Buka menu utama

Bantar Agung, Sindangwangi, Majalengka

desa di Kabupaten Majalengka

Bantaragung adalah desa di kecamatan Sindangwangi, Majalengka, Jawa Barat, Indonesia.

Bantaragung
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Barat
KabupatenMajalengka
KecamatanSindangwangi
Luas392,29 Ha
Jumlah penduduk3813
Kepadatan102

KondisiSunting

Secara topografis, Desa Bantaragung relatif pada hamparan berbukit-bukit yang dialiri dua sungai yaitu sungai Ciwaringin dan sungai Cijejeng. Sungai ini dimanfaatkan untuk pasokan irigasi lahan persawahan.

Secara administratif, wilayah Desa Bantaragung memiliki batas sebagai berikut:

Sebelah Utara: Desa Sindangwangi Kecamatan Sindangwangi

Sebelah Selatan: Hutan Taman nasional Gunung Ciremai

Sebelah Timur: Desa Padaherang Kecamatan Sindangwangi

Sebelah Barat: Desa Payung Kecamatan Rajagaluh

Luas wilayah Desa Bantaragung adalah 392,29 Ha. Sebagaimana wilayah tropis, Desa Bantaragung mengalami musim kemarau dan musim penghujan dalam tiap tahunnya. Rata-rata perbandingan musim penghujan lebih besar daripada musim kemarau, hal itu disebabkan karena wilayah yang masih hijau dengan vegetasi serta relatif dekat dengan wilayah Hutan Taman Nasional Gunung Ciremai.

Jarak pusat desa dengan ibu kota kabupaten yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat kurang lebih 25 km. Kondisi prasarana jalan poros desa yang masih berupa jalan konstruksi hotmix dengan kondisi rusak ringan mengakibatkan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor mencapai kurang lebih 40 menit. Sedangkan jarak pusat desa dengan ibu kota kecamatan yang dapat ditempuh melalui perjalanan darat kurang lebih 3 km. Kondisi ruas jalan poros desa yang dilalui juga berupa jalan konstruksi lapen dengan kondisi rusak ringan mengakibatkan waktu tempuh menggunakan kendaraan bermotor mencapai kurang lebih 15 menit.

Desa Bantaragung merupakan wilayah paling potensial untuk usaha pertanian dan pengembangan wisata alam. Hal tersebut didukung oleh kondisi geografis serta alam yang masih hijau. Dukungan pemerintah daerah untuk pengembangan potensi wisata alam diwujudkan dengan menetapkan wilayah Desa Bantaragung sebagai bagian Kawasan Wisata Sindangwangi (KAWITWANGI). Berdasarkan kondisi desa ini maka akan dijabarkan permasalahan, potensi, hingga daftar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa(RPJMDes) yang diprogramkan untuk 6 (enam) tahun

SejarahSunting

Desa Bantaragung

Pada zaman dahulu kala, kira-kira Tahun 1200-1300 di bawah Gunung Ciremai ini masih keadaan hutan belantara. Para Demang dan Para Sultan dari pejabat Desa Koleberes ( Desa Sindangpano sekarang ) setuju untuk memperluas daerahnya ke sebelah timur, dengan sekaligus mendirikan sebuah desa dan dusun baru bernama:

DESA BABAKAN KEBONCAU

DAN

DUSUN KAWUNGLUWUK

( SEKARANG Dusun Malarhayu )

Dalam arti: Babakan Keboncau= ditanami khusus cau ( pisang )

Kawungluwuk = ditanami khusus pohon kawung ( untuk gula )

Pada waktu itu Desa Babakan Keboncau di bawah kekuasaan Desa Koleberes lama – kelamaan di Desa Babakan Keboncau terserang musibah, di mana garong-garong ( maling ) selalu mengganggu ketentraman masyarakat sehingga banyak korban harta maupun nyawa, selain itu banyak binatang buas seperti macan mengganas terhadap penduduk yang akibatnya keadaan masyarakat selalu tidak aman. Untuk mengatasi keadaan tersebut para pejabat setempat dan para sultan berembuk kembali untuk mencari jago-jago dari berbagai tempat dan di umumkan bahwa: “ Barang siapa yang bisa mengalahkan garong-garong dan macan-macan serta dapat mengamankan keadaan masyarakat, akan ditunjuk sebagai Kuwu / Kepala Desa. “ Dari berbagai daerah berdatangan untuk maksud tersebut, diantaranya:

PANGERAN TIMBANG PINAYUNGAN

KUWU PERTAMA

( Nama Desa Babakan Keboncau diganti menjadi Desa Batara Agung )

Setelah ditunjuk Pangeran Timbang Pinayungan sebagai Kuwu pertama, gangguan keamanan tersebut dapat di atasi, dan ketika Kuwu

PANGERAN NITIBAYA

KUWU KE TIGA BELAS

( Nama Desa Batara Agung diganti menjadi Desa Bantar Agung )

Ada pun arti Batara Agung ialah :

Batara = Dewa

Agung = Wong Agung

Bantar Agung ialah Bantar = tempat bertapa orang-orang Agung.

Atas petunjuk dari Sultan Kasepuhan Cirebon, di utarakan pula sebagai tradisi / adat lama masih ada sampai sekarang, setiap tahun pada bulan Rabiul Awal / Maulud, Keraton Kesepuhan dan Keraton Kanoman menunggu kiriman cau / pisang dan gula kawung dari masyarakat Desa Bantar Agung untuk sesajen para leluhur Keraton, sekalipun gula kawung dan pisang banyak dari daerah lain, namun tidak bisa di pakai untuk sesajen kecuali dari Desa Bantar Agung.

Kepala desaSunting

  1. BUYUT TIMBANG PINAYUNGAN ( 1281 – 1331 )
  2. BUYUT BATIN ( 1331 – 1376 )
  3. BUYUT SINGAYUDA ( 1376 – 1406 )
  4. BUYUT PANGERAN KAP’AL ( 1406 – 1451 )
  5. BUYUT RISA GANDA ( 1451 – 1476 )
  6. BUYUT KUMPUL RAKSAMERTA (1476 – 1496 )

7. BUYUT GIMBUNG ( 1496 – 1521 )

8. BUYUT GALAR ( 1521 – 1541 )

9. BUYUT WIRANANGGA ( 1541 – 1566 )

10. BUYUT MERTA NANGGA ( 1566 – 1586 )

11. BUYUR GUYUR ( 1586 – 1601 )

12. BUYUT JEMBAR SURAJAYA ( 1601 – 1636 )

13. BUYUT PANGERAN NITIBAYA ( 1636 – 1688 )

14. BUYUT LEGO CAKRAJAYA ( 1688 – 1733 )

15. BUYUT JAINAH RAKSABAYA ( 1733 – 1448 )

16. BUYUT BIDO RAKSA WIJAYA ( 1748 – 1759 )

17. BUYUT PARTA L. CAKRAJAYA ( 1759 – 1794 )

18. BUYUT ASPIA WIJAYA ( 1794 – 1801 )

19. BUYUT LALANJANG SURAWIJAYA ( 1801 – 1809 )

20. BUYUT SALE L.P. CAKRAJAYA ( 1809 – 1859 )

21. BUYUT ABLI WIJAYA ( 1859 – 1874 )

22. BUYUT JANU WIJAYA ( 1859 – 1874 )

23. ISKAM TIRTA LANGENAN ( 1882 – 1896 )

24. ARJU S. P. L CAKRAJAYA ( 1896 – 1913 )

25. JARIMAN BANTAR WIJAYA ( 1913 – 1919 )

26. SURYA RAKSA KARYA ( 1919 – 1946 )

27. DJALADRI SURYA ATMADJA ( 1919 – 1966 )

28. SODJA ( 1966 – 1976 )

29. TANU ( 1976 – 1978 )

30. SURENDA ( 1978 – 1989 )

31. UDI JUNAEDI ( 1989 – 2008 )

32. MAMAN SURAHMAN, S.Sos ( 2008 – 2014 )

33. SUDIRJA (Pjs.) ( 2014 – 2015 )

34. MAMAN SURAHMAN, S.Sos ( 2015 – 2021 )

Pranala luarSunting