Buka menu utama
Buku ibadat harian van Reynegom
Halaman pertama buku ibadat harian Katharina dari Kleef, ca. 1440, memuat gambar Katharina berlutut di hadapan Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus dikelilingi lambang-lambang kebesaran wangsanya. Halaman di sebelahnya memuat bagian awal ofisi singkat Santa Perawan Maria dalam pelaksanaan Matin (ibadat pagi), dihiasi ilustrasi Kabar Gembira kepada Yoakim, gambar pertama dari rangkaian panjang ilustrasi bertema Riwayat Hidup Perawan Maria.[1]
Buku ibadat harian Prancis dari abad ke-15, koleksi Perkumpulan Penggemar Barang Antik London dengan nomor kode katalog MS13, terbuka pada halaman yang memuat ilustrasi Penyembahan Orang Majus, diterima pada tahun 1769 sebagai barang hibah dari Charles Lyttleton, Uskup Carlisle, ketua perkumpulan ini dari tahun 1765 sampai dengan tahun 1768.

Buku ibadat harian (bahasa Latin: horae) adalah buku panduan sembahyang Kristen yang populer pada Abad Pertengahan. Naskah-naskah buku ibadat harian adalah jenis naskah beriluminasi yang paling banyak sintas dari Abad Pertengahan. Sebagaimana semua naskah lain, tiap-tiap naskah buku ibadat harian memiliki keunikan tersendiri, tetapi pada umumnya memuat teks-teks, doa-doa serta ayat-ayat mazmur yang sama, diperindah dengan hiasan-hiasan yang selaras dengan isinya, dan dibuat khusus untuk keperluan devosi, yakni kegiatan sembahyang di luar ibadat berjemaah yang resmi dalam agama Kristen. Banyak buku ibadat harian yang minim iluminasi atau hiasan. Adakalanya cuma huruf pertama pada awal rangkaian ayat mazmur dan doa-doa lain yang diperbesar dan diperindah, tetapi buku-buku ibadat harian yang dibuat atas pesanan para hartawan adakalanya diperindah dengan hiasan yang berlimpah ruah serta halaman-halaman yang khusus memuat miniatur. Lazimnya isi buku ibadat harian ditulis dalam bahasa Latin, tetapi ada banyak pula buku ibadat harian yang seluruh atau sebagian isinya ditulis dalam bahasa-bahasa rakyat Eropa, teristimewa bahasa Belanda. Buku-buku doa harian yang ditulis dalam bahasa Inggris disebut primer. Berlaksa-laksa buku ibadat harian masih lestari sampai sekarang dalam koleksi milik perpustakaan maupun perseorangan di seluruh dunia.

Lazimnya buku ibadat harian adalah bentuk ringkas dari brevir (bahasa Latin: breviarium), yakni buku panduan salat tujuh waktu atau pelaksanaan sembahyang berjemaah sehari-hari di biara-biara. Buku ibadat harian disusun untuk digunakan oleh umat awam yang ingin menerapkan unsur-unsur zuhud ala biara dalam kegiatan sembahyang pribadi sehari-hari. Pelaksanaan ibadat harian biasanya meliputi pendarasan sejumlah rangkaian ayat mazmur dan doa-doa. Sebagian buku ibadat harian juga memuat penanggalan hari-hari besar Gereja, bacaan-bacaan dari keempat Injil sahih, bacaan-bacaan Alkitab untuk perayaan Misa pada hari-hari raya, ofisi singkat Santa Perawan Maria, lima belas mazmur ziarah, tujuh mazmur pertobatan, litani orang kudus, ibadat arwah, dan doa salib.[2]

Sebagian besar buku ibadat harian buatan abad ke-15 memuat doa-doa dasar ini. Permohonan-permohonan kepada Bunda Maria, yakni obsecro te (aku mohon kepadamu) dan o intemerata (wahai Yang Tak Bercela), devosi-devosi yang dilaksanakan ketika perayaan Misa sedang berlangsung, dan renungan-renungan Kisah Sengsara Kristus, sering pula ditambahkan sesuai pesanan.

