Bandar Udara Internasional Pattimura

bandar udara di Indonesia

Bandar Udara Pattimura (bahasa Inggris: Pattimura Airport) (IATA: AMQICAO: WAPP) juga dikenal sebagai Bandar Udara Ambon, adalah sebuah bandar udara yang terletak di Kota Ambon, Provinsi Maluku, Indonesia. Bandara ini juga melayani perjalanan dalam negeri dan luar negeri. Bandara ini berjarak 35 kilometer di luar Kota Ambon dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 30—45 menit.[1] Pada bandara ini terdapat fasilitas imigrasi, karantina, bea cukai, gedung kargo, restoran, telepon umum, dan kantor pos. Bandar Udara Pattimura Ambon merupakan daerah yang sangat strategis di Kepulauan Maluku yang terbagi menjadi dua provinsi yaitu, Maluku Utara dan Maluku.

Bandar Udara Pattimura

Pattimura Airport
Pattimuraairportlogo.png
PattimuraAirportTerminal.jpg
Informasi
JenisPublik
PemilikPemerintah Indonesia
PengelolaPT Angkasa Pura I
MelayaniAmbon
LokasiAmbon, Maluku, Indonesia
Zona waktuWIT (UTC+09:00)
Ketinggian dpl33 kaki / 10 m
Koordinat03°42′36.95″S 128°05′20.89″E / 3.7102639°S 128.0891361°E / -3.7102639; 128.0891361
Situs webhttp://www.pattimura-airport.co.id
Peta
AMQ berlokasi di Pulau Seram
AMQ
AMQ
Lokasi bandara di Maluku / Indonesia
AMQ berlokasi di Maluku
AMQ
AMQ
AMQ (Maluku)
AMQ berlokasi di Indonesia
AMQ
AMQ
AMQ (Indonesia)
Landasan pacu
Arah Panjang Permukaan
m kaki
04/22 2,500 8 Aspal
Statistik (2017)
Penumpang1,364,210

Bandar Udara Pattimura Ambon berada di Pulau Ambon yang terletak di Provinsi Maluku. Secara astronomis, bandara terletak pada posisi koordinat 03° 42’ 25’’ S dan 128° 05’ 23’’ T yang dikelilingi oleh Laut Seram di sebelah utara, Laut Banda di sebelah selatan, dan Laut Arafura di sebelah timur.

SejarahSunting

Bandar Udara Pattimura yang dahulu bernama Lapangan Terbang Laha Ambon dibangun pada tahun 1939 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Pada tahun 1942, Lapangan Terbang Laha dikuasai oleh Jepang untuk melawan pasukan Sekutu dalam Perang Dunia II. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Lapangan Terbang Laha dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Pada tahun 1975, berdasarkan surat keputusan bersama Menhankam/Pangab, Menteri Perhubungan, dan Menteri Keuangan Pelabuhan Udara Pattimura ditetapkan sebagai lapangan terbang militer Milik TNI AU Lanud Pattimura kemudian dijadikan sebagai Enclave Sipil milik Pangkalan Udara Pattimura atas dasar Sertifikat Hak Pakai Nomor 06 Tahun 2010 Cq. TNI AU dan MOU antara TNI AU dengan Direktorat JenderalPerhubungan Udara, PT. AP I (Persero) Nomor: KB/4/I/2011, Nomor: AU/833/KUM.18/I/2011, Nomor: SP.06/HK.09.01/2011/DU, Nomor: PJJ.04.07.01/00/01/2011/010, tentang Pengaturan Penggunaan Bersama Pangkalan Udara dan Bandara Udara. Sejak tahun 1975, Pelabuhan Udara Pattimura telah didarati pesawat asing seperti Airnorth dari Darwin sampai tahun 1998. Pada tanggal 11 Oktober 1995, Pengelolaan Bandar Udara Pattimura Ambon dikelola oleh PT Angkasa Pura (Persero) dan berstatus sebagai bandar udara kelas I dengan sistem pemanfaatan sebagian Aset Pangkalan TNI AU Pattimura. Pada tanggal 3 Maret 2004, proyek pengembangan Bandar Udara Pattimura diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia.

Maskapai dan tujuannyaSunting

MaskapaiTujuan
Airfast Indonesia Manado
Aviastar Banda, Namlea, Namrole
Batik Air Jakarta—Halim Perdanakusuma, Jakarta—Soekarno–Hatta, Makassar
Citilink Makassar
Dimonim Air Moa
Garuda Indonesia Denpasar/Bali, Jakarta—Soekarno–Hatta, Makassar, Ternate
Lion Air Makassar, Surabaya
NAM Air Sorong, Ternate
Sriwijaya Air Ternate
Susi Air Banda, Namlea
Trigana Air Service Dobo, Langgur, Moa, Namrole, Saumlaki
Wings Air Dobo, Langgur, Manado, Manokwari, Nabire, Namlea, Saumlaki, Sorong

Usulan pengembanganSunting

Bandara Pattimura memiliki kapasitas sebesar 800 ribu orang, sedangkan pada kenyataannya, bandara sudah melayani 1,3 juta orang per tahun.[2] Oleh karena itu menindak lanjuti perkembangan yang pesat PT. Angkasa Pura 1 (Persero) selaku pengelola Bandara rencana akan melaksanakan investasi beutifikasi terminal yaitu di bangun satu terminal, Gerbang (Gate) keberangkatan dan kedatangan serta penambahan Garbarata. Pengembangan Bandar Udara Pattimura dilaksanakan setelah mendapatkan Izin dari pihak Pangkalan TNI AU Pattimura selaku pengelola aset negara di Bandara Pattimura yang terdaftar dalam Inventaris Kekayaan Negara (IKN) di Kementrian Keuangan Republik Indonesia.

Transportasi daratSunting

Bus DAMRISunting

Perum DAMRI memiliki bus yang dioperasikan untuk menghubungkan bandara ini denga daerah sekitarnya. Selama ini, perjalanan bus ini hanya memiilki satu trayek. Trayek itu ialah Bandara Internasional Pattimura—Lapangan Merdeka.

Rute bus dari bandara ke Lapangan Merdeka adalah sebagai berikut.

Bandara Pattimura—Hative BesarWayamePokaRumah TigaWaiheruNaniaPassoLateriHalongGalalaBatu Merah—Kantor DPRD—Hotel Manise—Hotel Amboina—Tugu Trikora—Mangga Dua—Kantor Asuransi Jasindo Ambon—Hotel Abdulalie—Jalan AY Patty—Lapangan Merdeka[1]

Rute bus dari Lapangan Merdeka ke bandara adalah sebagai berikut.

Lapangan Merdeka—Swalayan Citra—Batu MerahGalalaHalongLateriPassoNaniaWaiheruPokaRumah TigaWayameHative Besar—Bandara Pattimura[1]

TaksiSunting

Taksi pun beroperasi untuk menghubungkan bandara ini. Taksi yang melayani bandara ini memiliki dua jenis mobil, yaitu sedan dan minibus. Dulu, penumpang masih harus membayar kapal feri untuk menyeberangi Teluk Ambon. Namun, kini telah ada Jembatan Merah Putih yang mempersingkat waktu.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c "Info Bus Damri Di Bandara Pattimura Ambon". BusBandara.com (dalam bahasa Inggris). 2015-02-23. Diakses tanggal 2017-09-12. 
  2. ^ "Menteri BUMN Minta Angkasa Pura I Kembangkan Bandara Pattimura-Ambon". rmol.co. Diakses tanggal 2017-09-13. 

Pranala luarSunting