Insiden saat Haji

(Dialihkan dari Insiden Jamarat Mina)

Terdapat sejumlah insiden saat Haji, kegiatan peziarahan Muslim ke kota Mekkah, yang menyebabkan kehilangan nyawa. Setiap pengikut Islam diharuskan mengunjungi Mekkah saat Haji setidaknya sekali seumur hidup, jika dapat melakukannya; peziarahan tersebut adalah salah satu Rukun Islam. Pada bulan Haji, Mekkah harus bersiap dengan kedatangan sekitar tiga juta peziarah.[1]

Dataran Arafat pada masa Haji, kr. 2003.

Perjalanan pesawat membuat Mekkah dan Haji lebih bisa diakses bagi para peziarah dari seluruh dunia. Akibatnya, Haji menjadi makin padat. Para pejabat kota diharuskan untuk mengatur kerumunan besar dan menyediakan makanan, tempat singgah, sanitasi dan layanan darurat bagi jutaan orang tersebut. Namun, hal tersebut tak selalu memungkinkan untuk menghindari insiden-insiden.

Kegagalan dan gangguan kontrol kerumunanSunting

Terkadang, pergerakan kerumunan dari satu stasiun peziarahan ke tempat berikutnya menyebabkan desak-desakan, atau lebih parahnya, banyak yang berjatuhan. Upacara lempar jumroh (ramī aj-jamarāt) biasanya berombongan dan berbahaya. Para peziarah secara ritualistik melempar batu-batu kecil ke tiga tembok (dulunya pilar) yang mewakili tiga tempat dimana iblis mencobai Ibrahim. Ini adalah salah satu dari serangkaian aksi ritual yang harus dilakukan saat Haji.

Beberapa insiden terkenalnya meliputi:

  • 2 Juli 1990: sebuah desak-desakan di dalam sebuah terowongan pejalan kaki (terowongan Al-Ma'aisim) yang terbentang dari Mekkah menuju Mina dan Dataran Arafat berujung pada kematian 1,426 peziarah, beberapa diantaranya berasal dari Malaysia, Indonesia dan Pakistan.[2][3]
  • 23 Mei 1994: Sebuah desak-desakan menewaskan sekitar 270 peziarah saat ritual lempar jumroh.
  • 9 April 1998: sekitar 118 peziarah terinjak-injak sampai mati dan 180 orang luka-luka dalam sebuah insiden di Jembatan Jamaraat.[4]
  • 5 Maret 2001: 35 peziarah terinjak-injak sampai mati dalam sebuah desak-desakan saat ritual lempar jumroh.[5]
  • 11 Februari 2003: Ritual lempar jumroh diklaim menewaskan 14 peziarah.[6]
  • 1 Februari 2004: 251 peziarah tewas dan 244 orang luka-luka dalam sebuah desak-desakan saat ritual lempar jumroh di Mina.[7]
  • 22 Januari 2005: Sebuah desak-desakan pada ritual lempar jumroh di Mina berujung pada kematian tiga peziarah[8]
  • 12 Januari 2006: Sebuah desak-desakan pada ritual lempar jumroh pada hari terakhir Haji di Mina menewaskan sekitar 246 peziarah dan melukai sekitar 289 orang lainnya. Insiden tersebut terjadi tak lama setelah 13:00 waktu lokal, saat sebuah bis para pendatang datang bersamaan dari tempat akses timur menuju Jembatan Jamaraat. Hal ini menyebabkan para peziarah panik dan mengakibatkan desak-desakan. Sekitar dua juta orang dikabarkan ikut serta dalam ritual tersebut pada waktu itu.
  • 24 September 2015: Sekitar 2,236[9] peziarah tewas pada sebuah desak-desakan. Pemerintah Arab Saudi kemudian merilis laporan resminya. Beberapa pekan setelah insiden tersebut, Wakil Menteri Kesehatan Saudi resmi mengumumkan 4,173 orang tewas dalam insiden ini pada sebuah perilisan pers,[10][11] namun, laman tersebut dihapus dari situs webnya dalam tiga jam dan dialihkan ke laman utama. Menteri Kesehatan Saudi mengklaim bahwa jumlah korban tewas yang dipublikasikan adalah pemalsuan dalam sebuah pos Twitter.[12] Fars News, sebuah badan berita semi-resmi Iran, memberikan video untuk mengakses laman tersebut karena permintaan laman yang tinggi.[13] Sebuah laporan AP mengkompilasikan laporan-laporan resmi dan pernyataan soal jumlah korban tewas sekitar 1,470, lebih dari 700 ketimbang angka dari otoritas Saudi, dan menjadikannya peristiwa terburuk sejauh ini di Mekkah.[14] AP kemudian memperbaharui jumlahnya dengan menyatakan bahwa sekitar 2,411 peziarah tewas.[15]

