Buka menu utama

Didik Mukrianto SH, MH lahir di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, 21 Juni 1974 adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia 2014-2019 setelah memperoleh 51.218 suara untuk daerah pemilihan Jawa Timur IX. Pada masa kerja 2014-2019 Didik bertugas di Komisi III yang membidangi hukum, HAM dan keamanan.

Didik Mukrianto
SH, MH
Didik Mukrianto.png
Ketua DPP Partai Demokrat
Anggota DPR RI
Dapil Jawa Timur IX
Fraksi Partai Demokrat
Informasi pribadi
LahirDidik Mukrianto
21 Juni 1974 (umur 45)
Bendera Indonesia Magetan, Jawa Timur
KebangsaanIndonesia
Partai politikDemocratic Party (Indonesia).svg Partai Demokrat
PekerjaanPolitisi

Kandidat doktor ilmu hukum ini pada Pemilu 2019 kembali terpilih sebagai DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur IX (Bojonegoro-Tuban) dengan perolehan suara terbanyak dengan mengantongi 114.532 suara.

Ditengah kesibukannya dalam menjalankan tugas konstitusionalnya sebagai anggota MPR RI dan DPR RI, Didik Mukrianto yang diberi mandat dan amanah sebagai Ketua Umum Karang Taruna, tidak henti-hentinya melakukan pembinaan dan sinergi ke berbagai daerah untuk meneguhkan moral dan karakter generasi muda dengan menguatkan jiwa sosial dan kesetiakawanan sosial diantara sesama elemen bangsa.

Sebagai Ketua Umum Cabang Olahraga Rugby, Didik juga terus melakukan pembinaan prestasi olah raga Rugby yang tersebar di seluruh Indonesia, melalui kegiatan pengenalan, pemasalan, pelatihan dan peningkatan prestasi.

Sebagai Warga Tingkat II Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dan Ketua Lembaga Hukum dan Advokasi Pengurus PSHT Pusat, Didik Mukrianto juga terus mendarmabaktikan seluruh potensinya untuk menjaga dan menguatkan PSHT sebagai bagian dari Cabor Pencak Silat dan utamanya memastikan terbentuknya moral dan karakter bangsa yang kuat melalui ajaran mulia dan universal PSHT

Daftar isi

Perjalanan Hidup Mas Didik[1]Sunting

MASA KECIL

Lahir sebagai Petani dari keluarga petani, kekurangan baik akses ekonomi, informasi, pendidikan dan akses lainnya. Lahir di desa kecil di lereng Gunung Lawu 43 tahun yang lalu. Lahir dengan pertolongan dukun bayi di desa Janggan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan menjadi awal perjalanan hidup Mas Didik. Menikmati Indonesia dengan dinamika hidup, sekolah SD tanpa alas kaki, jalan kaki melewati sawah dan ladang selama SMP, menikmati dimar ublik/lampu minyak tanah dan pulang sekolah ke sawah sambil mencari rumput pada saat SMA menjadi kegiatan sehari-hari Mas Didik.

Karena keterbatasan orang tua untuk membiayai hidup, selepas SMA Mas Didik tidak berkesempatan untuk menikmati bangku kuliah, mengingat kakak perempuannya sudah berkesempatan menikmati bangku kuliah terlebih dahulu. Sambil menunggu kakak selesai kuliah Mas Didik tetap bersama orang tua membantu bertani dan berharap agar kakak cepat selesai kuliah agar bisa mendapat kesempatan untuk berkuliah.

Alhamdulillah Allah SWT mengabulkan harapan Mas Didik. Tidak sampai menunggu terlalu lama atau menunggu kakak selesai kuliah, akhirnya tawaran kuliah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dari alm pamannya yaitu Om Sutjipto, SH tidak disia-siakan. Akhirnya setelah setahun menunggu sambil bertani, Mas Didik mendapat karunia dari Allah SWT melalui pamannya untuk berkesempatan kuliah di Trisakti, sebuah universitas yang sangat jauh dari bayangan apalagi harapan Mas Didik.

MASA REMAJA

Masa Remaja Mas Didik yang paling berkesan dan dimulai saat pertama kali masuk di Universitas Trisakti. Pada saat masuk di Universitas Trisakti banyak pengalaman berharga yang luar biasa buat diri pribadi Mas Didik. Karena keterbatasan materi, gaya hidup bahkan yang remeh temeh seperti pakaian yang sederhana tanpa brand dan bahkan medoknya bahasa Jawa berimbas kepada pergaulan, yang endingnya Mas Didik sangat susah untuk bisa berteman. Namun demikian, karena dorongan dan do’a orang tua, dengan kerja keras akhirnya Mas Didik mulai mendapatkan lumayan banyak teman, mengingat saat semester satu, Alhamdulillah prestasi yang Mas Didik capai cukup diperhitungkan dan masuk dalam 3 besar di angkatan Mas Didik. Saat itulah kehadiran Mas Didik ditengah-tengah pertemanan mulai mendapat aceptabilitas yang menguat dan cenderung banyak.