SejarahSunting

 
Hiasan sesedikit ini pun masih lebih kaya dibanding hiasan-hiasan pada kebanyakan buku semasa, kendati tidak semeriah hiasan buku-buku mewah, yakni buku-buku yang paling sering direproduksi

Cikal bakal buku ibadat harian adalah buku mazmur, yang wajib didaraskan oleh para rahib dan rubiah. Pada abad ke-12, buku mazmur telah berkembang menjadi brevir, yang memuat ayat-ayat mazmur, doa-doa, madah-madah, antifon-antifon, dan bacaan-bacaan Alkitab sesuai masa liturgi untuk siklus ibadat sepekan.[3] Brevir kemudian diringkas lagi menjadi buku ibadat harian.[4]

Banyak buku ibadat harian dibuat bagi kaum perempuan. Sejumlah bukti menunjukkan bahwa buku ibadat harian adakalanya dijadikan salah satu barang seserahan dari mempelai laki-laki kepada mempelai perempuan.[5] Buku-buku ini seringkali menjadi pusaka keluarga yang diwariskan turun-temurun, sebagaimana yang terbaca dalam surat-surat wasiat dari masa lampau.[5]

Harga buku-buku ibadat harian yang sarat hiasan sangatlah mahal, tetapi buku-buku ibadat harian ukuran kecil dengan sedikit atau tanpa iluminasi sama sekali juga tersedia dengan harga yang cukup terjangkau, dan semakin terjangkau di mana-mana pada abad ke-15. Buku ibadat harian buatan Inggris yang tertua agaknya ditulis sekitar tahun 1240 oleh seorang perempuan awam yang tinggal di kota Oxford atau tak jauh dari Oxford. Ukuran buku ini lebih kecil dibanding buku ibadat harian modern bersampul lunak, tetapi diiluminasi dengan inisial-inisial, kendati tanpa miniatur-miniatur sehalaman penuh. Pada abad ke-15, para pembantu rumah tangga sekalipun mampu membeli buku ibadat harian. Pada tahun 1500, seorang perempuan miskin diperkarakan di hadapan mahkamah karena didakwa mencuri buku ibadat harian milik seorang pembantu rumah tangga.[6]

Buku-buku ibadat harian jarang sekali memuat doa-doa yang disusun khusus bagi pemiliknya, tetapi seringkali teks-teks yang termuat di dalamnya disesuaikan dengan selera maupun jenis kelamin si pemilik, termasuk pencantuman nama mereka dalam doa-doa. Beberapa buku memuat gambar diri pemiliknya, beberapa yang lain memuat lambang kebesaran si pemilik. Hal-hal semacam ini, serta pilihan orang-orang kudus yang diperingati dalam penanggalan and suffrages, merupakan jejak-jejak utama mengenai jati diri pemilik pertamanya. Eamon Duffy menjelaskan betapa buku-buku ini mencerminkan pribadi pemesannya. Ia berpendapat bahwa "ciri khas masing-masing buku seringkali ditunjukkan oleh penyisipan doa-doa yang disusun atau disadur dan disesuaikan bagi para pemiliknya." Lebih lanjut lagi, ia mengemukakan bahwa "sampai setengah dari naskah buku ibadat harian yang sintas memuat anotasi-anotasi, marginalia, maupun tambahan-tambahan sejenisnya. Tambahan-tambahan semacam ini dapat saja tidak lebih dari penyisipan sejumlah santo-santa pelindung daerah tertentu atau santo-santa pelindung pribadi dalam penanggalan yang sudah baku, tetapi seringkali tambahan-tambahan ini meliputi materi-materi devosi dimasukkan oleh pemiliknya." Para pemilik dapat saja menambahkan catatan pada tanggal-tanggal tertentu yang penting bagi mereka, catatan kejadian-kejadian pada bulan-bulan tertentu yang ingin mereka ingat, dan bahkan gambar-gambar yang terdapat dalam buku-buku ini dapat saja dibuat lebih khusus agar sesuai dengan keinginan pemiliknya - misalnya orang-orang kudus dan perayaan-perayaan khas daerah tertentu.[7] Selambat-lambatnya pada abad ke-15, sanggar-sanggar di Belanda dan Paris menghasilkan buku-buku ibadat harian untuk dijadikan persediaan barang jualan atau untuk didistribusikan, alih-alih menunggu pesanan dari orang per orang. Buku-buku ibadat harian semacam ini kadang-kadang memuat halaman-halaman yang sengaja dibiarkan kosong untuk nantinya ditambahi dengan unsur-unsur yang berkaitan dengan pribadi pemiliknya, misalnya hari-hari peringatan tertentu atau lambang kebesaran pribadi.

