Buka menu utama
Semarang pada tahun 1977

Johannes Rach (Kopenhagen, Denmark, 1720Batavia, 4 Agustus 1783) adalah seorang pelukis Denmark zaman Hindia Belanda yang banyak melukis pemandangan Indonesia. Ia lahir tahun 1720 di Kopenhagen, Denmark, anak seorang pemilik losmen. Setelah berlatih di bawah pengawasan pelukis istana Denmark yang bernama Wickman, Johannes bekerja sebagai pelukis gedung di Rusia, Swedia, dan istana Denmark. Selain lukisan topografi, ia membuat lukisan perspektif dan lukisan diam. Awal 1750-an Johannes pindah ke Belanda. Ia bekerja sebagai pelukis di Haarlem. Bulan April 1756 ia menikahi Maria Wilhelmina Valenzijn. Tahun berikutnya ia mempunyai putri yang diberi nama Christina Maria. Mungkin disebabkan karena ketidakpuasan atas pekerjaannya di Belanda, maka Johannes pindah ke Asia tahun 1762 dan bekerja sebagai prajurit penembak di bawah VOC. Istri dan putrinya ditinggal di Amsterdam. Dalam perjalanannya dia membuat beberapa lukisan topografis, di antaranya adalah lukisan Tanjung Harapan.

Di Batavia, Johannes memiliki karier cemerlang di militer. Pada saat bersamaan bakat melukisnya sebagai pelukis topografis semakin berkembang. Kaum elit lokal memesan gambar-gambar rumah vila mereka di luar Batavia. Pemesan lain memesan lukisan jalanan dan pemandangan alam. Untuk memenuhi pesanan-pesanan ini, Johannes merekrut asisten-asisten yang bekerja menurut gaya lukisannya. Asisten-asisten yang tidak diketahui ini kemungkinan besar yang melukis banyak lukisan yang dilukisnya di Jawa. Johannes dan studio lukisnya mengabadikan kota Batavia sebagaimana adanya pada paro waktu kedua abad ke-18. Selain itu lukisan-lukisannya menggambarkan daerah sekitar Batavia, termasuk Buitenzorg (Bogor), kota-kota pesisir utara Jawa, beberapa kota di Sri Lanka dan pemukiman-pemukiman VOC lainnya di Asia.

Walaupun Johannes bekerja sebagai pelukis di negara asalnya Denmark dan di Belanda, tampaknya ia hanya membuat lukisan basah di Batavia. Lukisan-lukisan ini dibuat dari kertas berkualitas bagus yang diimpor dari Belanda dengan kuas, tinta Tiongkok, dan air. Tidak seperti kebanyakan artis yang bekerja padanya, Johannes langsung melukis di atas kertas kanvas tanpa sketsa terlebih dahulu, namun biasanya menggunakan halaman bantuan untuk membentuk sudut pandang. Ia memiliki talenta khusus untuk menggambarkan arsitektur pada waktu subuh dengan cahaya tropis di Batavia. Figur-figur dan pemandangan yang ia tambahkan ke lukisannya tampaknya ditambahkan pada tahap akhir, seringkali secara kentara untuk memperkuat komposisi gambarnya.

Johannes Rach meninggal tanggal 4 Agustus 1783 di Batavia, di rumahnya di Roea Malakka (masih disebut Roa Malacca saat ini). Di sana ia memiliki rumah tangga yang nyaman karena posisinya di masyarakat, termasuk di dalamnya satu regu budak domestik, kuda dan kereta kuda. Setelah ia meninggal, ia meninggalkan warisan yang cukup besar untuk istri dan putrinya di Amsterdam. Johannes Rach dimakamkan di makam Gereja Belanda yang sekarang merupakan lokasi Taman Fatahillah. Walaupun ia merupakan anggota Gereja Reform, namun ia meminta pastor Lutheran dan temannya sesama pelukis gedung, Jan Brandes untuk menemaninya di samping tempat tidurnya pada saat-saat terakhirnya. Pada zaman itu, Gereja Lutheran dan Reform merupakan dua agama Protestan yang berbeda. Johannes yang berasal dari Denmark yang mayoritas adalah Lutheran, semestinya dibesarkan secara Lutheran. Ketika ia tiba di Batavia tahun 1762, Gereja Reform adalah satu-satunya agama resmi dan memimpin. Hanya pada akhir-akhir hayatnya gereja Lutheran diperbolehkan (ajaran Lutheran pertama kali tiba tahun 1746). Karena kesempatan kerja untuk jemaat anggota Gereja Reform lebih banyak, maka pendatang baru biasanya bergabung dengan Gereja Reform Belanda, meskipun mereka dari ajaran agama yang berbeda. Karena Johannes juga melakukan hal yang sama, hal tersebut mengindikasikan bahwa ia mementingkan karier lebih daripada ajaran/denominasi agama, paling tidak selama ia hidup.