KebakaranSunting

  • Desember 1975: Sebuah ledakan gas silinder menyebabkan kebakaran di sebuah tenda dan mengakibatkan 200 peziarah tewas.[16]
  • 15 April 1997: 343 peziarah tewas dan 1,500 luka-luka dalam sebuah kebakaran tenda.[17] Tenda-tenda sekarang tahan api.
  • 1 November 2011: Dua peziarah, sepasang suami-istri, tewas dalam sebuah kebakaran bus. Terdapat dua bus dalam konvoi tersebut, dan seseorang dalam bus kedua menyatakan adanya asap yang membumbung dari depan. Ia meminta supirnya untuk berhenti.Setiap orang dievakuasi dari bus tersebut, dan dua orang terakhir tersebut tak bisa keluar, bus tersebut mengalami tiga ledakan.

Protes dan kekerasanSunting

Kecelakaan pesawatSunting

  • 22 Januari 1973: Sebuah Royal Jordanian Boeing 707 jatuh di Kano, Nigeria, menewaskan 176 peziarah Haji yang kembali dari Mekkah.
  • 4 Desember 1974: Martinair Penerbangan 138 jatuh di dekat Kolombo, Sri Lanka, menewaskan seluruh 191 orang di dalamnya – 182 peziarah haji Indonesia yang berangkat ke Mekkah, dan 9 anggota kru.
  • 15 November 1978: Icelandic Airlines Loftleiðir HF Penerbangan LL 001 jatuh di Kolombo, Sri Lanka, menewaskan 170 peziarah Muslim (kebanyakan orang Indonesia) yang kembali dari Haji.
  • 26 November 1979: Pakistan International Airlines Penerbangan 740 terbakar saat mengudara dan jatuh setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Jeddah Lama pada 26 November 1979 menewaskan seluruh 156 orang yang ada di dalam Boeing 707.
  • 19 Agustus 1980: Saudia Penerbangan 163 mengalami kebakaran kargo tak lama setelah lepas landas dari bandar udara Riyadh. Seluruh 287 penumpang dan 14 kru yang ada di dalam Lockheed L-1011-200 TriStar, bernomor pendaftaran HZ-AHK, tewas setelah pesawat melakukan pendaratan darurat.
  • 11 Juli 1991: Nigeria Airways Penerbangan 2120 (dioperasikan oleh Nationair) merupakan sebuah penerbangan penumpang tercarter dari Jeddah, Arab Saudi, ke Sokoto, Nigeria yang mengalami kebakaran saat penerbangan dan jatuh tak lama setelah lepas landar dari Bandar Udara Internasional King Abdulaziz, menewaskan seluruh 247 peziarah Haji dan 14 anggota kru yang berada di dalam DC-8.

PenyakitSunting

Karena keberadaan para pengunjung dari beberapa negara, beberapa diantaranya memiliki sistem perawatan kesehatan yang rendah yang masih bisa tertular oleh penyakit infeksi, yang dapat membuat penyebaran epidemik. Jika wabah terjadi di jalan menuju Mekkah, para peziarah bisa mengalami masalah saat mereka pulang ke rumah dan terkena infeksi dari orang lain. Ini melebihi masalah pada masa lampau. Satu kasus semacam itu, yang mendapatkan respon dari pemerintah Saudi, adalah meningitis yang menjadi perhatian utama setelah wabah internasional setelah Haji tahun 1987. Karena setelah Haji merebakkan jenis-jenis meningitis tertentu pada tahun-tahun sebelumnya, visa saat ini mensyaratkan imunisasi dengan vaksin ACW135Y sebelum keberangkatan. Setiap tahun, pemerintah Saudi menerbitkan daftar vaksin yang diharuskan bagi para peziarah, yang pada 2010 juga meliputi demam kuning, polio, dan influenza.[19][20]

