Buka menu utama

Timur Sinar Suprabana (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 4 Mei 1963; umur 56 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa esei sastra, cerita pendek, dan puisi yang dipublikasikan di berbagai surat kabar antara lain Kompas, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Media Indonesia, Suara Pembaruan, dan lain-lain. Dia juga mengkomunikasikan karya-karyanya ke publik melalui pembacaan puisi yang dilakukannya berkeliling di banyak kota di Indonesia.[1][2][3][4]

Timur sinar suprabana.jpg
Lahir (1963-05-04)4 Mei 1963
Bendera Indonesia Semarang, Jawa Tengah
Pekerjaan Penulis
Sastrawan
Tahun aktif 1980 - sekarang

Selain menyair, Timur juga menulis cerita pendek, esai, kritik seni, reportase sosial-budaya, dan naskah drama, serta bergiat di forum-forum kebudayaan Jawa Tengah. Ia mengelola Rumah Budaya gubuGPenceng dan mengisi waktu luangnya dengan melukis serta bertanam bunga, serta memelihara kura-kura. Putra dari pasangan Bolo Soetiman dan Moenasijah Mu, ini sekarang menetap di Semarang bersama istrinya, Dewi Nurliyanti, dan dua putri kandung mereka, Langit Hijau dan Laut Padi.

BibliografiSunting

  • Menyelam Dalam
  • Gobang Semarang (2009, Penerbit KATA KITA)
  • Sihir Cinta (2008, Penerbit gubuGPenceng dan Taman Budaya Jawa Tengah)
  • Langit Semarang (2008, Penerbit gubuGPenceng dan Taman Budaya Jawa Tengah)
  • Dua Hati (2008, Penerbit gubuGPenceng dan Taman Budaya Jawa Tengah)
  • Dengan Cinta (2007), Nyanyian dari Ruang di Garistangan (bersama 5 penyair, 2007)
  • Lembah yang Tak Henti Bernyanyi (2007, bersama 3 penyair)
  • Malam (2005)
  • Matasunyi (2005)

AktivitasSunting

Timur adalah sosok seniman Semarang yang tak mau diam dalam karya. Sejak tahun 1983, Timur sudah mengikuti sekurang-kurangnya 57 kegiatan festival seni, sastra, ataupun budaya di berbagai kota di Indonesia.

Pranala luarSunting

ReferensiSunting