 
Buku Ibadat Harian Hitam, Morgan MS 493, Pentakosta, Folio 18v, ca. 1475-1480. Perpustakaan dan Museum Morgan, New York

Tiga macam langgam dan tatanan untuk buku-buku ibadat harian tradisional dibakukan sekitar pertengahan abad ke-13. Langgam baru dapat dijumpai dalam buku-buku ibadat harian yang dihasilkan oleh iluminator asal Oxford, William de Brailes, yang membuka sebuah sanggar komersial (ia tergolong rohaniwan tahbisan minor). Buku-buku buatannya memuat berbagai aspek dari brevir Gereja dan aspek-aspek liturgi lainnya untuk digunakan oleh umat awam. "Ia menyertakan sebuah penanggalan tunak, bacaan-bacaan Injil, doa-doa kepada Bunda Maria, doa Jalan Salib, doa-doa kepada Roh Kudus, mazmur-mazmur pertobatan, litani-litani, doa bagi orang-orang yang telah meninggal dunia, dan doa-doa kepada orang-orang kudus. Buku ini disusun dengan maksud membantu pemiliknya dalam menata dan menyelaraskan amal ibadah sehari-hari dengan delapan jam kanonis, mulai dari Matin sampai dengan Kompletorium, sebagaimana yang diperbuat oleh semua anggota jemaat yang taat beribadah. Teks ibadat harian dijejali dengan rubrikasi, sepuhan emas, miniatur-miniatur, dan iluminasi-iluminasi yang indah demi menggugah orang untuk merenungkan misteri-misteri iman, pengorbanan Kristus bagi umat manusia, kengerian neraka, dan terutama untuk mengedepankan devosi kepada Bunda Maria yang sangat populer pada abad ke-13."[8] Tatanan semacam ini bertahan selama bertahun-tahun karena banyak orang dari kalangan ningrat yang memesan pembuatan buku ibadat harian untuk diri sendiri.

Pada penghujung abad ke-15, kemunculan mesin cetak membuat harga buku menjadi lebih terjangkau, sehingga banyak warga kelas menengah yang mampu membeli buku ibadat harian, sementara buku-buku ibadat harian dalam bentuk naskah hanya dibuat atas pesanan orang-orang yang benar-benar kaya raya. kitab salatus sawa'i (1514), buku pertama dalam aksara dan bahasa Arab yang dicetak dengan huruf lepas, adalah buku ibadat harian yang dicetak bagi umat Kristen penutur bahasa Arab. Agaknya buku ini dicetak atas pesanan Paus Yulius II.[9]

HiasanSunting

 
Gambar kegiatan bulan Mei dalam penanggalan, miniatur berukuran satu halaman penuh karya Simon Bening, awal abad ke-16