Koronavirus sindrom alat pembuangan Timur TengahSunting

Per 9 September 2013, pemerintah Saudi membujuk "Muslim yang tua dan sakit kronis untuk menghindari haji pada tahun ini" dan menolak sejumlah orang memasuki negara tersebut karena koronavirus sindrom alat pembuangan Timur Tengah (MERS-CoV).[21][22] Pada 1 November 2013, seorang wanita yang telah melakukan haji terserang penyakit tersebut dan berada di Spanyol.[22] Meskipun MERS-CoV tak menyerang para peziarah, hal ini bukan berarti tak memiliki risiko saat haji.[23]

Wabah pada masa laluSunting

Pada 1905, wabah kolera jenis El Tor ditemukan pada enam peziarah yang pulang dari haji di kamp karantina El-Tor, Mesir.

Pandemi koronavirus 2019-2020Sunting

Pada tahun 2020, Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ditutup akibat penyebaran COVID-19. Masjidil Haram dan Masjid Nabawi akan tetap buka namun khusus untuk masyarakat Arab Saudi. Namun, pada 2 Maret 2020, Arab Saudi mengonfirmasi kasus pertamanya. dan epidemologi ini bertambah akibat menularnya ke orang lain. Masjid Haram dan Masjid Nabawi akan terus memperketat penjagaannya agar virus tidak menular ke jamaah lainnya.

Kegagalan bangunanSunting

Keruntuhan hotel Al Ghaza 2006Sunting

Sebuah bangunan beton bertingkat yang terletak di Mekkah dan dekat dengan Masjid Agung runtuh pada 5 Januari 2006. Bangunan tersebut, Hotel Al-Ghaza, dikatakan berisi sebuah restoran, sebuah toko perlengkapan, dan sebuah hotel. Hotel tersebut dikabarkan disinggahi para peziarah saat Haji tahun 2006. Tidak jelas bagaimana beberapa peziarah berada di dalam hotel tersebut saat rubuh. Menurut laporan terakhir, jumlah korban tewasnya adalah 76 orang dan jumlah korban luka-lukanya adalah 64 orang.[24]

Kejatuhan derek 2015Sunting

Sebuah derek jatuh di masjid agung pada 11 September 2015, sepuluh hari sebelum Haji. 118 orang tewas dan 394 orang luka-luka.

Peristiwa fatal lainnyaSunting

Dari jutaan peziarah setiap tahun, beberapa orang wafat karena usia tua, dan beberapa orang wafat karena penyakit mereka, selain dalam beberapa kasus karena panas dan kelelahan.

  • Sebelum permulaan hari pertama Desember 2006, 243 peziarah wafat, menurut sebuah pernyataan dari pemerintah Saudi.[25] Kebanyakan kematian dikabarkan berkaitan karena masalah kesehatan, kelelahan di kalangan lansia dan orang-orang dengan kesehatan yang rendah, yang disebabkan oleh panas dan keadaan fisik yang terjadi saat peziarahan. Setelah Haji, pemerintah Nigeria mengabarkan bahwa 33 warga negaranya wafat kebanyakan "akibat dari darah tinggi, diabetes dan serangan jantung", bukan karena penyakit epidemik manapun. Mereka membantah tuduhan yang dibuat bahwa beberapa peziarah Nigeria wafat dalam sebuah kecelakaan di sebuah jalan menuju Mina.[26] Badan berita resmi Mesir mengabarkan bahwa pada 30 Desember (10 Dhu al-Hijjah), 22 peziarah Mesir wafat.[27] Empat peziarah lansia Filipina berusia 50an tahun wafat saat peziarahan karena sakit atau 'sebab alami' lainnya, dan dikubur di Mekkah.[28] Komisi Kedokteran Haji Pakistan mengumumkan bahwa sekitar 130 peziarah Pakistan wafat saat musim Haji di Arab Saudi,:kebanyakan karena usia dan korban pneumonia dan penyakit jantung," dan bahwa 66 peziarah dilarikan ke rumah-rumah sakit Saudi karena alasan serupa.
  • Pada awal Desember 2006, sebuah bus yang mengangkut para peziarah dari tempat-tempat suci di Madinah menuju Mekkah mengalami kecelakaan pada jarak 55 mil dari utara pelabuhan Rabegh dekat Jeddah, menewaskan 3 orang Inggris dan melukai 34 orang lainnya, termasuk dua anak-anak.[29]
  • Pada November 2011, tiga belas orang Afghanistan tewas dan puluhan lainnya luka-luka akibat penyakit dan kecelakaan lalu lintas.[30]

