Buka menu utama

Beno Siang Pamungkas (lahir di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur 1968; umur 51 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Namanya dikenal malalui karya-karyanya dalam bentuk puisi dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan buku antologi puisi. Dia merupakan salah satu sastrawan di balik gerakan revitalisasi sastra pedalaman bersama Sosiawan Leak, Wijang Wharek, Triyanto Triwikromo, dan Kusprihyanto Namma, yang diselenggarakan pada dasawarsa 1990-an. Di luar kepenulisannya, Beno Siang Pamungkas menekuni profesi sebagai pewarta yang menjabat sebagai koordinator daerah (korda) untuk MNC wilayah Jawa Tengah. Bersama Timur Sinar Suprabana, dia menerbitkan buku kumpulan puisi Gobang Semarang dan Menyelam Dalam.[1][2][3][4]

Beno Siang Pamungkas
Beno Siang Pamungkas.jpg
Lahir 1968 (umur 51 tahun)
Bojonegoro, Indonesia Bendera Indonesia
Pekerjaan Sastrawan
Pewarta
Tahun aktif 1990 - sekarang

Daftar isi

Latar belakangSunting

Beno Siang Pamungkas lahir di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur tahun 1968. Menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Negeri Semarang. Di sela-sela perkuliahan, Beno juga aktif di bidang kesusastraan dan teater. Tercatat dia dipercaya menjadi pemeran utama di sejumlah pertunjukan teater antara lain sebagai Julini dalam judul Opera Kecoa karya Arifin C. Noor bersama Teater SS IKIP Semarang, di Auditorium IKIP Semarang, sebagai Borok dalam naskah Umang-umang atawa Orkes Madun II karya Arifin C. Noor bersama Teater Dhome di Auditorium Radio Republik Indonesia Semarang. Beno juga mengelola Teater Embrio di Jurusan Pendidikan Biologi, tempat dia belajar. Selain itu dia juga aktif dalam berbagai kajian dan menulis kary sastra dalam bentuk puisi dan cerita pendek yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar dan buku antologi puisi. Pada tahun 1996, bersama Sosiawan Leak, Wijang Wharek, Triyanto Triwikromo, dan Kusprihyanto Namma Beno terlibat dalam gerakan revitalisasi sastra pedalaman yang menekankan pemasyarakatan karya sastra secara langsung kepada publik sastra, dengan cara membacakan sajak-sajak, cerita pendek, dan menyelenggarakan beberbagai macam pertunjukan seni secara bergilir di berbagai kota di Jawa, dan menerbitkan kumpulan puisi, baik perorangan maupun bersama dengan mengupayakan menghindari pemusatan sosialisasi nilai-nilai sastra hanya pada Jakarta, surat kabar bukan menjadi satu-satunya alternatif dalam melakukan sosialisasi sastra, dan membentuk jaringan serta komunikasi/kantung-kantung budaya di mana saja, dan dengan siapa saja.[5]

KaryaSunting

  • Sajak Sampah Gerinda Baja
  • Gobang Semarang
  • Menyelam Dalam
  • Ensiklopedi Kesedihan

KarierSunting

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Leksikon Kesusastraan Indonesia: Beno Siang Pamungkas, diakses 11 Mei 2017
  2. ^ Sastra Pembebasan: Beno Siang Pamungkas dan Timur Suprabana Baca Puisi di Surabaya, diakses 11 Mei 2017
  3. ^ IVAA: Beno Siang Pamungkas, diakses 11 Mei 2017
  4. ^ GoodReads: Menyelam Dalam, diakses 11 Mei 2017
  5. ^ Salihara: Suara-suara dari Tepian Negeri, diakses 11 Mei 2017