Hyang (dikenal dalam bahasa Melayu, Kawi, Jawa, Sunda, dan Bali) adalah suatu keberadaan spiritual tak kasatmata yang memiliki kekuatan supranatural yang terdapat dalam mitologi Indonesia kuno. Keberadaan spritual ini dapat bersifat ilahiah atau roh leluhur. Pemuliaan kepada entitas spiritual ini dapat ditemukan dalam ajaran Sunda Wiwitan, Kejawen, dan Hindu Bali.[1] Kini dalam bahasa Indonesia istilah ini cenderung disamakan dengan Dewa, Dewata, atau Tuhan. Tempat para hyang bersemayam disebut Kahyangan, yang kini disamakan dengan konsep surga.[2]

Padmasana (singgasana) kosong tempat duduk Sang Hyang Widhi, Tuhan tunggal yang tak terlihat dalam Hinduisme Bali.

Dalam spiritualisme ajaran Hindu Bali, hyang digambarkan sebagai eksistensi spiritual yang mulia, yang patut mendapat penghormatan khusus. Hyang umumnya digambarkan sebagai bentuk pribadi yang sakral dan bercahaya. Ini adalah nama untuk eksistensi spiritual yang memiliki kekuatan gaib, digambarkan seperti matahari dalam mimpi. Kedatangannya dalam kehidupan seseorang memberikan kepuasan dan kebahagiaan tanpa jeda untuk waktu yang lama, yang tidak bisa dibedakan antara mimpi dan kenyataan. Orang Indonesia pada umumnya mengakui istilah ini untuk merujuk kepada penyebab keindahan, penyebab semua keberadaan (pencipta), atau untuk menyebut Tuhan.[1]

Dalam ajaran spiritualisme Jawa Kejawen, konsep Tuhan Yang Maha Esa digambarkan sebagai Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Wenang. Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam bukunya, Paramayoga, merinci sebutan bagi sesembahan Jawa, antara lain Sang Hyang Suksma Kawekas, Sang Hyang Suksma Wisesa, Sang Hyang Amurbeng Rat, Sang Hyang Sidhem Permanem, Sang Hyang Maha Luhur, Sang Hyang Wisesaning Tunggal, Sang Hyang Wenanging Jagad, Sang Hyang Maha Tinggi, Sang Hyang Manon, Sang Hyang Maha Sidhi, Sang Hyang Warmana, Sang Hyang Atmaweda, dan sebagainya.[3]

Asal mulaSunting

Istilah "hyang" kini lebih sering dihubungkan dengan ajaran Hindu Dharma yang berkembang di Jawa kuno dan Bali, tetapi sesungguhnya kata ini memiliki akar yang lebih tua, yakni kepercayaan animisme dan dinamisme asli masyarakat Austronesia yang memuliakan roh nenek moyang dan roh kekuatan alam yang menghuni pohon, batu, hutan, gunung, atau tempat-tempat tertentu.[4] Konsep "hyang" berasal dari sistem kepercayaan masyarakat Indonesia asli, bukan berasal dari konsep spiritual Hindu-Buddha India.

Masyarakat di kepulauan Nusantara sebelum masuknya ajaran Hindu, Buddha dan Islam, percaya akan keberadaan suatu entitas tak kasatmata yang memiliki kekuatan gaib yang dapat mengakibatkan hal baik maupun buruk dalam kehidupan manusia. Mereka juga percaya bahwa roh leluhur yang sudah meninggal tidak menghilang dan pergi begitu saja, tetapi turut berperan serta dan memengaruhi kehidupan keturunannya yang masih hidup. Leluhur yang sudah meninggal dianggap memiliki kekuatan supranatural yang mendekati kekuatan para dewa. Karena itulah pemuliaan terhadap leluhur menjadi unsur penting dalam kepercayaan masyarakat asli Indonesia, seperti ditemukan dalam sistem kepercayaan suku Nias, Dayak, Toraja, suku-suku di Papua, dan berbagai suku lainnya di Indonesia.

Pada masyarakat Sunda, Jawa, dan Bali kuno, kekuatan alam tak kasatmata dan roh leluhur ini diidentifikasi sebagai "hyang". Roh leluhur ini menghuni tempat-tempat yang tinggi, seperti gunung dan bukit. Tempat-tempat ini disucikan dan dimuliakan sebagai tempat jiwa leluhur bersemayam.