PencopetanSunting

Akhir-akhir ini, pencopetan telah membuat sejumlah masalah bagi para peziarah Haji. Menurut Save Madina Foundation, 321 orang menjadi korban pencopetan saat Haji pada 2010.[31]

Pelecehan seksual dan keguguranSunting

Para peziarah perempuan berbicara soal pelecehan seksual yang dialami saat Haji melalui sebuah gerakan yang disebut gerakan Mosque Me Too.[32][33] Memakai tagar #MosqueMeToo, yang timbul dari gerakan Me Too yang memakai tagar #MeToo, wanita Muslim berbagi pengalaman-pengalaman mereka di dunia maya soal pelecehan seksual di Makkah.[34][35][36]

Banyak peziarah hamil mengalami keguguran karena melakukan haji. Pada 2011, 20 wanita hamil yang melakukan ziarah mengalami keguguran karena kelelahan. Pada 2017, sejumlah peziarah Nigeria yang sedang hamil mengalami keguguran.[37]

Tanggapan resmiSunting

 
Pemerintah Saudi telah membuat jaringan CCTV untuk memantau keamanan saat kejadian tersebut.

Para kritikus menyatakan bahwa pemerintah Saudi perlu melakukan hal lebih untuk menghindari tragedi-tragedi semacam itu. Pemerintah Saudi menyatakan bahwa perkumpulan massal semacam itu bisa mengakibatkan bahaya dan sulit ditangani, dan bahwa mereka mengambil sejumlah langkah untuk menghindari masalah-masalah tersebut. Fasilitas-fasilitas dalam tragedi terbesar pada September 2015 membuat pihak Saudi mengerahkan sekitar 1,700 orang.[15]

Salah satu langkah terbesar, yang juga kontroversial, adalah sistem pendaftaran paspor, dan visa perjalanan baru untuk mengendalikan arus para peziarah. Sistem ini dirancang untuk melayani dan mengakomodasikan para pengunjung kali pertama ke Mekkah, sesambil menolak kunjungan berulang. Para peziarah yang ingin melakukan Haji beberapa kali menentang apa yang mereka pandang sebagai diskriminasi, tetapi Komisi Haji menyatakan bahwa mereka tak memiliki alternatif jika tragedi-tragedi lanjutan terjadi.