Mengingat bahwa kehadiran teman menjadi hal yang sangat esensial maka Mas Didik menyadari lebih awal akan pentingnya kehadiran banyak teman apalagi Hidup di Jakarta. Dengan dukunga teman-teman pula pada semester tiga fakultas hukum, Mas Didik dipercaya untuk menjadi KETUA SENAT MAHASISWA Fakultas Hukum.

Ditengah-tengah aktivitas sebagai aktifis mahasiswa, dalam menikmati kesehari-hariannya yang selalu berusaha memperkuat eksistensi dalam jalur pergerakan moral dan social, Mas Didik tidak melupakan tanggung jawab yang diberikan pamannya yang telah memberikan kesempatan berharga dalam hidupnya. Tugas dan tanggung jawab rutin Mas Didik tiap harinya diantaranya bertanggung jawab atas kebersihan mobil-mobil, membantu membersihkan rumah, mengurus taman dan mengantar jemput sekolah putra putri pamannya disamping tugas-tugas yang lainnya. Mas Didik mendapat banyak pelajaran dan kesempatan berharga selama ikut pamannya diantaranya skill untuk bisa membawa kendaraan atau sopir, dimana sebelumnya hanya kenal sabit dan cangkul.

Dengan dorongan, nasihat dan do’a kedua orang tuanya, Mas Didik terus berikhtiar dan berbuat sekuat tenaga untuk menjadi yang terbaik, minimal untuk dirinya sendiri. Pesan yang sangat berharga dan tidak akan pernah dilupakan adalah manaka alm Bapak Mas Didik punya harapan besar yaitu: “hanya ingin melihat Mas Didik ke kantor memakai dasi dan naik mobil”. Harapan dan cita-cita yang sederhana dari seorang petani namun punya makna yang sangat besar dan sesuatu hal yang tidak mudah diwujudkan oleh Mas Didik. Kesedihan mendalam pertama kali dalam hidup Mas Didik, manakala alm Bapaknya dipanggil menghadap Allah SWT pada hari Jum’at Legi tanggal 9 September 1994 sebelum harapan Beliau terwujud.

Berbekal keterbatasan dan semakin beratnya kondisi hidup yang Mas Didik hadapi karena adek perempuannya juga sudah mulai membutuhkan biaya karena masuk kuliah, maka sebagai pengganti alm Bapaknya yang harus mengambil tanggung jawab maka Mas Didik tidak hanya berjuang untuk segera selesai kuliah secara cepat namun juga harus membantu ibu untuk membiayai kuliah kakak dan adeknya. Walaupun mudah dalam semangat ternyata Mas Didik tidak kuasa dan tidak mampu untuk membantu meringankan beban ibu untuk membiayai kuliah kakak dan adek perempuannya.

Beberapa tahun setelah berpulangnya alm Bapaknya, Ibunda Mas Didik bertani sendiri untuk membiayai kulaih kakak dan adek perempuannya. Dengan terus berorganisasi, kuliah dan mengerjakan tugas-tugasnya selama ikut pamannya, Alhamdulillah dengan kerja keras, Mas Didik berhasil menyelesaikan mata kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti selama 3,5 tahun dengan IPK yang cukup membanggakan, masuk dalam 3 besar lulusan terbaik saat itu.

MENGINJAK DEWASA

Belajar hidup di Jakarta dimana eksistensi pertemanan sebagai manifestasi jaringan atau networking yang sangat esensial, dimulai dari aktivitas sebagai aktifis mahasiswa, Mas Didik terus belajar berorganisasi dan tidak pernah henti untuk mencari ilmu dan mencari teman. Berbekal Ketua Senat Mahasiswa, aktivitas Mas Didik di dunia pergerakan mahasiswa semakin luas dan bertambah. Beberapa kali terlibat dalam gerakan mahasiswa berupa gerakan moral memperjuangkan nasib rakyat kecil dimana Mas Didik berasal, Mas Didik tidak akan pernah berhenti untuk menyuarakan itu dan akan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi atau kemiskinan tidak bisa menjadi penghalang untuk maju dan berbuat yang terbaik untuk bangsa, rakyat dan kemaslahatan umat.

