Ali Ri'ayat Syah II, Raja Buyung

Sultan Buyung atau dikenal juga sebagai Ali Ri'ayat Syah II (meninggal 28 Juni 1589) adalah sultan kesembilan Kesultanan Aceh. Ia berkuasa dalam waktu yang singkat dan terbunuh dalam kisruh perebutan kekuasaan sultan di Aceh antara tahun 1585-1589.

Latar belakangSunting

Sultan Buyung aslinya bukan merupakan bagian dari keluarga sultan Aceh tetapi berasal dari Kerajaan Inderapura di pantai barat Sumatra. Data epigrafi menunjukkan bahwa Sultan Buyung adalah putra dari Munawwar Syah, putra Muhammad Syah, putra Almalik Zainuddin[1]. Hal ini menandakan bahwa Indrapura telah diperintah oleh dinasti Muslim setidaknya sejak tahun 1500. Adik Sultan Buyung, Raja Dewi, menikah dengan Sultan Mughal alias Sultan Sri Alam yang menjadi sultan Aceh untuk masa yang singkat pada tahun 1579. Kehadirannya di Aceh bersama seorang adiknya yang janda hanya dua bulan menjelang terbunuhnya Alauddin Mansur Syah. Hal ini terjadi pada awal tahun 1585 menurut kronik namun pada tahun 1586 menurut sebuah catatan Portugis[2].

Perebutan kekuasaanSunting

Setelah pembunuhan Alauddin Mansur Syah, Sultan Buyung telah diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Ali Ri'ayat Syah. Alasan kuat atas pemilihannya tidak diketahui, tetapi ada kemungkinan karena tidak adanya kandidat sultan yang dewasa di kalangan kerabat sultan yang terbunuh untuk mewarisi posisinya. Sultan tua hanya meninggalkan seorang cucu yang masih kanak-kanak bernama Raja Asyem[3]. Pada masa pemerintahannya yang singkat kesultanan Aceh menghentikan sementara permusuhan dengan Portugis di Melaka. Hubungan antara Portugis dengan kesultanan Johor memburuk setelah tahun 1585. Pada tahun 1587 Johor mengalami kekalahan militer yang parah. Memanfaatkan kondisi itu, seorang utusan Aceh datang ke Melaka dan menawarkan pembicaraan damai antara Aceh-Johor. Perbincangan itu menghasilkan kesepakatan damai yang mengatur pengelolaan jalur maritim di Selat Malaka. Perdamaian ini bertahan hingga tahun 1606 pada penghujung masa pemerintahan Sultan Ali Riayat Syah II[4]. Akhirnya sultan dibunuh secara misterius pada tahun 1589. Pembunuhnya diyakini sebagai sekelompok bangsawan kesultanan yang menghendaki penggantian sultan[5]. Kematiannya menjadikan dia sebagai penguasa keempat yang berturut-turut dibunuh. Selanjutnya tahta sultan digantikan Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil yang merupakan keturunan penguasa Aceh abad ke-15[6]. Kematian sultan Buyung serta pengangkatan sultan yang baru sekaligus mengakhiri 10 tahun konflik perebutan kekuasaan di kesultanan Aceh[6].

ReferensiSunting

  1. ^ Genealogical table in Encyclopaedie (1917), Vol. 1, between p. 88 and 89.
  2. ^ Djajadiningrat (1911), p. 162.
  3. ^ Djajadiningrat (1911), pp. 162-8.
  4. ^ Penth (1969), pp. 36-7.
  5. ^ Dagh-Register (1901), p. 162.
  6. ^ a b Encyclopaedie (1917), p. 74.

Pranala luarSunting

  • Dagh-Register 1673 (1901). 's Gravenhage & Batavia: M. Nijhoff & Landsdrukkerij.
  • Djajadiningrat, Raden Hoesein (1911) 'Critisch overzicht van de in Maleische werken vervatte gegevens over de geschiedenis van het soeltanaat van Atjeh', Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 65, pp. 135–265.
  • Encyclopaedie van Nederlandsch Indië, Vol. 1 (1917). 's Gravenhage & Leiden: Nijhoff & Brill.
  • Penth, Hans (1969) Hikajat Atjeh: Die Erzählung von der Abkunft und den Jugendjaren des Sultan Iskandar Muda von Atjeh (Sumatra). Wiesbaden: Otto Harrassowitz.
Didahului oleh:
Sultan Buyung
Sultan Aceh
1585-1589
Diteruskan oleh:
Sultan Alauddin Riayat Syah Sayyid al-Mukammil