Setelah tragedi tahun 2004, otoritas Saudi mengadakan pengerjaan pembangunan besar di dalam dan di sekitaran kawasan Jembatan Jamaraat. Jalan akses, jembatan pejalan kaki dan tempat keluar darurat tambahan dibangun, dan tiga pilar silindrikal digantikan dengan tembok beton untuk membolehkan lebih banyak peziarah mengaksesnya tanpa perlu berhimpit-himpitan dan berebut posisi pada masa-masa terkini. Pemerintah jumlah mengumumkan proyek jutaan dolar untuk memperluas jembatan menjadi lima lantai; proyek tersebut direncanakan selesai pada Musim Haji tahun 1427 AH (Des. 2006 – Jan. 2007).[38] Setelah insiden tahun 2006, Jembatan Jamaraat dan pilar-pilar yang mewakili Setan dirobohkan dan dibangun ulang. Jembatan bertingkat dan lebih besar dibangun, dan kolom-kolom masif menggantikan pilar-pilar itu sendiri. Sekarang, setiap lantai jembatan tersebut membolehkan akses yang lebih mudah dan aman untuk kolom-kolom yang mewakili Setan. Selain itu, upacara lempar jumroh harus mengikuti jadwal yang sebelumnya ditentukan untuk menghindari ledakan kerumunan dan risiko yang datang. Cekungan Jamaraat telah diperluas dari bentuk lingkar saat ininya menjadi bentuk oval untuk membolehkan akses yang lebih baik ke pilar-pilar tersebut. Aransemen-aransemen baru menyediakan akses dan rute keberangkatan terpisah.[39] Namun, patahnya keamanan dikatakan menjadi penyebab dari tragedi tahun 2015.[40] Sekelompok peziarah yang ingin melakukan lempar jumroh sendiri dan kembali ke kampnya, mengambil rute yang ditujukan bagi para peziarah yang ingin kembali, mereka mengambil rute bagi orang-orang yang darang dan menerobos kelompok peziarah lainnya yang berjalan menuju jamaraat.[40][41][42]

