Buka menu utama

Cicadas, Cibeunying Kidul, Bandung

kelurahan di Kota Bandung

Cicadas adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia.

Cicadas
Kelurahan
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KotaBandung
KecamatanCibeunying Kidul
Luas-
Jumlah penduduk-
Kepadatan-


SejarahSunting

 
Sampai saat ini para peneliti atau pemerhati tokoh Sunda masih kesulitan untuk menelusuri karya-karya Haji Hasan Mustapa. Menurut tim penyusun buku Biografi dan karya Pujangga Haji Hasan Mustapa, Pada tahun 1960 untuk memenuhi permintaan Prof Dr. Husein Djajadiningrat – yang menjabat pimpinan di Museum Pusat Jakarta, M. Wangsaatmadja mengetik ulang karya-karya Haji Hasan Mustapa. Hasil ketik ulangnya itu dibukukan dalam 18 jilid naskah yang semuanya diberi judul Aji Wiwitan dengan subjudul yang berlainan untuk setiap jilid. Usaha Wangsaatmadja itu hampir menjadi sia-sia ketika dua rangkap hasil ketik ulangnya hilang dalam perjalanan pengiriman ke museum. Untungnya masih ada 17 naskah, alas dari ketikan ulang yang masih bisa ditelusuri oleh tim penulis. Dari 17 naskah tersebut, ada 10 yang sempat dicetak menjadi buku. Salah satunya buku “Bale Bandoeng” yang diterbitkan tahun 1924 oleh Toko Boekoe M.I. Prawira-Winata Bandoeng ini. Naskah lainnya yang tersisa berupa salinan atau fotocopy bahkan sebagian besar hanya bisa ditemukan di Leiden sana.[1]

Pasca kemerdekaan wilayah ini merupakan salah satu pusat urban dan sentra ekonomi selain Alun-alun kota ataupun Kosambi yang terkenal dengan pusat kebudayaan seperti Rumentang Siang di Ibu kota Tatar Pasundan, Bandung.

Wilayah Gang Son Pung, Asep Berlian, Cikaso Beusi, Leumah Neundeut, Sukasirna, Sekepondok, Sekepanjang, Gang Masjid, Haji Tamim, Gang Samsi, merupakan nama-nama wilayah popular di sekitar Cicadas.

Penanda kota dilengkapi pusat hiburan seperti bioskop Taman Hiburan dan Nirwana (setidaknya tidak kurang dari tujuh buah bioskop pernah berjaya di ruas Cicadas, sebelum meredup dan akhirnya bangkrut mengenapi dua buah toko kaset di ruas ini yang juga gulung tikar). Penanda urban lainnya yaitu Kandaga, tempat ini sebelumnya pusat bilyar yang kemudian berubah menjadi pusat elektronik yang menampung aktivitas ekonomi bagi masyarakat Bandung yang menjorok ke timur.

Nama besar seperti musisi Deddy Stanzah, tokoh politik Mei Kartawinata, atau seniman dan budayawan Jeihan Sukmantoro dan Remy Silado akrab dengan wilayah yang terkenal dengan julukan Negara Beling atau Kawasan Ninja. Begitu pula dengan tokoh seperti Wangsaatmadja yang merupakan salah satu salah satu penulis yang mengalihkan karya-karya sastrawan besar Sunda Penghulu Besar Haji Hasan Mustapa ke dalam karya seperti buku Bale Bandoeng. Nama Hasan Mustapa pun kemudian dijadikan nama jalan yang berdampingan dengan Cicadas.

Lembaga edukasi berjejer di wilayah tersebut, seperti Institut Teknologi Nasional, Universitas Widyatama, Universitas Sangga Buana, Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung, Universitas Winaya Mukti, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (Textiel Inrichting Bandoeng), Sekolah Yayasan Atikan Sunda, Sekolah Menengah Pertama Negeri 16 Bandung, Sekolah Dasar Negeri Cicadas, Sekolah Dasar Negeri Sintreum/Gadis, Sekolah Dasar Negeri Cimuncang, dan lainnya.

Di wilayah Cicadas terdapat fasilitas yang dapat diakses publik seperti Rumah Sakit Santo Yusuf, Pasar lama Cicadas, Bandung Trade Mall yang bergabung dengan pasar lama, Lucky Square Mall, dan lainnya. Kantor representatif pemerintah seperti Lembaga Pemasyarakatan Kebon Waru atau Kantor Pos juga terdapat di wilayah ini. Cicadas berdekatan dengan gudang mesiu yang terletak di Bojong Koneng, Taman Makam Pahlawan Cikutra, Pusat Persenjataan Infanteri.

Dalam perkembangannya, sentra ekonomi di Cicadas berkembang, mulanya mayoritas mengantungkan tingkat pendapatan melalui kegiatan ekonomi di pasar konvensional Cicadas yang berdempet dengan pertokoan modern. Lambat laun, diversifikasi usaha seperti sewa-kontrak hunian atau sentra industri mikro konveksi menjamur di pelosok Cicadas dan Cibeunying Kidul.

Perubahan signifikan di wilayah ini adalah pembangunan apartemen dan hotel untuk kelas menengah-atas yang dikelola dan dikembangkan pihak swasta. Sementara fasilitas publik seperti perpustakaan umum, taman bermain anak dan lansia, teater kesenian masyarakat guna menunjang pembangunan sumber daya manusia belum tersedia, pun taman kota baru menjadi prioritas pembangunan pemerintah kota Bandung akhir-akhir ini.

Pada usia kemerdekaan Indonesia ke-70, meski letaknya hanya beberapa menit dari kantor Pemerintahan Provinsi Jawa Barat atau kantor anggota dewan wilayah ini masih dihadapkan dengan daerah arteri yang kumuh, sanitasi, tata kelola sampah, aliran sungai yang kotor dengan limbah rumah tangga, pedagang kaki lima berdesakan yang bertahan selama puluhan tahun tepat di ruang pedestrian jalan protokol Ahmad Yani, Cicadas.

  1. ^ Nanda, Santi Jehan (10 Desember 2013). "Bale Bandoeng". Diakses tanggal 29 September 2015.