Karena banyak yang dihiasi iluminasi, buku-buku ini menjadi rekaman gambaran peri kehidupan masyarakat abad ke-15 dan ke-16 maupun khazanah ikonografi Kristen Abad Pertengahan. Sejumlah buku ibadat harian juga diperindah dengan sampul bertatah ratna mutu manikam, lukisan-lukisan potret, dan gambar-gambar lambang kebesaran. Beberapa di antaranya dijilid menjadi buku sabuk (buku bersampul kulit memanjang dan berujung simpul besar yang dapat disangkutkan pada sabuk atau ikat pinggang) agar mudah dibawa ke mana-mana, meskipun hanya segelintir saja jilidan semacam ini maupun jilidan-jilidan khas Abad Pertengahan lainnya yang masih bertahan utuh sampai sekarang. Buku-buku mewah, semisal Buku Ibadat Harian Talbot milik John Talbot, Earl Shrewsbury pertama, dapat saja memuat potret diri pemiliknya. Buku Ibadat Harian Talbot memuat potret istri John Talbot, yang digambarkan sedang bertelut menghormati Bunda Maria dan Kanak-Kanak Yesus dalam lukisan potret donor. Dalam buku-buku mahal, iluminasi-iluminasi berangkai menampilkan Riwayat Sang Perawan atau Kisah Sengsara Kristus dalam delapan gambar adegan yang menghiasi delapan ofisi singkat Santa Perawan Maria, sementara gambar Kegiatan Bulanan dan lambang-lambang rasi bintang ditampilkan dalam penanggalan. Gambar-gambar adegan yang menghiasi penanggalan meliputi gambar-gambar yang paling terkenal dari buku-buku ibadat harian, dan berperan penting dalam permulaan sejarah seni lukis pemandangan alam.

Semenjak abad ke-14, gambar-gambar bingkai hias di sekeliling pinggiran halaman, sekurang-kurangnya pada halaman-halaman penting, lazim dijumpai dalam buku-buku yang diperindah dengan hiasan berlimpah, termasuk buku-buku ibadat harian. Pada awal abad ke-15, gambar-gambar bingkai hias ini masih meniru bentuk sulur-suluran, dan dilukis pada latar belakang putih polos, tetapi pada paruh kedua abad ke-15, lukisan bingkai hias pada latar belakang berwarna atau latar belakang berpola hias, dan mencakup gambar berbagai macam benda, sudah menghiasi buku-buku mewah.

Buku-buku ibadat harian bekas seringkali dimodifikasi sesuai keinginan pemilik barunya. Beberapa di antara pemilik-pemilik baru ini adalah raja-raja. Setelah mengalahkan Raja Richard III, Henry VII memberikan buku ibadat harian sang raja kepada ibunya. Buku ini selanjutnya dimodifikasi ibunya, agar namanya tertera di dalamnya. Lambang kebesaran biasanya dihapus atau ditimpa lukisan lambang kebesaran pemilik baru. Banyak tambahan dan catatan ditambahkan sendiri, tetapi beberapa pemilik baru dari buku-buku ibadat hairan bekas ini juga menggunakan jasa tenaga ahli untuk memperbanyak ilustrasi maupun teks. Sir Thomas Lewkenor dari Trotton mengupah seorang ilustrator untuk menambahkan sejumlah detail ke dalam naskah yang kini dikenal dengan sebutan Buku Ibadat Harian Lewkenor. Halaman-halaman lepas yang tersisip dalam beberapa buku ibadat harian meliputi catatan pembukuan rumah tangga atau catatan tanggal-tanggal kelahiran dan kematian anggota keluarga, sama seperti yang terdapat dalam Alkitab milik keluarga pada masa-masa sesudahnya. Sejumlah buku ibadat harian juga memuat koleksi tanda tangan para tamu agung yang pernah berkunjung ke rumah pemiliknya. Buku-buku ibadat harian seringkali merupakan satu-satunya buku yang dimiliki sebuah keluarga, sehingga lazim digunakan untuk mengajarkan kemampuan membaca kepada anak-anak, dan oleh karena itu adakalanya dilengkapi dengan satu halaman berisi urutan abjad.

Menjelang akhir abad ke-15, rumah-rumah percetakan menghasilkan buku-buku ibadat harian yang dihiasi gambar-gambar cukil kayu. Buku-buku ibadat harian juga tergolong salah satu kelompok buku utama yang dihiasi gambar-gambar cukil logam, yakni teknik pembuatan ilustrasi yang masih erat kaitannya dengan teknik cukil kayu.