Setelah menyelesaikan tugas belajar sebagai mahasiswa, bekerja dan mencari nafkah adalah hal pertama yang harus Mas Didik lakukan agar bisa membantu beban berat yang dihadapi Ibundanya. Bermodal kebaikan pamannya, Mas Didik diterima sebagai pegawai di kantor beliau pada saat itu. Sambil bekerja, hobby untuk berorganisasi dan mencari teman terus menerus Mas Didik lakukan. Setelah belajar bekerja selama 4 tahun, dengan bermodal networking dan pertemanan yang Mas Didik jaga, akhirnya pada tahun 2001 Mas Didik beranikan diri untuk berwira usaha sendiri sambil membuka kantor Advokat yang hingga sekarang tetap Mas Didik jalankan yaitu DNA Group dan DNA Law Office.

Seiring bertambahnya networking, tanpa disadari kualitas hidup semakin menuju arah yang lebih baik yang akhirnya selain Mas Didik berhasil mewujudkan impian dan cita-cita serta harapan alm Bapaknya yaitu ke kantor memakai dasi dan bisa membeli mobil, Mas Didik juga bisa memboyong ibunda tercinta ke Jakarta.

Sejak saat itulah Mas Didik memberanikan diri untuk memikirkan hidup ke depan. Dengan mempersunting istri tercinta pada tanggal 15 Pebruari 2001, Mas Didik melengkapi kesempurnaan masa kedewasaannya.

Pada tahun 2001 itu pula Mas Didik memberanikan diri untuk membuat lompatan besar dalam rangka mewujudkan cita-cita dan idealism besar putra petani, putra rakyat kecil dengan untuk berkarier dalam bidang politik. Mas Didik sangat meyakini bahwa demokrasi yang diimplementasikan dalam politik adalah mempunyai tujuan besar yaitu kesejahteraan rakyat. Harapan besar Mas Didik pada saat mengambil keputusan untuk berkarier di politik salah satunya adalah ingin membuktikan bahwa cita-cita besar, harapan besar, tujuan besar tidak hanya menjadi hak “orang besar”. Berangkat dari kemiskinan dan keterbatasan akses ekonomi, Mas Didik meyakini bahwa dengan kerja keras, keberhasilan, kesuksesan dan karya besar untuk bangsa bisa diwujudkan oleh “orang kecil yang berjiwa besar”.

Berangkat dari keanggotaan partai besutan Pak Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2002 Mas Didik mulai bergabung dengan Partai Demokrat. Sambil mendidik 3 putra dan putri tercinta, Mas Didik terus membangun karier baik di bisnis maupun politik. Partisipasi politik di Partai Demokrat semakin meningkat manakala berkesempatan ikut serta dalam tim pemenangan Partai Demokrat pada Pemilu DPR RI 2004 dan tim pemenangan SBY-JK pada Pemilu Presiden 2004.

Setelah Kongres I Partai Demokrat yang memenangkan Pak Hadi Utomo sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, maka Mas Didik berkesempatan menjadi pengurus DPP Partai Demokrat dan mengajak pamannya bergabung dalam kepengurusan. Sejak saat itulah belajar politik semakin intens. Berbekal sebagai pekerja partai, Alhamdulillah Mas Didik mendapat kepercayaan dari partai untuk merunning beberapa kegiatan besar dan posisi strategis dalam pengelolaan partai diantaranya beberapa kali sebagai ketua panitia event nasional Partai Demokrat.

Bahkan posisi strategis sebagai saksi nasional/KPU dalam Pemilu Legislatif 2009 dan Saksi nasional/KPU pasangan SBY-BOEDIONO dalam Pemilu Presiden Indonesia 2009 dipercayakan amanahnya kepada Mas Didik. Karier dan pengabdian politiknya semakin total manakala pada tahun 2010 Mas Didik dipercaya untuk memegang amanah besar yaitu sebagai Ketua Panitia Kongres II Partai Demokrat 2010 di Kota Bandung, yang hingga sekarang Mas Didik dipercaya mengemban sebagai salah satu Ketua DPP Partai Demokrat dalam kabinet DPP Partai Demokrat masa bakti 2010-2015.

Selain berkarier politik di Partai Demokrat, demi menjaga kelangsungan silaturahim dan membangun networking yang lebih luas lagi demi masa depan bangsa dan Negara tercinta Indonesia, Mas Didik juga membangun pertemanan dalam organisasi diantaranya sebagai:

  1. Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna
  2. Ketua DPP Partai Demokrat, Departemen Penegakan Hukum, Perundang-undangan dan HAM;
  3. Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR RI
  4. Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni Universitas Trisakti;
  5. Sekretaris Jenderal Gerakan Aman Adil Sejahtera Untuk Indonesia (GARANSI);
  6. Ketua Umum LDP Kumham (Laskar Demokrat Penegak Hukum dan HAM)
  7. Pengurus Pusat PSHT (Persaudaraan Setia Hati Terate)
  8. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Rugbi Union Indonesia;

