Buka menu utama

Dorolegi, Godong, Grobogan

desa di Kabupaten Grobogan

Dorolegi adalah salah satu desa di kecamatan Godong yang terdiri dari 5 dukuh atau dusun. adapun 5 dusun tersebut adalah dusun Selogo, dusun Jowan, dusun Waruk, dusun Dorolegi dan dusun Bandung. Jarak antara desa dorolegi dengan kota kecamatan Godong kurang lebih 6 KM, sedangkan jarak ke kota Kabupaten yaitu kota Purwodadi kurang lebih 24 KM, dan untuk jarak ke kota Semarang ibu kota provinsi kurang lebih 50 KM.Desa Dorolegi berada pada dataran rendah atau ngarai, sehingga cocok sebagai tanah pertanian. Desa dorolegi juga termasuk sebagai desa penghasil beras di kab. Grobogan.

Dorolegi
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenGrobogan
KecamatanGodong
Kodepos58162
Luas-
Jumlah penduduk± 6.000. Jiwa
Kepadatan-

Rata-rata penduduknya berprofesi sebagai petani kurang lebih 90%, sisanya berbagai profesi seperti PNS, pedagang, pegawai swasta. Sehingga hasil pertanian menjadi andalan penghasilan penduduk. Sistem pertanian di desa dorolegi menggunakan sistem irigasi reguler dengan sumber pengairan dari waduk kedungombo. Biasanya masyarakat menanam padi 2 x dalam setahun, yaitu musim rendengan/penghujan dan pasca rendengan atau walikan istilahnya. Selanjutnya setelah itu petani desa dorolegi menanam palawija kacang hijau, jagung, semangka, dan melon.

Meskipun tergolong desa kecil dan jauh dari kota, desa ini banyak menelorkan tokoh-tokoh yang terkenal baik di tingkat nasional maupun international. Di antaratokoh tersebut adalah penyair kondang Sitok Srengenge. Penyair yang dekat dengan WS Rendra ini adalah asli putra dorolegi, lahir besar, dan masa sekolah dasarnya dihabiskan di desa ini. Bahkan keluarga dan orang tuanya juga masih tinggal di desa dorolegi hingga saat ini. Setelah menamatkan pendidikanya di IKIP Jakarta, Sitok pernah juga mendirikan bengkel teater, dan akhirnya bergabung dengan penyair besar idonesia WS Rendra. Karya-karya Sitok sangat terkenal di luar negeri, sehingga sering diundag ke luar negeri pada acara sastra.

Tokoh selanjutnya adalah Moh. Farid Mustofa, saat ini berprofesi sebagi dosen Filsafat di UGM Jogjakarta. Masa kecilnya dihabiskan di desa dorolegi juga hingga pendidikan SMP. Selanjutnya melanjutkan di Mandrasah Aliyah dan mondok/nyantri di kota kabupaten Purwodadi. Masa kuliah dilakukan di dua kampus yaitu UGM dan IAIN Walisongo Yogyakarta. Selanjutnya menyelesaikan S2 dan S3 di Leipiz Jerman. Selain berprofesi sebagai dosen, Farid juga sering diundang sebagai pembicara semiar maupun simposium tingkat nasional dan international tentang terorisme. Melalui mimbar inilah dia menepis tentang isyu islam radikalisme dan menepis isyu tentang model pembelajaran di pesantren yang disalah gunakan, mengingat dia dibesarkan lewat pesantren dari pesantren di Purwodadi hingga di Krapyak Yogyakarta.