Buku ibadat harian mewahSunting

 
Lukisan bingkai yang tampak hidup dalam buku ibadat harian buatan Flandria dari akhir era 1470-an ini adalah contoh buku mewah yang lazim dihasilkan pada kurun waktu ini, seringkali tiap-tiap halaman diberi hiasan. Ujung sayap kupu-kupu yang sengaja digambar melewati batas bidang halaman yang disediakan untuk tulisan merupakan salah satu contoh permainan visual yang lazim pada kurun waktu ini.
(Tumbuh-tumbuhan dalam gambar antara lain Veronica officinalis, Vinca, Viola tricolor, Bellis perennis, dan Chelidonium maius. Kupu-kupu dalam gambar adalah Aglais urticae. Teks Latin yang tertera adalah devosi kepada Santo Kristoforus).

Pada abad ke-14, buku ibadat harian menggeser posisi buku mazmur sebagai buku yang paling lazim dihiasi iluminasi mewah. Kenyataan ini turut mencerminkan peningkatan jumlah iluminasi yang dipesan maupun yang dikerjakan oleh kalangan awam alih-alih oleh kalangan rohaniwan biara. Dari penghujung abad ke-14, sejumlah raja pecinta buku mulai mengoleksi naskah-naskah beriluminasi mewah untuk tujuan pamer. Kebiasaan yang menyebar ke seluruh Eropa ini muncul dari lingkungan istana Valois di Prancis dan Burgundia, maupun dari Praha pada masa pemerintahan Kaisar Karl IV dan Raja Wenceslaus. Satu generasi kemudian, Adipati Burgundia, Philippe Si Budiman, menjadi salah seorang kolektor naskah yang terkemuka. Beberapa orang dekatnya juga mengoleksi naskah-naskah.[10] Pada kurun waktu inilah kota-kota Flandria menggeser posisi Paris sebagai ujung tombak kegiatan seni iluminasi. Kota-kota Flandria mempertahankan posisinya ini sampai dengan berakhirnya masa kejayaan naskah beriluminasi pada permulaan abad ke-16.

Kolektor yang paling ternama adalah pangeran Prancis, Jean, Adipati Berry (1340–1416). Sang pangeran mengoleksi beberapa buah buku ibadat harian, beberapa di antaranya masih lestari sampai sekarang, termasuk buku ibadat harian yang paling dikagumi orang, yakni Très Riches Heures du Duc de Berry. Buku ini bulai dikerjakan sekitar tahun 1410 oleh adik-beradik Limbourg, kendati tidak kunjung mereka rampungkan. Très Riches Heures du Duc de Berry baru rampung setelah ditangani sejumlah seniman lain dan sesudah beberapa kali berganti pemilik. Demikian pula dengan Buku Ibadat Harian Torino-Milano, yang juga sempat dimiliki Sang Adipati Berry.

Pada pertengahan abad ke-15, semakin banyak kaum ningrat dan usahawan kaya yang mampu memesan buku ibadat harian yang dihias secara mewah dan seringkali berukuran kecil. Kemunculan mesin cetak membuat pesanan turun drastis. Pada tahun 1500, buku-buku ibadat harian berkualitas terbaik kembali dibuat, tetapi hanya untuk memenuhi pesanan raja-raja atau kolektor yang sangat terkemuka. Salah satu buku harian berkualitas terbaik yang terakhir adalah buku ibadat harian Farnese, dibuat untuk Kardinal Alessandro Farnese pada tahun 1546 oleh Giulio Clovio, salah seorang iluminator besar yang terakhir.

GaleriSunting

RujukanSunting

  1. ^ Plummer, lampiran gambar 1-2
  2. ^ Perpustakaan Kerajaan Denmark Diarsipkan 24 December 2008[Date mismatch] di Wayback Machine.
  3. ^ Eamon Duffy, "A Very Personal Possession: Eamon Duffy Tells How a Careful Study of Surviving Books of Hours Can Tell Us Much About the Spiritual and Temporal Life of Their Owners and Much More Besides." History Today 56.11 (Nov 2006): 12(7).
  4. ^ John Harthan "The Book of Hours: With a Historical Survey and Commentary by John Harthan", New York: Crowell, 1977.
  5. ^ a b John Harthan
  6. ^ Eamon Duffy
  7. ^ Duffy, E. (01 Januari 2006). A VERY PERSONAL POSSESSION - Eamon Duffy mengemukakan bahwa kajian cermat atas buku-buku ibadat harian yang sintas dapat memberitahukan kepada kita tentang kehidupan rohani dan keseharian pemiliknya, maupun hal-hal lain. History Today, 56,11, 12.
  8. ^ Webb, M., & Albers, M. J. (January 01, 2001). The Design Elements of Medieval Books of Hours. Journal of Technical Writing and Communication, 31, 354.
  9. ^ M. Krek, M. (1979). "The Enigma of the First Arabic Book Printed from Movable Type". Journal of Near Eastern Studies. 38 (3): 203–212. doi:10.1086/372742. 
  10. ^ Thomas, 8-9