ReferensiSunting

  1. ^ "Pilgrims mark end of peaceful hajj: Circling of Kaaba brings to close perhaps largest-ever pilgrimage to Mecca]". BBC News. January 2, 2007. This year’s hajj was likely the biggest ever, with authorities estimating that around 3 million people participated. 
  2. ^ "True Islam". Quran-Islam.org. Diakses tanggal 2013-07-31. 
  3. ^ "A history of hajj tragedies | World news". London: theguardian.com. January 13, 2006. Diakses tanggal 2013-07-31. 
  4. ^ "Saudis identifying nationalities of 118 dead pilgrims". BBC News. April 9, 1998. 
  5. ^ "BBC News – MIDDLE EAST – Lessons from Hajj deaths". News.bbc.co.uk. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  6. ^ "Fourteen killed in Hajj stampede". BBC News. February 11, 2003. 
  7. ^ "BBC NEWS – Hundreds killed in Hajj stampede". News.bbc.co.uk. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  8. ^ Staff, Writter. "Timeline of tragedies during hajj pilgrimage in Mecca". theguardian. Diakses tanggal 24 September 2015. 
  9. ^ "Iran says tests will show cause of diplomat's death in Saudi". AFP. 27 November 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 November 2015. Diakses tanggal 29 November 2015. 
  10. ^ "نائب وزير الصحة: ارتفاع عدد وفيات التدافع في منی إلی 4173 شخصا". Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 September 2015. Diakses tanggal 4 October 2015. 
  11. ^ "الصحة السعودية: ارتفاع وفيات التدافع في منى إلى 4173+وثيقة". Diarsipkan dari versi asli tanggal October 10, 2015. Diakses tanggal 20 October 2015. 
  12. ^ "تدافع_مشعر_منى" (12 October 2015). Twitter. Twitter. 12 October 2015. Diakses tanggal 12 October 2015. 
  13. ^ "Mina Tragedy Death Toll Exceeds 4,000". Diakses tanggal 29 September 2015. 
  14. ^ "Saudi crush was deadliest hajj tragedy ever". Associated Press. 10 October 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 October 2015. Diakses tanggal 10 October 2015. 
  15. ^ a b "AP count: Over 2,400 killed in Saudi hajj stampede, crush". The Associated Press. 10 November 2015. 
  16. ^ "Dokumentation: Die schwersten Unglücke bei der Hadsch – SPIEGEL ONLINE". SPIEGEL ONLINE. 12 January 2006. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  17. ^ "Saudi diplomat: Hajj fire was an accident". CNN. 1997-04-16. Diakses tanggal 2014-04-18. 
  18. ^ Times, Youssef M. Ibrahim, Special To The New York (1989-09-22). "Saudi Arabia Beheads 16 Kuwaitis Linked to Pro-Iranian Terrorism". The New York Times. ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2016-10-02. 
  19. ^ "WHO – 22 October 2010, vol. 85, 43 (pp 425–436)". Who.int. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  20. ^ Barasheed, Osamah; Rashid, Harunor; Heron, Leon; Ridda, Iman; Haworth, Elizabeth; Nguyen-Van-Tam, Jonathan; Dwyer, Dominic E.; Booy, Robert (November 2014). "Influenza Vaccination Among Australian Hajj Pilgrims: Uptake, Attitudes, and Barriers". Journal of Travel Medicine. 21 (6): 384–390. doi:10.1111/jtm.12146. 
  21. ^ "MERS virus claims three more lives in Saudi Arabia". AFP. September 7, 2013. Diakses tanggal 8 September 2013. 
  22. ^ a b Branswell, Helen (7 November 2013). "Spain reports its first MERS case; woman travelled to Saudi Arabia for Hajj". Vancouver Sun. Diakses tanggal 12 November 2013. 
  23. ^ Barasheed, Osamah; Rashid, Harunor; Alfelali, Mohammad; Tashani, Mohamed; Azeem, Mohammad; Bokhary, Hamid; Kalantan, Nadeen; Samkari, Jamil; Heron, Leon; Kok, Jen; Taylor, Janette; El Bashir, Haitham; Memish, Ziad A.; Haworth, Elizabeth; Holmes, Edward C.; Dwyer, Dominic E.; Asghar, Atif; Booy, Robert (14 November 2014). "Viral respiratory infections among Hajj pilgrims in 2013". Virologica Sinica. 29 (6): 364–371. doi:10.1007/s12250-014-3507-x. 
  24. ^ "Mecca Death Toll Rises to 76 – Forbes.com, 6 January 2006". WEb.archive.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal January 10, 2006. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  25. ^ "Millions descend on Mecca for haj". Iol.co.za. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  26. ^ "Nigeria: Hypertension, Diabetes Kill 33 Nigerian Pilgrims in Saudi Arabia". Allafrica.com. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  27. ^ "People's Daily Online – 22 Egyptian pilgrims dies during Mecca hajj". English.people.com.cn. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  28. ^ "Inquirer.net". Newsinfo.inq. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  29. ^ "Third Briton died in Jeddah crash". BBC News. December 10, 2006. 
  30. ^ "13 Afghan pilgrims die during hajj". Pajhwok.com. Diakses tanggal 11 October 2014. 
  31. ^ [1] Diarsipkan March 21, 2012, di Wayback Machine.
  32. ^ "Muslim Women Are Speaking Out About Abuse". Time (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-09-29. Diakses tanggal 2018-03-10. 
  33. ^ Amidi, Faranak (2018-02-09). "Muslim women rally round #MosqueMeToo". BBC News (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-03-10. Diakses tanggal 2018-03-10. 
  34. ^ Eltahawy, Mona (2018-02-15). "Opinion | #MosqueMeToo: What happened when I was sexually assaulted during the hajj". Washington Post (dalam bahasa Inggris). ISSN 0190-8286. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-05-22. Diakses tanggal 2018-03-10. 
  35. ^ "Controversy over #MosqueMeToo sheds light on sexualized violence and xenophobia - Women's Media Center" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-08-17. Diakses tanggal 2018-03-10. 
  36. ^ "#MosqueMeToo: Women share experiences of sexual harassment inside religious places - Times of India". The Times of India. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-07-31. Diakses tanggal 2018-03-10. 
  37. ^ guardian.ng https://guardian.ng/news/pregnant-pilgrims-suffer-miscarriages-as-nigeria-records-more-death-in-saudi/. Diakses tanggal 2020-03-13.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  38. ^ "Hajj ritual sees new safety moves". BBC News. January 10, 2006. 
  39. ^ [2] Diarsipkan January 4, 2014, di Wayback Machine.
  40. ^ a b "Hajj tragedy caused by Saudi Arabia's 'criminal negligence' - Nigerian Islamic Group - Premium Times Nigeria". 27 September 2015. Diakses tanggal 19 October 2016. 
  41. ^ CNN, Holly Yan. "What caused the deadly stampede at the Hajj?". Diakses tanggal 19 October 2016. 
  42. ^ http://dailytrust.com.ng/news/general/saudi-gazette-says-road-blockade-cause-of-hajj-tragedy/112732.html

Pranala luarSunting

Templat:Saudi Arabia topics