanggal 2016-07-24. 

ReferensiSunting

  • D'Albas, Andrieu (1965). Death of a Navy: Japanese Naval Action in World War II. Devin-Adair Pub. ISBN 0-8159-5302-X. 
  • Brown, David (1990). Warship Losses of World War Two. Naval Institute Press. ISBN 1-55750-914-X. 
  • Hara, Capt. Tameichi (1961). Japanese Destroyer Captain. New York: Ballantine Books. SBN 345-02522-9-125.  ISBN 978-1-59114-384-0 (2011 edition)
  • Howarth, Stephen (1983). The Fighting Ships of the Rising Sun: The Drama of the Imperial Japanese Navy, 1895–1945. Atheneum. ISBN 0-689-11402-8. 
  • Jentsura, Hansgeorg (1976). Warships of the Imperial Japanese Navy, 1869–1945. US Naval Institute Press. ISBN 0-87021-893-X. 
  • Lengerer, Hans (2007). The Japanese Destroyers of the Hatsuharu Class. Warship 2007. London: Conway. hlm. 91–110. ISBN 1-84486-041-8. OCLC 77257764
  • Nelson, Andrew N. (1967). Japanese–English Character Dictionary. Tuttle. ISBN 0-8048-0408-7. 
  • Watts, Anthony J (1967). Japanese Warships of World War II. Doubleday. ASIN B000KEV3J8. 
  • Whitley, M J (2000). Destroyers of World War Two: An International Encyclopedia. London: Arms and Armour Press. ISBN 1-85409-521-8. 

Pranala luarSunting