Buka menu utama

Oei Tiong Ham

Konglomerat Pertama di Asia Tenggara

Oei Tiong Ham, Majoor-titulair der Chinezen (bahasa Tionghoa 黄仲涵, Huáng Zhònghán; (lahir di Semarang, 19 November 1866 – meninggal di Singapura, 6 Juni 1924 pada umur 57 tahun) adalah pendiri perusahaan multinasional pertama di Asia Tenggara dan orang terkaya pada zamannya di kawasan itu. Selain itu, ia adalah pemimpin masyarakat Tionghoa di Semarang dan belakangan juga dikenal sebagai Raja Gula Asia. pada saat sekarang grup bisnis ini berpusat di negeri Belanda dan dikelolah oleh anak bungsungnya yang bernama Oei Tjong Tjay bertempat tinggal di Switzerland yang berasal dari istri yang ke 7 bersaudarakan 13 putera dan 13 puteri dari 8 istri bapaknya.[1]

Daftar isi

KehidupanSunting

Oei Tiong Ham dilahirkan pada 19 November 1866 di Semarang, Jawa Tengah sebagai anak kedua dari delapan orang anak di dalam keluarganya. Ayahnya, Oei Tjie Sien (黄志信, Huáng Zhìxìn) adalah seorang pengusaha totok yang berasal dari daerah Tong An di Fujian, Tiongkok; sedangkan ibunya adalah seorang Peranakan kelahiran Jawa dari keluarga menengah. Walaupun mapan, keluarga Oei bukanlah bagian dari kalangan Cabang Atas Peranakan, yang adalah elite tradisionil Tionghoa di Hindia Belanda.

Sebagai seorang Peranakan, ia fasih berbahasa Melayu, namun juga belajar di sebuah sekolah swasta Tionghoa.

Ayahanda Oei Tiong Ham berhasil meletakkan dasar bagi imperium perdagangan keluarga. Di Semarang ia membuka usaha dupa dan gambir. Pada 1863 ia mendirikan Kongsi Kian-gwan (建源公司, Jianyuan Gongsi) yang kemudian oleh Oei Tiong Ham menjadi Oei Tiong Ham Concern.

KeberhasilanSunting

Oei Tiong Ham terutama adalah yang pertama mengekspor hasil bumi dan perdagangan opium. Pada peralihan abad memasuki abad ke-20, ia telah menjadi orang terkaya di Asia Tenggara. Usahanya mempunyai cabang-cabang di Bangkok, Kolkatta, Singapura, Hong Kong, Shanghai, London dan New York. Perusahaannya juga mempunyai properti dan sejumlah pabrik di Jawa, sebuah bank, broker di London dan armada kapal yang terdaftar di Singapura.

Keberhasilan Oei disebabkan oleh hubungannya yang baik dengan para penguasa kolonial Belanda. Selain itu ia pun adalah orang Tionghoa perantauan pertama yang mengenakan setelan pakaian barat.

Ia meninggal dunia secara mendadak pada 6 Juni 1924 karena serangan jantung, dan ia meninggalkan harta yang jumlahnya sekitar 200 juta Gulden Belanda.

Pada tahun 1961, pemerintah Indonesia menyita dan mengambil alih seluruh aset-aset Oei Tiong Ham Concern di Indonesia dan pada tahun 1964 dibentuk BUMN PT Rajawali Nusantara Indonesia untuk mengelola aset-aset tersebut

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

PustakaSunting