Buka menu utama

Cabang Atas

Gentry Tionghoa di Hindia Belanda
Kebon Dalem, kediaman Be Biauw Tjoan, Majoor der Chinezen dari Semarang.

Cabang Atas (Ejaan Van Ophuijsen:Tjabang Atas) adalah golongan baba bangsawan, yang merupakan 'gentry', kemandarinan atau priyayi Tionghoa di Hindia Belanda.[1] Sebagai kelompok sosial elit birokrat dan tuan tanah, mereka memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan politik, ekonomi dan sosial di Indonesia pada era pra-Revolusi, khususnya pada masyarakat Tionghoa setempat.

Daftar isi

Asal usul istilahSunting

 
Potret dari Yan dan Coen, cucu dari Khouw Kim An, Majoor der Chinezen dari Batavia (oleh Charles Sayers, sekitar tahun 1937).

Frase 'Cabang Atas' pertama kali digunakan oleh sejarawan Indonesia zaman kolonial Liem Thian Joe dalam bukunya Riwajat Semarang (diterbitkan pada tahun 1933). Istilah ini mengacu pada baba bangsawan yang adalah sekelompok kecil keluarga-keluarga Peranakan Tionghoa yang mendominasi birokrasi politik Tionghoa di Hindia Belanda (lihat 'Kapitan Cina'), serta memiliki tanah-tanah partikelir atau particuliere landerijen dan pacht atau monopoli pemerintahan Hindia Belanda.

SejarahSunting

Sebagai sebuah kelompok sosial, keluarga-keluarga Cabang Atas yang tertua dapat menelusuri akar mereka di Indonesia ke beberapa petinggi Tionghoa yang bekerja sama dengan VOC. Banyak di antaranya leluhur golongan Cabang Atas — seperti Souw Beng Kong, Kapitein der Chinezen perdana dari Batavia (1580–1644); atau anak-anak Han Siong Kong (1673–1743), pendiri dari keluarga Han dari Lasem — memainkan peranan penting dalam mengkonsolidasikan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Beberapa keluarga Cabang Atas berasal dari trah gentry atau mandarin kuno di Tiongkok, tetapi sebagian besar adalah keturunan para pedagang sukses.

 
Gaya hidup Eropa kalangan Cabang Atas jelas di foto Madame Wellington Koo, ahli waris dan putri Oei Tiong Ham, Majoor der Chinezen, dengan bayinya

Dasar kekuatan politik Cabang Atas adalah kemampuan mereka untuk mengendalikan secara hampir turun-temurun jabatan-jabatan birokrasi pemerintahan —Tionghoa di Hindia Belanda, yaitu Majoor, Kapitein dan Luitenant der Chinezen. Hal tersebut memberikan mereka yurisdiksi politik dan hukum atas masyarakat Tionghoa setempat.

Selain itu, kebanyakan keluarga Cabang Atas memiliki particuliere landrijen, atau tanah-tanah partikelir, yang memberikan mereka kekuasaan politik, ekonomi dan hak-hak ketuanan atas para petani yang tinggal di lahan-lahan tersebut. Sejarawan Amerika James R. Rush juga menekankan bahwa kelas Cabang Atas mendominasi sistem pacht, yaitu monopoli-monopoli atau bandar pemerintahan, seperti madat, tabak, pajak konde, wayang dan lain-lain.

Secara etnis dan budaya, keluarga-keluarga Cabang Atas hampir semuanya tergolong 'Peranakan', tetapi ada banyak juga taipan-taipan 'totok' dan 'kaya baru' yang diambil sebagai anak mantu keluarga-keluarga Cabang Atas. Sejarawan Indonesia Ong Hok Ham memberikan contoh yang paling menonjol dari fenomena ini, yaitu keluarga totok Oei Tjie Sien, yang beristrikan seorang Peranakan kelas menengah, dan putra mereka Oei Tiong Ham, Majoor der Chinezen, raja gula Hindia Belanda, yang menjadi Cabang Atas lewat perkawinannya kepada istri-istri utamanya yang hampir semuanya berasal dari keluarga-keluarga Cabang Atas.

Untuk mempertahankan kekuasaan politik dan ekonomi, banyak keluarga Cabang Atas yang melakukan 'perkawinan strategis' di dalam kelompok mereka sendiri. Fenomena ini menjadi topik riset pengamat sejarah dan budayawan Tionghoa-Indonesia berkebangsaan Belanda, Steve Haryono.[2]

Karena hubungan mereka yang erat dengan pemerintah Belanda, banyak keluarga-keluarga Cabang Atas yang fasih berbahasa Belanda dan mengadopsi norma-norma kehidupan Barat. Gaya hidup Eropa golongan Cabang Atas ini bertolak belakang dengan gaya hidup kebanyakan 'rakyat' mereka yang biasanya Peranakan atau totok dengan status sosio-ekomomi yang rendah. Saat Revolusi Nasional Indonesia, posisi istimewa and kedekatan Cabang Atas dengan pemerintah Belanda diserang. Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, banyak keluarga-keluarga Cabang Atas beremigrasi atau hijrah dari tanah air, dan mengakhiri kekuasaan politik, ekonomi dan sosial mereka di Indonesia.

Lihat jugaSunting

  • Kapitan Cina: lembaga politik-birokrasi yang didominasi oleh keluarga-keluarga Cabang Atas di Hindia Belanda.

ReferensiSunting

  1. ^ Liem, Thian Joe (2004). Riwayat Semarang. Jakarta: Hasta Wahana. ISBN 9789799695215. Diakses tanggal 23 February 2018. 
  2. ^ Haryono, Steve (2004). Perkawinan Strategis: Hubungan Keluarga Antara Opsir-opsir Tionghoa Dan 'Cabang Atas' Di Jawa Pada Abad Ke-19 Dan 20. Rotterdam: Steve Haryono. ISBN 9789799695215. Diakses tanggal 23 February 2018.