Hal tersebut adalah salah satu dari sedikit aspek yang diketahui tentang diri Johannes Rach. Salah satu kelebihannya yang lain, yang dapat dideduksikan melalui koersi, adalah keahlian dagangnya. Johannes menggunakan posisi terpandangnya di masyarakat untuk menjual banyak lukisannya. Dilihat dari ada beberapa kopi dari sebuah lukisan pemandangannya, ia telah berhasil mengorganisasikan suatu prosedur standar penjiplakan lukisannya. Salinan lukisan ini dapat disesuaikan dengan selera pembeli dengan tambahan gambar atau warna, sesuai keinginan pembelinya. Hal lain yang dapat dideduksikan dari lukisan-lukisannya adalah bahwa ia memiliki selera humor. Lukisan-lukisannya kadang-kadang menggambarkan situasi karikatur, yang pasti dianggap lucu pada saat itu, seperti prajurit yang kencing atau pelaut yang muntah. Lebih daripada itu tidak banyak yang diketahui tentang kehidupan Johannes Rach, apalagi pribadinya. Johannes bukanlah satu-satunya pelukis gedung yang bekerja di Asia pada masa itu. Beberapa artis lain, biasanya bekerja pada VOC, diketahui menggambarkan Asia yang eksotis dari sudut pandang orang-orang Barat yang baru datang. Beberapa pelukis gedung lain, seperti Robert Jacob Gordon (1743-1795), Frederik Reimer (1796) dan Jan Brandes - yang disebut di atas - (1743-1808), besar kemungkinannya dikenal oleh Johannes.

Koleksi lukisanSunting

 
Sebuah lukisan Johannes Rach yang terdapat dalam koleksi Perpustakaan Nasional Indonesia

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki 202 lukisan yang diperkirakan adalah karya Johannes Rach, sebuah koleksi yang terdiri dari karya-karya terpenting Johannes dan murid-muridnya. Koleksi lainnya berada di Eropa. Museum Rijks di Amsterdam memiliki 32 kopi dari lukisan Johannes di dalam koleksi Brndes. Sekolah Atlas Rach dan Eight van Stolk di Rotterdam memiliki tiga belas lukisan, Museum Maritim Pangeran Hendrik di Rotterdam sembilan lukisan, dan Museum Maritim di Amsterdam satu lukisan. Arsip Negara di Den Haag memiliki satu lukisan topografis dan empat vignette yang digunakan sebagai dekorasi. Pada saat ini ada sekitar 270 lokasi lukisan Johannes Rach yang diketahui keberadaannya.

Sebagian besar koleksi lukisan Johannes Rach datang dari kepemilikan Bataviaasch Gennotschap vooe Kunsten en Wetenschappen (berdiri 1778) pada akhir abad ke-18. Semasa hidupnya Johannes adalah anggota perkumpulan kaum terpelajar ini. Pada awal abad ke-20, lukisan-lukisan Johannes banyak menarik perhatian. Mereka dipajang dalam rangka hari jadi ke-300 Kota Batavia dan direproduksi pada berbagai media cetak, di antaranya adalah Oud-Batavia milik F. de Haan yang terkenal. Pada 1928, sekitar seperlima lukisan Johannes Rach direproduksi dalam rangka 150 tahun berdirinya Bataviaasch Genootschap dalam buku Johannes Rach en Zijn karya J. de Loos Haaxman. Rencana untuk mempublikasikan seluruh koleksi ini terhenti karena pecahnya Perang Dunia II. Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaannya, koleksi awal seni terapan dan etnologi milik Bataviaasch Genootschap menjadi basis awal koleksi Perpustakaan Nasional, Museum Nasional dan Kota Fatahillah, semuanya di Jakarta.

GaleriSunting

SumberSunting