Hypermart

pusat perbelanjaan di Indonesia

PT Matahari Putra Prima Tbk, beroperasi sebagai Hypermart adalah sebuah jaringan hipermarket di Indonesia. Meliputi 100 gerai (2021), Hypermart menyatakan dirinya sebagai ritel modern yang menargetkan kelas menengah yang berkembang. Hypermart menyediakan berbagai macam produk, mulai dari groseri, produk segar, bazaar, softlines dan barang-barang elektronik. Hypermart memiliki keunggulan kompetitif yang dihasilkan dari kemampuan yang berkembang melalui kajian intensif terhadap ritel dan konsumen.[1]

Hypermart
IndustriRitel
Didirikan2004
PendiriMatahari Putra Prima
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Tokoh
kunci
Camelito J. Regalado (Presiden Direktur)
PendapatanRp 13,5 triliun (2016)
PemilikMatahari Putra Prima
Karyawan
12.585 (2016)
Situs webwww.hypermart.co.id
Logo Hypermart yang digunakan digerai dengan konsep G7 sejak tanggal 19 Desember 2014 hingga sekarang. Logo ini pertama kali digunakan di gerai Hypermart dengan konsep G7 di Cyberpark, Lippo Karawaci Utara, Tangerang dan untuk selanjutnya digunakan di gerai Hypermart baru dan lama setelah renovasi gerai dengan konsep G7 sejak tahun 2015 dan masih berlangsung hingga 2020.
Hypermart Mal SKA Pekanbaru

PerkembanganSunting

Latar Belakang: Mega-M dan Wal-MartSunting

Hypermart bisa dikatakan merupakan "reinkarnasi" dari bisnis hipermarket yang dahulu pernah dijalankan Grup Lippo dan PT Matahari Putra Prima (saat masih dimiliki oleh Hari Darmawan, yang kemudian diakuisisi oleh Lippo pada Maret 1997). Keduanya merupakan pelopor dari bisnis hipermarket di Indonesia. Grup Matahari sendiri mengembangkan bisnis hipermarketnya pada 1995 dengan nama Mega-M (Mega Matahari),[2] dan kemudian membuka cabang pertamanya di Mega Mal Pluit pada Mei 1996, dengan modal Rp 20 miliar dan luas 15.000 m2.[3][4][5] Merupakan gerai pertama Mega-M, kemudian gerainya bertambah menjadi 6 buah pada 1997,[6] di beberapa daerah di pulau Jawa maupun luar Jawa seperti Lippo Supermal, Kedung Badak Bogor, THR Surabaya hingga Batam.[7][8] Mega-M sendiri dipercaya oleh Matahari Putra Prima dapat menjadi penopang pertumbuhannya di masa mendatang.[9]

Pada saat yang sama, masuklah Wal-Mart, sebuah hipermarket asal Amerika Serikat ke Indonesia, digandeng oleh Lippo Group. Gerai Wal-Mart di Indonesia pertama kali dibuka pada 15 Agustus 1996, di Lippo Supermal Karawaci. Gerai Wal-Mart sendiri terkesan ingin menyaingi Mega-M, dengan dua gerainya di Mega Mal Pluit dan Lippo Supermal terletak cukup dekat.[10] Keadaan berubah pada 1997, ketika Lippo juga mengakuisisi PT Matahari Putra Prima Tbk, pengelola Mega-M (rival Wal-Mart) sehingga Lippo memiliki 2 jaringan hipermarket di waktu bersamaan. Akuisisi itu membuat persengketaan antara Wal-Mart dan Lippo[11] (lihat Walmart#Wal-Mart di Indonesia).

Tidak lama kemudian, akibat sengketa dan krisis moneter 1997-1998, Wal-Mart pun angkat kaki dari Indonesia.[10] Hipermarket Mega-M kemudian juga ditutup seiring upaya restrukturisasi bisnis pasca-krisis oleh PT Matahari Putra Prima Tbk mulai 1999, dengan gerai-gerainya dikonversi ke gerai Matahari Supermarket atau Matahari Department Store.[2][12] Matahari Supermarket sendiri merupakan swalayan yang jauh lebih kecil dibanding Mega-M.

