Buka menu utama

Gusti Kanjeng Ratu Bendoro

anak ke-5 Sri Sultan Hamengkubuwono X

Gusti Kanjeng Ratu Bendoro sebelumnya bernama Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni (lahir di Yogyakarta, 18 Oktober 1986; umur 32 tahun) adalah putri bungsu dan anak kelima dari Sri Sultan Hamengkubuwono X dan GKR Hemas. Ia merupakan salah satu finalis Miss Indonesia 2009, dan sarjana di bidang perhotelan dari salah satu perguruan tinggi di Swiss. Pada 18 Oktober 2011, ia menikah dengan Achmad Ubaidillah (KPH Yudonegoro) yang berasal dari Bandar Lampung. Pernikahan ini banyak diberitakan karena ia adalah menantu pertama Hamengkubuwono X yang bukan berasal dari Jawa, dan bukan keturunan bangsawan.[1][2][3][4]

Bendoro
Gusti Kanjeng Ratu
GKR Bendoro.jpg
Gusti Kanjeng Ratu Bendoro
Lahir18 Oktober 1986 (umurĀ 32)
Bendera Indonesia Yogyakarta, Indonesia
WangsaHamengkubuwono
Nama lengkap
Gusti Kanjeng Ratu Bendoro
AyahSri Sultan Hamengkubuwono X
IbuRatu Hemas
PasanganPangeran Yudhonegoro
AnakRaden Ajeng Nisaka Irdina Yudonegoro

Daftar isi

Masa kecil dan pendidikanSunting

GKR Bendoro terlahir dengan nama Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni di Yogyakarta, dan menuntut pendidikan di kota kelahirannya hingga bangku sekolah menengah pertama. Setelah tamat SMP, ia melanjutkan sekolah ke Singapura di International School of Singapore. Setelah lulus dari sekolah tersebut, ia melanjutkan ke International Hospitality Management Institute di Swiss. Setelah menikah, GKR Bendoro melanjutkan pendidikan S-2 jurusan warisan budaya di Napier University di Edinburgh, Skotlandia.[5] Pada akhir pendidikannya, ia menulis tesis yang mengangkat topik tentang Yogyakarta.[6]

Miss IndonesiaSunting

Ratu Bendoro sempat terpilih mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam kontes Miss Indonesia pada tahun 2009. Ia termasuk dalam finalis 10 besar, tetapi tereliminasi di tahap itu dan tidak masuk di 5 besar.[7]

PernikahanSunting

Kanjeng Pangeran Haryo Yudonegoro menikah dengan GKR Bendoro pada tanggal 18 Oktober 2011. Pernikahan ini berlangsung pada tahun yang sama dengan pernikahan Pangeran William, Adipati Cambridge. Pada pernikahan tersebut dikunjungi sekitar 2.500 tamu undangan.[8]

Sesuai dengan adat keraton, sebelum menikah GKR Bendoro harus menjalani upacara langkahan. Dikarenakan ia mendahului kakaknya GKR Hayu untuk menikah.[9] Dalam upacara ini, calon penganti wanita memohon izin dari kakaknya untuk mendahului menikah serta menyerahkan plangkah berupa setandan pisang sanggan disertai seperangkat baju dan perhiasan wanita untuk kakaknya. Upacara langkahan adalah bagian dari tradisi yang biasa dilakukan di beberapa kebudayaan di Indonesia bila seorang adik mendahului kakaknya dalam pernikahan.[10] Sebelum menikah, calon pengantin pria yang berasal dari luar keraton terlebih dahulu diwisuda menjadi abdi dalem (pegawai keraton). Calon pengantin pria Achmad Ubaidillah dianugrahi gelar Kanjeng Pangeran Haryo dengan nama Yudonegoro. Penganugerahan gelar ini dilangsungkan dalam upacara wisuda yang dilakukan tiga bulan sebelum upacara pernikahan.[11]. Sementara itu, calon istrinya juga telah menerima gelar dan nama baru yang sebelumnya Gusti Raden Ajeng Nurastuti Wijareni menjadi Gusti Kanjeng Ratu Bendoro.

Kemudian calon pengantin pria mengawali rentetan acara pernikahan dengan upacara nyantri. Dalam upacara ini, pengantin pria dijemput dengan kereta kencana untuk memasuki tembok keraton, dan diperkenalkan dengan tata cara keraton. Selanjutnya kedua pengantin melalui upacara siraman di tempat yang berbeda (kesatrian dan keputren). Upacara ini bermakna membersihkan diri dari kotoran lahir dan batin sebelum memasuki jenjang pernikahan.[12] Pada malam harinya, calon pengantin wanita menjalani upacara tantingan, yakni GKR Bendoro ditanya (ditanting) langsung oleh ayahnya akan kesiapannya menikah. Upacara ini dilakukan karena pada keesokan harinya, ayahnya sendiri yang akan menikahkan putrinya dengan pengantin pria tanpa kehadiran pengantin wanita.[13]

Pada keesokan harinya, sesuai dengan adat yang berlaku di keraton, Sri Sultan sendiri yang menikahkan putrinya dengan KPH Yudonegoro dalam upacara ijab kabul yang dilakukan di masjid dalam lingkungan keraton. Akad nikah menggunakan bahasa Jawa yang dilakukan antara ayah pengantin wanita dengan pengantin pria.[14] Setelah resmi menikah, barulah kedua pengantin dipertemukan dalam upacara panggih yang dilakukan di bangsal kencana.[15]. Upacara ini dihadiri oleh tamu-tamu undangan penting termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Budiono.[16]. Acara ini juga dihadiri oleh para pejabat tinggi negara serta duta besar perwakilan negara-negara sahabat.[17]. Dalam upacara panggih, dilaksanakan tradisi pondongan yang hanya dilakukan di dalam lingkungan keraton. Tradisi pondongan ini hanya dilakukan jika pengantin wanita adalah putri raja. Dalam tradisi ini, pengantin pria memondong (mengangkat) istrinya yang dibantu salah seorang paman dari mempelai wanita (GBPH Suryodiningrat). Ini merupakan tradisi sebagai simbol meninggikan posisi seorang istri.

Setelah upacara panggih panggih, kedua mempelai kemudian dikenalkan kepada masyarakat melalui prosesi kirab. Sebagai putri bungsu, GKR Bendoro tidak boleh menjalani kirab keliling benteng keraton. Sebagai gantinya kirab dilaksanakan dari Keraton Yogyakarta ke Kepatihan yang merupakan tempat acara resepsi pernikahan digelar.[18]

Pernikahan KPH Yudonegoro dengan GKR Bendoro dikaruniai seorang putri yang diberi nama Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudonegoro. Putri pertama mereka ini lahir di Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 2014.[19]

KarierSunting

Selain aktif dalam berbagai organisasi sosial dan kemasyarakatan, GKR Bendoro saat ini menjabat sebagai Direktur Operasional Spa Nurkadhatyan.[20] Spa yang dimiliki lima putri keraton ini berlokasi di Hotel Ambarukmo Yogyakarta dengan menawarkan perawatan ala putri-putri keraton.

AktivitasSunting

  • 2009: Peserta Miss Indonesia (10 besar)
  • 2013: Duta Produk Teh Sari Melati
  • 2012: Persatuan Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Ketua Umum Pengurus Provinsi)

ReferensiSunting

Pranala luarSunting