Berangkat dari semangat, tekad, kejujuran dan kerja keras serta do’a yang tidak pernah henti, Mas Didik ingin membuktikan bahwa kemiskinan harta tidak menghalangi seseorang untuk keluar dari kemiskinan bahkan menuai sebuah keberhasilan manakala seseorang itu tetap konsisten memperjuangkan keyakinan. Berbekal pengalaman hidup yang Mas Didik dan keluarganya rasakan sebagai keluarga miskin maka tidak berlebihan apabila Mas Didik ingin memperjuangkan wong cilik, masyarakat kecil, masyarakat yang masih dibawah garis kemiskinan melalui kelembagaan politik, karena kelembagaan politiklah yang menjadi alat perjuangan yang efektif dan konkrit dalam mendesign pengelolaan bangsa dan Negara. Dan sesuatu hal yang sangat nyata dalam modal perjuangannya untuk rakyat kecil, ketika banyak elit yang mengeksploitasi isu kemiskinan untuk mewujudkan kepentingan pribadinya padahal mereka tidak pernah bisa memahami kemiskinan karena tidak pernah mengalami, maka Mas Didik yang memulai perjuangan hidupnya dari keluarga wong cilik, keluarga petani di lereng gunung lawu bertekad untuk terus konsisten berjuang mengentaskan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Riwayat Pendidikan[2]Sunting

  • Tahun 2016, Sedang menempuh Program Diktoral Fakultas Hukum Universitas Trisakti;
  • Tahun 2012-2015, Magister Fakultas Hukum Universitas Trisakti;
  • Tahun 1997-2000, Program Spesialis Notariat dan Pertanahan Fakultas Hukum Universitas Indonesia;
  • Tahun 1992-1996, Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta;
  • Tahun 1988-1991, SMA Negeri 2 Magetan;
  • Tahun 1986-1988, SMP Negeri Poncol;
  • Tahun 1980-1986, SD Negeri Janggan I;

Pengalaman Organisasi[3]Sunting

  • Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta 2004-2005
  • Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Senat Universitas Trisakti 2004-2005
  • Ketua Bidang OKK GARANSI 2004-2009
  • Sekretaris Bidang Hublu DPP Partai Demokrat 2005-2010
  • Sekjend GARANSI 2009-2014
  • Ketua Panitia Kongres II Partai Demokrat 2010
  • Sekjend Ikatan Alumni Universitas Trisakti 2010-2014
  • Wakil Ketua Umum II Pengurus Karang Taruna Nasional 2010-2015
  • Ketua DPP Partai Demokrat 2010-2015
  • Ketua Umum LDP Kumham 2014-2019
  • Ketua DPP Partai Demokrat 2015-2020
  • Anggota DPR RI/Sekretaris Fraksi Demokrat DPR RI 2014 – sekarang
  • Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna 2015-2020
  • Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Rugbi Union Indonesia 2017-2021

Kata Mutiara Mas DidikSunting

"Hukum bukan alat penekan dan pembungkam kebebasan publik. Hukum bukan alat kekuasaan untuk memberangus pikiran kritis. Hukum adalah Panglima dalam menegakkan Keadilan". - Didik Mukrianto

"Keadilan bukan sesuatu yang mudah diwujudkan, tapi ketika hukum dan aparatnya tegak pada standing yang benar dan tidak berpihak maka keadilan akan lahir dengan sendirinya". - Didik Mukrianto

"Keadilan akan pudar apabila Hukum tunduk kepada yang bayar". - Didik Mukrianto

"Hukum yang dipertukarkan, hukum yang diperjualbelikan menjadikan kebenaran dan keadilan semakin rentan". - Didik Mukrianto

"Ketika Kekuasan mengendalikan segalanya & memonopoli kebenaran, saat itulah kehancuran menghampiri kita" - Didik Mukrianto

"Manakala kebebasan sudah terbungkam. Manakala dendam dan angkara murka sudah meraja lela. Manakala keadilan hanya menjadi simbol retorika. Saat itulah bangsa menghadapi bencana. Tidak tindakan yang paling tepat, Lawan kesewenang-wenangan dan kedzoliman". - Didik Mukrianto

"Ketika Kata hati, perkataan dan perbuatan tidak lagi bisa disinkronkan, saat itulah hakekat diri seorang manusia luluh lantak dan hilang selama-lamanya" - Didik Mukrianto

Media Mas DidikSunting

ReferensiSunting

  1. ^ "Dari Kemiskinan Berjuang Untuk Rakyat Miskin, Dari Akar Rumput Berjuang Untuk Akar Rumput, Dari Wong Cilik Berjuang Untuk Rakyat Kecil". Didik Mukrianto, SH, MH (dalam bahasa Inggris). 2013-10-18. Diakses tanggal 2017-09-20. 
  2. ^ BiOne. "Didik Mukrianto". OneBio (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-20. 
  3. ^ "Didik Mukrianto, SH, MH". Didik Mukrianto, SH, MH (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-09-20.