SumberSunting

  • The Oxford Dictionary of Art ISBN 0-19-280022-1
  • Duffy, Eamon, The Stripping of the Altars: Traditional Religion in England 1400-1580 (Yale, 1992) ISBN 0-300-06076-9
  • Eamon Duffy - A Very Personal Possession (History Today November 2006)
  • John Harthan - The Book of Hours: With a Historical Survey and Commentary by John Harthan. New York: Crowell, 1977.
  • Plummer, John, The Hours of Catherine of Cleves, New York, George Braziller, 1966
  • Thomas, Marcel; The Golden Age; Manuscript Painting at the Time of Jean, Duc de Berry, 1979, Chatto & Windus, ISBN 0701124725

Bacaan tambahanSunting

Mengenai buku ibadat harian secara umum
  • Ashley, K.M. (2002) Creating Family Identity in Books of Hours. Journal of Medieval and Early Modern Studies, (1) 145-165.
  • Calkins, Robert G. Illuminated Books of the Middle Ages. Ithaca, New York: Cornell University Press, 1983. ISBN 9780801415067
  • Dückers, Rob, dan Pieter Roelofs. The Limbourg Brothers - Nijmegen Masters at the French Court 1400-1416. Ghent: Ludion, 2005. ISBN 9789055445776
  • Duffy, Eamon. Marking the Hours: English People and their Prayers 1240 - 1570. New Haven: Yale University Press, 2006. ISBN 0-300-11714-0
  • Pächt, Otto. Book Illumination in the Middle Ages (translation, Kay Davenport), London: Harvey Miller Publishers, 1986. ISBN 0-19-921060-8
  • Simmons, Eleanor. Les Heures de Nuremberg, Les Editions du Cerf, Paris, 1994. ISBN 2-204-04841-0
  • Wieck, Roger S. Painted Prayers: The Book of Hours in Medieval and Renaissance Art, New York: George Braziller, 2004. ISBN 978-0-8076-1457-0
  • Wieck, Roger S. Time Sanctified: The Book of Hours in Medieval Art and Life, New York: George Braziller, 1988. ISBN 978-0807614983
Mengenai buku ibadat harian tertentu
  • The Hours of Mary of Burgundy (edisi faksimili). Harvey Miller, 1995. ISBN 1-872501-87-7
  • Barstow, Kurt. The Gualenghi-d'Este Hours: Art and Devotion in Renaissance Ferrara. Los Angeles: Getty Publications, 2000. ISBN 978-0-89236-370-4
  • Clark, Gregory T. The Spitz Master: A Parisian Book of Hours. Los Angeles: Getty Publications, 2003. ISBN 9780892367122
  • Meiss, Millard, dan Edith W. Kirsch. The Visconti Hours. New York: George Braziller, 1972. ISBN 9780807613597
  • Meiss, Millard, dan Elizabeth H. Beatson. The Belles Heures of Jean, Duke of Berry. New York: George Braziller, 1974. ISBN 978-0807607503
  • Meiss, Millard, dan Marcel Thomas. The Rohan Master: A Book of Hours (diterjemahkan oleh Katharine W. Carson). New York: George Braziller, 1973. ISBN 978-0807613580
  • Porcher, Jean. The Rohan Book of Hours: With an Introduction and Notes by Jean Porcher. New York: Thomas Yoseloff, 1959.

Pranala luarSunting

Informasi umum
Naskah-naskah satuan daring yang dapat ditinjau halaman per halaman
Teks