Lahirnya HypermartSunting

Tidak lama setelah penutupan Mega-M, pada tahun 2003, PT Matahari Putra Prima merilis gerai baru di bawah bendera "Market Place", di WTC Serpong lalu berlanjut ke Metropolis, Kelapa Gading, Ekalokasari Bogor hingga ke Pakuwon Mall Surabaya.[8] Akan tetapi, kemudian di saat Matahari meninggalkan gelanggang bisnis hipermarket, masuklah Carrefour Indonesia, yang langsung merebut hati konsumen dengan agresifitasnya menawarkan harga yang lebih murah. Kesuksesan Carrefour membuat Lippo tertarik kembali terjun ke bisnis hipermarket, yang kemudian diberi nama Hypermart.[13] Selain hal tersebut, pendirian Hypermart juga didasari analisis Matahari Putra Prima yang melihat kurang maksimalnya kinerja Matahari Supermarket dan Market Place,[8] dan target PT Matahari Putra Prima mengembangkan diri sebagai peritel multi-format No. 1 di Indonesia.[14]

Gerai Hypermart sendiri yang pertama merupakan hasil konversi Market Place, yaitu di Mall WTC Matahari Serpong dan diresmikan pada 21 April 2004, dengan luas 6.500 meter persegi. WTC Serpong dipilih karena di daerah tersebut sudah berdiri sejumlah hipermarket lain, sehingga diharapkan Hypermart bisa terlihat berbeda dari para pesaingnya. Seiring dengan pembukaan itu, Hypermart menargetkan pembangunan 50 gerai dalam 3-5 tahun, dengan biaya total Rp 600 miliar. Tidak lama kemudian, pada akhir 2004 Hypermart sudah memiliki 6 gerai.[15] Dengan agresif, Matahari pun mengembangkan bisnis Hypermart, dengan pada 2005 sudah memiliki 21 gerai (artinya bertambah 15 gerai di tahun tersebut),[14] akhir 2006 sudah 27 gerai,[16] dan pada 2008 sudah mencapai 43 gerai dengan luas per gerai sekitar 6.000-7.000 m2.[16][17] Dibantu dengan pemiliknya, Grup Lippo yang memang banyak memiliki pusat perbelanjaan di Indonesia, gerai-gerai Hypermart tumbuh di berbagai kota di seluruh Indonesia.[18] Nampak kemudian bahwa Lippo memfokuskan bisnis ritelnya pada Hypermart, dengan kemudian meninggalkan Matahari Supermarket yang sejak 2007 diganti Foodmart.[16][19][20]

Kesuksesan dan penurunan usahaSunting

Kesuksesan Hypermart dalam membangun usahanya ini ditunjang berbagai faktor. Selain karena pemiliknya seperti sudah disebutkan di atas yang mempermudah ekspansi, Hypermart dengan brandingnya "Muraaah Banget" dan didesain dengan suasana hangat, menyenangkan dan bersahabat, cukup membantu perkembangannya sebagai salah satu pemain utama bisnis hipermarket.[8] Tidak lupa juga, Hypermart belajar dari pengalaman sebelumnya dan tentu saja pesaingnya, terutama Carrefour. Bahkan, Hypermart dikabarkan juga "membajak" karyawan Carrefour untuk dipekerjakannya.[18] Faktor lain adalah kelengkapan barang (30.000 item/toko), promosi yang baik, SDM dan teknologi yang baik dan harga yang bersaing.[17][21] Kesuksesan ini misalnya ditunjukkan dengan adanya 450.000 pengunjung/bulan pada setiap gerainya[22] dan beberapa cabang yang jauh lebih ramai dibanding format yang dikembangkan Matahari Putra Prima sebelumnya seperti Market Place.[13] Pada tahun 2014, Hypermart sudah menargetkan akan menjadi pemimpin pasar (No. 1) di ritel hipermarket nasional, dan di tahun tersebut sudah memiliki gerai yang ke-105, sebagai usaha hipermarket termuda di Indonesia yang gerainya mencapai jumlah tersebut.[17]

