Buka menu utama

Aisyah Dahlan (lahir di Pariaman, Sumatra Barat, 27 April 1920; umur 99 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan, ulama, pengajar dan politisi Indonesia. Ia pernah aktif sebagai anggota Konstituante, anggota MPRS, dan juga dipercaya sebagai Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).

Aisyah Dahlan
Lahir27 April 1920 (umur 99)
Bendera Belanda Pariaman, Sumatra Barat, Hindia Belanda
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PekerjaanPengajar, aktivis, ulama , politisi
Dikenal atas- Pejuang kemerdekaan Indonesia
- Anggota Konstituante
- Anggota MPRS
- Ketua Muslimat NU
Suami/istriMuhammad Dahlan

Daftar isi

RiwayatSunting

KehidupanSunting

Aisyah merupakan seorang perempuan Minangkabau asal Pariaman, Sumatra Barat. Karena aktivitasnya di tingkat nasional, Aisyah banyak berkenalan dengan para tokoh lainnya. Suatu ketika ia ditawari oleh seorang pejabat untuk bekerja sebagai staf menteri agama yang saat itu dijabat oleh Muhammad Dahlan. Tawaran itu diterima oleh Aisyah, namun sang pejabat sebenarnya punya maksud lain, yaitu ingin mencarikan calon istri bagi Muhammad Dahlan yang telah menduda karena ditinggal istrinya yang telah meninggal dunia. Setelah dirembukkan dengan Rais Am PBNU, Wahab Hasbullah, akhirnya Aisyah menikah dengan Muhammad Dahlan.

PendidikanSunting

Aisyah menempuh pendidikannya di Meisjes Vervolgschool Pariaman, Sekolah Agama Thawalib dan Bovenbouw Darul Maarif di kota Pariaman. Di samping itu, ia juga aktif mengikuti berbagai kursus tentang politik dan organisasi serta latihan kepemimpinan, seperti Academic Training Course serta Sekolah Guru Islamic College di kota Padang.

KarierSunting

Aisyah juga seorang pengajar. Ia aktif mengajar sejak masih berada di Sumatra Barat, seperti menjadi guru di sekolah Thawalib di Padusunan, sekolah Thawalib Putri di Padang, lalu menjadi kepala sekolah Taman Pendidikan Islam di Air Bangis, Pasaman. Dalam berorganisasi, Aisyah dipercaya sebagai Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Putri Sumatra Barat dan Sumatra Tengah. Karena itu ia menjadi utusan Sumatra Barat dalam sebuah kongres GPII di Jakarta.

Sebagai seorang pejuang, Aisyah ikut serta berjuang pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Koto Tinggi Sumatra Barat. Ia aktif dalam bidang penerangan dan pendirian dapur umum. Karena posisinya sebagai ketua GPII Putri Sumbar, serta perannya sebagai sekretaris Badan Pembantu Kecelakaan Korban Perang (BPKKP) selama masa pengungsian pada masa PDRI itu, ia dianugerahi piagam penghargaan sebagai eksponen Pejuang 45 oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Aisyah yang juga seorang aktivis organisasi mengkoordinir berdirinya Ikatan Muallimah dan Muballighah (penceramah dan guru agama wanita) pada tahun 1969-1971, dan memprakarsai berdirinya Himpunan Dakwah Muslimat Indonesia (Nadwah) pada tahun 1980, sesuai dengan amanah Kongres X Muslimat NU di Semarang yang telah menunjuknya sebagai Ketua Muslimat NU. Selama aktif di Muslimat NU, ia banyak merintis berdirinya sekolah-sekolah di bawah naungan Muslimat NU. Beberapa lembaga pendidikan yang didirikan dan dipimpinnya adalah lembaga pendidikan di lingkungan Masjid Istiqlal, seperti TK, SD, dan Tsanawiyah Istiqlal, Taman Remaja Istiqlal, Perguruan Tinggi/Pesantren dan Akademi Dakwah Istiqlal, dan Pengajian Ibu-ibu Istiqlal. Selain itu, ia juga menjadi dosen di pesantren Luhur dan Akademi Dakwah Istiqlal Jakarta dan Akademi Dakwah dan Publisitas di Jakarta.

Aisyah merupakan seorang muballighah terkemuka yang aktif berdakwah, baik melalui mimbar dakwah maupun melalui tulisan dalam bentuk buku. Sebagai seorang ulama dari sebuah organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU), Aisyah Dahlan dipercaya sebagai Ketua Muslimat NU yang membidangi dakwah, setelah ditunjuk dalam Kongres Muslimat NU pada tahun 1979 di Semarang, Jawa Tengah. Sedangkan sebagai politisi, Aisyah pernah menjadi anggota Konstituante, dan MPRS pada tahun 1966-1971

Karya tulisSunting

  • Sejarah Lahirnya Muslimat NU di Indonesia (1955)
  • Membina Rumah Tangga Bahagia (1969)
  • Fatahillah dan Jayakarta (1970)
  • Nabi Muhammad SAW. Rasul dan Pemimpin Ummat (1971)
  • Membina Kehidupan Beragama dalam Keluarga (1973)
  • Menuju Keluarga Sejahtera Bahagia (1974)
  • Wanita antara Monarche dan Monopouse (1978)[1]
  • Seratus Tahun Ibu Kartini (bersama tokoh Muslimat NU lainnya) (1979)[2]

PenghargaanSunting

  • Piagam Penghargaan sebagai Eksponen Pejuang 45

ReferensiSunting

  1. ^ Wanita antara menarse dan menopause: (haid pertama dan terakhir) books.google.co.id. Diakses 23 Oktober 2013.
  2. ^ Ibu Kartini seratus tahun books.google.co.id. Diakses 23 Oktober 2013.