Alauddin bin Ahmad dari Perak

Sultan Alauddin Mansur Syah (meninggal 1585 atau 1586) merupakan sultan kedelapan Kesultanan Aceh. Dia memerintah Aceh pada tahun 1579-1585 atau 1586. Dia dikenal sebagai salah seorang penguasa Muslim yang saleh dan sangat tertarik dengan masalah budaya. Selama masa pemerintahannya Kesultanan Aceh melakukan beberapa kali ekspansi militer di Semenanjung Melayu. Kematiannya mengakhiri periode panjang 65 tahun perang antara Kesultanan Aceh dan Portugis.

Latar belakangSunting

Dia adalah sultan Aceh keturunan Perak, awalnya dia adalah salah seorang pangeran Kesultanan Perak yang ditawan Aceh ketika Sultan Ali Riayat Syah I dari dinasti Meukuta Alam mengadakan ekspedisi militer ke Perak. Di Aceh pangeran Mansur menikahi seorang janda sultan sebelumnya dari kalangan kerabat kesultanan. Ketika Sultan Ali Riayat Syah mangkat tahun 1579, meninggalkan kisruh politik di kesultanan Aceh. Tiga orang diangkat sebagai sultan pada tahun 1579 namun tidak mampu mengatasi permasalahan politik yang sedang bergejolak. Terbunuhnya sultan terakhir dinasti Meukuta Alam Sultan Zainal Abidin ibn Abdullah membuat pangeran Mansur yang merupakan keturunan sultan Melaka dianggap tepat menjadi sultan Aceh pada tahun 1579[1].

Masa PemerintahanSunting

Sultan Alauddin Mansur dipuji oleh sejarah karena sikapnya yang saleh. Pada masanya ia memerintahkan para uleebalang untuk menumbuhkan jenggot dan menetapkan pakaian Jubah dan serban (pakaian Muslim) sebagai pakaian resmi kenegaraan[2]. Selama itu pula banyak ulama dari bagian lain dari dunia Islam mengunjungi Aceh. Beberapa sumber menyebutkan Syekh AbdulKhair dari Mekah yang mengajarkan tentang tasauf dan mistisisme, Syaikh Muhammad Yamani yang mengajarkan tentang fiqh, dan Syekh Muhammad Jailani dari Ranir di Gujarat, yang merupakan paman dari ulama terkenal Nuruddin ar-Raniri yang mengajar logika, retorika, dan lain lain[3]. Pada tahun 1582 sultan mengirim armada melawan Johor di Semenanjung Melayu. Meskipun ekspedisi militer itu gagal mengalahkan kedudukan Portugis di Melaka namun Johor, sekutu utama Portugis di negeri-negeri Melayu berhasil ditaklukan. Kesultanan muslim Johor dipandang sebagai saingan berbahaya diwilayah selat Malaka. Namun perseteruan antara Aceh dan Johor malah berakibat fatal dengan semakin memberi kesempatan bagi Portugis mengambil keuntungan politik di wilayah tersebut[4].

KematiannyaSunting

Berkali-kali ia merencanakan strategi baru untuk menyerang Portugis, tetapi rencana-rencana tersebut tidak pernah berhasil. Hingga kematiannya sendiri pada tahun 1585 atau 1586 ketika dia dibunuh secara misterius. Menurut penulis sejarah Portugis Diogo de Couto seorang jenderal dan mantan budak, Mora Ratissa, yang membunuhnya. Namun menurut catatan Prancis pembunuh itu adalah seseorang yang kemudian menjadi Sultan Aceh dengan nama Alauddin Ri'ayat Syah Sayyid al-Mukammal[5]. Dia mewariskan kekuasaanya kepada Raja Asyem seorang cucu sultan dari putrinya yang menikah dengan Sultan Johor Ali Abdul Jalil Syah II. Namun penerusnya adalah seorang sultan non-Aceh yang bergelar Ali Ri'ayat Syah II dari Indrapura.

ReferensiSunting

  1. ^ Encyclopaedie (1917), Vol. 1, p. 74.
  2. ^ Iskandar (1958), p. 41.
  3. ^ Djajadiningrat (1911), pp. 160-1.
  4. ^ Hadi (2004), p. 30.
  5. ^ Djajadiningrat (1911), p. 161-3.

Pranala luarSunting

  • Djajadiningrat, Raden Hoesein (1911) 'Critisch overzicht van de in Maleische werken vervatte gegevens over de geschiedenis van het soeltanaat van Atjeh', Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 65, pp. 135–265.
  • Encyclopaedie van Nederlandsch Indië, Vol. 1 (1917). 's Gravenhage & Leiden: Nijhoff & Brill.
  • Hadi, Amirul (2004) Islam and State in Sumatra: A Study of Seventeenth-Century Aceh. Leiden: Brill.
  • Iskandar, Teuku (1958) De Hikajat Atjeh. 's Gravenhage: M. Nijhoff.
Didahului oleh:
Zainul Abidin
Sultan Aceh
1579-1585/86
Diteruskan oleh:
Sultan Buyung