Dengan keberhasilan tersebut, membuat Hypermart sempat dilirik sejumlah peritel asing untuk diakuisisi. Analis Merrill Lynch menyatakan, bahwa pada akhir 2010, tiga peritel asing (Walmart, Lotte Mart dan Casino Group) cukup potensial dan berniat mengakuisisi bisnis Hypermart,[23] yang diperkuat oleh rumor bahwa Lippo ingin melepas bisnisnya di luar sektor properti dan kesehatan. Akan tetapi, manajemen PT Matahari Putra Prima dan pemilik Lippo, James Riady menolak rencana akuisisi tersebut. James merasa Hypermart sudah dikembangkan Lippo secara susah payah selama 6 tahun belakangan, sehingga tidak elok jika dilepas begitu saja.[24][25][26] Apalagi, pendapatan Hypermart pada 2010 sudah mencapai Rp 8,9 triliun, sebuah angka yang cukup besar.[27] Memasuki tahun 2015, Hypermart sudah memiliki gerai ke-110, dan penjualannya mencapai Rp 13,6 triliun.[28]

Meskipun demikian, pada akhirnya Hypermart tidak mampu menahan kelesuan dan penurunan pada bisnis ritel, apalagi pada sektor hipermarket. Penurunan ini makin diperparah dengan pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia. Meskipun Hypermart tercatat sempat membuka beberapa gerai baru,[29] gerainya tercatat pada Mei 2021 telah turun menjadi 100 saja.[30] Akibatnya, induk Hypermart, PT Matahari Putra Prima sempat tercatat ikut merugi.[31] Tercatat, pada 2021, gerai-gerai seperti di Solo Grand Mall,[32] Big Mall Samarinda,[33] dan di Central Plaza Lampung telah ditutup permanen.[34] Selain efisiensi, tindakan lain seperti mendorong penjualan secara daring (seperti melalui Hypermart Online, Chat & Shop melalui WhatsApp, GrabMart, serta Shopee) juga berusaha dikembangkan, akan tetapi belum maksimal karena pembeli Hypermart lebih suka berbelanja langsung.[31]

Lokasi HypermartSunting

Lihat pulaSunting

RujukanSunting

  1. ^ Perusahaan
  2. ^ a b 1. PENDAHULUAN 1.1. SEJARAH PERUSAHAAN
  3. ^ Informasi, Masalah 203-208
  4. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 8,Masalah 1-8
  5. ^ Pluit Village
  6. ^ World Drinks Marketing Directory 2000/2001
  7. ^ Store Matahari 1999
  8. ^ a b c d TENTANG HYPERMART
  9. ^ Corporate Profile
  10. ^ a b SEPERTI APA JEJAK WALMART DI INDONESIA? | RETAILITORY
  11. ^ Indonesia Business Guide, 2007-2008
  12. ^ Matahari DeptStore 1999
  13. ^ a b Retail Excellence Series - What I Learned From Hypermarket
  14. ^ a b LapTahunan MPPA 2005
  15. ^ Dalam 3-5 Tahun, Matahari akan Buka 50 Hypermarket
  16. ^ a b c Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 19,Masalah 1-6
  17. ^ a b c Sistem Operasional Manajemen Distribusi
  18. ^ a b Informasi & peluang bisnis SWA sembada, Volume 22,Masalah 13-16
  19. ^ Manajemen Minimarket
  20. ^ Indonesian Business: The Year in Review 2008
  21. ^ Hypermart
  22. ^ HYPERMART - BELLANOVA SENTUL
  23. ^ Wal-Mart, Casino, Lotte 'Incar' Hypermart, Lippo Tunggu Kajian Merrill Lynch
  24. ^ James Riady Tak Mau Jual Hypermart
  25. ^ Matahari Seriusi Tawaran 4 Peritel Global yang Mengincar Hypermart
  26. ^ Matahari Ajak Peritel Global Masuk Hypermart
  27. ^ Matahari Batal Jual Hypermart
  28. ^ Matahari Resmikan Gerai Hypermart ke-110
  29. ^ MPPA Buka 9 Gerai Baru di Lokasi Bekas Giant
  30. ^ Matahari Putra Prima (MPPA) akan menggenjot penjualan gerai Hypermart tahun ini
  31. ^ a b Matahari Apes, Telan Kerugian Ratusan Miliar sampai Tutup 8 Gerai Hypermart
  32. ^ Ritel Tumbang, Hypermart Tutup
  33. ^ Tutup, Karyawan: Sedih Banget 11 Tahun Cari Rezeki di Sini
  34. ^ Hypermart Lampung Akan Tutup 8 Agustus, Sejumlah Barang Diskon 50 Persen

Pranala luarSunting