Andongsari, Ambulu, Jember

desa di Kabupaten Jember

Andongsari adalah desa di kecamatan Ambulu, Jember, Jawa Timur, Indonesia.

Desa Andongsari
Desa
[[Berkas:Desa Andongsari
Peta lokasi Desa Desa Andongsari|250px|Lokasi Desa Andongsari]]
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenJember
KecamatanAmbulu
Kodepos68172
Luas1.282.740 km²
Jumlah penduduk18.293 jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Andongsari merupakan desa percontohan dari kecamatan Ambulu . Penduduknya sebagian besar adalah petani dan merupakan petani aktif selain padi dan jagung juga menanam seperti tembakau, cabe merah, kacang Panjang, melon, semangka, kubis, kol dan lain-lain.

Wilayah desa Andongsari merupakan daerah paling luas di kecamatan Ambulu terdiri dari empat dusun meliputi dusun Andongsari Krajan, Dusun Watu Kebo, Dusun Karangtemplek dan di dusun inilah terdapat MIMA 36 Nurul Hidayah, Dan Tirtoasri. Selain itu di Dusun Andongsari terdapat Kompleks Perguruan Muhammadiyah yang terdiri dari MI Muhammadiyah 01, SMP Muhammadiyah 9 serta MA Muhammadiyah 01. Terdapat pula Masjid Jami' Al-Mukhtar di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Watukebo ini.

Sejarah Desa Andongsari Desa Andongsari merupakan salah satu dari 7 desa yang terletak wilayah administrasi Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember. Pada tahun 1895 Desa Andongsari dibuka oleh pemerintah pada waktu itu, hal ini sangat erat kaitannya dengan perluasan / pengembangan Daerah Ambulu, wilayah yang pertama kali dibuka adalah Krajan sekaligus sebagai pusat pemerintahan Desa Andongsari. Daerah Krajan waktu itu dikepalai oleh seorang petinggi yang bernama Raden Kanafi beliau berasal dari Daerah Madiun dan bertempat tinggal di daerah Karang Tengah barat Sungai Jati, Raden Kanafi memperluas wilayahnya ke daerah bongkahan sungai mayang ketimur sampai pondok geger yang masih kosong. beliau berusaha memadukan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia sehingga tercipta sebuah mata rantai kehidupan . Kemudian Raden kanafi menghubungi Kyai Hasan Mujahid di tutul yang mempunyai banyak santri untuk meminta bantuan agar bersedia menghimbau kepada santri santrinya untuk mau menempati daerah bongkaran sungai yang masih kosong, akhirnya mereka bersedia bahkan menantu Kyai Hasan Mujahid yaitu Kyai Imam Mukhtar juga ikut bergabung dan mendirikan pondok dikedung mayit sedangkan santri lain seperti Haji Kasim, Mat Katam Mustaqim, Mustaji, Mad Halar, Munawan dan beberapa orang lagi kurang lebih 30 orang menempati bongkaran sebelah utara. Pembangunan daerah terus dilakukan oleh Raden Kanafi juga didalam hal pemerintahannya beliau mengangkat pembantu yaitu bapak Abdillah Rusdi sebagai carik. Karang tengah oleh Belanda dijadikan perkebunan,penduduk dipindah ketimur sungai, diantara penduduk itu ada orang baru dari Kutoarjo Jawa Tengah yaitu bapak Tomo Redjo yang kemudian mengganti Raden Kanafi setelah wafat. Dipondok Kyai Imam Mukhtar, mengingat sepanjang sungai mayang adalah daerah banjir maka pondok dipindah kekebun kelapa milik Belanda didalam membuka lahan baru tersebut dibantu oleh Serikat Islam (SI) akhirnya timbul pertentangan antara pihak Kyai Mukhtar dan pihak perkebunan sampai Residen Bondowoso turun tangan, Kyai Imam Mukhtar dan kawan-kawan tetap teguh. Tahun 1916 Kyai Imam Mukhtar ditangkap dan ditahan selama 3 bulan, tahun 1917 Kyai Imam Mukhtar ditangkap lagi dan ditahan selama 6 bulan. Kyai Imam Mukhtar dibawah pimpinan Adullah Rusdi mengajukan rekes babat sedaerah Besuki, akhirnya Residen Bondowoso mengijinkan untuk membuka perkampungan Andongsari dari sungai jati ketimur sampai sungai mayang.dan terus melakukan pembangunan sampai ke Daerah Karangtemplek menuju daerah Pontang dan Sidodadi tahun 1918. Setelah terbentuk daerah Watukebo, Raden Kanafi kembali memimpin masyarakat Watukebo wilayahnya dijadikan satu dengan Andongsari setelah Watukebo dan Karangtemplek resmi menjadi padukuhan kemudian Raden Kanafi wafat dan dimakamkan disebuah gumuk di Karangtemplek. sepeninggal beliau jabatan kepala desa dipegan oleh bapak Tomo Redjo yang bertempat di Watukebo. langkah pertama membuka lahan baru yang sekarang menjadi daerah Pontang dan Sidodadi dan kemudian membagi menjadi 3 desa pada tahun 1918, Desa Andongsari dengan Kepala Desa Bapak Tomo Redjo, Desa Pontang dengan Kepala Desa bapak Seban dan Desa Sidodadi dengan Kepala Desa Bapak Kasimin. Tabel 2.1. Masa Kepemimpinan Kepala Desa No. Nama Kepala Desa Dari Tahun Sampai Tahun 1. Raden kanafi 1908 1917 2. Tomorejo 1917 1927 3. Domo Pono 1927 1929 4. Mardikorejo 1929 1946 5. Bedjo Handoyo 1946 1947 6. Kasiran 1947 1949 7. Bedjo Handoyo 1949 1953 8. Mardip 1953 1955 9. Tomin 1955 1970 10. Mokhamad Toyib 1970 1990 11. Ramidi Al Mahmudi 1990 2006 12. Supriono 2007 2013 13. Prasisman 2013 2019

Andongsari krajan merupakan Dusun yang paling dekat dengan Ambulu karena merupakan dusun yang berbatasan Dengan Ambulu-Jember, Terdapat SDN Andongsari III Ambulu-Jember.

Watukebo adalah salah satu dusun di desa Andongsari. berbatasan di sebelah barat dengan dusun Krajan, di sebelah timur berbatasan dengan dusun Karang Templek, di sebelah utara berbatasan dengan desa Pontang, di sebelah selatan dibatasi oleh sungai Mayang yg bermuara di samudra Hindia. Di dusun Watukebo terdapat Madrasah Ibtidaiyah 35 Nurul Ulum (MINU). penduduk dusun Watukebo rata rata berprofesi sebagai petani. ada juga yang berprofesi sebagai pedagang, guru,penambang pasir dan lain lain.

Terdapat situs peninggalan kuno bernama Gumuk Setu. pada tahun 1980 an pernah di lakukan eskavasi di gumuk setu . di temukan beberapa arca tanpa kepala yg kemungkinan berasal dari abad ke 14 atau lebih awal.di lihat dari bentuk arca



DIRA WaterPark adalah sebuah wahana rekreasi air keluarga berlokasi di dusun Watukebo

Pranala luarSunting

dusun Watuke-o