Beberapa prasasti Indonesia kuno yang berasal dari periode Hindu-Buddha (abad ke-8 hingga ke-15), menyebutkan istilah hyang, baik sebagai nama tempat suci atau nama dewa yang dipuja di candi itu.[5]

IstilahSunting

Dalam bahasa Sunda istilah "nga-hyang" berarti "menghilang" atau "tak terlihat". Diduga kata ini memiliki kaitan kebahasaan dengan kata "hilang" dalam bahasa Melayu atau bahasa Indonesia. Pada perkembangannya istilah "hyang" menjadi akar kata beberapa nama, sebutan, dan istilah yang hingga kini masih dikenal di Indonesia:

  • Gelar. Jika disandingkan dengan kata panggil atau sebutan Sang-, Dang-, Ra-; menjadi kata Sanghyang, Danghyang, atau Rahyang, kata ini menjadi sebutan kehormatan untuk memuliakan dewa atau leluhur yang sudah meninggal. Sebagai contoh kata Sanghyang Sri Pohaci dan Sang Hyang Widhi merujuk kepada dewa-dewi, sedangkan gelaran Rahyang Dewa Niskala merujuk pada nama seorang raja Kerajaan Sunda yang telah meninggal. Disamping itu istilah Danghyang atau Danyang merujuk pada roh-roh penunggu tempat-tempat tertentu. Nama raja pendiri kemaharajaan Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa, juga mengandung nama "hyang" yang menunjukkan bahwa ia memiliki kekuatan adikodrati.
  • Tempat. Ranah tempat para hyang bersemayam disebut Kahyangan yang dibentuk dari susunan kata ka-hyang-an. Kini kahyangan diidentikkan dengan surga. Karena adanya kepercayaan bahwa hyang menghuni tempat-tempat yang tinggi, maka wilayah pegunungan kerap kali dianggap sebagai tempat hyang bersemayam. Nama tempat seperti Parahyangan merujuk pada jajaran pegunungan di Jawa Barat. Berasal dari gabungan kata para-hyang-an; para menunjukkan bentuk jamak, sedangkan akhiran -an menunjukkan tempat, jadi Parahyangan berarti tempat para hyang bersemayam. Kata parahyangan juga dikenal sebagai salah satu jenis pura Hindu Bali, pura parahyangan adalah pura yang terletak di pegunungan sebagai sandingan pura segara yang terletak di tepi laut. Pegunungan Dieng di Jawa Tengah juga memiliki akar kata di-hyang yang juga berarti "tempat hyang". Begitu pula Pegunungan Iyang-Argapura di Jawa Timur.
  • Kerja. Kata sembahyang dalam bahasa Indonesia kini disamakan dengan kegiatan ibadah atau salat dalam agama Islam. Sesungguhnya istilah ini memiliki akar kata sembah-hyang yang berarti menyembah hyang.[6] Tari Bali yang sakral Sanghyang Dedari menampilkan gadis muda yang kerasukan hyang.[7]

Hyang dalam agama-agama di IndonesiaSunting

Konsep Hyang bagi beberapa agama di Indonesia dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Kapitayan: Ialah Sang Hyang Taya tuhan yang maha esa yang tidak dapat dirupa namun bisa dirasa dan dinyata.[8]
  • Hindu: Ialah Sang Hyang Widhi tuhan yang maha esa, sumber dharma yang dibawa dewa-dewa
  • Buddha: Ialah Sanghyang Adi Buddha hukum alam yang terus ada, tuhan yang tidak dapat dirupa, dimana damma-nya ditemukan oleh Buddha Gautama
  • Islam: sesuai ajaran Sunan Kalijaga Sang Hyang adalah leluhur orang nusantara dari Sang Hyang Adam, Sang Hyang Esis, Sang Hyang Jawana, Sang Hyang Jawith, Sang Hyang Wanuh, Sang Hyang Bathara Guru, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Bathara Wisnu, dan lain seterusnya sampai orang tua yang sudah meninggal dipersonifikasi sebagai entitas tunggal Sang Hyang.

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b "Penjelasan Lengkap Acintya (Sang Hyang Widhi atau Sang Hyang Tunggal) - Mantra Hindu Bali". Mantra Hindu Bali. 2015-12-17. Diakses tanggal 2018-07-13. 
  2. ^ Setiawan, Ebta. "Arti kata kahyangan - Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online". kbbi.web.id. Diakses tanggal 2018-07-13. 
  3. ^ Fadhil Nugroho Adi (2018-08-23). "Konsep Ketuhanan Menurut Ajaran Kejawen - suaramerdeka.com". www.suaramerdeka.com. Diakses tanggal 2020-04-21. 
  4. ^ Waluyo; Suwardi; Agung Feryanto; Tri Haryanto (1977). Ilmu Pengetahuan Sosial. Grasindo. hlm. 149. ISBN 978-979-462-904-8. 
  5. ^ Soekmono, R. (1995). The Javanese Candi: Function and Meaning (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 9004102159. 
  6. ^ "Sembahyang" (dalam bahasa Indonesian). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Diakses tanggal 28 May 2015. 
  7. ^ Khoiri, Agniya. "Jejak Terakhir Sanghyang Dedari, Tari Sakral di Bali". hiburan. Diakses tanggal 2018-07-13. 
  8. ^ Kompasiana.com. "Membuka Tabir Kapitayan, "Agama Kuna" di Tanah Jawa". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2020-04-21.